<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=didit-haryo&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/didit-haryo/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 29 Sep 2026 06:00:54 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 06:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29040912/Kucing-kuwuk2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134307</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam? Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman. Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/">Andai Kucing Kuwuk Hilang, Apa Dampaknya pada Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang terjadi bila masyarakat tidak memahami bahwa kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan satwa liar yang punya peran penting di alam? Ketidaktahuan terhadap Prionailurus bengalensis ini bisa menimbulkan dampak ekologis lebih luas. Termasuk, kematian akibat racun dan jerat yang sebenarnya ditujukan untuk satwa pengganggu tanaman. Erwin Wilianto, Independent Conservation Practisioner sekaligus anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, mengatakan kondisi negatif keberadaan kucing hutan sering kali berawal dari dua hal yang dianggap sederhana, yakni ketidaktahuan dan pengabaian. “Beberapa kejadian umumnya lebih karena ketidaktahuan,” jelas Erwin, yang juga pendiri SINTAS, yayasan yang berfokus pada konservasi satwa liar, Jum’at (25/9/26). Jika kondisi tersebut terus berlangsung, upaya menjaga populasi kucing liar dilindungi ini akan semakin sulit. Penggunaan racun untuk membasmi hama seperti tikus atau bajing, ketika hama tersebut mati maka bangkainya berpotensi dimakan kucing kuwuk. Hal serupa terjadi pada penggunaan jerat yang tidak bisa memilih satwa sasaran. Padahal, kucing yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini punya peran menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. “Akibatnya, menimbulkan konsekuensi ekologis.” Kucing kuwuk yang habitatnya di pinggir hutan membuatnya tidak jarang bertemu manusia. Foto: Dok. Risa Adelia. Lantas, bagaimana cara mengenalkan kucing kuwuk pada masyarakat tanpa mendorong mereka untuk menangkap atau memelihara? Erwin katakan, edukasi konservasi bukan pekerjaan sederhana. Perubahan pola pikir manusia membutuhkan proses dan pendekatan berbeda, karena setiap kelompok masyarakat punya karakter serta kondisi beragam. “Upaya ini mesti dilakukan sesuai target sasaran dan konsisten.” Pendekatan edukasi pada masyarakat urban tidak bisa disamakan dengan masyarakat yang tinggal di tepian hutan. Pesan konservasi perlu disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/andai-kucing-kuwuk-hilang-apa-dampaknya-pada-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 05:38:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29052825/Polylepis_Tarapacana_1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134318</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/">Bertahan di Ketinggian 5.200 Meter, Pohon Ini Hidup Lebih Tinggi dari Pohon Lain di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin jarang pepohonan yang kita temui. Pada ketinggian tertentu, hutan berganti menjadi padang rumput, semak pendek, dan lumut. Garis peralihan ini disebut batas pohon atau treeline, dan letaknya berbeda-beda di setiap pegunungan. Di banyak wilayah, udara yang terlalu dingin dan musim tumbuh yang pendek membuat pohon tidak sanggup tumbuh lebih tinggi lagi. Di Pegunungan Andes, ada satu jenis pohon yang tumbuh jauh di atas batas itu. Namanya Polylepis tarapacana, dan warga setempat menyebutnya queñua atau keñua. Di lereng Nevado Sajama, gunung tertinggi di Bolivia dengan puncak 6.542 meter di atas permukaan laut (mdpl), pohon ini tumbuh mulai sekitar 4.200 hingga 5.200 mdpl. Belum ada spesies pohon lain yang diketahui hidup setinggi itu. Selain di Bolivia, queñua juga tumbuh di dataran tinggi Altiplano yang masuk wilayah Chile, Argentina, dan Peru. Dua Cara Menghadapi Malam yang Membeku Pada ketinggian seperti ini, suhu malam bisa turun jauh di bawah titik beku. Bagi tumbuhan, kondisi tersebut berbahaya karena air di dalam jaringan dapat membentuk kristal es yang merusak sel. Pertanyaan tentang bagaimana queñua bertahan dalam kondisi itu diteliti oleh tim yang dipimpin Fermín Rada dari Universidad de Los Andes, Venezuela. Tim tersebut mengukur dua hal pada bagian-bagian pohon, yaitu suhu saat jaringan mulai rusak dan suhu terendah yang bisa dicapai jaringan sebelum membeku. Pengukuran dilakukan pada dua musim, yaitu musim kering yang dingin dan musim basah yang lebih hangat. Hasilnya lalu dibandingkan dengan suhu udara minimum yang tercatat di dekat permukaan tanah di Sajama. Daun berbulu halus dan bunga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/bertahan-di-ketinggian-5-200-meter-pohon-ini-hidup-lebih-tinggi-dari-pohon-lain-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 05:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/22155947/Foto-C-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134242</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan nusa tenggara]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen. Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/">Kekeringan Meluas di Nusa Tenggara Barat, 9 Daerah Kesulitan Air Dampak El Nino</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen. Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD NTB, Sadimin, pemantauan sementara mencatat 263.310 jiwa dari 84.837 keluarga terdampak di 227 desa. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 3,3 juta liter air bersih ke berbagai daerah. Lombok Timur mencatat jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 92.999 jiwa di 41 desa. Di Sumbawa, dampak kekeringan tercatat pada 42.728 jiwa, sementara di Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,” kata Sadimin. Bastian Andarino dari BMKG NTB menjelaskan bahwa El Niño membuat musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat, sementara curah hujan selama kemarau didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah NTB. Pemantauan hari tanpa hujan juga mencatat 63 hari berturut-turut di pos hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, yang termasuk kategori kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut terasa langsung di lahan pertanian dan kebutuhan air sehari-hari. Di Lombok Timur, pemerintah daerah mengajukan pembuatan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan di 10 kecamatan. Di Lombok Barat, penyaluran air bersih ke lima kecamatan terdampak menghadapi kendala karena tidak tersedia mobil tangki. Pemerintah pusat turut menyalurkan perlengkapan untuk penanganan kekeringan. Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan dukungan yang diberikan mencakup pompa air, tandon, pipa, keran, serta bantuan logistik. Total nilainya lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-meluas-di-nusa-tenggara-barat-9-daerah-kesulitan-air-dampak-el-nino/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 04:29:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27090429/IMG_1981-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134234</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Maluku]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, berarak menyusuri jalan utama menuju Kantor DPRD , Rabu (9/9/26). Mengenakan pakaian adat berwarna merah, mereka membawa serta berbagai perlengkapan upacara adat. Begitu tiba di lokasi, satu per satu, para tetua adat mengambil bagian dalam prosesi. Doa dan kapata mereka lafalkan menggunakan bahasa ibu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/">Masyarakat Adat 10 Negeri Tehoru Tuntut Pengakuan Wilayah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, berarak menyusuri jalan utama menuju Kantor DPRD , Rabu (9/9/26). Mengenakan pakaian adat berwarna merah, mereka membawa serta berbagai perlengkapan upacara adat. Begitu tiba di lokasi, satu per satu, para tetua adat mengambil bagian dalam prosesi. Doa dan kapata mereka lafalkan menggunakan bahasa ibu masyarakat Pulau Seram, sebelum menancapkan tiang sasi di halaman kantor dewan. Bagi mereka, penancapan tiang sasi itu bukan sekadar prosesi adat, tetapi  sekaligus penegasan sikap atas wilayah adat yang menjadi ruang hidup dan warisan leluhur mereka. Bernard Lilihata, Ketua Majelis Latupati Kecamatan Tehoru, sekaligus Raja Negeri Hatumete katakan, kedatangan mereka ke kantor dewan untuk adukan berbagai persoalan. Di antaranya, polemik pemasangan tapal batas kawasan hutan produksi yang konversi (HPK), batas Taman Nasional Manusela. Juga untuk menuntut pengakuan masyarakat adat di 10 negeri Tehoru. Simbol sasi ini, katanya,  memiliki dua makna. Pertama, larangan bagi siapa pun, dengan maksud apa pun, untuk mengambil alih atau memiliki hutan-hutan adat di  Kecamatan Tehoru. Kedua,  sebagai simbol persatuan dan kekuatan masyarakat dalam menjaga wilayah itu. “Orang yang menjaga merasa bahwa dia tidak sendiri. Karena ada simbol dari sepuluh negeri ini yang bersama-sama menjaga tanah ini,” ujarnya. Masyarakat adat dari 10 negeri di Kecamatan Tehoru berjalan bersama menuju Kantor DPRD Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (9/9/26). Foto: Christ Belseran/Mongabay Indonesia. Bernard katakan, penancapan tiang sasi di halaman DPRD bukan tanpa alasan. Bagi Masyarakat Adat Tehoru, lembaga legislatif merupakan representasi rakyat yang mereka harapkan bisa meneruskan suara mereka kepada pemerintah. Mereka berharap,  DPRD&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/masyarakat-adat-10-negeri-tehoru-tuntut-pengakuan-wilayah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenali Teratai Raksasa dari Amazon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 03:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/13024142/Victoria_amazonica_JPG01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134282</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Victoria amazonia merupakan tanaman air endemik rawa dan danau dangkal Amazon. Daunnya lebar dengan diameter mencapai tiga meter. Tak hanya berukuran besar, tanaman ini juga bisa menopang beban hingga 30 kg atau setara seorang anak kecil, tanpa robek atau tenggelam. Spesies ini masuk dalam genus Victoria, beranggotakan tiga spesies bersaudara, V. amazonica, V. cruziana, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/">Kenali Teratai Raksasa dari Amazon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Victoria amazonia merupakan tanaman air endemik rawa dan danau dangkal Amazon. Daunnya lebar dengan diameter mencapai tiga meter. Tak hanya berukuran besar, tanaman ini juga bisa menopang beban hingga 30 kg atau setara seorang anak kecil, tanpa robek atau tenggelam. Spesies ini masuk dalam genus Victoria, beranggotakan tiga spesies bersaudara, V. amazonica, V. cruziana, dan V. boliviana, dengan spesies terakhir terkonfirmasi sebagai spesies terpisah pada 2022. Penelitian University of Mancaster dan University Ofxord mengungkapkan bentuk geometris daun Victoria amazonia lebih efisien dibanding spesies teratai lain. Tanaman ini memiliki ketebalan daun yang bervariasi dan tulang daun bercabang rapat menyerupai kisi-kisi konstruksi, berfungsi mendistribusikan beban secara merata sehingga tidak mudah sobek dan rusak meskipun ada tekanan besar. Selain itu, kombinasi lapisan lilin tebal, tepi daun melengkung ke atas, dan rongga udara di bawah daun membuatnya dapat mengapung di permukaan air.  Di habitat aslinya, tanaman ini menyediakan naungan dan tempat berlindung bagi ikan kecil, katak, dan serangga. Luas penampang daun menghasilkan bayangan berperan mengatur cahaya dan suhu air sehingga memengaruhi alga dan organisme fotosintetik lain. Sayangnya, habitat Victoria amazonia di Amazon terancam oleh deforestasi, polusi, pembangunan, dan perubahan iklim. Kondisi ini mengubah aliran air, meningkatkan sedimentasi rawa, memengaruhi curah hujan, dan suhu air. Selain daun yang rakssa, tanaman ini memiliki bunga yang mekar dalam waktu yang singkat. Yakni, hanya pada malam hari dan berlangsung sekitar dua malam berturut-turut. Diameternya pun mencapai 40 cm. Sejumlah kebun botani dunia, termasuk Kew Gardens, membudidayakan dan memelihara tanaman ini sebagai koleksi konservasi. Selain itu, pemantauan habitat juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kenali-teratai-raksasa-dari-amazon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan di Jambi Meluas,  Api Lalap Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 01:27:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/28235442/Seorang-petugas-sedang-berusaha-memadamkan-api-yang-membakar-lahan-gambut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134287</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara gemertak pelepah sawit terbakar di Sungai Renjah, memecah sunyi malam itu. Sesekali dentuman kecil dari batang yang tumbang, dan suara desisan angin membawa hawa panas dan asap yang mencekik. Pertengahan Agustus malam itu, Basri terlihat pontang-panting menyeret kayu memukuli api yang membakar kebun sawitnya. Di tengah jerebu, lelaki paruh baya itu akhirnya ambruk, napas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/">Kebakaran Hutan di Jambi Meluas,  Api Lalap Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara gemertak pelepah sawit terbakar di Sungai Renjah, memecah sunyi malam itu. Sesekali dentuman kecil dari batang yang tumbang, dan suara desisan angin membawa hawa panas dan asap yang mencekik. Pertengahan Agustus malam itu, Basri terlihat pontang-panting menyeret kayu memukuli api yang membakar kebun sawitnya. Di tengah jerebu, lelaki paruh baya itu akhirnya ambruk, napas terengah-tengah. “Habis sudah kebunku,” katanya pelan. Berminggu-minggu api mengepung wilayah Sungai Renjah, Dusun Pangkalan Ranjau, Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Kebakaran tak hanya menghanguskan semak belukar dan kebun masyarakat, juga terus bergerak mendekati pemukiman. Jufri, pimpinan Suku Anak Dalam Pangkalan Ranjau mengatakan, api pertama kali terlihat di wilayah Tengki 6 dan Tengki 9, konsesi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki), sekitar awal Agustus. “Mungkin orang buka lahan,” katanya. Dua minggu kemudian, api mencapai Pangkalan Ranjau, sekitar 15 kilometer dari lokasi awal. Api membakar wilayah Sungai Renjah dan terus menjalar ke Sungai Jerat, Sungai Simpur hingga Duriah Sembilan. “Sekarang ini api sudah sampai Seko Suban, sekitar 40 kilometer dari awal api muncul. Api itu sekarang ada yang mengarah ke Sumatera Selatan, ada yang ke Jambi,” ujar Jufri. Api juga mulai mendekati pemukiman paling padat di Pangkalan Ranjau. Beranda Perempuan, organisasi nonpemerintah yang aktif melakukan pemberdayaan komunitas akar rumput, memperkirakan 300 keluarga terdampak kabut asap. “Sekitar 150 anak sakit tenggorokan dan batuk,” kata Zubaidah, Direktur Beranda Perempuan. Di Dusun Trans III, Desa Sepintun, Sarolangun, situasi tak jauh berbeda. Hampir sebulan api membakar areal perkebunan karet PT Alam Lestari Nusantara (ALN) anak perusahaan PT&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/29/kebakaran-hutan-di-jambi-meluas-api-lalap-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Adat Boti Jaga Hutan untuk Kehidupan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Sep 2026 00:01:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17044414/FOTO-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134280</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya,” ujar Muke, perempuan adat Suku Boti.  Di tengah ancaman iklim dan kemarau panjang, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur tetap mandiri dan berdaulat dalam mengelola pangannya.  Kemandirian itu terwujud dari sistem pertanian yang beragam dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/">Cerita Masyarakat Adat Boti Jaga Hutan untuk Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Hutan itu mama. Ibarat kalau mama dilukai, kami akan merasakan getahnya,” ujar Muke, perempuan adat Suku Boti.  Di tengah ancaman iklim dan kemarau panjang, Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur tetap mandiri dan berdaulat dalam mengelola pangannya.  Kemandirian itu terwujud dari sistem pertanian yang beragam dan tetap menjaga kelestarian alam. Cuaca kini semakin tidak bisa terprediksi, cara mengatasinya, mereka tak hanya menanam jagung tetapi juga sorgum, ubi, labu, pisang, dan kacang. Mereka menanamnya dengan tumpang sari.  “Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo Neolaka, perempuan adat Boti. Sistem tanam dan panen masyarakat adat Boti juga berstrategi. Dalam satu lahan ladang, mereka menanam berbagai jenis tanaman umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Jika hujan terus menerus, gagal panen, atau terserang hama, masyarakat masih memiliki cadangan pangan lain. Sebaliknya, ketika panen melimpah, mereka menyisihkan sebagian untuk menjadi benih.  Begitu pula saat makanan telah tersaji di piring. Mereka paham kapan harus makan banyak dan makan sedikit. Semuanya tergantung hasil panen, apakah melimpah atau tidak.  Menurut Raja (Usif) Boti, sejak dulu hingga sekarang, mereka tidak mengalami kesulitan mencari makanan karena mereka menjaga alam sekitar. Hal ini terlihat dari tutupan lahan masyarakat Boti yang memang lebih baik daripada wilayah lain.  “Karena alam kasih kita sedikit, kita makan secukupnya. Tetapi kalau alam kasih banyak, yang lain kami simpan,” kata Molo Benu, pemimpin perempuan adat Boti. Menjaga hutan juga menjadi bagian adat istiadat masyarakat Boti. Mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/cerita-masyarakat-adat-boti-jaga-hutan-untuk-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mangrove Pesisir Banda Aceh Hilang, Burung Migran Tak Punya Rumah Singgah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 11:46:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15074728/Foto-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134279</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia. Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/">Mangrove Pesisir Banda Aceh Hilang, Burung Migran Tak Punya Rumah Singgah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia. Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah sebelum melanjutkan perjalanan. Antara lain, ada biru laut ekor blorok yang terkenal dengan kemampuan terbang tanpa-henti dan jalur terpanjang mencapai 13.560 km dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), jenis burung cerek, gajahan, kicuit kerbau dan jenis lain. Sayangnya, menyempitnya mangrove di wilayah pesisir Aceh berdampak pada hadirnya burung migran. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman. Wilayah tersebar di lima kecamatan, diantaranya Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala. Eddy Safari, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan (BP2L) DLHK3 menyebutkan sekitar 10% lahan mangrove telah menjadi milik pribadi. Di kawasan mangrove Kuta Alam, sebanyak lima jenis spesies sudah tidak dapat lagi ditemukan sejak adanya penimbunan kawasan untuk membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sejak tahun 2012.  Hingga Februari 2025, hanya empat spesies burung yang terlihat, yaitu trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu. Burung tersebut pun jumlahnya hanya mencapai kurang dari 100 ekor saja, berkurang jauh dari biasanya yang mencapai 2.000an ekor.  Tentu, penyusutan ini berdampak bagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mangrove-pesisir-banda-aceh-hilang-burung-migran-tak-punya-rumah-singgah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Ini Hidup di Gurun Bahrain Selama 400 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 10:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230748/Bahrain_Tree_of_Life_14-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134151</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/">Pohon Ini Hidup di Gurun Bahrain Selama 400 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air? Artikel tersebut menyebut pohon ini diduga berasal dari genus Prosopis, kemungkinan Prosopis cineraria atau Prosopis juliflora. Keduanya dikenal mampu hidup di lingkungan kering, tetapi spesies Pohon Kehidupan belum dipastikan. Karena itu, penjelasan tentang cara bertahannya masih berupa sejumlah dugaan yang didasarkan pada sifat pohon Prosopis dan kondisi lokasi. Dugaan utama mengarah ke akarnya. Akar Prosopis dapat tumbuh sangat dalam dan luas, memungkinkan pohon menjangkau simpanan air di bawah permukaan tanah. Para ilmuwan menduga Pohon Kehidupan memperoleh air dari akuifer yang tersembunyi di bawah gurun. Sumber air tersebut tidak terlihat oleh pengunjung yang datang ke lokasi. Temuan arkeologis menambah kemungkinan lain. Dalam penggalian pada 2010, ditemukan sisa permukiman kuno serta kemungkinan bekas sumur atau saluran air di sekitar pohon. Temuan itu menunjukkan kawasan tersebut mungkin pernah memiliki akses air. Meski demikian, bekas saluran atau sumur belum membuktikan bahwa akar pohon saat ini menggunakan sumber air yang sama. Selain mencari air, pohon perlu mengurangi jumlah air yang hilang. Daun Prosopis terdiri atas banyak anak daun kecil, yang membantu membatasi penguapan. Dalam kondisi sangat kering, pohon ini juga dapat menggugurkan daunnya. Artikel tersebut turut menyebut hubungan akar dengan jamur tanah dan bakteri pengikat nitrogen, yang membantu pohon memperoleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/pohon-ini-hidup-di-gurun-bahrain-selama-400-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 07:44:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16095317/DSCF5209-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133744</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alimuddin duduk santai di saung tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pagi itu, dia menunggu giliran mengantar wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil sekitar perairan Selat Alas. Dari tempat duduknya itu, dia pandangi kapal berwarna pink yang hendak berlayar mengantar turis ke Pantai Pink. “Itu teman saya mengantar, saya belum gilirannya,” katanya sambil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/">Kisah Para Pemburu Hiu Beralih jadi Pemandu Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alimuddin duduk santai di saung tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pagi itu, dia menunggu giliran mengantar wisatawan menjelajahi pulau-pulau kecil sekitar perairan Selat Alas. Dari tempat duduknya itu, dia pandangi kapal berwarna pink yang hendak berlayar mengantar turis ke Pantai Pink. “Itu teman saya mengantar, saya belum gilirannya,” katanya sambil menunjuk dua awak kapal yang perlahan menjauhi daratan. Alimuddin adalah pemandu wisata. Dia bersama warga lain tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjoh. Mereka bertugas mengantar wisatawan menikmati pesona alam di Pantai Pink, Gili Sunut, Gili Maringkik, dan Gili Petelu–destinasi favorit di Lombok. Pekerjaan itu Alimuddin lakoni sejak 2016. Sebelumnya,  dia adalah nelayan penangkap hiu sejak 1997. Dia memilih alih pekerjaan setelah merasa  berburu hiu tak lagi menguntungkan. Bukan saja penghasilan yang tidak menentu, juga berisiko besar. Untuk menangkap hiu, Alimuddin bisa melaut hingga sebulan. Sementara di tengah laut, apa pun bisa terjadi, termasuk  nyawa  jadi taruhan. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” ujarnya, akhir Mei. Hiu hasil tangkapan didaratkan di pesisir Lombok Timur. Sebagian di antaranya tanpa sirip. Foto: Ahmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Selain Alimuddin, ada juga Agip, nelayan penangkap hiu yang juga beralih pekerjaan. Dia mengaku menangkap hiu sejak usia 18 tahun dan berhenti pada 2010. Pria berkulit sawo matang itu sempat menjadi nelayan tangkap tradisional dengan sampan kecil. Namun, karena hasil tangkap sedikit, dia memilih menjadi pemandu wisata. Jauh dari keluarga menjadi alasan utama Agip berhenti menangkap hiu. Dia merasa tak tega meninggalkan istri dan anak selama 20 hari di laut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/kisah-para-pemburu-hiu-beralih-jadi-pemandu-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Bodoh Papua, Sulit Terlihat dan Cepat Menyerang Mangsa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 05:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21231725/Death_Adder-Australia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134185</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara tumpukan daun lembap di Papua, seekor ular bisa saja berada sangat dekat tanpa terlihat. Tubuhnya bercorak merah, cokelat, dan hitam, menyatu dengan serasah serta ranting di sekitarnya. Bahkan ketika didekati, ular ini cenderung tetap diam. Perilaku itulah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya “ular bodoh”. “Ketika di rerumputan atau tempat lembab, jenis ini terlihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/">Ular Bodoh Papua, Sulit Terlihat dan Cepat Menyerang Mangsa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara tumpukan daun lembap di Papua, seekor ular bisa saja berada sangat dekat tanpa terlihat. Tubuhnya bercorak merah, cokelat, dan hitam, menyatu dengan serasah serta ranting di sekitarnya. Bahkan ketika didekati, ular ini cenderung tetap diam. Perilaku itulah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya “ular bodoh”. “Ketika di rerumputan atau tempat lembab, jenis ini terlihat diam. Bahkan, ketika kita sentuh dengan kayu atau dengan benda lain, dia memilih diam. Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN. Julukan itu menutupi kemampuan berburu yang khas. Ular dari genus Acanthophis, yang dikenal pula sebagai Death Adder, tidak mengejar mangsa secara aktif. Ia menunggu di satu tempat, sering kali dengan tubuh tertutup daun. Warna tubuhnya membantu ular tetap tersamar di hutan, semak belukar, maupun padang rumput. Bagian ujung ekornya menyerupai cacing. Saat ekor itu bergerak, hewan lain dapat mendekat untuk menyelidikinya. Ular kemudian menyergap, menyuntikkan bisa, dan menunggu sebelum memakan mangsanya. Perpaduan antara kamuflase, sikap diam, dan serangan mendadak memungkinkan Death Adder menangkap hewan yang bergerak cepat. Tubuh ular ini pendek dan gemuk, dengan panjang sekitar 40-70 sentimeter. Kepalanya digambarkan berbentuk seperti kapak, matanya berpupil vertikal, dan taringnya panjang. Meski bentuk tubuh dan cara berburunya menyerupai kelompok ular lain, penelitian yang dikutip dalam artikel menempatkannya dalam famili Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang. Sikap diamnya justru membuat perjumpaan dengan manusia berisiko. Hari mengatakan masyarakat Papua berhati-hati ketika melewati tumpukan daun lembap. Menurutnya, saat melihat ular bodoh, sebagian warga menyebutnya “tali” kepada orang di dekat mereka agar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ular-bodoh-papua-sulit-terlihat-dan-cepat-menyerang-mangsa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Menuju Dunia Bebas Rabies</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 04:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002746/99-persen-penyebaran-penyakit-rabies-diakibatkan-oleh-gigitan-anjing.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134250</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seorang ibu yang tinggal di wilayah Alsace membawa anaknya ke Paris. Butuh waktu sekitar 10 jam perjalanan darat untuk sampai ke ibu kota Prancis itu. Tujuannya bertemu Louis Pasteur, nama yang sangat lekat dengan pengawetan makanan yang metodenya dipakai hingga kini. Dia berharap ilmuwan itu mau mengobati anaknya. Joseph Meister, 9 tahun. Anaknya digigit anjing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/">Jalan Panjang Menuju Dunia Bebas Rabies</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seorang ibu yang tinggal di wilayah Alsace membawa anaknya ke Paris. Butuh waktu sekitar 10 jam perjalanan darat untuk sampai ke ibu kota Prancis itu. Tujuannya bertemu Louis Pasteur, nama yang sangat lekat dengan pengawetan makanan yang metodenya dipakai hingga kini. Dia berharap ilmuwan itu mau mengobati anaknya. Joseph Meister, 9 tahun. Anaknya digigit anjing gila sampai 14 kali. Kalender memperlihatkan bulan Juli, 1885. Sampai waktu itu, mereka yang digigit anjing terjangkit rabies kerap berakhir kematian. Louis Pasteur memang telah menemukan vaksin rabies. Namun hanya berhasil diuji pada anjing dan kelinci. Seorang dokter bernama Jacques Joseph Grancher meyakinkan Louis Pasteur untuk mencoba vaksin itu ke manusia. Louis Pasteur gamang. Dia lebih memilih menyerahkan tanggung jawab itu kepada Grancher. Maka setiap hari selama sepuluh hari, Grancher memberikan 12 dosis vaksin ke anak itu. Sebulan kemudian, Joseph Meister dinyatakan sembuh. Sontak, banyak orang yang digigit anjing gila pergi menemuinya sampai Pasteur dan teman-temannya kewalahan. Tak lama setelahnya Institut Pasteur berdiri. Lembaga ini lahir dari semangat Louis Pasteur menjadikan ilmu pengetahuan melawan penyakit mematikan. Institut melakuan berbagai penelitian ilmiah di bidang mikrobiologi, penyakit menular, dan vaksinasi untuk melindungi kesehatan masyarakat. Pada 28 September, Louis Pasteur berpulang. Untuk menghormati jasanya menemukan vaksin rabies, setiap 28 September diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia. Peringatan tahun ini bertema “Stronger Together” atau Bersama Lebih Kuat. Tema ini menyiratkan pesan bahwa penghapusan penyakit rabies hanya mungkin dilakukan secara bersama. Baik dari komunitas lokal, tenaga kesehatan, pendidik, media massa, hingga mitra global. Rabies telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jalan-panjang-menuju-dunia-bebas-rabies/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Keledai, Kuda, dan Kerbau: Mengapa Si Kecil Justru Kuat Memikul Beban Terberat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 03:19:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/28031549/Donkey_in_Pakistan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134260</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di banyak wilayah pegunungan dan gurun di dunia, manusia telah lama bergantung pada hewan untuk mengangkut barang melintasi medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan bermotor. Kuda, kerbau, unta, dan keledai masing-masing punya peran dalam sejarah transportasi darat, dan masing-masing berkembang dengan cara berbeda untuk menghadapi tantangan lingkungan tempat mereka hidup. Di antara hewan-hewan itu, keledai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/">Keledai, Kuda, dan Kerbau: Mengapa Si Kecil Justru Kuat Memikul Beban Terberat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di banyak wilayah pegunungan dan gurun di dunia, manusia telah lama bergantung pada hewan untuk mengangkut barang melintasi medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan bermotor. Kuda, kerbau, unta, dan keledai masing-masing punya peran dalam sejarah transportasi darat, dan masing-masing berkembang dengan cara berbeda untuk menghadapi tantangan lingkungan tempat mereka hidup. Di antara hewan-hewan itu, keledai (Equus asinus) sering menarik perhatian karena ukuran tubuhnya yang jauh lebih kecil dibanding kuda atau kerbau, namun tetap mampu membawa beban dalam proporsi yang besar terhadap berat tubuhnya sendiri. Sejumlah penelitian veteriner dan zoologi telah menelusuri kombinasi anatomi dan fisiologi yang menjelaskan kemampuan ini, sekaligus mengapa keledai secara historis dipilih sebagai hewan angkut di medan yang sulit dijangkau kuda maupun kerbau. Kapasitas fisik yang besar ini, seperti akan terlihat, tidak selalu sejalan dengan praktik yang aman bagi kesejahteraan hewan itu sendiri. Struktur tulang dan otot yang dirancang untuk menahan beban Salah satu faktor utama terletak pada kepadatan tulang keledai. Tulang kortikal pada keledai relatif lebih padat dan kompak dibanding kuda maupun poni, sehingga memerlukan gaya yang lebih besar untuk mengalami patah tulang. Ketika cedera tulang memang terjadi, pola yang muncul pada keledai umumnya berupa fraktur inkomplet atau parsial, bukan patah total seperti yang lebih sering ditemukan pada kuda. Tulang belakang keledai juga lebih pendek dibanding kuda, dengan ruas tulang punggung (vertebra dorsal) yang berkembang kuat. Keledai memiliki lima ruas tulang lumbar, satu lebih sedikit dibanding kuda yang memiliki enam. Struktur punggung yang lebih lurus dan kaku ini membuat beban dapat diletakkan tepat di atas titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/keledai-kuda-dan-kerbau-mengapa-si-kecil-justru-kuat-memikul-beban-terberat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jelajah Meratus:  Energi Surya Terangi Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [3]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jelajah-meratus-energi-surya-terangi-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-3/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jelajah-meratus-energi-surya-terangi-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-3/#respond</comments>
					<pubDate>28 Sep 2026 03:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27075832/DJI_0130-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134226</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Desa Juhu, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), riuh dan warga bertepuk tangan seiring listrik menyala kembali di desanya. Akhir Juli, Andi Rosita Dewi, Founder &#38; CEO Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), menyalakan power station berkapasitas 500 watt di RT1 dan RT2 desa tertinggi di Kalsel itu. Namun, listrik itu kembali mati 5 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/jelajah-meratus-energi-surya-terangi-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-3/">Jelajah Meratus:  Energi Surya Terangi Desa Tertinggi di Kalimantan Selatan [3]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Desa Juhu, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), riuh dan warga bertepuk tangan seiring listrik menyala kembali di desanya. Akhir Juli, Andi Rosita Dewi, Founder &amp; CEO Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), menyalakan power station berkapasitas 500 watt di RT1 dan RT2 desa tertinggi di Kalsel itu. Namun, listrik itu kembali mati 5 menit kemudian. Ita, panggilan akrabnya, sengaja melakukan itu karena khawatir masih ada warga yang menggunakan genset. Kalau kedua menyuplai listrik bertemu pada waktu yang sama, tegangan yang masuk berpotensi tabrakan, mengganggu sistem kelistrikan di semua rumah, dan berisiko kebakaran. Dia hanya menyalakan listrik di Rumah Pinan, warga Desa Juhu, tempat kami menginap. Dalam semenit, colokan di terminal listrik jadi incaran. Kabel pengisi daya, sebagian besar untuk telepon seluler dan powerbank, memenuhi alat itu. Malam itu, warga datang menyambut kami yang tiba dari luar daerah. Mereka penasaran apa yang akan tim lakukan. Rupanya, warga di desa yang berdiri pada 520 mdpl itu akrab dengan berbagai perangkat elektronik yang membutuhkan listrik, sementara pasokan daya yang tersedia masih sangat terbatas. Ketika mereka butuh listrik, genset jadi andalan. Harga bakar di Juhu jauh lebih mahal. Alliyudin, warga desa, mengatakan, harga bensin bisa mencapai Rp35.000 per liter, termasuk campuran oli samping. Fenomena itu sama seperti bahan pokok. Warga datangkan semua barang iu dari Hinas Kiri, titik terakhir yang terjangkau kendaraan bermotor. Dari sana, barang mereka bawa berjalan kaki dua hari. Porter biasa mematok ongkos  Rp25.000 per kilogram sekali angkut. Mahalnya biaya mendatangkan listrik membuat beberapa warga yang kurang mampu terpaksa andalkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/28/jelajah-meratus-energi-surya-terangi-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-3/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/28/jelajah-meratus-energi-surya-terangi-desa-tertinggi-di-kalimantan-selatan-3/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asa Gerakan Perempuan dan Pemuda Pejuang Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/asa-gerakan-perempuan-dan-pemuda-pejuang-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/asa-gerakan-perempuan-dan-pemuda-pejuang-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 23:29:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/03/22030005/Nyai-Jusma-dan-petani-perempuan-Lubuk-Mandarsah-Tebo-berjuang-lahannya-yang-berkonflik-dengan-HTI-WKS-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134243</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada peringatan Hari Tani Nasional, 24 September 2026 di Jakarta, ada deklarasi dua gerakan baru sayap Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA): Gerakan Muda Pejuang Reforma Agraria (Gemara) dan Komite Persiapan Konfederasi Serikat Perempuan Pejuang Reforma Agraria (SPPRA). Yani Srimulyani, Koordinator KPA Wilayah Jawa Barat sekaligus Ketua Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria di sana mengatakan, pembentukan SPPRA [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/asa-gerakan-perempuan-dan-pemuda-pejuang-reforma-agraria/">Asa Gerakan Perempuan dan Pemuda Pejuang Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada peringatan Hari Tani Nasional, 24 September 2026 di Jakarta, ada deklarasi dua gerakan baru sayap Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA): Gerakan Muda Pejuang Reforma Agraria (Gemara) dan Komite Persiapan Konfederasi Serikat Perempuan Pejuang Reforma Agraria (SPPRA). Yani Srimulyani, Koordinator KPA Wilayah Jawa Barat sekaligus Ketua Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria di sana mengatakan, pembentukan SPPRA awalnya mandat lama, sejak Munas KPA VIII pada 2021. Sejauh ini sudah terbentuk tujuh Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria (PPRA) di tujuh provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, Jambi, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Ia menaungi 34 serikat di tingkat kabupaten. Menurut Yani, keterlibatan perempuan dalam serikat tani bukan hal baru. Secara historis, katanya, perempuan sudah lama aktif dalam penguasaan lahan hingga penataan produksi. Namun, jarang ada pengakuan setara dalam pengambilan keputusan organisasi. “Seringkali perempuan ini dianggap sebagai pelengkap, perempuan identik dengan pekerjaan urusan sumur, kasur, dan dapur. Padahal, tidak begitu,” katanya. Perempuan, katanya, garda terdepan dalam perjuangan hak atas tanah dan reforma agraria sejati. Mereka menjadi yang paling terdampak dan sering berada dalam garis terdepan dalam melawan. Para perempuan yang gabung di KPA dan serikat tani,  sudah banyak yang membangun Akademi Reforma Agraria Sejati (ARAS). Di wilayahnya, Yani menyebut,  Serikat Petani Pasundan sudah membangun Gedung ARAS Siti Halimah sebagai tempat konsolidasi, pelatihan, dan pertukaran pengalaman antarperempuan pejuang agraria. Yani contohkan capaian konkret dari kerja panjang di Serikat Petani Pasundan, kepemilikan lahan hasil reforma agraria kini hampir 59% tercatat atas nama perempuan. Dia juga menyinggung capaian sosial yang lebih luas dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/asa-gerakan-perempuan-dan-pemuda-pejuang-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/asa-gerakan-perempuan-dan-pemuda-pejuang-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Megalit Pasemah Merekam Hubungan Manusia Prasejarah, Air, dan Satwa Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 10:00:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19030315/Wajah-salah-satu-arca-manusia-Austro-Melanesia.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134112</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah. Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/">Megalit Pasemah Merekam Hubungan Manusia Prasejarah, Air, dan Satwa Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah. Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi Hari I, II, dan III. Ketiganya merupakan bagian dari lanskap megalitik Pasemah yang membentang di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang. Di seluruh kawasan tersebut tercatat sekitar 1.165 benda megalitik, termasuk 85 arca dan 25 bilik batu. Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti ialah letak tinggalan-tinggalan itu. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat. Menurutnya, lokasi tersebut menunjukkan pentingnya air bagi masyarakat pada masa itu. Jejak kehidupan dekat air juga terlihat pada guratan dan lukisan di batu-batu tepi sungai. Arkeolog BRIN, Sondang M Siregar, membayangkan masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari di sekitar aliran sungai sambil membuat gambar. “Mereka menikmati kehidupan di tepi aliran sungai,” ujarnya. Selain air, satwa hadir dalam tinggalan Pasemah. Sejumlah arca memperlihatkan manusia bersama gajah, harimau, kerbau, ular, atau buaya. Ada satwa yang digambarkan di samping manusia, ditunggangi, maupun dibopong. “Ini mencerminkan, menggambarkan, bahwa manusia pada masa itu, sudah sangat harmonis hubungannya dengan satwa,” kata Mario. Sondang menjelaskan bahwa arca manusia berkaitan dengan penghormatan kepada nenek moyang. Adapun penggambaran manusia bersama satwa menunjukkan hewan-hewan tersebut disegani dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/megalit-pasemah-merekam-hubungan-manusia-prasejarah-air-dan-satwa-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Air Laut Berubah Warna, Apa yang Terjadi Saat Alga Meledak?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 09:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22042105/Longfin-damselfish-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134187</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, kelautan dan perikanan, pencemaran, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air laut di kawasan pesisir kadang berubah warna menjadi hijau pekat, merah, atau kecokelatan. Permukaannya seolah tertutup lapisan asing. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ledakan alga, yaitu pertumbuhan alga dalam jumlah sangat besar ketika kondisi perairan mendukung. Fenomena ini sudah pernah terjadi di Indonesia, meski menurut pakar ekologi laut BRIN, Tumpak Sidabutar, tidak sering. Ario [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/">Air Laut Berubah Warna, Apa yang Terjadi Saat Alga Meledak?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air laut di kawasan pesisir kadang berubah warna menjadi hijau pekat, merah, atau kecokelatan. Permukaannya seolah tertutup lapisan asing. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ledakan alga, yaitu pertumbuhan alga dalam jumlah sangat besar ketika kondisi perairan mendukung. Fenomena ini sudah pernah terjadi di Indonesia, meski menurut pakar ekologi laut BRIN, Tumpak Sidabutar, tidak sering. Ario Damar, pakar ekologi perairan pesisir IPB University, menjelaskan bahwa pemicunya berkaitan dengan peningkatan nutrien di air. Dari permukiman, lahan pertanian, peternakan, dan kegiatan budi daya perikanan, bahan organik dapat terbawa sungai hingga ke pesisir. Bakteri kemudian menguraikannya menjadi nutrien, antara lain nitrat, nitrit, amonia, dan fosfat. Alga memanfaatkan zat-zat tersebut untuk tumbuh. Ketika nutrien tersedia berlebihan, kondisi perairan disebut mengalami eutrofikasi. Namun, alga tidak hanya membutuhkan nutrien. Cahaya matahari serta keadaan fisik perairan juga mempengaruhi pertumbuhannya. Di tempat yang arusnya relatif tenang, nutrien dapat bertahan lebih lama. Ario menyebut Teluk Jakarta, Teluk Banten, dan Teluk Lampung sebagai contoh wilayah perairan yang perlu diperhatikan. Pertumbuhan alga yang melimpah dapat menimbulkan masalah meskipun alganya tidak menghasilkan racun. Pada siang hari, alga melakukan fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Malam harinya, alga melakukan respirasi dan menggunakan oksigen. Jika jumlah alga sangat banyak, kadar oksigen di air dapat turun drastis. Penguraian bahan organik oleh bakteri juga berkaitan dengan penurunan oksigen tersebut. Bagi ikan dan organisme lain, kekurangan oksigen dapat berakibat fatal. “Ikan dan organisme laut akan sulit bertahan hidup,” kata Tumpak. Ia mengingatkan bahwa perubahan warna air bukan sekadar peristiwa yang tampak di permukaan. “Blooming adalah indikator perairan tidak seimbang,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/air-laut-berubah-warna-apa-yang-terjadi-saat-alga-meledak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cemara Laut Bikin Pesisir Kebumen Sejuk dan Lindungi Tanaman Pertanian Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 07:03:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27065557/cemara2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134216</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pepohonan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh di pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, membuat wilayah ini terasa sejuk. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Lembupurwo yang memiliki 15 anggota, mengatakan penghijauan itu dimulai sejak 2008. Sekarang, luasnya mencapai 70 hektar, yang 50 hektar berupa area cemara laut dan 20 hektar wilayah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/">Cemara Laut Bikin Pesisir Kebumen Sejuk dan Lindungi Tanaman Pertanian Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pepohonan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh di pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, membuat wilayah ini terasa sejuk. Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Lembupurwo yang memiliki 15 anggota, mengatakan penghijauan itu dimulai sejak 2008. Sekarang, luasnya mencapai 70 hektar, yang 50 hektar berupa area cemara laut dan 20 hektar wilayah mangrove. “Dulu, pantai ini panas sekali. Sebelumnya, kawasan ini bekas muara Sungai Wawar yang menjadi daratan setelah terjadi kemarau panjang sekitar 1992,” jelasnya, Sabtu (29/8/26). Kawasan Pantai Lembupurwo di Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kini terasa lebih sejuk dengan banyaknya pohon cemara laut. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Vegetasi tersebut menjadi benteng alami yang melindungi kawasan pantai dan wilayah di belakangnya. Ada tiga manfaat utama cemara laut bagi kawasan pesisir, yakni mengurangi abrasi, menahan angin yang membawa kadar garam, serta membantu meredam dampak angin kencang. Manfaat tersebut paling berdampak pada petani. Sebelum pesisir dihijaukan, angin laut yang langsung menerpa lahan pertanian membuat daun tanaman mudah kering. Terutama, ketika memasuki musim kemarau. “Palawija dan hortikultura yang umumnya gagal panen.&#8221; Setelah lingkungan terlindungi, petani mulai menanam cabai, terong, semangka, dan melon. “Bahkan, kelapa juga sebelumnya mengalami gangguan akibat tingginya paparan kadar garam.” Pengunjung melintasi pepohonan cemara laut yang rumbun di pesisir Pantai Lembupurwo di Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.  Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Pertanian di pinggir pantai Marsono Utomo, petani di Lembupurwo, menanam melon di lahan satu hektar. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, produksinya mencapai 10 ton sekali panen. Melon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/cemara-laut-bikin-pesisir-kebumen-sejuk-dan-lindungi-tanaman-pertanian-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 02:33:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/26154700/Warga-Gurabunga-mengambil-air-dari-salah-satu-sumber-air-Ake-Goa-yang-makin-menipis-saat-ini-buat-kebutuhan-foto-An-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134196</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang membuat warga di Kelurahan Gurabunga, Tidore, Maluku Utara (Malut) kelimpungan. Hajar Ibrahim dan Maryam Jafar misalnya. Mereka harus naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih. Membawa keranjang berisi jeriken berukuran 20 liter, mereka berjalan kaki sepanjang satu kilometer menuju Ake Goa, satu-satunya mata air tersisa saat kemarau seperti sekarang ini. “Mau bagaimana, air [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/">Warga Pulau Kecil Maluku Utara Darurat Kekeringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang membuat warga di Kelurahan Gurabunga, Tidore, Maluku Utara (Malut) kelimpungan. Hajar Ibrahim dan Maryam Jafar misalnya. Mereka harus naik turun bukit untuk mendapatkan air bersih. Membawa keranjang berisi jeriken berukuran 20 liter, mereka berjalan kaki sepanjang satu kilometer menuju Ake Goa, satu-satunya mata air tersisa saat kemarau seperti sekarang ini. “Mau bagaimana, air ini kebutuhan utama jadi biar susah harus torang ambil. Kalau trada torang mau mandi pake apa,” terang Maryam. Selama ini, air bersih memang menjadi persoalan bagi warga di Gurabunga. Untuk keperluan sehari-hari, warga kerap memanfaatkan air hujan yang mereka tampung di kolam penampungan sekitar rumah. Namun, kemarau panjang membuat bak penampungan berukuran 4&#215;5 meter itu nyaris kosong. Praktis, kini warga hanya mengandalkan pasokan air dari Ake Goa, meski belakangan debitnya terus menurun. Itu pun, mereka harus antre hingga berjam-jam. “Jika sebelumnya kita ambil air di sini –Ake Goa, tidak perlu antri, sekarang warga harus antri,” kata Nurlaila Mahmud saat Mongabay temui di lokasi. Menurut dia, krisis air yang terjadi memaksa warga untuk lebih berhemat karena persediaan yang kian menipis. Air dari Ake Goa hanya warga gunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti memasak. Untuk mencuci pakaian, mereka ke rumah kerabat yang memiliki pasokan melimpah. Bagi Nurlaila, kemarau seperti ini membuat beban perempuan semakin berat. Selain, menyediakan air bersih, juga harus memasak maupun mengurus anak, keluarga dan mencuci.   “Saat kemarau seperti sekarang torang (kita, red) harus saling membantu terutama dengan suami.&#8221; Pemerintah melalui PDAM dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memang mendistribusikan air kepada warga. Namun, jumlahnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/warga-pulau-kecil-maluku-utara-darurat-kekeringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buah Terbesar yang Tumbuh di Pohon Ini Dilirik sebagai Pangan Tahan Perubahan Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>27 Sep 2026 01:46:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/27013943/abhi_jacob-jackfruit-7222930_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134204</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perubahan iklim menekan sistem pangan dunia dari banyak arah. Gelombang panas, kemarau panjang, dan pola hujan yang sulit ditebak mengganggu produksi tanaman pokok seperti padi, gandum, dan jagung, yang sebagian besar ditanam dalam skala luas dan bergantung pada pasokan air yang stabil. Karena itu, sejumlah peneliti mulai menengok tanaman yang selama ini kurang diperhatikan, terutama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/">Buah Terbesar yang Tumbuh di Pohon Ini Dilirik sebagai Pangan Tahan Perubahan Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perubahan iklim menekan sistem pangan dunia dari banyak arah. Gelombang panas, kemarau panjang, dan pola hujan yang sulit ditebak mengganggu produksi tanaman pokok seperti padi, gandum, dan jagung, yang sebagian besar ditanam dalam skala luas dan bergantung pada pasokan air yang stabil. Karena itu, sejumlah peneliti mulai menengok tanaman yang selama ini kurang diperhatikan, terutama jenis yang bisa tumbuh dengan perawatan minim dan relatif mampu bertahan di bawah tekanan lingkungan. Salah satu yang kini banyak diteliti adalah nangka (Artocarpus heterophyllus), buah terbesar yang tumbuh di pohon. Rekor buah terberat secara keseluruhan memang dipegang labu raksasa, tetapi labu tumbuh merambat di tanah, sedangkan nangka bergantung pada batang pohon untuk menopang buahnya yang bisa mencapai puluhan kilogram. Tanaman yang berasal dari hutan hujan Ghats Barat di India ini sudah lama menyebar ke Asia Tenggara, Afrika tropis, dan Amerika, dan di Indonesia dikenal akrab sebagai bahan gudeg, sayur lodeh, hingga buah meja. Sebuah studi dari India kini menyoroti keragaman nangka sebagai modal untuk mengembangkan tanaman ini di tengah iklim yang berubah. Keragaman Nangka di Wilayah Kering Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports itu meneliti 94 pohon nangka di wilayah kering Karnataka, India selatan. Tim dari ICAR-Indian Institute of Horticultural Research mensurvei pohon-pohon tersebut di distrik Tumkur dan Bengaluru Rural antara 2020 dan 2023. Tumkur dipilih karena memiliki zona iklim yang beragam dan kondisi ekologis yang luas, sementara pohon-pohon yang diteliti tumbuh dari biji di pekarangan rumah dan hutan sekunder dengan perawatan yang sangat minim. Para peneliti mencatat bahwa hampir seluruh bagian pohon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/27/buah-terbesar-yang-tumbuh-di-pohon-ini-dilirik-sebagai-pangan-tahan-perubahan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>