Kawasan pesisir Banda Aceh merupakan jalur migrasi East Asia-Australian Flyway (EAAF). Salah satunya yang berada di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh. Jalur ini menjadi tempat persinggahan sekaligus jalur akhir migrasi bagi banyak burung di dunia.
Setidaknya, ada 17 spesies burung migran dari Asia hingga Eropa yang singgah. Biasanya mereka mencari makan, istirahat, dan singgah sebelum melanjutkan perjalanan.
Antara lain, ada biru laut ekor blorok yang terkenal dengan kemampuan terbang tanpa-henti dan jalur terpanjang mencapai 13.560 km dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), jenis burung cerek, gajahan, kicuit kerbau dan jenis lain.
Sayangnya, menyempitnya mangrove di wilayah pesisir Aceh berdampak pada hadirnya burung migran. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman. Wilayah tersebar di lima kecamatan, diantaranya Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala.
Eddy Safari, Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan (BP2L) DLHK3 menyebutkan sekitar 10% lahan mangrove telah menjadi milik pribadi. Di kawasan mangrove Kuta Alam, sebanyak lima jenis spesies sudah tidak dapat lagi ditemukan sejak adanya penimbunan kawasan untuk membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sejak tahun 2012.
Hingga Februari 2025, hanya empat spesies burung yang terlihat, yaitu trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu. Burung tersebut pun jumlahnya hanya mencapai kurang dari 100 ekor saja, berkurang jauh dari biasanya yang mencapai 2.000an ekor.
Tentu, penyusutan ini berdampak bagi rantai ekosistem di pesisir Banda Aceh.
Ekosistem mangrove dan burung migran nyatanya memiliki simbiosis mutualisme. Tanaman bakau (bakau hitam dan api-api putih) yang kaya akan cacing dan krustasea menjadi pakan utama bagi burung migran. Sebaliknya, burung migran juga berperan mengendalikan hama dengan memakan serangga, gastropoda, dan invertebrata penggerek akar mangrove.
Bahkan, burung migrasi (trinil dan plover) dapat mengontrol populasi hama hingga 30-50% saat musim migrasi. Tak hanya itu, burung dara laut (Chlidonias spp.) juga berperan sebagai “petani hutan” yang menyebarkan bibit mangrove hingga ke pesisir Aceh Timur atau Utara.
Sayangnya, ancaman menyempitnya mangrove ini bukan menjadi sesuatu yang serius dan dampaknya kerap tidak terlihat secara langsung. Padahal, hal ini berdampak panjang dan menjalar ke berbagai komponen seperti mempengaruhi produktivitas tanaman dan penyebaran biji.
“Beberapa burung berperan dalam penyebaran propagul atau biji. Ketidakhadiran mereka dapat mengurangi regenerasi alami dan memperlambat pemulihan vegetasi mangrove, terutama di area yang terganggu,” kata Rita Andini, peneliti bidang biodiversitas, konservasi, dan rekayasa genetik tumbuhan BRIN.