Musim kemarau tahun ini membuat banyak warga Nusa Tenggara Barat kesulitan memperoleh air. Sembilan dari 10 kabupaten dan kota di provinsi tersebut telah melaporkan dampak kekeringan. Di sejumlah lahan pertanian, tanaman menunjukkan gejala gagal panen.
Kabupaten Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Enam daerah lain berstatus siaga darurat. Menurut Kepala BPBD NTB, Sadimin, pemantauan sementara mencatat 263.310 jiwa dari 84.837 keluarga terdampak di 227 desa. Hingga 10 September 2026, BPBD telah menyalurkan 3,3 juta liter air bersih ke berbagai daerah.
Lombok Timur mencatat jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 92.999 jiwa di 41 desa. Di Sumbawa, dampak kekeringan tercatat pada 42.728 jiwa, sementara di Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa. “Hampir seluruh wilayah NTB terdampak, dipicu fenomena El-Nino,” kata Sadimin.
Bastian Andarino dari BMKG NTB menjelaskan bahwa El Niño membuat musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG memperkirakan musim hujan datang lebih lambat, sementara curah hujan selama kemarau didominasi kategori bawah normal di sebagian besar wilayah NTB. Pemantauan hari tanpa hujan juga mencatat 63 hari berturut-turut di pos hujan Belo dan Bolo, Kabupaten Bima, yang termasuk kategori kekeringan ekstrem.
Kondisi tersebut terasa langsung di lahan pertanian dan kebutuhan air sehari-hari. Di Lombok Timur, pemerintah daerah mengajukan pembuatan sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan di 10 kecamatan. Di Lombok Barat, penyaluran air bersih ke lima kecamatan terdampak menghadapi kendala karena tidak tersedia mobil tangki.
Pemerintah pusat turut menyalurkan perlengkapan untuk penanganan kekeringan. Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan dukungan yang diberikan mencakup pompa air, tandon, pipa, keran, serta bantuan logistik. Total nilainya lebih dari Rp1,8 miliar. Ia juga meminta pemerintah daerah memanfaatkan embung, waduk, dan tempat penampungan air lain. “Untuk mitigasi jangka panjang, penanaman pohon di hulu, di hutan perlu dilakukan,” katanya.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menilai bantuan darurat saja tidak akan menyelesaikan persoalan yang berulang setiap kemarau. Menurutnya, perlindungan sumber mata air, pemeliharaan sarana air bersih, pengelolaan embung dan irigasi, serta konservasi lingkungan perlu diperkuat.
Ia mengingatkan bahwa beberapa daerah yang kini kekeringan juga pernah menghadapi banjir. “Permasalahan utamanya adalah kondisi hutan yang rusak, sehingga perlu kita rumuskan bersama untuk mengatasi hal tersebut,” kata Iqbal. Bagi petani dan warga terdampak, langkah jangka panjang itu menentukan kesiapan menghadapi kemarau berikutnya.