Jalan menuju Situs Tinggi Hari berkelok naik melewati perbukitan Gumay, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Dari kawasan ini, terlihat lembah yang dialiri Sungai Liem dan terhubung dengan Sungai Lematang. Di antara bukit dan aliran air itulah tersimpan arca, menhir, lesung batu, serta tinggalan lain dari peradaban megalitik Pasemah.
Tinggi Hari terdiri atas tiga situs, yakni Tinggi Hari I, II, dan III. Ketiganya merupakan bagian dari lanskap megalitik Pasemah yang membentang di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang. Di seluruh kawasan tersebut tercatat sekitar 1.165 benda megalitik, termasuk 85 arca dan 25 bilik batu.
Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti ialah letak tinggalan-tinggalan itu. “Situs-situs megalitik di bumi Pasemah, banyak ditemukan atau terletak tidak jauh dari sumber air, baik itu sungai, tebat, atau danau,” kata Mario Andramartik, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat. Menurutnya, lokasi tersebut menunjukkan pentingnya air bagi masyarakat pada masa itu.
Jejak kehidupan dekat air juga terlihat pada guratan dan lukisan di batu-batu tepi sungai. Arkeolog BRIN, Sondang M Siregar, membayangkan masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari di sekitar aliran sungai sambil membuat gambar. “Mereka menikmati kehidupan di tepi aliran sungai,” ujarnya.
Selain air, satwa hadir dalam tinggalan Pasemah. Sejumlah arca memperlihatkan manusia bersama gajah, harimau, kerbau, ular, atau buaya. Ada satwa yang digambarkan di samping manusia, ditunggangi, maupun dibopong. “Ini mencerminkan, menggambarkan, bahwa manusia pada masa itu, sudah sangat harmonis hubungannya dengan satwa,” kata Mario.
Sondang menjelaskan bahwa arca manusia berkaitan dengan penghormatan kepada nenek moyang. Adapun penggambaran manusia bersama satwa menunjukkan hewan-hewan tersebut disegani dan dihormati. Di antara arca itu terdapat pula sosok ibu menggendong anak. Menurut Sondang, figur ibu menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam menjaga keluarga dan generasi penerus.
Tinggalan Pasemah juga menyimpan jejak kehidupan dari masa yang panjang. Sondang menyebut hasil penanggalan sampel dari Kota Raya Lembak menunjukkan abad ke-10 Masehi, ketika Kedatuan Sriwijaya masih berkembang di kawasan Sungai Musi.
Kini, menjaga situs berarti turut menjaga bentang alam tempatnya berada. Dari 101 titik situs megalitik Pasemah, baru enam yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Mario menilai perlindungan dan penelitian lebih lanjut diperlukan agar pengetahuan yang tersimpan dalam arca, batu, sungai, dan lanskapnya tetap dapat dipelajari.
Foto utama: Wajah salah satu arca manusia, yang lebih menjelaskan wajah Austro-Melanesia dibandingkan Austronesia. Wajah bulat panjang, rambut ikal atau keriting, mata besar, hidung pesek, dan bibir tebal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.