Di tengah gurun Bahrain, sebuah pohon berdiri sendirian di atas bukit kecil yang tandus. Tidak ada sungai, waduk, atau sumur aktif yang tampak di sekitarnya. Namun, pohon yang dikenal sebagai Tree of Life atau Shajarat al-Hayat ini disebut telah hidup lebih dari 400 tahun. Bagaimana ia bertahan di tempat yang tampaknya tidak menyediakan cukup air?
Artikel tersebut menyebut pohon ini diduga berasal dari genus Prosopis, kemungkinan Prosopis cineraria atau Prosopis juliflora. Keduanya dikenal mampu hidup di lingkungan kering, tetapi spesies Pohon Kehidupan belum dipastikan. Karena itu, penjelasan tentang cara bertahannya masih berupa sejumlah dugaan yang didasarkan pada sifat pohon Prosopis dan kondisi lokasi.
Dugaan utama mengarah ke akarnya. Akar Prosopis dapat tumbuh sangat dalam dan luas, memungkinkan pohon menjangkau simpanan air di bawah permukaan tanah. Para ilmuwan menduga Pohon Kehidupan memperoleh air dari akuifer yang tersembunyi di bawah gurun. Sumber air tersebut tidak terlihat oleh pengunjung yang datang ke lokasi.
Temuan arkeologis menambah kemungkinan lain. Dalam penggalian pada 2010, ditemukan sisa permukiman kuno serta kemungkinan bekas sumur atau saluran air di sekitar pohon. Temuan itu menunjukkan kawasan tersebut mungkin pernah memiliki akses air. Meski demikian, bekas saluran atau sumur belum membuktikan bahwa akar pohon saat ini menggunakan sumber air yang sama.
Selain mencari air, pohon perlu mengurangi jumlah air yang hilang. Daun Prosopis terdiri atas banyak anak daun kecil, yang membantu membatasi penguapan. Dalam kondisi sangat kering, pohon ini juga dapat menggugurkan daunnya. Artikel tersebut turut menyebut hubungan akar dengan jamur tanah dan bakteri pengikat nitrogen, yang membantu pohon memperoleh sumber daya dari tanah. Embun malam disebut sebagai kemungkinan tambahan pasokan air, walau perannya pada Pohon Kehidupan belum dipastikan.
Pohon ini juga hidup dalam cerita masyarakat Bahrain. Sejumlah legenda mengaitkan lokasinya dengan tempat suci dan mata air bawah tanah. Kini, Pohon Kehidupan menjadi tujuan wisata sekaligus simbol yang digunakan dalam pendidikan lingkungan.
Popularitas itu membawa tekanan. Aktivitas pengunjung dan vandalisme pernah menyebabkan kerusakan pada batangnya. Pemerintah kemudian memasang pagar, membangun pusat informasi, dan membatasi akses langsung ke pohon.
Pertanyaan tentang sumber airnya belum sepenuhnya terjawab. Sementara penelitian berupaya menjelaskan bagaimana pohon ini bertahan, perlindungan di sekitarnya membantu menjaga agar Pohon Kehidupan tetap dapat tumbuh di tengah gurun.