Di antara tumpukan daun lembap di Papua, seekor ular bisa saja berada sangat dekat tanpa terlihat. Tubuhnya bercorak merah, cokelat, dan hitam, menyatu dengan serasah serta ranting di sekitarnya. Bahkan ketika didekati, ular ini cenderung tetap diam. Perilaku itulah yang membuat masyarakat setempat menjulukinya “ular bodoh”.
“Ketika di rerumputan atau tempat lembab, jenis ini terlihat diam. Bahkan, ketika kita sentuh dengan kayu atau dengan benda lain, dia memilih diam. Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN.
Julukan itu menutupi kemampuan berburu yang khas. Ular dari genus Acanthophis, yang dikenal pula sebagai Death Adder, tidak mengejar mangsa secara aktif. Ia menunggu di satu tempat, sering kali dengan tubuh tertutup daun. Warna tubuhnya membantu ular tetap tersamar di hutan, semak belukar, maupun padang rumput.
Bagian ujung ekornya menyerupai cacing. Saat ekor itu bergerak, hewan lain dapat mendekat untuk menyelidikinya. Ular kemudian menyergap, menyuntikkan bisa, dan menunggu sebelum memakan mangsanya. Perpaduan antara kamuflase, sikap diam, dan serangan mendadak memungkinkan Death Adder menangkap hewan yang bergerak cepat.
Tubuh ular ini pendek dan gemuk, dengan panjang sekitar 40-70 sentimeter. Kepalanya digambarkan berbentuk seperti kapak, matanya berpupil vertikal, dan taringnya panjang. Meski bentuk tubuh dan cara berburunya menyerupai kelompok ular lain, penelitian yang dikutip dalam artikel menempatkannya dalam famili Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang.
Sikap diamnya justru membuat perjumpaan dengan manusia berisiko. Hari mengatakan masyarakat Papua berhati-hati ketika melewati tumpukan daun lembap. Menurutnya, saat melihat ular bodoh, sebagian warga menyebutnya “tali” kepada orang di dekat mereka agar rombongan tetap tenang dan memperhatikan tempat yang dilalui.
Risikonya bukan sekadar dugaan. Artikel tersebut mencatat seorang anggota Brimob meninggal setelah digigit Death Adder di Timika pada 2019. Hari mengingatkan bahwa ular yang tidak segera terlihat dapat terinjak dan menggigit. Artikel itu juga menggambarkan serangannya sebagai sangat cepat, kurang dari 0,13 detik.
Dengan demikian, “bodoh” bukan gambaran kemampuan ular ini. Diam adalah bagian dari cara hidupnya: menyamarkan diri, menunggu mangsa, lalu menyerang ketika kesempatan datang. Justru karena jarang bergerak dan sulit dibedakan dari lantai hutan, keberadaannya mudah terlewat oleh orang yang melintas.
Foto utama: Ular jenis Death Adder (Acanthophis antarcticus) yang ditemukan di Australia. Foto: Melissa Bruton/Australian Museum/CC BY-NC 4.0.