Victoria amazonia merupakan tanaman air endemik rawa dan danau dangkal Amazon. Daunnya lebar dengan diameter mencapai tiga meter. Tak hanya berukuran besar, tanaman ini juga bisa menopang beban hingga 30 kg atau setara seorang anak kecil, tanpa robek atau tenggelam.
Spesies ini masuk dalam genus Victoria, beranggotakan tiga spesies bersaudara, V. amazonica, V. cruziana, dan V. boliviana, dengan spesies terakhir terkonfirmasi sebagai spesies terpisah pada 2022. Penelitian University of Mancaster dan University Ofxord mengungkapkan bentuk geometris daun Victoria amazonia lebih efisien dibanding spesies teratai lain.
Tanaman ini memiliki ketebalan daun yang bervariasi dan tulang daun bercabang rapat menyerupai kisi-kisi konstruksi, berfungsi mendistribusikan beban secara merata sehingga tidak mudah sobek dan rusak meskipun ada tekanan besar. Selain itu, kombinasi lapisan lilin tebal, tepi daun melengkung ke atas, dan rongga udara di bawah daun membuatnya dapat mengapung di permukaan air.
Di habitat aslinya, tanaman ini menyediakan naungan dan tempat berlindung bagi ikan kecil, katak, dan serangga. Luas penampang daun menghasilkan bayangan berperan mengatur cahaya dan suhu air sehingga memengaruhi alga dan organisme fotosintetik lain.
Sayangnya, habitat Victoria amazonia di Amazon terancam oleh deforestasi, polusi, pembangunan, dan perubahan iklim. Kondisi ini mengubah aliran air, meningkatkan sedimentasi rawa, memengaruhi curah hujan, dan suhu air.
Selain daun yang rakssa, tanaman ini memiliki bunga yang mekar dalam waktu yang singkat. Yakni, hanya pada malam hari dan berlangsung sekitar dua malam berturut-turut. Diameternya pun mencapai 40 cm.
Sejumlah kebun botani dunia, termasuk Kew Gardens, membudidayakan dan memelihara tanaman ini sebagai koleksi konservasi. Selain itu, pemantauan habitat juga dilakukan dengan teknologi drone dan melibatkan komunitas lokal dalam upaya pelestarian jangka panjang.