<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=a-asnawi-sidoarjo&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/a-asnawi-sidoarjo/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2026 10:00:25 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>
				<item>
					<title>Hirup Asap Karhutla Berulang, Tidak Berarti Tubuh Kebal Polutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/03015613/Karhutla-Krismes-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Langit yang kembali cerah belum tentu menandai berakhirnya dampak kebakaran hutan dan lahan. Bagi warga yang berhari-hari menghirup asap, persoalan kesehatan dapat berlanjut setelah titik api padam. Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) mengingatkan bahwa penanganan karhutla perlu mencakup perlindungan masyarakat, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pekerja luar ruangan. Mengutip data Kementerian Kesehatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/">Hirup Asap Karhutla Berulang, Tidak Berarti Tubuh Kebal Polutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Langit yang kembali cerah belum tentu menandai berakhirnya dampak kebakaran hutan dan lahan. Bagi warga yang berhari-hari menghirup asap, persoalan kesehatan dapat berlanjut setelah titik api padam. Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) mengingatkan bahwa penanganan karhutla perlu mencakup perlindungan masyarakat, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pekerja luar ruangan. Mengutip data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, yayasan itu menyebut terdapat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 75.172 kasus, atau sekitar 22,5%, terjadi pada balita. Angka tersebut menjadi peringatan mengenai besarnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah yang diselimuti asap. Herawati Supolo Sudoyo, pembina YSSTI, menilai perhatian selama ini terlalu sering terpusat pada pemadaman, sementara warga yang terus terpapar belum memperoleh perlindungan memadai. “Perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan terus sejak sebelum asap datang hingga setelah langit kembali cerah,” katanya. Menurut Herawati, kesiapsiagaan perlu memasukkan perlindungan sebelum kebakaran, respon selama paparan, serta pemantauan medis setelahnya. Terbiasa menghadapi musim asap tidak berarti tubuh menjadi kebal terhadap polutan. Feni Fitriani Taufik, dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, menjelaskan bahwa asap karhutla merupakan campuran partikel halus, gas beracun, dan senyawa berbahaya. Di dalamnya terdapat PM2.5, PM10, karbon monoksida, nitrogen oksida, benzena, serta formaldehida. Partikel PM2.5 dapat mencapai kantung udara terdalam di paru-paru, sementara paparannya berkaitan dengan peradangan dan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular. Karbon monoksida juga mengganggu kemampuan darah membawa oksigen. Dengan demikian, dampak asap tidak terbatas pada batuk atau mata perih, tetapi dapat melibatkan fungsi organ dan kesehatan jangka panjang. Di Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/hirup-asap-karhutla-berulang-tidak-berarti-tubuh-kebal-polutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seluruh Habitat Asalnya Ada di Satu Air Terjun, Katak Kihansi Sempat Punah di Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 09:44:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/04094402/1280px-Kihansi_spray_toad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135927</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Katak kihansi (Nectophrynoides asperginis) merupakan salah satu contoh ekstrem satwa dengan spesialisasi habitat mikro. Spesies ini hanya ditemukan secara alami di zona percikan air terjun Kihansi, Tanzania, pada area seluas beberapa hektare. Ketergantungan penuh pada satu ekosistem sempit membuat populasinya rentan musnah begitu terjadi intervensi fisik pada sumber air. Populasi liar katak ini hilang setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/">Seluruh Habitat Asalnya Ada di Satu Air Terjun, Katak Kihansi Sempat Punah di Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Katak kihansi (Nectophrynoides asperginis) merupakan salah satu contoh ekstrem satwa dengan spesialisasi habitat mikro. Spesies ini hanya ditemukan secara alami di zona percikan air terjun Kihansi, Tanzania, pada area seluas beberapa hektare. Ketergantungan penuh pada satu ekosistem sempit membuat populasinya rentan musnah begitu terjadi intervensi fisik pada sumber air. Populasi liar katak ini hilang setelah proyek pembangkit listrik tenaga air mengalihkan sebagian besar aliran air sungai pada akhir 1990-an. Penurunan kelembapan yang drastis memicu kekeringan mikro dan kemunculan wabah penyakit jamur. Pada 2009, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan spesies ini berstatus punah di alam liar (Extinct in the Wild). Spesies ini hanya bertahan hidup melalui program penangkaran di luar negeri. Upaya reintroduksi telah mengembalikan katak ini ke ngarai asalnya. Namun, ekosistem tersebut tidak lagi berfungsi secara alami. Kelangsungan hidup katak di habitat aslinya kini bergantung sepenuhnya pada jaringan pipa dan penyemprot mekanis yang dipasang untuk meniru percikan air terjun. Spesialisasi Ekologis dan Gangguan PLTA Katak kihansi pertama kali diidentifikasi oleh peneliti pada 1996. Amfibi berwarna kuning ini memiliki panjang tubuh sekitar dua sentimeter. Reproduksinya unik karena betina melahirkan anak katak secara langsung, tanpa melalui fase berudu. Spesies ini tidak bisa bertahan di tepi sungai biasa. Mereka membutuhkan vegetasi yang terus-menerus basah oleh kabut air dari air terjun. Percikan air tersebut menjaga mikroklimat tetap sejuk dan lembap secara konstan di tengah kawasan tebing yang kering. Kondisi hidrologis tersebut berubah drastis ketika Pembangkit Listrik Tenaga Air Lower Kihansi beroperasi. Pembangunan bendungan memotong volume aliran air menuju air terjun hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/seluruh-habitat-asalnya-ada-di-satu-air-terjun-katak-kihansi-sempat-punah-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Siapa Penerima Manfaat Kasus Perdagangan Orang di KM Maulana 23?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 08:38:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07053745/Awak-kapal-siksa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135801</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polres Pelabuhan Tanjung Priok menetapkan sembilan tersangka kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap awak kapal perikanan (AKP) KM Maulana 23. Termasuk antara lain, Suyadi pemilik kapal KM Maulana 23, sekaligus Direkrut PT Anugrah Maritim Indonesia Raya (AMIR). AKBP Alrasyidin Fajri, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok mengatakan, perkara itu  telah memenuhi tiga unsur utama TPPO, sesuai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/">Siapa Penerima Manfaat Kasus Perdagangan Orang di KM Maulana 23?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polres Pelabuhan Tanjung Priok menetapkan sembilan tersangka kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap awak kapal perikanan (AKP) KM Maulana 23. Termasuk antara lain, Suyadi pemilik kapal KM Maulana 23, sekaligus Direkrut PT Anugrah Maritim Indonesia Raya (AMIR). AKBP Alrasyidin Fajri, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok mengatakan, perkara itu  telah memenuhi tiga unsur utama TPPO, sesuai Pasal 455 KUHP, yakni, proses, cara, dan tujuan eksploitasi. Mereka, memiliki peran berbeda, mulai dari perekrutan, penampungan, pemalsuan dokumen, hingga praktik perbudakan di atas kapal. Dia bilang, para korban terjerat utang, mengalami pemotongan gaji tanpa persetujuan, serta menjadi korban penyiksaan. Dokumen perjanjian kerja mereka pun dipalsukan. “ Dari janji gaji Rp4 juta per bulan, korban justru hanya diberi upah Rp35.000 per hari,&#8221; ujar Fajri saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/10/26). Menurut Fajri, para tersangka memiliki latar belakang dan peran berbeda. Mulai dari kapten, pengurus dokumen, penampung AKP, hingga pemilik kapal. Para korban direkrut melalui Facebook. Sarman, Kapten KM Maulana 23, berperan memberikan target kerja berlebihan, melakukan penyiksaan, menyita 10 ponsel milik awak, serta membatasi makanan dan minuman layak apabila target kerja tidak tercapai. Tersangka lain, Ahmad Ramadhan alias Rama bertugas mengoordinasikan pendaftaran dan penampungan para awak yang dia rekrut melalui Facebook. Selain itu, dia juga memotong uang kasbon secara sepihak serta memobilisasi korban untuk bekerja di KM Maulana 23. Asep Saepudin alias Ujang bertugas menjemput dan mengawasi AKP di tempat penampungan serta mengawal mereka agar tidak melarikan diri sebelum naik kapal. Kusdinar alias Babe Bule, tersangka lainnya bertugas menjemput dan menyalurkan korban ke jaringan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/siapa-penerima-manfaat-kasus-perdagangan-orang-km-maulana-23/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perlindungan Kawasan Skala Besar Jamin Masa Depan Perikanan Indonesia dan Mamalia Laut?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 03:50:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/04034010/Ikan-di-pelabuhan2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135915</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia bersiap membentuk kawasan konservasi laut skala besar atau large scale marine protected area (LSMPA) di dua lokasi, perairan Laut Banda yang menghadap ke Samudra Pasifik dan Barat Sumatera yang menghadap Samudra Hindia. Proses tersebut untuk mencapai target luas kawasan konservasi perairan sebesar 30 persen pada 2045, atau 97,5 juta ha dari total wilayah laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/">Perlindungan Kawasan Skala Besar Jamin Masa Depan Perikanan Indonesia dan Mamalia Laut?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia bersiap membentuk kawasan konservasi laut skala besar atau large scale marine protected area (LSMPA) di dua lokasi, perairan Laut Banda yang menghadap ke Samudra Pasifik dan Barat Sumatera yang menghadap Samudra Hindia. Proses tersebut untuk mencapai target luas kawasan konservasi perairan sebesar 30 persen pada 2045, atau 97,5 juta ha dari total wilayah laut Indonesia seluas 325 juta ha. Dengan target itu, luas zona inti diproyeksikan mencapai 29,25 juta ha. Namun hingga 2025, luas kawasan konservasi yang tercapai baru 30,97 juta ha. Artinya, diperlukan tambahan minimal 66,53 juta ha untuk mewujudkan target 2045. Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan beberapa lokasi potensial untuk pembentukan LSMPA dengan luas minimal 10 juta ha. Jimy Kalther, Marine Ecology Manager Konservasi Indonesia, menjabarkan urgensi pembentukan LSMPA di dua lokasi tersebut. “Solusi memulihkan stok ikan yang terancam akibat overfishing dan eksploitasi berlebihan, serta sebagai kawasan perlindungan keanekaragaman hayati laut,” ungkapnya, Selasa (20/10/26). Potensi ikan yang melimpah menjadi sumber pendapatan nelayan di Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Nilai ekologis Indonesia membutuhkan kawasan konservasi baru untuk melindungi mamalia laut, termasuk paus dan lumba-lumba. Kawasan perairan Barat Sumatera juga penting untuk melindungi area pemijahan ikan pelagis, seperti cakalang dan layang. Selama ini, perairan Barat Sumatera menjadi wilayah penangkapan ikan paling produktif di Indonesia, dengan produksi tertinggi di Sumatra Barat. Namun, tekanan penangkapan yang tinggi menjadi dasar kuat penerapan pengelolaan berbasis kawasan. “Perairan ini juga habitat 23 spesies mamalia laut kelompok paus dan lumba-lumba.” Gambaran serupa ditemukan di Laut Banda. Selain area penting tuna sirip kuning, juga habitat reguler&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/perlindungan-kawasan-skala-besar-jamin-masa-depan-perikanan-indonesia-dan-mamalia-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Proyek Tol Ancam Kehidupan Masyarakat Pandai Sikek</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 01:53:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03051607/Spanduk-penolakan-warga-Pandai-Sikek-terhadap-rencana-pembangunan-jalan-tol-Novia-Harlina-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dewi menyusun benang warna merah dan emas menggunakan alat tenun tua peninggalan neneknya dengan teliti. Helai demi helai benang dia sisipkan mengikuti motif. Sesekali, tangannya bergerak mengatur tegangan benang agar tetap rapat dan tidak kusut. Dia belajar kerajinan ini sejak masih SMA, sekitar 2006. Kini, dia sudah mahir membuat songket Pandai Sikek yang terkenal di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/">Proyek Tol Ancam Kehidupan Masyarakat Pandai Sikek</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dewi menyusun benang warna merah dan emas menggunakan alat tenun tua peninggalan neneknya dengan teliti. Helai demi helai benang dia sisipkan mengikuti motif. Sesekali, tangannya bergerak mengatur tegangan benang agar tetap rapat dan tidak kusut. Dia belajar kerajinan ini sejak masih SMA, sekitar 2006. Kini, dia sudah mahir membuat songket Pandai Sikek yang terkenal di Indonesia hingga mancanegara. Beberapa pelanggannya pun ada dari Malaysia. Saat kuliah di Universitas Andalas, Padang, Dewi bahkan membawa alat tenun ke rumah kos agar tetap bisa bekerja di sela-sela kuliah. “Selain saya dan suami menenun, kami juga ada perajin yang menenun di rumah mereka masing-masing. Jadi, semua modal mulai dari benang, kain, dan motif itu kami sediakan, dengan sistem upah,” katanya, Sabtu (31/10/26). Pembayaran upah berdasar kain songket yang mereka hasilkan. Besaran bergantung pada tingkat kerumitan motif dan ukuran kain. Biasanya, berkisar Rp500.000-Rp3.000.000 per lembar. “Kalau yang Rp3.000.000 itu pengerjaannya bisa satu bulanan, kalau Rp500.000  sekitar satu minggu,” kata  perempuan 39 tahun itu. Dewi memasarkan songket melalui toko suvenir di Bukittinggi, di galerinya, serta penjualan daring. Harga kain antara berkisar jutaan hingga belasan juta. Selendang Saga Merah sepanjang 1,8 meter yang sedang dia kerjakan misal, seharga Rp3,5 juta. Kini, dia merasa waswas atas  rencana pembangunan jalan tol yang bakal melintasi Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar). Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KIPP) menyebut, tol di Tanah Datar merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan jalan tol Padang-Pekanbaru sepanjang 244 kilometer. Pembangunan seksi I yang meliputi Padang-Sicincin (28 kilometer)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/04/proyek-tol-ancam-kehidupan-masyarakat-pandai-sikek/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Skala Nasional, Agus Bikin Tempe Mendunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/#respond</comments>
					<pubDate>04 Nov 2026 00:30:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030328/Claudia-mahasiswa-Meksiko-yang-jatuh-cinta-dengan-tempe.-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135842</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperkenalkan tempe koro pedang kepada petani di Majalengka ketika mendampingi Lembaga Masyarakat Desa Hutan pada 2010. Selama empat tahun, dia mengembangkan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/">Bukan Skala Nasional, Agus Bikin Tempe Mendunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tempe tidak selalu harus dibuat dari kedelai. Bagi Agustinus Priyanto, biji koro pedang juga membuka peluang untuk mengolah pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pegiat pangan lokal yang akrab disapa Agus ini memperkenalkan tempe koro pedang kepada petani di Majalengka ketika mendampingi Lembaga Masyarakat Desa Hutan pada 2010. Selama empat tahun, dia mengembangkan dan mengenalkan produk tersebut. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanannya mengolah tempe, yang kemudian berkembang menjadi kelas-kelas pembuatan tempe organik dan pendampingan perajin. Ketertarikan Agus pada pertanian organik bermula ketika menjadi pendamping korban konflik Aceh pada 2008. Pengalaman tersebut mendorongnya memikirkan hubungan antarmakhluk hidup dan cara manusia memproduksi pangan. Saat bekerja bersama petani di Majalengka, dia melihat peluang dari keragaman biji-bijian lokal. “Kita kaya akan biji-bijian, bisa tidak tergantung dari kedelai,” katanya. Bagi Agus, memperluas bahan baku tempe merupakan cara mengangkat tanaman setempat. Dia juga mengembangkan tempe kedelai lokal sebagai bagian dari upayanya mendukung penggunaan hasil pertanian dalam negeri. Pengetahuan itu dibagikannya melalui kelas yang kebanyakan berlangsung secara daring. Peserta belajar teori dan praktik pembuatan tempe, mengenali bahan baku, hingga membuat ragi. Pada tingkat lanjutan, Agus memperkenalkan variasi tempe dengan kunyit, kencur, kayumanis, kelor, stevia, dan spirulina. Ada pula kelas pengolahan tempe dari beragam kacang-kacangan. Pesertanya datang dari berbagai kalangan, termasuk luar negeri. “Sekarang kita sudah era global. Tempe itu sudah mendunia,” ujarnya. Dia ingin keterampilan membuat pangan yang lekat dengan kehidupan Indonesia ini tetap dikenal dan diwariskan oleh masyarakatnya sendiri. Di Gunungkidul, Agus mendampingi perajin tempe Playen, kawasan yang menurutnya dahulu dikenal sebagai penghasil tempe&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/bukan-skala-nasional-agus-bikin-tempe-mendunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisakah Konservasi Monyet Ekor Panjang Berjalan Tanpa Libatkan Petani?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 13:39:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03133156/Monyet-ekor-panjang-Falahi-Mubarok-Mongabay-Indonesia-FAM_6945-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135895</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengusir monyet dari kebun mungkin bisa menyelamatkan tanaman untuk sementara. Namun, bagaimana bila primata Macaca fascicularis itu kembali beberapa hari kemudian, merusak tanaman lain, atau bikin petani gagal panen? Bagi warga yang hidup berdampingan dengan primata cerdas nan adaptif, persoalan ini tak sekadar gangguan, melainkan juga menyangkut ekonomi dan tata kelola lingkungan. Mihra Fauzia Mafaz, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/">Bisakah Konservasi Monyet Ekor Panjang Berjalan Tanpa Libatkan Petani?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengusir monyet dari kebun mungkin bisa menyelamatkan tanaman untuk sementara. Namun, bagaimana bila primata Macaca fascicularis itu kembali beberapa hari kemudian, merusak tanaman lain, atau bikin petani gagal panen? Bagi warga yang hidup berdampingan dengan primata cerdas nan adaptif, persoalan ini tak sekadar gangguan, melainkan juga menyangkut ekonomi dan tata kelola lingkungan. Mihra Fauzia Mafaz, peneliti yang mengkaji konflik masyarakat dan monyet ekor panjang di Desa Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menemukan bahwa berbagai upaya pengusiran yang dilakukan warga belum memberikan hasil berkelanjutan. “Ada yang mengusir dengan melempar batu, menyalakan petasan, hingga memasang orang-orangan sawah, tapi kawanan monyet tetap kembali ke kebun petani,” terangnya, Selasa (27/10/26). Dalam penelitiannya, Mihra melibatkan 30 responden melalui wawancara juga observasi lapangan. Hasilnya menunjukkan 76,6 persen responden menganggap primata cerdas itu sebagai gangguan, sedangkan 56,6 persen mengaku khawatir terhadap keberadaan satwa yang disebut juga monyet kra ini. Mihra bilang, gangguan monyet tersebut berlangsung bertahun. Dari keterangan warga, konflik terjadi sekitar satu dekade atau lebih. Gangguan, terutama menyasar lahan pertanian yang ditanami pisang, nangka, pepaya, dan singkong. Intensitasnya dilaporkan meningkat pada musim panen. Pada musim kemarau, macaca dilaporkan makin sering mendekati permukiman saat sumber makanan, karena di habitatnya sulit ditemukan. “Misalnya, hari ini mereka rombongan ke kebun pisang, kemudian diusir petani. Namun, monyet mempunyai sifat yang gampang beradaptasi. Kalau caranya itu-itu saja, monyet tidak takut dan kembali lagi.” Monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang hidupnya di alam liar. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Habitat terganggu Dari 30 responden yang diwawancarai, Mihra mendapati sebanyak 26 orang atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/03/bisakah-konservasi-monyet-ekor-panjang-berjalan-tanpa-libatkan-petani/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Danau Deduhuk dan Jalur Gajah Sumatera yang Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 10:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02013841/Danau-Deduhuk-yang-dikelilingi-perbukitan-Gunung-Patah.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135843</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dahulu, puluhan gajah sumatera datang untuk berendam di rawa Danau Deduhuk, lalu melanjutkan perjalanan melintasi pegunungan. Kini, kunjungan itu tinggal dalam ingatan warga Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Menurut warga, kawanan tersebut tidak lagi terlihat selama sekitar dua dekade. “Kami tidak paham mengapa bujang besak itu tidak pernah lagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/">Danau Deduhuk dan Jalur Gajah Sumatera yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dahulu, puluhan gajah sumatera datang untuk berendam di rawa Danau Deduhuk, lalu melanjutkan perjalanan melintasi pegunungan. Kini, kunjungan itu tinggal dalam ingatan warga Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Menurut warga, kawanan tersebut tidak lagi terlihat selama sekitar dua dekade. “Kami tidak paham mengapa bujang besak itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali. Sebutan bujang besak, yang berarti anak laki-laki besar, mencerminkan kedekatan masyarakat Semende dengan satwa yang mereka hormati sebagai sesama penghuni hutan. Danau Deduhuk berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut, dalam bentang perbukitan Gunung Patah. Menurut penuturan Zali, dahulu gajah mengunjunginya dua kali setahun. Kawanan datang dari arah Gunung Patah menuju Isau-Isau, kemudian kembali melintas beberapa bulan berikutnya. Di rawa yang disebut Danah Tiga Panggung, mereka berdiam dan berendam. Ingatan tentang perjalanan tersebut menunjukkan bahwa danau merupakan bagian dari ruang jelajah gajah, bersama rawa Pama dan Danau Gerak di wilayah Semende. Kini, jalur yang pernah dilalui kawanan itu menyisakan pertanyaan tentang keberadaan mereka. Bagi masyarakat Semende, jejak gajah juga menyimpan pengetahuan tentang hutan. Secara turun-temurun, warga mengenalnya sebagai petunjuk jalur, sumber air, dan tumbuhan pangan. Zali mengatakan masyarakatnya tidak memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Ahmad Juraidi, warga tepian danau, menyampaikan cerita serupa dari kakeknya: kawanan gajah pernah singgah selama beberapa hari tanpa mengganggu kebun dan pondok warga. Kesaksian tersebut merekam pengalaman hidup berdampingan yang masih dijaga dalam ingatan keluarga. Namun, keberadaan gajah di kawasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/danau-deduhuk-dan-jalur-gajah-sumatera-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Dayak Meratus Maknai Tiap Mimpi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 09:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/16120218/IMG_34090-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135852</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), miliki cara memaknai mimpi. Bukan hanya bunga tidur, mimpi memiliki beragam tafsiran sebagai pertanda yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Juga, pengingat untuk berhati-hati memperlakukan alam. Pinan, sesepuh adat Dayak Meratus yang tinggal di desa tertinggi Juhu, bilang, saat seseorang bermimpi melihat matahari dan bulan terbenam bisa jadi memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/">Masyarakat Adat Dayak Meratus Maknai Tiap Mimpi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), miliki cara memaknai mimpi. Bukan hanya bunga tidur, mimpi memiliki beragam tafsiran sebagai pertanda yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Juga, pengingat untuk berhati-hati memperlakukan alam. Pinan, sesepuh adat Dayak Meratus yang tinggal di desa tertinggi Juhu, bilang, saat seseorang bermimpi melihat matahari dan bulan terbenam bisa jadi memiliki tafsir berbeda. Matahari terbenam biasa mereka kaitkan dengan kematian laki-laki, sedangkan bulan terbenam dengan kematian perempuan. Pria 64 tahun ini bilang, penafsiran juga berkaitan dengan kekerabatan. Matahari dapat diibaratkan ayah, sedangkan bulan sebagai ibu. Mimpi melihat matahari atau bulan terbit juga memiliki tafsir tersendiri. Matahari terbit mereka kaitkan dengan kelahiran anak laki-laki, sementara bulan terbit dengan kelahiran anak perempuan. Masyarakat, katanya, tidak memandang semua mimpi pertanda baik. Mimpi membunuh binatang tertentu, seperti beruang, musang, atau ular, seringkali dianggap membawa peringatan. Mimpi membunuh beruang mereka tafsirkan kemungkinan datangnya bahaya. Sementara itu, membunuh musang dengan perasaan gelisah atau sakit hati. Adapun mimpi membunuh ular mereka hubungkan dengan kemungkinan terjadinya kematian akibat tindakan manusia terhadap manusia lain. Mimpi tergigit ular juga masyarakat pandang sebagai pertanda. Dalam penuturannya, ada pula kemungkinan mimpi tentang ular berkaitan dengan kedatangan anak atau anggota keluarga. Di balik penafsiran mimpi, dia mengingatkan agar manusia tidak sembarangan mengambil atau merusak hewan dan tumbuhan. Menurut dia, manusia tidak seharusnya bertindak sembarangan terhadap makhluk hidup, terutama jika tidak memiliki keperluan untuk mengambil atau merusaknya. Orang Dayak Meratus berfoto bersama usai menghadiri diskusi publik di Kota Banjarbaru. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Kaitan dengan berladang Penafsiran mimpi juga bersinggungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/03/masyarakat-adat-dayak-meratus-maknai-tiap-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Siput Plectostoma sciaphilum Punah Setelah Satu-satunya Bukit Tempat Hidupnya Ditambang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/03/siput-plectostoma-sciaphilum-punah-setelah-satu-satunya-bukit-tempat-hidupnya-ditambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/03/siput-plectostoma-sciaphilum-punah-setelah-satu-satunya-bukit-tempat-hidupnya-ditambang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 05:26:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/03052401/Plectostoma_obliquedentatum-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135880</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bukit kapur di Asia Tenggara sering diibaratkan pulau di tengah daratan. Setiap bukit dipisahkan dari bukit lain oleh dataran rendah, sungai, hutan, atau perkebunan, sehingga hewan kecil yang hidup di dalamnya hampir tidak pernah berpindah. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, keterasingan itu melahirkan banyak spesies endemik yang hanya ditemukan di satu bukit. Jaap Vermeulen, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/siput-plectostoma-sciaphilum-punah-setelah-satu-satunya-bukit-tempat-hidupnya-ditambang/">Siput Plectostoma sciaphilum Punah Setelah Satu-satunya Bukit Tempat Hidupnya Ditambang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bukit kapur di Asia Tenggara sering diibaratkan pulau di tengah daratan. Setiap bukit dipisahkan dari bukit lain oleh dataran rendah, sungai, hutan, atau perkebunan, sehingga hewan kecil yang hidup di dalamnya hampir tidak pernah berpindah. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, keterasingan itu melahirkan banyak spesies endemik yang hanya ditemukan di satu bukit. Jaap Vermeulen, naturalis Belanda yang mendalami keanekaragaman hayati kawasan kapur, memperkirakan satu bukit dapat dihuni 50 hingga 100 spesies siput. Di saat yang sama, batu kapur adalah bahan baku utama semen, sehingga bukit-bukit ini terus diincar industri tambang. Salah satu korban dari benturan kepentingan itu adalah Plectostoma sciaphilum, siput darat berukuran beberapa milimeter dari Semenanjung Malaysia. Siput ini hanya diketahui hidup di Bukit Panching, sebuah bukit kapur di dekat Kuantan, Negara Bagian Pahang. Sepanjang catatan ilmiah, ia tidak pernah ditemukan di tempat lain. Bukit Panching ditambang pada pertengahan 2000-an, dan habitat satu-satunya itu hilang. International Union for Conservation of Nature (IUCN) kemudian memasukkan spesies ini ke kategori Punah (Extinct) dalam pembaruan Daftar Merah pada akhir 2014. Siput serasah dari Bukit Panching Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1952 oleh ahli moluska Belanda, Willemina van Benthem Jutting, dengan nama Opisthostoma sciaphilum. Spesimen acuannya disimpan di Museum Zoologi Amsterdam, yang koleksinya kini berada di Naturalis Biodiversity Center, Leiden. Nama sciaphilum berasal dari bahasa Yunani dan berarti &#8220;penyuka tempat teduh&#8221;. Nama ini sesuai dengan kebiasaannya hidup di antara serasah daun di lantai hutan. Cangkang siput belalai gajah (Hypselostoma elephas), dinamai dari putaran akhir cangkangnya yang memanjang seperti belalai. Siput ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/siput-plectostoma-sciaphilum-punah-setelah-satu-satunya-bukit-tempat-hidupnya-ditambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/03/siput-plectostoma-sciaphilum-punah-setelah-satu-satunya-bukit-tempat-hidupnya-ditambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pakar Jelaskan Bahaya Hirup Asap Kebakaran Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/03/para-pakar-jelaskan-bahaya-hirup-asap-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/03/para-pakar-jelaskan-bahaya-hirup-asap-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 02:29:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/03015613/Karhutla-Krismes-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135743</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah aktivis dan pakar kesehatan menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia tahun ini bukan lagi sekadar bencana ekologi. Lebih dari itu, mereka menyebut peristiwa ini  menjelma sebagai krisis kesehatan krusial. Dalam siaran persnya, Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) menyebut, kepungan asap tebal beracun yang terus berulang mengancam keselamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/para-pakar-jelaskan-bahaya-hirup-asap-kebakaran-hutan/">Para Pakar Jelaskan Bahaya Hirup Asap Kebakaran Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah aktivis dan pakar kesehatan menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia tahun ini bukan lagi sekadar bencana ekologi. Lebih dari itu, mereka menyebut peristiwa ini  menjelma sebagai krisis kesehatan krusial. Dalam siaran persnya, Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) menyebut, kepungan asap tebal beracun yang terus berulang mengancam keselamatan jutaan jiwa masyarakat Indonesia. Terutama, kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga pekerja luar ruangan. Herawati Supolo Sudoyo, Pembina YSSTI, menyoroti penanganan karhutla yang  terlalu fokus pada upaya pemadaman titik api di lapangan. Padahal, dampak kesehatan pada warga yang menghirup asap saban hari membutuhkan perhatian yang tidak kalah mendesak. Mengutip data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, tercatat akumulasi 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melanda 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla, di mana 75.172 kasus (22,5%) antara lain,  menyerang balita usia 0–5 tahun dan 258.298 kasus (77,5%) dialami warga  usia lebih  lima tahun.  Tingkat pencemaran udara pun berada pada level ekstrem. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 27 Oktober 2026 menunjukkan angka berbahaya seperti di Banjarmasin (ISPU 1021-PM10) dan Kabupaten Kapuas (ISPU 660-PM2.5). Kondisi kabut asap kuning pekat di langit Kalteng, pekan kedua Oktober 2026. Foto: Krismes Santo Haloho /Mongabay Indonesia Ganggu fungsi organ Herawati mengatakan, paparan partikel halus PM2.5 secara berulang tidak hanya memicu dampak akut seketika seperti batuk dan serangan asma, juga membawa risiko jangka panjang terhadap penurunan fungsi organ, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan tumbuh kembang anak di masa depan. Karena itu, skema perlindungan kesehatan harus masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/03/para-pakar-jelaskan-bahaya-hirup-asap-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/03/para-pakar-jelaskan-bahaya-hirup-asap-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Liar Menghilang, Kebun Kopi Masyarakat Sumatera Selatan Belum Tentu Lebih Aman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kucing-liar-menghilang-kebun-kopi-masyarakat-sumatera-selatan-belum-tentu-lebih-aman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kucing-liar-menghilang-kebun-kopi-masyarakat-sumatera-selatan-belum-tentu-lebih-aman/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 02:09:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230648/Tidak-hanya-di-Gunung-Raya-hama-babi-meresahkan-petani-di-sekitar-dataran-tinggi-Sumatera-Selatan-seperti-Pagar-Alam-dan-Semende.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135822</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berkurangnya perjumpaan dengan satwa liar membuat sebagian petani di sekitar Suaka Margasatwa Gunung Raya, Sumatera Selatan, merasa lebih aman berkebun. Namun, persoalan di kebun mereka belum selesai. Babi hutan merusak tanaman, sementara cuaca yang sulit diperkirakan mengganggu pembungaan kopi. Suparto, petani Desa Way Wangi Seminung, mengaku kebun satu hektarnya dahulu menghasilkan sekitar dua ton kopi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kucing-liar-menghilang-kebun-kopi-masyarakat-sumatera-selatan-belum-tentu-lebih-aman/">Kucing Liar Menghilang, Kebun Kopi Masyarakat Sumatera Selatan Belum Tentu Lebih Aman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berkurangnya perjumpaan dengan satwa liar membuat sebagian petani di sekitar Suaka Margasatwa Gunung Raya, Sumatera Selatan, merasa lebih aman berkebun. Namun, persoalan di kebun mereka belum selesai. Babi hutan merusak tanaman, sementara cuaca yang sulit diperkirakan mengganggu pembungaan kopi. Suparto, petani Desa Way Wangi Seminung, mengaku kebun satu hektarnya dahulu menghasilkan sekitar dua ton kopi pada 2014. Kini, hasilnya sekitar 300 kilogram. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menghilangnya satwa dari sekitar kebun tidak serta-merta membawa kondisi pertanian yang lebih baik. Gunung Raya dahulu menjadi habitat gajah sumatera, harimau, macan dahan, kucing emas, kucing kuwuk, hingga tapir. Menurut warga, satwa-satwa tersebut kini semakin jarang terlihat seiring berkurangnya tutupan hutan. Data BKSDA Sumatera Selatan menunjukkan sekitar 32.608 hektar, atau 64% dari luas kawasan, masuk dalam blok rehabilitasi karena terganggu atau berubah menjadi perkebunan. Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia, menekankan pentingnya menjaga satwa beserta habitatnya. “Banyak praktisi sekarang memahami penyelamatan satwa liar, merupakan salah satu kunci dalam memerangi krisis iklim,” katanya. Di kebun kopi, babi mencari makanan dengan menggali tanah, yang dapat merusak akar dan merobohkan tanaman muda.  Parmin, petani kopi di sekitar Gunung Raya. juga melaporkan babi memakan buah kopi. Sebagian warga menduga tekanan ini berkaitan dengan berkurangnya predator, terutama harimau yang memangsa babi. Namun, dugaan tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab perubahan populasi babi di Gunung Raya. Perubahan habitat dan ketersediaan makanan juga perlu diperhatikan. Di wilayah Semende, petani Dapawi menduga menyusutnya hutan membuat babi lebih sering masuk kebun, merusak kopi, padi, dan tanaman lainnya. Peran kucing liar sebagai pengendali hama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kucing-liar-menghilang-kebun-kopi-masyarakat-sumatera-selatan-belum-tentu-lebih-aman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/kucing-liar-menghilang-kebun-kopi-masyarakat-sumatera-selatan-belum-tentu-lebih-aman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara Nelayan di Rembuk Agraria Pesisir 2026</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/suara-nelayan-di-rembuk-agraria-pesisir-2026/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/suara-nelayan-di-rembuk-agraria-pesisir-2026/#respond</comments>
					<pubDate>03 Nov 2026 01:29:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04044213/WhatsApp-Image-2026-08-03-at-21.39.34-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=135866</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, featured, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wilayah pesisir dan laut merupakan ruang hidup bagi nelayan tradisional dan masyarakat pesisir. Di ruang inilah masyarakat mencari ikan, mengembangkan ekonomi, membangun kehidupan sosial, serta mempertahankan pengetahuan dan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Namun, saat ini ruang pesisir dan laut semakin banyak menghadapi tekanan, baik dari pembangunan, investasi, reklamasi, konservasi, pariwisata, maupun berbagai kepentingan lainnya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/suara-nelayan-di-rembuk-agraria-pesisir-2026/">Suara Nelayan di Rembuk Agraria Pesisir 2026</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wilayah pesisir dan laut merupakan ruang hidup bagi nelayan tradisional dan masyarakat pesisir. Di ruang inilah masyarakat mencari ikan, mengembangkan ekonomi, membangun kehidupan sosial, serta mempertahankan pengetahuan dan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Namun, saat ini ruang pesisir dan laut semakin banyak menghadapi tekanan, baik dari pembangunan, investasi, reklamasi, konservasi, pariwisata, maupun berbagai kepentingan lainnya. Kondisi tersebut sering kali berdampak pada berkurangnya akses masyarakat terhadap ruang dan sumber daya yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. Persoalan tersebut pada dasarnya juga merupakan persoalan agraria. Hanya saja, pembicaraan tentang reforma agraria selama ini lebih banyak melihat persoalan tanah di daratan. Padahal, masyarakat pesisir juga memiliki hubungan yang kuat dengan ruang laut dan pesisir melalui wilayah tangkap, praktik lokal, serta sumber daya yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Karena itu, perlu ada ruang untuk membicarakan kembali bagaimana reforma agraria dapat menjawab persoalan masyarakat pesisir dan nelayan tradisional.  Rembuk Agraria Pesisir adalah ruang konsolidasi dan diskusi untuk bersama-sama membicarakan persoalan agraria di wilayah pesisir dan laut. Rembuk ini mempertemukan nelayan tradisional, petambak garam, pembudaya ikan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, pemerintah, untuk berbagi pengalaman dan mencari rumusan bersama. Rembuk ini tidak hanya membahas persoalan tanah, tetapi juga melihat penguasaan ruang, akses terhadap laut, wilayah tangkap, wilayah kelola, konflik ruang, praktik lpkal serta hak masyarakat pesisir untuk terlibat dalam menentukan pengelolaan wilayahnya. Harapannya ini menjadi ruang untuk memperluas pemahaman tentang reforma agraria dalam konteks pesisir agar tidak hanya berbicara tentang daratan, tetapi juga menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat di pesisir dan laut. Untuk itu, di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/suara-nelayan-di-rembuk-agraria-pesisir-2026/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/suara-nelayan-di-rembuk-agraria-pesisir-2026/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konsesi Sawit Anggota RSPO Alami Kebakaran, Sistem Uji Tuntas Lemah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/konsesi-sawit-anggota-rspo-alami-kebakaran-sistem-uji-tuntas-lemah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/konsesi-sawit-anggota-rspo-alami-kebakaran-sistem-uji-tuntas-lemah/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 23:59:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10233918/Karhutla-Kalbar-Widya-5aaa-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135857</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan parah terjadi di berbagai daerah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatera sampai Papua, dan sebagian berada di konsesi perusahaan sawit. Analisis spasial Sawit Watch di tiga kabupaten di Kalimantan Tengah, yakni Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Seruyan, menemukan konsentrasi titik panas (hotspot) di dalam konsesi perusahaan sawit anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/konsesi-sawit-anggota-rspo-alami-kebakaran-sistem-uji-tuntas-lemah/">Konsesi Sawit Anggota RSPO Alami Kebakaran, Sistem Uji Tuntas Lemah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan parah terjadi di berbagai daerah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatera sampai Papua, dan sebagian berada di konsesi perusahaan sawit. Analisis spasial Sawit Watch di tiga kabupaten di Kalimantan Tengah, yakni Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Seruyan, menemukan konsentrasi titik panas (hotspot) di dalam konsesi perusahaan sawit anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Di Kabupaten Kapuas, tercatat 2.519 titik terbakar, di Kotawaringin Timur ada 1.291 titik terbakar dan di Kabupaten Seruyan 1.402 titik. Pemetaan itu juga menunjukkan sejumlah konsesi yang teridentifikasi sebagai anggota RSPO sekaligus target penyitaan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Analisis data Sawit Watch itu jadi sorotan menjelang konferensi tahunan RT RSPO 2026 di Jakarta pada 3-4 November ini. Temuan ini,  juga jadi momentum menguji kembali efektivitas sertifikasi sawit berkelanjutan, terutama dalam mencegah kebakaran dan memastikan perlindungan ekosistem di wilayah konsesi anggotanya. Achamd Surambo, Direktur Eksekutif Sawit Watch, menilai,  temuan itu menunjukkan lemahnya sistem uji tuntas (due diligence) RSPO dalam mencegah kebakaran di wilayah konsesi anggotanya. Menurut dia, perusahaan yang mengantongi sertifikasi keberlanjutan semestinya dapat menjadi contoh dalam mencegah karhutla. “Kalau kita lihat, uji tuntas RSPO itu bobol. Logika sederhananya, kalau anggota RSPO, harusnya tidak terbakar. Jadi,  kalau anggota RSPO harusnya jadi contoh bahwa wilayah itu bersih dari karhutla,” kata Rambo, sapaan akrabnya dalam diskusi publik bertajuk Karhutla, Perlindungan Ekosistem, dan Keberlanjutan Sawit di Jakarta. Dia mendesak,  RSPO membuka daftar anggota yang wilayah konsesi terbakar beserta data pengelolaan lahan itu kepada publik. Keterbukaan itu penting agar RSPO menunjukkan tanggung jawab dan tidak hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/konsesi-sawit-anggota-rspo-alami-kebakaran-sistem-uji-tuntas-lemah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/konsesi-sawit-anggota-rspo-alami-kebakaran-sistem-uji-tuntas-lemah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratusan Burung Sitaan di Sumatera Utara, Pelaku Masih Buron</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/ratusan-burung-sitaan-di-sumatera-utara-pelaku-masih-buron/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/ratusan-burung-sitaan-di-sumatera-utara-pelaku-masih-buron/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 16:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/01212309/Ribuan-burung-liar-diburu-dari-alam-dikirim-dari-Aceh-ke-Sumut-tanpa-dokumen-sah-untuk-dijual-kembali.-Pemiliknya-diduga-memiliki-izin-penagkaran-dikeluarkan-BBKSDA-SumutAyat-S-Karokaro-01-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135805</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Balai Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkumhut) Wilayah Sumatera menggerebek rumah Asri S, aktor penyelundupan satwa liar dilindungi dari Afrika 2022. Sayangnya, meski terdapat barang bukti baru berupa ratusan burung yang akan dia jual dan selundupkan, aksi itu  keburu tercium hingga Asri lolos. Para pegiat satwa pun mempertanyakan koordinasi antar penegak hukum. Penggerebekan itu di rumahnya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/ratusan-burung-sitaan-di-sumatera-utara-pelaku-masih-buron/">Ratusan Burung Sitaan di Sumatera Utara, Pelaku Masih Buron</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Balai Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkumhut) Wilayah Sumatera menggerebek rumah Asri S, aktor penyelundupan satwa liar dilindungi dari Afrika 2022. Sayangnya, meski terdapat barang bukti baru berupa ratusan burung yang akan dia jual dan selundupkan, aksi itu  keburu tercium hingga Asri lolos. Para pegiat satwa pun mempertanyakan koordinasi antar penegak hukum. Penggerebekan itu di rumahnya di Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Sumatera Utara (Sumut). Di dalamnya, terdapat 101 burung kelas cica daun, tersimpan dalam kandang di Gudang lantai II. Rinciannya, 37 burung cica daun sayap biru sumatera hidup dan empat mati, 42 cica daun kecil hidup dan empat mati, serta 22 cica daun sumatera hidup dan tiga mati. Saat penindakan, Asri  tidak berada di tempat, istrinya menyatakan suaminya sedang keluar kota. Hari Novianto, Kepala Balai Gakkumhut Wilayah Sumatera, mengatakan, pemeriksaan terhadap Asri menjadi kunci untuk membongkar jaringan ini. Kasus ini, katanya, masih dalam pengembangan terhadap jaringan yang lebih luas. Kasus terungkap setelah ada laporan warga yang curiga suara burung kerap terdengar dari rumah itu. Tim penyidik Balai Gakkumhut Wilayah Sumatera kemudian memantau tertutup dan menemukan indikasi Asri terhubung dengan sindikat, memperkuat dugaan ada jaringan terorganisir yang aktif di Sumut. &#8220;Hingga saat ini yang bersangkutan belum juga datang meskipun surat panggilan sudah kami layangkan.&#8221; Asri kena tuding melanggar Pasal 40A ayat (1) huruf d jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a UU  32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman pidana mencapai 15 tahun penjara dan denda kategori VII. Bil Suabdi, Kepala Seksi Wilayah I Medan, Balai Gakkumhut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/ratusan-burung-sitaan-di-sumatera-utara-pelaku-masih-buron/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/ratusan-burung-sitaan-di-sumatera-utara-pelaku-masih-buron/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belum Pulih dari Bencana, Warga Padang Kembali Diterjang Banjir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 10:00:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24094312/WhatsApp-Image-2026-10-24-at-02.39.25-e1792835097199-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135676</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasur pegas yang dibersihkan Yuli Wetri menyimpan ingatan tentang dua banjir. Benda itu selamat ketika sebagian besar rumah dan hartanya hanyut pada November 2025. Namun, belum setahun berlalu, kasur yang sama kembali terendam lumpur setelah banjir menerjang Padang pada 10 Oktober 2026. “Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang),” katanya. Yuli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/">Belum Pulih dari Bencana, Warga Padang Kembali Diterjang Banjir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasur pegas yang dibersihkan Yuli Wetri menyimpan ingatan tentang dua banjir. Benda itu selamat ketika sebagian besar rumah dan hartanya hanyut pada November 2025. Namun, belum setahun berlalu, kasur yang sama kembali terendam lumpur setelah banjir menerjang Padang pada 10 Oktober 2026. “Trauma kemarin belum hilang, sudah datang pula yang baru (banjir bandang),” katanya. Yuli baru sebulan menumpang di rumah kerabat sambil menunggu hunian tetap. Bencana kembali memaksanya menghadapi kehilangan rasa aman, bersama sekitar 165 keluarga atau 615 jiwa yang mengungsi. Di perumahan Lumin Park Cluster, Kelurahan Lubuk Minturun, tanggul pembatas jebol dan air naik hingga sekitar 1,5-2 meter. Pintu, jendela, serta pagar rumah rusak, sementara lumpur menutupi bagian dalam bangunan. Herawati, yang tinggal di sana sejak 2019, mengaku kini segera mengungsi ketika langit menggelap. Pengalaman warga mendorong Walhi Sumatera Barat mempertanyakan dasar pembangunan perumahan tersebut. Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, menyebut lokasinya berada di tikungan Sungai Batang Aia Dingin yang rawan banjir dan erosi. Ia mendesak evaluasi tata ruang, perizinan, serta pengawasan pembangunan, bukan hanya penanganan setelah bencana. Pengembang Lumin Park membantah pembangunan melanggar sempadan sungai atau tata ruang. Melalui kuasa hukumnya, Mettalia Yolanda, perusahaan menyatakan telah melakukan studi kelayakan dan kajian teknis tata air sebelum membangun. “Tidak ada bangunan rumah yang kami dirikan melanggar batas sempadan atau mencaplok kawasan lindung sungai.” Pengembang juga menyebut telah meninggikan tanah dasar dan mengajukan perbaikan infrastruktur kepada instansi terkait. Menurut mereka, sedimentasi setelah banjir November 2025 menurunkan kapasitas sungai sehingga kawasan yang sebelumnya dinilai aman menjadi rentan. Perbedaan penjelasan ini memperkuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/11/belum-pulih-dari-bencana-warga-padang-kembali-diterjang-banjir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Maluku Utara Hanguskan Hutan sampai Kebun Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 06:23:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal &amp; Fadly Kayoa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02060448/2-Kebakaran-di-aera-taman-nasional-aketajawe-lolobata.jpeg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135826</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara dan ternate]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sejak awal Oktober lalu api mulai melahap sekitar 20 hektar hutan dan kebun warga di Taman Love, Kelurahan Moya, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Api muncul melalap  kebun warga dan hutan, serta terus meluas. Saat ini, hujan mulai turun. Hingga pertengahan Oktober  lalu, asap masih menyelimuti Ternate dan Halmahera. Badan Meteorologi Klimatologi, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/">Kebakaran Maluku Utara Hanguskan Hutan sampai Kebun Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sejak awal Oktober lalu api mulai melahap sekitar 20 hektar hutan dan kebun warga di Taman Love, Kelurahan Moya, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Api muncul melalap  kebun warga dan hutan, serta terus meluas. Saat ini, hujan mulai turun. Hingga pertengahan Oktober  lalu, asap masih menyelimuti Ternate dan Halmahera. Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan asap akan bertahan beberapa hari, berasal dari kebakaran di Halmahera dan Ternate, serta kiriman dari Papua dan Maluku. Di lokasi lain, asap mengepul di jalanan Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara, Rabu sore 7 Oktober. Bau plastik terbakar menyengat sepanjang jalan, lebih dari satu kilometer dari titik api di tempat pembuangan akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome. Angin membawa asap itu ke kawasan konservasi Pulo Tareba dan kelurahan lain di Ternate Barat, hingga Kelurahan Kulaba. Kebakaran bermula pada Sabtu, 3 Oktober sekitar pukul 13.00 WIT. Api diduga muncul dari gubuk kosong di area TPA, lalu menjalar ke zona aktif karena angin kencang dan sampah kering. TPA itu luasnya sekitar 31 hektar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan area terdampak sekitar 11 hektar. Lima hari berselang, api belum juga padam dan merembet ke Sulamadaha serta jalan menuju wisata Jikomalamo. Pemerintah Kota Ternate menetapkan status tanggap darurat karhutla untuk 3-16 Oktober. Pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kelurahan Takome Ternate. Foto: dokumen warga Dari Morotai hingga Taliabu Ternate hanyalah satu titik. Karhutla juga melanda Tidore Kepulauan, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Pulau Morotai, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/kebakaran-maluku-utara-hanguskan-hutan-sampai-kebun-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Biru Terdampar di Ngada Berhasil Kembali ke Laut Dalam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 04:05:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/01161108/2A-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135795</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satu paus biru (Balaenoptera musculus) berukuran 24 meter terdampar di pesisir Pulau Kolong, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (30/10/26) pagi. Meski susah payah, spesies dengan ukuran yang lebih besar dari bus itu akhirnya berhasil didorong kembali ke perairan lepas. Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT katakan, kabar insiden [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/">Paus Biru Terdampar di Ngada Berhasil Kembali ke Laut Dalam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satu paus biru (Balaenoptera musculus) berukuran 24 meter terdampar di pesisir Pulau Kolong, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (30/10/26) pagi. Meski susah payah, spesies dengan ukuran yang lebih besar dari bus itu akhirnya berhasil didorong kembali ke perairan lepas. Adhi Nurul Hadi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT katakan, kabar insiden itu pertama kali dilaporkan anggota Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MPP), sekitar pukul 05. 30. Satu jam kemudian, petugas dari Resor KSDA Wilayah Riung tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi. “Paus Biru ini ditemukan terdampar pada perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 2-3 meter di areal pesisir dalam blok perlindungan bahari kawasan TWAL 17 Pulau. Ditemukan dalam kondisi hidup,” katanya  melalui keterangan tertulisnya kepada Mongabay, Sabtu (31/10/26). Dia bilang,  dari hasil identifikasi, spesies itu merupakan paus Biru (Balaenoptera musculus) dengan panjang tubuh 20, 5 meter, lebar kepala 3, 25 meter dan lebar badan tengah/lingkar perut 4, 3 meter. Dari pengukuran, panjang ekor paus malang itu memiliki panjang 4 meter dengan labar 4, 75 meter. Lalu, panjang sirip 2, 35 meter, panjang kepala 4, 55 meter serta lebar tubuh bagian ekor 4, 22 meter. Spesies ini memiliki aktivitas semburan dalam rentang 1,7 menit. Tim gabungan harus berusah payah mengevakuasi badan paus biru yang lebih besar dari ukuran bus kembali ke laut lepas. Foto: BKSDA NTT. Upaya penyelamatan Ukuran paus yang sangat besar membuat proses evakuasi berlangsung sulit. Petugas bahkan harus menunggu bantuan dari satuan lain. Sembari itu, petugas dan relawan terus menyirami badan paus dan menjaga lubang napas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/paus-biru-terdampar-di-ngada-berhasil-kembali-ke-laut-dalam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Danau Deduhuk Semende yang Kehilangan Gajah Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 01:45:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/11/02013740/Kawasan-rawa-Danau-Deduhuk-di-Dusun-Rantau-Dedap-Semende-Darat-Ulu-Kabupaten-Muara-Enim-dulunya-tempat-puluhan-gajah-sumatera-berendam.-Foto-drone-Iwan-CheristianMongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135811</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah tahun 2003, Danau Dedughuk atau Deduhuk selalu dikunjungi kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Tapi selama 20 tahun terakhir, danau yang berada di Dusun Rantau Dedap di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak lagi dikunjungi gajah. Mengapa? “Kami tidak paham mengapa bujang besak (anak laki-laki besar) itu tidak pernah lagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/">Danau Deduhuk Semende yang Kehilangan Gajah Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah tahun 2003, Danau Dedughuk atau Deduhuk selalu dikunjungi kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Tapi selama 20 tahun terakhir, danau yang berada di Dusun Rantau Dedap di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak lagi dikunjungi gajah. Mengapa? “Kami tidak paham mengapa bujang besak (anak laki-laki besar) itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali (44), warga Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (26/10/26). Bujang besak adalah penyebutan masyarakat Semende untuk gajah sumatera. Danau Deduhuk berada di lembah perbukitan Gunung Patah atau yang dikenal sebagai kawasan Hutan Lindung Jambul Nanti Patah. Nama Deduhuk diambil dari tanaman semak liar atau perdu (Melastoma malabathricum). Masyarakat di Indonesia mengenalnya sebagai senduduk atau senggani. Disebut Danau Deduhuk, sebab di masa lalu tanaman perdu banyak tumbuh di pinggiran danau. Gajah sumatera bagi masyarakat Semende sangat dihormati. Sebab, di hutan gajah dapat dijadikan petunjuk jalur atau jalan teraman dan petunjuk sumber air beserta makanan. “Kalau kita masuk hutan, maka ikutilah jejak gajah. Kita pasti akan menemukan sumber air dan makanan. Hampir semua buah-buahan atau umbut tanaman yang dimakan gajah, dapat dimakan manusia. Selain itu jalur gajah adalah jalur aman. Pengetahuan ini sudah diturunkan jeme (orang) Semende dalam beberapa generasi,” jelas Zali. Dengan pentingnya peranan gajah tersebut, maka masyarakat Semende tidak pernah atau memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Kawasan rawa Danau Deduhuk di Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/11/02/danau-deduhuk-semende-yang-kehilangan-gajah-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita dari Pesisir Cilacap Hingga Mama-mama di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/#respond</comments>
					<pubDate>02 Nov 2026 00:58:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14135556/ubur1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=135721</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, featured, hutan indonesia, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Alam terus menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Cuaca yang tak menentu dan eksploitasi alam berdampak bagi kehidupan masyarakat. Sudah empat bulan, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan memberikan dampak kesehatan, ekonomi, pendidikan hingga sosial. Di Cilacap, kemarau panjang membuka peluang bagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/">Cerita dari Pesisir Cilacap Hingga Mama-mama di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Alam terus menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Cuaca yang tak menentu dan eksploitasi alam berdampak bagi kehidupan masyarakat. Sudah empat bulan, kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan memberikan dampak kesehatan, ekonomi, pendidikan hingga sosial. Di Cilacap, kemarau panjang membuka peluang bagi nelayan untuk memanen ubur-ubur. Perempuan nelayan di Kampung Atuka, Papua mengandalkan hasil hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, perdagangan ilegal mengancam kelestarian biota laut dan praktik tambang emas ilegal menyisakan kerusakan lingkungan dan risiko keselamatan jiwa. Ada lima artikel pilihan Mongabay Snaps kali ini mengangkat beragam cerita tersebut, mulai dari cerita inisiatif masyarakat, perjuangan masyarakat pesisir, hingga persoalan perdagangan ilegal dan dampak eksploitasi alam. Lalu, apa yang terjadi di balik setiap peristiwa tersebut? 1. El niño datang, nelayan Cilacap panen ubur-ubur hingga dua ton  Para nelayan antre untuk menyetorkan hasil tangkapan ubur-ubur di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26). Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Fenomena El Niño membawa berkah bagi nelayan di Cilacap, Jawa Tengah. Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026, mereka menikmati musim panen ubur-ubur yang melimpah. Dengan perahu kecil, nelayan bahkan bisa mendapatkan hingga dua ton ubur-ubur dalam sekali melaut. Hasil tangkapan ini menjadi peluang bagi para nelayan untuk meningkatkan pendapatan mereka. Namun, kemunculan ubur-ubur merupakan fenomena musiman yang tidak terjadi setiap tahun. Dalam lima tahun terakhir, tercatat dua tahun ketika nelayan tidak mendapatkan hasil tangkapan ubur-ubur. Lantas, bagaimana nelayan memanfaatkan musim&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/11/cerita-dari-pesisir-cilacap-hingga-mama-mama-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>