<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=a-asnawi-sidoarjo&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/a-asnawi-sidoarjo/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 25 May 2026 08:17:00 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Konflik Agraria dengan Grup Sinar Mas, Lebih 800 Warga Bukit Bakar Terisolasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 08:17:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Elviza DianaTeguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25075509/Sinar-Mas-Jambi-Elviza-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128313</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Konflik Agraria Tak Berujung]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Turani berdiri di tepi galian tanah berusaha menghentikan eksavator. Berulang kali dia mendekat, tetapi selalu dihadang. Dia protes karena tanahnya kena garuk perusahaan hutan tanaman industri, PT Wirakarya Sakti (WKS). Meski begitu, suara penjual gorengan ini seakan terbentur tembok batu. Pada 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &#38; Paper (APP), Sinarmas Grup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/">Konflik Agraria dengan Grup Sinar Mas, Lebih 800 Warga Bukit Bakar Terisolasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Turani berdiri di tepi galian tanah berusaha menghentikan eksavator. Berulang kali dia mendekat, tetapi selalu dihadang. Dia protes karena tanahnya kena garuk perusahaan hutan tanaman industri, PT Wirakarya Sakti (WKS). Meski begitu, suara penjual gorengan ini seakan terbentur tembok batu. Pada 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &amp; Paper (APP), Sinarmas Grup ini, sengaja memutus jalan warga di Desa Bukit Bakar, Kecamatan Renah Mendaluh, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Selama dua hari, sembilan titik jalan terputus. Sejak saat itu, lebih dari 830 warga di RT07 dan RT09 praktis terisolasi. Aktivitas ekonomi lumpuh. Hasil panen tak bisa keluar. Kebutuhan pokok sulit masuk. Setidaknya 66 anak kehilangan akses ke sekolah. Kini, untuk mencapai jalan nasional Simpang Niam–Merlung, warga harus memutar sejauh 20-25 kilometer. Dulu, jarak itu hanya lima kilometer. “Kalau SMP dan SMA itu yang susah, soalnya harus keluar desa. Kalau musim hujan tidak bisa lewat. Jalan buruk,” kata Jumirah, lirih. Perubahan itu bukan sekadar angka, tetapi beban yang harus masyarakat tanggung setiap hari mulai biaya, waktu, dan keselamatan. Jumirah khawatir, peristiwa pilu pada 2008 kembali terulang. Dia ingat saat itu seorang perempuan hamil harus dipanggul menggunakan sarung, melewati jalan tanah berlumpur menuju fasilitas kesehatan. Naas, si ibu meninggal dunia sebelum sampai tujuan. “Ibu dan anaknya meninggal,” kenangnya pelan. Kini,  bayangan tragedi itu kembali menghantui Jumirah dan perempuan lain di Desa Bukit Bakar. Terlebih saat ini di desa, ada 7-8 perempuan sedang hamil tua. Yang lebih membuat warga kecewa dan marah, pemutusan jalan itu terjadi di tengah proses dialog yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/konflik-agraria-dengan-grup-sinar-mas-lebih-800-warga-bukit-bakar-terisolasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Kebun Sekolah sebagai Ruang Belajar Siswa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 07:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/24160252/Wajah-ceria-siswi-SMPN4-Wulandoni-usai-panen-sorgum-d-i-kebun-sekolah-di-Desa-Tapobali.Foto-Nopri-IsmiMongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128315</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, komunitas lokal, pangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Secara rutin, para siswa dan guru SD Inpres Nunumeu di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur merawat dan mengelola kebun sekolahnya.  Mereka membersihkan, menyiapkan bedengan dan menanam bibit sayuran dan pangan lokal. Tak hanya untuk ketahanan pangan di sekolah, kegiatan ini sebagai upaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/">Dorong Kebun Sekolah sebagai Ruang Belajar Siswa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Secara rutin, para siswa dan guru SD Inpres Nunumeu di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur merawat dan mengelola kebun sekolahnya.  Mereka membersihkan, menyiapkan bedengan dan menanam bibit sayuran dan pangan lokal. Tak hanya untuk ketahanan pangan di sekolah, kegiatan ini sebagai upaya membentuk pendidikan karakter siswa. SD Inpres Nunumeu membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman sekolah. Sejak Januari 2024, sekolah dasar ini memanfaatkan lahan seluas 1.410 m² menjadi kebun sains atau yang mereka sebut Living Lab, tempat siswa dari kelas 1-6 belajar langsung tentang tanaman pangan lokal, mulai dari singkong, kangkung, hingga pepaya dan jagung. “Melihat kondisi di TTS yang dimana banyak anak stunting, ekonomi keluarga yang tidak mencukupi untuk memberikan makanan bergizi, kami pihak sekolah berupaya dengan berdarah-darah untuk mengelola tanah TTS yang kurang subur ini,” jelas Yakoba Saekoko, Kepala SD Inpres Nunumeu dalam diskusi Membangun Kebun Sekolah, pada April Lalu. Wajah ceria siswi SMP N 4 Wulandoni usai panen sorgum di kebun sekolah di Desa Tapobali. Foto: Nopri Ismi/ Mongabay Indonesia Kerja keras antara guru dan siswa pun membuahkan hasil. Berkat kebun sains, kebutuhan gizi siswa pun terpenuhi. Saat panen raya, biasanya mereka memasak dan makan bersama untuk seluruh warga sekolah. Tak hanya tanaman pangan lokal, mereka juga menanam beragam sayur mayur, seperti sawi, pakcoy, pare dan kacang panjang. “Program ini saya harapkan akan terus berkelanjutan meskipun saat masa kepemimpinan saya selesai,” tambah Yakoba. Selain pemenuhan gizi, upaya ini juga  meningkatnya kepedulian dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dorong-kebun-sekolah-sebagai-ruang-belajar-siswa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 06:00:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25042553/Lebah-madu_publicdomainpictures-bee-18192_1920-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128318</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tersengat lebah madu saat bermain di taman, respons kita umumnya kaget. Tapi, tetap sisakan rasa terima kasih karena sengatannya telah lama dimanfaatkan sebagai terapi pengobatan tradisional sakit sendi. Khasiat sengatan lebah, kini menarik perhatian dunia medis moderen. Kemajuan penelitian ilmiah berhasil mengungkap potensi yang jauh lebih besar dari sekadar pengobatan konvensional, yaitu kemampuannya melawan penyakit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/">Sengatan Lebah Madu dan Harapan Baru Terapi Kanker</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tersengat lebah madu saat bermain di taman, respons kita umumnya kaget. Tapi, tetap sisakan rasa terima kasih karena sengatannya telah lama dimanfaatkan sebagai terapi pengobatan tradisional sakit sendi. Khasiat sengatan lebah, kini menarik perhatian dunia medis moderen. Kemajuan penelitian ilmiah berhasil mengungkap potensi yang jauh lebih besar dari sekadar pengobatan konvensional, yaitu kemampuannya melawan penyakit mematikan bagi perempuan di seluruh dunia. Sengatan lebah madu kini jadi kabar baik bagi jutaan penderita kanker payudara. Hasil riset dari peneliti Australia tahun 2020 lalu, membuka harapan baru pengembangan terapi kanker berbasis bahan alami. Dalam waktu sekitar 60 menit, racun lebah madu dapat menghancurkan sel kanker payudara agresif hingga 100 persen, dan nyaris tidak berpengaruh terhadap sel sehat. &#8220;Kami menemukan bahwa melittin dapat sepenuhnya menghancurkan membran sel kanker dalam waktu 60 menit,&#8221; jelas Ciara Duffy, dari Harry Perkins Institute of Medical Research dan The University of Western Australia. Hasil penelitian ini dimuat di Nature Precision Oncology, berjudul “Honeybee venom and melittin suppress growth factor receptor activation in HER2-enriched and triple-negative breast cancer.” Pernyataan yang dikutip dari laman universitas itu juga menyebutkan, melittin dalam racun lebah madu memiliki efek luar biasa lainnya. Dalam waktu 20 menit, melittin mampu secara substansial mengurangi produksi pesan kimia sel kanker yang penting untuk pertumbuhan sel kanker dan pembelahan sel. &#8220;Kami melihat bagaimana racun lebah madu dan melittin memengaruhi jalur pensinyalan kanker, pesan kimia yang mendasar untuk pertumbuhan dan reproduksi sel kanker, dan kami menemukan bahwa dengan sangat cepat jalur pensinyalan ini ditutup.” Ini berarti racun lebah madu dan melittin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/sengatan-lebah-madu-dan-harapan-baru-terapi-kanker/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dara-laut Sayap Hitam, Burung yang Bisa Terbang Hingga 5 Tahun di Tanpa Mendarat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 04:35:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/25043442/1280px-Lord_Howe_Island_-_Sooty_Tern_juvenile-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128317</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian besar burung membutuhkan daratan untuk beristirahat, tidur, dan mencari makan. Dara-laut Sayap Hitam tidak. Burung laut ini menghabiskan hampir seluruh masa mudanya di udara, terbang di atas lautan terbuka selama bertahun-tahun tanpa pernah hinggap di darat maupun di permukaan air. Tidak ada tempat singgah, tidak ada pohon, tidak ada batu karang. Kemampuan ini menjadikannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/">Dara-laut Sayap Hitam, Burung yang Bisa Terbang Hingga 5 Tahun di Tanpa Mendarat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian besar burung membutuhkan daratan untuk beristirahat, tidur, dan mencari makan. Dara-laut Sayap Hitam tidak. Burung laut ini menghabiskan hampir seluruh masa mudanya di udara, terbang di atas lautan terbuka selama bertahun-tahun tanpa pernah hinggap di darat maupun di permukaan air. Tidak ada tempat singgah, tidak ada pohon, tidak ada batu karang. Kemampuan ini menjadikannya subjek penelitian yang menarik bagi para ilmuwan yang mempelajari batas-batas fisiologi hewan, khususnya terkait ketahanan energi dan pola tidur saat terbang. Dara-laut Sayap Hitam (Onychoprion fuscatus) atau Sooty Tern adalah burung laut berukuran sedang dari famili Laridae yang tersebar di perairan tropis dan subtropis seluruh dunia. Panjang tubuhnya berkisar 33 hingga 36 sentimeter dengan rentang sayap 82 hingga 94 sentimeter dan berat sekitar 150 hingga 240 gram. Burung ini dikenal karena kemampuannya mengudara dalam waktu yang sangat lama tanpa pernah mendarat, dan diyakini sebagai satwa dengan waktu terbang terpanjang di antara semua spesies burung yang diketahui saat ini. Masa Muda di Laut Lepas Setelah meninggalkan koloni sarang untuk pertama kalinya, burung muda Dara-laut Sayap Hitam tidak kembali ke daratan selama bertahun-tahun. Menurut penelitian Cornell Lab of Ornithology, individu muda menghabiskan 2 hingga 5 tahun di laut lepas dan diyakini tetap mengudara selama periode tersebut tanpa menyentuh daratan sama sekali. Ini berbeda dari kebanyakan burung migran yang tetap membutuhkan daratan untuk beristirahat secara berkala. Dara-laut Sayap Hitam (Onychoprion fuscatus serrata) sedang terbang di atas Michaelmas Cay, Great Barrier Reef, Queensland, Australia. Foto: Charles J. Sharp/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0 Salah satu alasan utama mereka tidak bisa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/dara-laut-sayap-hitam-burung-yang-bisa-terbang-hingga-5-tahun-di-tanpa-mendarat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Anak Muda Lombok Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>25 Mei 2026 02:33:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fathul Rahman]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/01052846/Foto-A-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127197</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di atas tanah perbukitan di Lombok Utara yang basah setelah hujan, sejumlah pemuda menelusuri lahan-lahan yang baru ditanami padi dan jagung, akhir Januari. Salah seorang adalah Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram yang tengah berdebat dengan rekannya, Baiq Chelsea. Mereka berdebat tentang nama tanaman di depannya itu dalam bahasa Indonesia karena hanya mengingat dalam bahasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/">Ketika Anak Muda Lombok Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di atas tanah perbukitan di Lombok Utara yang basah setelah hujan, sejumlah pemuda menelusuri lahan-lahan yang baru ditanami padi dan jagung, akhir Januari. Salah seorang adalah Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram yang tengah berdebat dengan rekannya, Baiq Chelsea. Mereka berdebat tentang nama tanaman di depannya itu dalam bahasa Indonesia karena hanya mengingat dalam bahasa lokal (Sasak). Itu pun samar.  Mereka mencoba mengambil foto daun tanaman itu, lalu memasukkan ke dalam mesin pencari Google. Beberapa pilihan muncul, tapi tetap saja mereka ragu. Kebingungan serupa juga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian Bayan alami. Beberapa tanaman mereka kenal karena masih dijumpai di pasar seperti lomak (talas), singkong, lebui, komak atau kacang kara (Lablab purpureus). Nelda Hannia, dari Dewan Kebudayaan  Lombok Utara, penanggung jawab kegiatan mengeluarkan semangkuk biji-bijian. Dia meminta para peserta yang ikut dalam kegiatan bertajuk “Lacak Jejak Pangan Lokal” itu menebak nama biji-bijian itu. Hasilnya, tak ada yang bisa. Dia lantas menyebut nama beleleng, yang tak lain adalah nama lokal sorgum. Menurutn dia, ada enam jenis sorgum yang hingga kini masih ditanam warga adat di Lombok Utara, terutama di kebun dan tanah pecatu. Hari itu, Randika dan Chelsea memang datang wilayah adat Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat untuk mendata jenis tanaman pangan di tanah pecatu/tanah adat. Indriyatno (baju putih), dosen Kehutanan Universitas Mataram menjelaskan potensi pangan lokal Lombok pada tamu dari asesor UNESCO, dia mejanya disajikan langsung contoh pangan lokal itu.Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia. Di lahan  pecatu, tanah titipan adat yang dikelola untuk kepentingan ritual,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/25/ketika-anak-muda-lombok-belajar-pangan-lokal-di-sekolah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Babi Kembali Lukai Harimau di Pasaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/#respond</comments>
					<pubDate>24 Mei 2026 23:14:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24090150/HS-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128289</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, dunia kucing, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jerat babi hutan makan korban harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) lagi. Di Jorong Lima Sempadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, harimau betina berumur 11 bulan ditemukan terkena jerat pada Kamis (21/5/26).  Kini, harimau dalam  perawatan di Tempat Transit Satwa (TTS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar. Edi Susilo Kepala Resort BKSDA [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/">Jerat Babi Kembali Lukai Harimau di Pasaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jerat babi hutan makan korban harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) lagi. Di Jorong Lima Sempadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, harimau betina berumur 11 bulan ditemukan terkena jerat pada Kamis (21/5/26).  Kini, harimau dalam  perawatan di Tempat Transit Satwa (TTS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar. Edi Susilo Kepala Resort BKSDA Pasaman, mengatakan,  informasi harimau terjerat  berawal dari laporan masyarakat yang menemukan si kucing besar dalam keadaan terjerat di  perkebunan karetnya Ia terkena jerat babi hutan yang sengaja warga pasang di area perkebunan. Saat BKSDA temukan, harimau terlilit kawat jerat dengan kondisi masih hidup. Terdapat lima lilitan jerat yang mengenai anggota tubuh satwa malang itu. “Kami mendapat laporan pagi, kemudian sekitar pukul 13.30 WIB tim sampai di lokasi dan melihat harimau terjerat oleh jerat babi (jerat ratus),” katanya. Dia bilang, jerat babi ini melilit leher, badan bagian depan dan kaki kanan di bawah ketiak, totalnya ada sekitar lima lilitan. “Kondisinya  sempat melawan, kemudian ada mengerang maju mundur, kami lakukan pembiusan. Kemudian dilakukan evakuasi dengan memotong kawat-kawat yang menjerat tubuhnya.” Masyarakat, katanya, memang masih banyak memasang jerat babi atau ratus untuk melindungi tanaman mereka dari babi. Sementara, hewan belang ini belajar berburu, mengejar babi. “Babinya kecil bisa lolos, sedangkan ia sendiri (harimau) karena berukuran besar jadi tersangkut dan terjerat.” Usai evakuasi, BKSDA mengingatkan masyarakat agar lebih waspada karena mereka perkirakan ada harimau lain yang masih berkeliaran. Edi bilang, ada tiga harimau   masih berkeliaran, dengan satu induk dan dua anakan yang masih dalam proses belajar berburu. “Untuk itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/24/jerat-babi-kembali-lukai-harimau-di-pasaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Welang dan Konsep Kota Berkelanjutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Mei 2026 10:39:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24102649/ular-Welang-dok-wildan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128293</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, jawa, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang Anda lakukan bila bertemu ular welang? Pengalaman ini dirasakan Muhammad Bilal Yogaswara (28), citizen scientist yang tergabung dalam Jakarta Birdwatcher Society. Bilal berhasil mendokumentasikan jenis ini di kawasan hutan Universitas Indonesia (UI) saat kegiatan Jakarta Naturalist Week. Awalnya, dia tidak menyadari keberadaan Bungarus fasciatus itu, ketika melintas di depannya. Perhatiannya yang semula tertuju [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/">Ular Welang dan Konsep Kota Berkelanjutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang Anda lakukan bila bertemu ular welang? Pengalaman ini dirasakan Muhammad Bilal Yogaswara (28), citizen scientist yang tergabung dalam Jakarta Birdwatcher Society. Bilal berhasil mendokumentasikan jenis ini di kawasan hutan Universitas Indonesia (UI) saat kegiatan Jakarta Naturalist Week. Awalnya, dia tidak menyadari keberadaan Bungarus fasciatus itu, ketika melintas di depannya. Perhatiannya yang semula tertuju ke ular tersebut, berpaling ke pawang yang coba mengamankan reptil yang panjangnya bisa lebih dua meter ini. “Ini ular berbisa tinggi kedua yang saya foto,” jelasnya, Selasa (19/5/2026). Ular welang yang dikenal memiliki bisa tinggi. Foto: Dok. Muhammad Bilal Yogaswara. Bilal memilih mendokumentasikan dari jarak aman. Baginya, pengalaman tersebut bukan sekadar berburu dokumentasi, tetapi juga kesempatan belajar mengenai perilaku ular berstatus Risiko Rendah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). “Sebagai bentuk pertahanan diri, welang menyembunyikan kepalanya di sela daun.” Welang dikenal sebagai ular berbisa dari Famili Elapidae yang tersebar di Asia Selatan hingga Asia Tenggara. Umumnya hidup di kawasan rawa, hutan sekunder, semak belukar, hingga area dekat air. Keberadaannya di kawasan urban jadi temuan menarik, terutama di tengah tingginya tekanan pembangunan perkotaan. Hutan UI masih jadi habitat beragam jenis reptil. Dalam laporan SDGs UI 2022, beberapa jenis ular yang tercatat ditemukan di kawasan tersebut antaranya Naja sputatrix, Ahaetulla prasina, Dendrelaphis pictus, Python reticulatus, Xenopeltis unicolor, Pareas carinatus, dan Ptyas korros. Survei Visual Encounter Survey (VES) 2018 menunjukkan indeks keanekaragaman ular di hutan UI lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Ular welang saat diamankan pawang ular. Foto: Dok. Muhammad Wildan Al Gifari. Ruang terbuka hijau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/24/ular-welang-dan-konsep-kota-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>100 Tahun Sajogyo, Mengenang Pembela Kelompok Lemah di Pedesaan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Mei 2026 01:30:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24005003/Sajogjo-Ins-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128258</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#8220;Bapak Sosiologi Pedesaan.&#8221; Begitu orang menyebut sosok Kusumo Kampto Utomo yang populer dengan panggilan Sajogyo atas jasa-jasanya membela kelompok-kelompok rentan dan lemah di pedesaan.  Sajogyo juga  &#8220;Bapak Agraria.&#8221; Menurut  Ivanovic Agusta, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, mengatakan, Sajogyo punya banyak  warisan studi agraria yang  terpakai hingga saat ini. Agusta yang jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/">100 Tahun Sajogyo, Mengenang Pembela Kelompok Lemah di Pedesaan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&#8220;Bapak Sosiologi Pedesaan.&#8221; Begitu orang menyebut sosok Kusumo Kampto Utomo yang populer dengan panggilan Sajogyo atas jasa-jasanya membela kelompok-kelompok rentan dan lemah di pedesaan.  Sajogyo juga  &#8220;Bapak Agraria.&#8221; Menurut  Ivanovic Agusta, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, mengatakan, Sajogyo punya banyak  warisan studi agraria yang  terpakai hingga saat ini. Agusta yang jadi pembicara dalam seminar 100 Tahun Perayaan Sajogyo di Universitas Soegijapranata, Semarang akhir April ungkap sedikit riwayat sosok kelahiran Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), 21 Mei 1926 itu. Setelah lulus dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Kediri dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Purwokerto, Sejogyo lantas sekolah SMA di Yogyakarta. Usai tamat, dia  melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (UI) di Bogor  1949 dan meraih gelar insinyur pada 1955. Setelah itu, Sajogyo menjadi asisten lapangan dan banyak terlibat penelitian bersama Karl J Pelzer, pengajarnya asal Belanda. Museum IPB University menyebut, Sajogyo terlibat dalam penelitian yang berkaitan dengan koperasi dan permasalahan kelas sosial di wilayah pedesaan. Salah satunya Desa Teruka, Dataran Tinggi Cibodas, Jawa Barat (Jabar) atau penelitiannya tentang kondisi para transmigran asal Jawa yang membuka hutan di Lampung. Sajogyo pernah menjadi Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1964-1965. Hanya satu tahun karena terjadi huru-hara peristiwa 1965. Dia juga memimpin Survey Agro Ekonomi (SAE) pada 1965-1972 yang melibatkan 15 kampus. Sajogyo meninggal pada 17 Maret 2012 di Bogor. Harun, Petani Pakel, Banyuwangi menyampaikan aspirasinya di depan Museum Markas Besar Polri, Jakarta, Jum’at (21/01/2022). Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Kritik revolusi hijau Agusta katakan, pada era pembangunan sekitar  1963-1972,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/24/100-tahun-sajogyo-mengenang-pembela-kelompok-lemah-di-pedesaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Katak Goliath, Katak Sebesar Kucing yang Mampu Pindahkan Batu Besar, Kini Hampir Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/#respond</comments>
					<pubDate>23 Mei 2026 22:48:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/05/22035140/Goliath-frogs-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128268</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara ribuan spesies katak yang tersebar di seluruh penjuru bumi, ada satu yang benar-benar berbeda dari yang lain. Bukan karena warnanya yang mencolok, bukan karena racunnya yang mematikan, melainkan karena ukurannya yang sulit dipercaya. Katak Goliath, seekor katak yang bobotnya setara kucing dewasa, tinggal di sudut kecil Afrika Barat, dan baru-baru ini terungkap memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/">Katak Goliath, Katak Sebesar Kucing yang Mampu Pindahkan Batu Besar, Kini Hampir Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara ribuan spesies katak yang tersebar di seluruh penjuru bumi, ada satu yang benar-benar berbeda dari yang lain. Bukan karena warnanya yang mencolok, bukan karena racunnya yang mematikan, melainkan karena ukurannya yang sulit dipercaya. Katak Goliath, seekor katak yang bobotnya setara kucing dewasa, tinggal di sudut kecil Afrika Barat, dan baru-baru ini terungkap memiliki perilaku yang mengejutkan para ilmuwan. Katak Goliath memiliki ukuran tubuh yang luar biasa. Panjangnya hingga 33 cm (tidak termasuk kaki) dengan berat mencapai 3,5 kg, menjadikannya spesies katak terbesar di dunia hingga hari ini. Katak bernama ilmiah Conraua goliath ini umurnya bisa mencapai 15 tahun di alam liar, dan lebih dari 21 tahun di penangkaran. Predator alaminya adalah ular, buaya nil, dan tentu saja manusia. Hidupnya di sungai-sungai berbatu, lembab, dan bersuhu relatif tinggi di kawasan Afrika Barat, terutama Kamerun dan Guinea Ekuatorial. Inilah penampakan katak Goliath sebagai spesies terbesar di dunia. Foto: Marvin Schäfer et al., 2019 Seperti katak pada umumnya, ia bersifat karnivora, memangsa kalajengking, serangga, dan katak kecil. Katak ini dikenal memiliki pendengaran yang tajam, namun tak punya kantung vokal sehingga tidak bisa mengorek, hanya sanggup bersiul. Meski tubuhnya raksasa, katak Goliath adalah makhluk yang pemalu dan sangat menghindari manusia. Ia akan langsung melompat ke sungai saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ketika Katak Jadi Arsitek dan Penjaga Penelitian yang diterbitkan di Journal of Natural History mengungkap bahwa katak Goliath membangun tiga jenis sarang yang berbeda: ada yang sekadar membersihkan kolam alami dari daun-daun kering dan ranting, ada yang menggali kerikil dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/23/katak-goliath-katak-sebesar-kucing-yang-mampu-pindahkan-batu-besar-kini-hampir-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polda Sumbar Sita Ribuan Ikan Endemik Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/23/polda-sumbar-sita-ribuan-ikan-endemik-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/23/polda-sumbar-sita-ribuan-ikan-endemik-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>23 Mei 2026 15:20:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/22035007/ikan-hias-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128216</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satwa terus jadi sasaran perdagangan ilegal, tak hanya di darat, juga di perairan seperti yang terjadi di Mentawai, Sumatera Barat. Pada Senin (11/5/26), Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumatera Barat menyita ribuan ikan hias endemik Kepulauan Mentawai. Ikan-ikan ini para pelaku jual di Padang, Sumatera Barat. Informasinya, pedagang akan jual ke Bali lalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/polda-sumbar-sita-ribuan-ikan-endemik-mentawai/">Polda Sumbar Sita Ribuan Ikan Endemik Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satwa terus jadi sasaran perdagangan ilegal, tak hanya di darat, juga di perairan seperti yang terjadi di Mentawai, Sumatera Barat. Pada Senin (11/5/26), Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumatera Barat menyita ribuan ikan hias endemik Kepulauan Mentawai. Ikan-ikan ini para pelaku jual di Padang, Sumatera Barat. Informasinya, pedagang akan jual ke Bali lalu ke mancanegara. Lima pelaku, terdiri dari satu nahkoda, dan empat anak buah kapal, polisi amankan. “Ikan hias ini dikemas dalam 1.000 kantong plastik berisi air laut dan oksigen. Total ada sekitar 2.000 ekor dari berbagai jenis,” ujar Kombes Pol. Susmelawati Rosya, Humas Polda Sumbar, saat Mongabay hubungi, Senin (18/5/26). Kasus ini, bermula dari laporan masyarakat mengenai aktivitas penangkapan ikan ilegal. Personel Sub direktorat penegakan hukum (Subdit Gakkum) Ditpolairud kemudian berpatroli dan mencurigai gerak-gerik KM Antel GT 15 di perairan Sikakap, Mentawai. Saat pemeriksaan, petugas menemukan ribuan ikan hias di dalam palka kapal. Nakhoda kapal tidak dapat menunjukkan dokumen maupun surat izin resmi penangkapan dan pengangkutan ikan hias itu. “Kapal ini memiliki izin untuk menangkap tuna,  faktanya untuk mengambil ikan hias secara ilegal. Dari hasil pemeriksaan, praktik ini sudah mereka jalankan sejak tahun 2016.” Selain itu, proses penangkapan ikan hias ini juga dengan cara yang salah. “Berdasarkan hasil interogasi, para pelaku menangkap ikan dengan cara menyelam menggunakan alat bantu pernapasan dari mesin kompresor, metode yang tidak hanya ilegal tetapi membahayakan keselamatan nelayan.” Pelaku akan menjual ikan ke pengepul di kawasan Bungus, Kota Padang, harga Rp25.000 per ekor. Dari Padang, pedagang  ikan  bawa ke  Bali dan ekspor&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/polda-sumbar-sita-ribuan-ikan-endemik-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/23/polda-sumbar-sita-ribuan-ikan-endemik-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Berisiko Gerus Ekosistem Mangrove Bali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/23/kala-pengembangan-kek-di-bali-kian-menggerus-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/23/kala-pengembangan-kek-di-bali-kian-menggerus-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>23 Mei 2026 05:02:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/21195707/Bentang-alam-Tahura-Mangrove-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128186</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pulau Serangan (juga populer KEK Kura-Kura), Bali,  menuai kontroversi. Penyebabnya, proyek yang berlangsung sejak 2023 itu mengancam ekosistem mangrove yang menjadi bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Made Supartha, Ketua Panitia Khusus Tata Ruang, Aset dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali mencak-mencak saat mendapati alat berat di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/kala-pengembangan-kek-di-bali-kian-menggerus-mangrove/">Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Berisiko Gerus Ekosistem Mangrove Bali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pulau Serangan (juga populer KEK Kura-Kura), Bali,  menuai kontroversi. Penyebabnya, proyek yang berlangsung sejak 2023 itu mengancam ekosistem mangrove yang menjadi bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Made Supartha, Ketua Panitia Khusus Tata Ruang, Aset dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali mencak-mencak saat mendapati alat berat di lokasi menggerus hutan mangrove 23 April. Sontak, dia pun meminta  kegiatan itu setop. “Tidak boleh ini ditebang, karena memiliki fungsi penting bagi ekosistem pesisir,” katanya. Hari itu, Made sengaja datang ke lokasi berkaitan dengan tukar guling lahan PT Bali Turtle Island Development (BTID), selaku pengelola KEK di Serangan dengan lahan di dua kabupaten yakni Karangasem dan Jembrana. Kuat dugaan lahan pengganti yang seharusnya BTID siapkan tak sesuai ketentuan. Dari penelusuran Tim Pansus, kata Made, lahan di dua kabupaten yang BTID klaim sebagai pengganti tukar guling ternyata belum tersedia. Tidak hanya itu, Made juga mendapati bukaan lahan bekas tebangan mangrove. Dia pun meminta batalkan tukar guling. Perdebatan pun terjadi antara tim Pansus TRAP dengan BTID. Made meminta Satpol PP Bali menyegel lokasi itu.  Penebangan mangrove oleh BTID dia nilai melanggar sejumlah aturan, seperti Perlindungan Ekosistem Mangrove, Penataan Ruang, Perlindungan Pesisir, dan lain-lain. “Kami rekomendasikan Satpol PP Bali melaksanakan penertiban dan pemasangan garis pengamanan di kawasan Tahura karena luas pengganti di Jembrana dan Karangasem terindikasi tidak jelas,” katanya. BTID membantah bahwa proses tukar guling lahan di Serangan itu sudah sah terbukti dengan ada berita acara tukar menukar BTID dengan Kementerian Kehutanan. Semua dokumen kepemilikan lahan BTID sebut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/kala-pengembangan-kek-di-bali-kian-menggerus-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/23/kala-pengembangan-kek-di-bali-kian-menggerus-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/05/perempuan-penjaga-satwa-liar-di-jantung-hutan-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/05/perempuan-penjaga-satwa-liar-di-jantung-hutan-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Mei 2026 04:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/23042233/banner_Dela-Mawar-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=128255</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Bagi Dela Mawar, hutan bukan cuma tempat tinggal satwa liar, tapi juga bagian dari hidupnya sejak kecil. Perempuan asal Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memilih jalan yang jarang dilirik banyak anak muda: menjadi animal keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam. Setiap pagi, Mawar memulai hari dengan rutinitas yang padat. Menyiapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/05/perempuan-penjaga-satwa-liar-di-jantung-hutan-kalimantan/">Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Bagi Dela Mawar, hutan bukan cuma tempat tinggal satwa liar, tapi juga bagian dari hidupnya sejak kecil. Perempuan asal Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memilih jalan yang jarang dilirik banyak anak muda: menjadi animal keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam. Setiap pagi, Mawar memulai hari dengan rutinitas yang padat. Menyiapkan pakan, membersihkan kandang, hingga merawat sejumlah bayi orangutan yang membutuhkan perhatian intensif. Di tangannya, botol susu bukan sekadar alat makan, tapi bentuk kasih sayang untuk bayi-bayi mungil yang kehilangan induknya akibat kerusakan hutan. Menurut Mawar, tantangan terbesar bukan hanya soal tenaga merawat, tetapi menghadapi trauma para bayi orangutan. Banyak dari mereka datang dalam kondisi stres setelah terpisah dari induknya. Karena itu, para keeper harus siap mendampingi hampir 24 jam, terutama saat mereka sakit atau mengalami gangguan kesehatan seperti diare. Kedekatan Mawar dengan satwa liar, tumbuh dari keluarganya yang memang mencintai hidupan liar. Dia juga terinspirasi dari dua pamannya yang bekerja di dunia konservasi. Namun, ada alasan lain yang membuatnya bertahan: ingin melihat sendiri bagaimana hutan di kampungnya kembali hijau. Dulu satwa liar mudah ditemukan, sekarang semakin sulit karena deforestasi dan pembukaan lahan. Di tengah kondisi itu, Mawar memilih tetap tinggal dan menjaga satwa-satwa tersisa. Bukan demi popularitas, tapi karena dia percaya generasi berikutnya masih berhak melihat hutan Kalimantan yang utuh dan orangutan hidup bebas di alamnya. &nbsp; The post Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/05/perempuan-penjaga-satwa-liar-di-jantung-hutan-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/05/perempuan-penjaga-satwa-liar-di-jantung-hutan-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menjaga Sunyi Pantai untuk Masa Depan Penyu di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/23/opini-menjaga-sunyi-pantai-untuk-masa-depan-penyu-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/23/opini-menjaga-sunyi-pantai-untuk-masa-depan-penyu-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>23 Mei 2026 03:34:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yayuk Sugianti *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/05/22024922/Tukik4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128243</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di banyak kawasan pesisir Indonesia, malam tidak lagi identik dengan suara ombak dan angin. Wilayah seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, dan sebagian pesisir Jawa Timur, pantai telah menjadi ruang hiburan dan wisata malam. Bagi manusia, suasana ini dianggap sebagai tanda ekonomi bergerak. Namun, bagi penyu, kebisingan dapat menjadi tekanan ekologis yang memengaruhi perilaku, fisiologi, dan keberhasilan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/opini-menjaga-sunyi-pantai-untuk-masa-depan-penyu-di-indonesia/">Opini: Menjaga Sunyi Pantai untuk Masa Depan Penyu di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di banyak kawasan pesisir Indonesia, malam tidak lagi identik dengan suara ombak dan angin. Wilayah seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, dan sebagian pesisir Jawa Timur, pantai telah menjadi ruang hiburan dan wisata malam. Bagi manusia, suasana ini dianggap sebagai tanda ekonomi bergerak. Namun, bagi penyu, kebisingan dapat menjadi tekanan ekologis yang memengaruhi perilaku, fisiologi, dan keberhasilan reproduksi (Duarte et al., 2021). Penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, penyu belimbing, dan penyu tempayan menggunakan wilayah Indonesia sebagai tempat bertelur, mencari makan, maupun bermigrasi. Posisi ini menjadikan Indonesia sangat strategis dalam agenda konservasi penyu di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus sebagai kawasan penting pengembangan riset dan kebijakan konservasi penyu di masa depan (Robinson et al., 2023). Sejauh ini, isu gangguan kebisingan belum banyak dibahas secara eksplisit. Perhatian publik lebih tertuju pada perburuan telur, sampah plastik, cahaya buatan, dan kerusakan habitat. Semua itu penting, namun perkembangan wisata pantai, meningkatnya aktivitas malam, penggunaan pengeras suara, dan keramaian publik menunjukkan bahwa tekanan akustik di habitat peneluran berpotensi meningkat. Penyu belimbing ini ditemukan di Pulau Gelasa, Kepulauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Penyu dan lanskap akustik Penyu berevolusi dalam lingkungan pesisir yang didominasi suara alami. Gelombang, angin, dan dinamika perairan membentuk lanskap akustik relatif stabil. Banyak satwa memanfaatkan isyarat lingkungan untuk mengambil keputusan perilaku, termasuk kapan bergerak, ke mana menuju, dan kapan menghindari ancaman (Duarte et al., 2021). Ketika lanskap suara alami berubah, kualitas informasi lingkungan juga ikut terdampak. Kemampuan penyu kembali ke wilayah peneluran merupakan proses navigasi yang kompleks. Penelitian menunjukkan, penyu memanfaatkan kombinasi petunjuk lingkungan seperti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/23/opini-menjaga-sunyi-pantai-untuk-masa-depan-penyu-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/23/opini-menjaga-sunyi-pantai-untuk-masa-depan-penyu-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 11:14:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/05124036/Rifai-Wasolo-Petani-Sagu-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128230</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayat. Ia bisa jadi momen refleksi dan berbenah, termasuk bagi Indonesia. Nusantara ini punya kekayaan alam berlimpah, bahkan jadi mega biodiversity nomor dua dunia, setelah Brasil. Pusat-pusat keragaman hayati termasuk yang menjadi sumber pangan itu berada di hutan-hutan dan lahan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat maupun masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/">Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayat. Ia bisa jadi momen refleksi dan berbenah, termasuk bagi Indonesia. Nusantara ini punya kekayaan alam berlimpah, bahkan jadi mega biodiversity nomor dua dunia, setelah Brasil. Pusat-pusat keragaman hayati termasuk yang menjadi sumber pangan itu berada di hutan-hutan dan lahan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat maupun masyarakat lokal. Sayangnya, kekayaan keanekaragaman hayati ini masih terabaikan, seakan tak dianggap penting bahkan terus terancam eksploitasi alam skala besar yang menghancurkan hutan dan alam di negeri ini. Sejarawan Hilmar Farid mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia, salah satunya, keberagaman pangan. Namun, fakta paling fundamental ini seringkali tidak pernah disebut dalam dokumen kebijakan. Dia contohkan sagu. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek periode 2019–2024 itu mengatakan, 85% cadangan sagu dunia ada di Indonesia. Tak hanya sagu, Indonesia mempunyai lebih dari 100 jenis karbohidrat lokal dari umbi-umbian seperti ubi, telas sampai pisang, sukun dan lain-lain. Ironisnya, Indonesia masih mengimpor pangan berbagai komoditas dalam jumlah besar dari gandum, beras, kedelai dan lain-lain. Pada 2024 saja, data Hilmar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BPS, dan Badan Pangan Nasional menunjukkan,  Indonesia mengimpor gandum 11,7 juta ton alias 100% bulir yang kemudian proses jadi terigu yang memenuhi pasaran Indonesia ini impor. Dia menilai,  ini bukan soal ketidakmampuan, melainkan ada salah kaprah pola pikir yang terbentuk dari budaya makan. Sistem pangan diatur terpusat dan seragam. Pada era Orde Baru, misal, seluruh warga Indonesia dipaksa mengonsumsi beras. Secara kultural, hal ini dilanggengkan dengan guyonan, “orang Indonesia belum makan jika belum makan nasi.” Padahal, makanan pokok&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sebaran Ular Berbisa Makin Mendekati Manusia, Karena Bumi yang Menghangat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 10:18:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003614/ular-cobra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128232</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perubahan iklim tidak hanya mengancam cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, atau musim kering yang panjang. Ancamannya merambah jauh lebih dalam, hingga ke ekosistem dan perilaku satwa liar yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia. Salah satu dampak yang kini mulai mendapat perhatian serius para ilmuwan adalah pergeseran habitat ular berbisa. Seiring suhu bumi terus menghangat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/">Sebaran Ular Berbisa Makin Mendekati Manusia, Karena Bumi yang Menghangat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perubahan iklim tidak hanya mengancam cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, atau musim kering yang panjang. Ancamannya merambah jauh lebih dalam, hingga ke ekosistem dan perilaku satwa liar yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia. Salah satu dampak yang kini mulai mendapat perhatian serius para ilmuwan adalah pergeseran habitat ular berbisa. Seiring suhu bumi terus menghangat, ratusan spesies ular berbisa di seluruh dunia mulai berpindah ke wilayah-wilayah baru, dan banyak di antaranya semakin dekat dengan permukiman manusia. Risiko gigitan ular terus meningkat di seluruh dunia seiring reptil-reptil ini berpindah habitat untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang semakin tinggi dan tekanan manusia yang kian besar. Demikian temuan sebuah studi terhadap ular-ular berbisa yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ular Weling (Bungarus candidus) di Karawang, Jawa Barat. Salah satu mangsa King Cobra| Gambar oleh By Wibowo Djatmiko (Wie146) &#8211; Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=21654593 Ular obra ludah di Afrika, yaitu jenis kobra yang memiliki kemampuan unik untuk menyemprotkan bisa ke arah mata atau wajah ancaman/predator, ular viper di Eropa dan Amerika Selatan, moccasin cottonmouth (Agkistrodon piscivorus) di Amerika Utara, serta krait di Asia kini semakin sering bersentuhan dengan manusia akibat gangguan iklim dan perubahan bentang alam. Para peneliti memperkirakan tren ini akan semakin menguat dalam beberapa dekade ke depan, seiring ular-ular menyesuaikan wilayah jelajahnya untuk menghindari kondisi yang lebih panas. Sebagian besar spesies akan mengalami penyusutan habitat, namun sejumlah ular paling mematikan justru diprediksi akan memperluas wilayahnya; memasuki kawasan-kawasan yang belum pernah mereka huni sebelumnya dan berpotensi mengancam miliaran orang. &#8220;Tumpang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Mitigasi Depresi Genetik Satwa Liar Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 06:56:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Randi Syafutra *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/30021003/sumatran-rhinos-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128222</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Depresi perkawinan sekerabat (inbreeding depression) merupakan ancaman biologis serius yang berwujud pada penurunan tingkat kebugaran dan viabilitas populasi satwa liar. Kondisi kritis ini terjadi ketika individu-individu dengan kekerabatan genetik yang dekat bereproduksi, memicu akumulasi alel homozigot resesif yang membawa sifat merugikan bagi generasi keturunannya (Frankham, 2015). Secara ekologis, fenomena ini didorong oleh berbagai faktor pembatas, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/">Opini: Mitigasi Depresi Genetik Satwa Liar Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Depresi perkawinan sekerabat (inbreeding depression) merupakan ancaman biologis serius yang berwujud pada penurunan tingkat kebugaran dan viabilitas populasi satwa liar. Kondisi kritis ini terjadi ketika individu-individu dengan kekerabatan genetik yang dekat bereproduksi, memicu akumulasi alel homozigot resesif yang membawa sifat merugikan bagi generasi keturunannya (Frankham, 2015). Secara ekologis, fenomena ini didorong oleh berbagai faktor pembatas, termasuk fragmentasi habitat akibat masifnya ekspansi infrastruktur, penyusutan drastis ukuran populasi, isolasi geografis, serta sistem manajemen perkawinan pada fasilitas ex situ yang belum terstruktur dengan optimal. Konsekuensinya sangat fatal, mencakup penurunan tingkat fertilitas, lonjakan mortalitas usia muda, peningkatan kerentanan terhadap patogen penyakit, munculnya cacat anatomi, hingga mempercepat risiko kepunahan di tingkat lokal. Data observasi lapangan secara gamblang menunjukkan pola degradasi kesehatan genetik pada beberapa spesies kunci di Indonesia. Sebagai contoh, populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang terkurung di Taman Nasional Ujung Kulon, menghadapi keterbatasan area jelajah, yang pada gilirannya menyempitkan pilihan pasangan kawin nonkerabat. Secara klinis, temuan mencatat lahirnya anakan dengan kelainan anatomi bawaan, seperti ketidaksempurnaan bentuk ekor dan kerutan abnormal di area mata, serta penyusutan morfometri tubuh pada generasi baru yang mengindikasikan kuatnya degenerasi genetik (Setiawan et al., 2018). Kondisi serupa mengancam kelestarian badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Pemisahan populasi ke dalam kantung-kantung habitat yang terisolasi secara drastis menekan probabilitas perjumpaan antarindividu reproduktif. Imbasnya, terlihat pada anjloknya tingkat keberhasilan reproduksi betina dan tingginya prevalensi patologi reproduksi, seperti kemunculan tumor rahim akibat tidak terjadinya ovulasi dalam jangka waktu yang lama (Schaffer et al., 2020). Sementara itu, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) juga menghadapi krisis genetik berupa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita dari Y. Eva Tan Fellows</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 04:06:40 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17044414/FOTO-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=128220</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dampak kerusakan lingkungan yang semakin nyata membuat jurnalisme lingkungan berkualitas makin penting. Namun, peliputan lingkungan menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, menyusutnya kebebasan pers, hingga minimnya peluang bagi jurnalis muda. Padahal banyak persoalan yang sangat mendesak di wilayah-wilayah yang paling terdampak oleh krisis iklim. Sebagai respon atas tantangan ini, Mongabay menginisiasi Program Fellowship [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/">Cerita dari Y. Eva Tan Fellows</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dampak kerusakan lingkungan yang semakin nyata membuat jurnalisme lingkungan berkualitas makin penting. Namun, peliputan lingkungan menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, menyusutnya kebebasan pers, hingga minimnya peluang bagi jurnalis muda. Padahal banyak persoalan yang sangat mendesak di wilayah-wilayah yang paling terdampak oleh krisis iklim. Sebagai respon atas tantangan ini, Mongabay menginisiasi Program Fellowship Peliputan Konservasi Y. Eva Tan di Indonesia. Program ini memberi kesempatan bagi jurnalis dari kawasan tropis yang kaya keanekaragaman hayati untuk meliput isu lingkungan penting, sekaligus memperoleh pelatihan, pengalaman, dan kredibilitas untuk mengembangkan karier mereka. The post Cerita dari Y. Eva Tan Fellows appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Nelayan Ketika Perairan Pesisir Bekasi Kian Tercemar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 03:30:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/21013416/Foto-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128137</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air laut di perairan pesisir Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Jawa Barat, berwarna cokelat hingga kehitaman. Keruh. Di sekitar banyak kapal tongkang dan kapal nelayan bersandar. Sejak 2017, nelayan mengeluhkan pencemaran yang menyebabkan tangkapan ikan  kian menurun. Akhir April lalu, perahu nelayan berukuran satu gross ton ramai lalu lalang di muara sungai di Desa Pantai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/">Nestapa Nelayan Ketika Perairan Pesisir Bekasi Kian Tercemar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air laut di perairan pesisir Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Jawa Barat, berwarna cokelat hingga kehitaman. Keruh. Di sekitar banyak kapal tongkang dan kapal nelayan bersandar. Sejak 2017, nelayan mengeluhkan pencemaran yang menyebabkan tangkapan ikan  kian menurun. Akhir April lalu, perahu nelayan berukuran satu gross ton ramai lalu lalang di muara sungai di Desa Pantai Harapanjaya. Abdul Rahman, nelayan Pantai Harapanjaya sedang bersiap melaut membawa kotak es dan alat tangkap udang, sore itu. Dia menjaga agar bubu tak tersangkut kapal tongkang. Setelah 16 jam berlalu, pria yang sudah belasan tahun menjadi nelayan itu menghela napas berat. Rahman hanya membawa hasil tangkapan sedikit, satu kilogram udang peci berukuran kecil hingga sedang. “Ini gak wajar, 30 meter bubu udang isinya cuman sekilo[gram],” kata Rahman pada April lalu. “Paling segini harganya cuman Rp30.000.” Sedimentasi laut di wilayah pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat akibat limbah industri. Foto: Indah Suci Safitri/ Mongabay Indonesia Penurunan hasil tangkap ini mulai dia rasakan sejak 2017. Melaut pun jadi lebih jauh. Dulu, dia tak perlu melaut hingga 4 kilometer karena dengan mudah dapatkan ikan di pesisir. “Dulu, dipinggir aja kita udah dapat udang,” kenangnya. Dia yakin, kondisi ini terjadi karena pencemaran laut dan pesisir akibat aktivitas industri. Dia menduga ini berasal dari limbah batubara PLTU Babelan dengan pengelola PT Cikarang Listrindo Tbk. Kelompok Nelayan Pantai Harapanjaya pun merasa hal sama dengan Rahman. Muhammad David, Ketua Koperasi Nelayan Pantai Harapanjaya mengatakan, sempat mendatangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi mengadukan sedimentasi yang menghalangi jalur tangkap nelayan itu. Sayangnya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 02:33:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/21111755/IMG_7995-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128173</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kolam kecil berukuran 4&#215;5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan. Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April. “Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/">Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kolam kecil berukuran 4&#215;5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan. Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April. “Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi gogo sama singkong aja, hasilnya serba pas-pasan. Itu sekitar 1980-1990-an,” kata Sabaryanti, petani perempuan di Nawungan. Lahan di sana memang berada di wilayah perbukitan kering. Walhasil, air hujan menjadi menjadi satu-satunya sumber pengairan area persawahan yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul di sisi timurnya ini. Sejatinya,  ada dua mata air di Nawungan  tetapi debitnya tak tak memungkinkan untuk mengairi seluruh area sawah. Kondisi ini menyebabkan petani di sana tak mungkin menanam saat kemarau, sebelum muncul inisiatif embung hujan di awal milenium. Berbekal semangat gotong royong, embung hujan mulai banyak untuk petani di sana. Sabariyanti pun masih ingat saat dia bikin kolam-kolam itu  bersama petani lain pada era 2000-an itu. “Waktu itu bikinnya kerja bakti, jadi sistemnya gantian. Seperti saya bantu dulu ke petani lain, setelah rampung baru dibantu yang lainnya menggarap di lahan saya,” katanya. Setelah embung jadi, Sabaryanti pertama kali memanfaatkan untuk menanam tembakau. Komoditas itu dia pilih karena harga tinggi dan tak butuh banyak air. Seiring waktu, petani menambah kapasitas dengan memperlebar ukuran embung. Termasuk milik Sabaryanti  kini memiliki kapasitas 80 meter kubik hingga mampu menopang pertanian bawang merah dan cabai yang dia budidayakan selama musim kemarau. Salah satu embung hujan yang digunakan petani&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jawa Timur Gerbang Perdagangan Emas Ilegal  di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 10:59:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20091256/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-00.19.16-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128076</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, gudang berkelir putih itu terlihat biasa saja, tak ubahnya bangunan lain di komplek kawasan industri Berbek, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Namun, penggeledahan oleh Bareskrim Polri pada tengah Maret lalu mengubah kesan tersebut. Hari itu, Kamis (12/3/26) tim penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor dan gudang PT Simba Jaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/">Jawa Timur Gerbang Perdagangan Emas Ilegal  di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, gudang berkelir putih itu terlihat biasa saja, tak ubahnya bangunan lain di komplek kawasan industri Berbek, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Namun, penggeledahan oleh Bareskrim Polri pada tengah Maret lalu mengubah kesan tersebut. Hari itu, Kamis (12/3/26) tim penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor dan gudang PT Simba Jaya Utama (SJU) terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang rugikan negara hingga Rp25, 8 triliun. Praktik lancung yang libatkan jaringan gelap dan saling terhubung; tambang emas ilegal, industri pemurnian dan pelaku perdagangan. Hingga pertengahan Mei, lima orang polisi tetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Teddy Wijaya, pemilik toko emas di Nganjuk, DW dan BSW, serta dua tersangka terbaru, DHB dan VC. “Berdasarkan alat bukti yang cukup, penyidik menetapkan dua tersangka baru yang diduga kuat turut serta dalam  pertambangan tanpa izin dan tindak pidana pencucian uang,” kata Ade Safri Simanjuntak, Direktur Dittipideksus dalam keterangan resminya, Rabu (13/5/26). Dia  katakan, DHB merupakan Direktur SJU periode 13 Agustus 2021-14 September 2022. Sedangkan VC, adalah Direktur SJU dari 14 September 2022- sekarang. “DHB diketahui merupakan putra dari SB alias A, yang sebelumnya diduga memiliki peran penting dalam jaringan tersebut,” katanya. Penelusuran Mongabay, inisial DHB merujuk pada Denny Handoko Bahar, anak Siman Bahar alias Bong Kim Phin, pemilik PT Loco Montrado (LM), perusahaan pemurnian emas yang berlokasi di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Sedangkan VC, adalah Valenthio Chandra, staf administrasi di LM. Dalam data Direktorat Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, pada 18 Mei lalu, VC sebagai direktur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>