- Kebun sekolah bisa menjadi ruang belajar untuk mengenal lingkungan dan belajar tentang pangan lokal. Di beberapa sekolah di Indonesia, sudah menerapkan kebun sekolah untuk mendukung pangan mandiri.
- Sebagian hasil kebun bisa membantu untuk kebutuhan gizi siswa. Mereka mengolah lahan, menanam, memanen hingga mengolahnya menjadi bahan makanan.
- Tak hanya sayuran, SMAN 8 Palembang juga mencoba budaya ikan seperti lele dan gurame. Mereka juga berinisiatif untuk membuka peluas usaha dari produk olahan, seperti abon dan pempek dari ikan tersebut.
- Peran pemerintah daerah menjadi hal yang penting dalam upaya membangun kebun sekolah dan kemandirian pangan sejak diri. Pengelolaan lahan dan pengenalan pangan lokal menjadi hal penting untuk memahami produksi pangan yang sehat.
Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Secara rutin, para siswa dan guru SD Inpres Nunumeu di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur merawat dan mengelola kebun sekolahnya. Mereka membersihkan, menyiapkan bedengan dan menanam bibit sayuran dan pangan lokal. Tak hanya untuk ketahanan pangan di sekolah, kegiatan ini sebagai upaya membentuk pendidikan karakter siswa.
SD Inpres Nunumeu membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman sekolah. Sejak Januari 2024, sekolah dasar ini memanfaatkan lahan seluas 1.410 m² menjadi kebun sains atau yang mereka sebut Living Lab, tempat siswa dari kelas 1-6 belajar langsung tentang tanaman pangan lokal, mulai dari singkong, kangkung, hingga pepaya dan jagung.
“Melihat kondisi di TTS yang dimana banyak anak stunting, ekonomi keluarga yang tidak mencukupi untuk memberikan makanan bergizi, kami pihak sekolah berupaya dengan berdarah-darah untuk mengelola tanah TTS yang kurang subur ini,” jelas Yakoba Saekoko, Kepala SD Inpres Nunumeu dalam diskusi Membangun Kebun Sekolah, pada April Lalu.

Kerja keras antara guru dan siswa pun membuahkan hasil. Berkat kebun sains, kebutuhan gizi siswa pun terpenuhi. Saat panen raya, biasanya mereka memasak dan makan bersama untuk seluruh warga sekolah. Tak hanya tanaman pangan lokal, mereka juga menanam beragam sayur mayur, seperti sawi, pakcoy, pare dan kacang panjang.
“Program ini saya harapkan akan terus berkelanjutan meskipun saat masa kepemimpinan saya selesai,” tambah Yakoba.
Selain pemenuhan gizi, upaya ini juga meningkatnya kepedulian dan sikap kritis siswa terhadap isu lingkungan. Langkah ini, katanya menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan pangan lokal di daerahnya.
Belajar budidaya dan adaptasi saat gagal panen

Selain di Nusa Tenggara Timur, inisiatif ketahanan pangan di sekolah juga muncul di SMAN 8 Palembang, Sumatera Selatan. Mereka belajar membuat ekoenzim, menanam cabai dan budidaya lele serta gurame.
Fatimah Nabila, Guru SMAN 8 Palembang bilang mereka memilih jenis pangan ini berdasarkan dari yang diminati oleh pasar. Salah satunya cabai. Sehingga, ketika cabai naik, sekolah tidak akan kebingungan sendiri karena sudah memiliki stoknya. Upaya ini pun dilakukan tanpa menggunakan lahan yang luas.
“Kita memilih menanam tanaman cabai karena harga cabai saat naik itu kan naik banget, tapi saat turun juga mengikuti harga pasar, jadi kita tanam cabai untuk mengurangi pengeluaran di sekolah kita,” cerita Nabila.
Begitu juga dengan budidaya lele dan gurame. Sekolahnya memilih lele karena mudah dipelihara, cepat panen dan memiliki permintaan pasar yang stabil. Sedangkan gurame memiliki pakan yang mudah dengan daun singkong dan kangkung. Sehingga, biaya operasionalnya menjadi ringan.
Uniknya, sekolah ini tidak menjual ikan lele dan gurame secara mentah. Beserta dengan siswanya, mengolahnya menjadi produk abon lele dan pempek lele.
“Selain jadi media pembelajaran, budidaya ikan di sekolah ini juga memiliki potensi ekonomis yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sekolah. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan nilai akademik saja, tetapi juga pengalaman nyata yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari serta membuka wawasan tentang peluang usaha di bidang perikanan bagi siswa,” lanjut Nabila.
Pelibatan siswa dimulai dari penyiapan lahan dan budidaya, perawatan hingga panen. Pada kesempatan ini, para siswa juga mempelajari tentang ekoenzim yang merupakan cairan fermentasi organik. Cairan ini mereka dapatkan dari dukungan Dinas Pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan di lingkungan sekolah.

Dukungan dari pemerintah
Kebun sekolah pun tidak memerlukan lahan yang luas karena pot, polybag, dan sudut-sudut kecil bisa dimanfaatkan menjadi area yang produktif. Sehingga, siswa bisa merasakan langsung bagaimana proses pangan bertumbuh.
Edy Saputra Syam, Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan mendukung upaya baik terkait kedaulatan pangan. Dia juga telah mengidentifikasi bahwa ada dua masalah terkait ketahanan pangan di wilayahnya, pertama lahan kosong dan pengetahuan.
“Kami menemukan bahwa masih terdapat lahan kosong yang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga belum memberikan nilai produktif,” jelas Edy.
Dia bilang, misal di SMP Negeri 1 Awangpone, Kabupaten Bone yang masih memiliki lahan kosong seluas satu hektar. Mereka pun memiliki kemauan untuk memanfaatkan lahan tersebut. Namun, pengetahuan siswa-siswi dalam mengolah pangan dan pertanian yang masih terbatas.

Berangkat dari masalah itu, pemerintah setempat merancang program untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran serta partisipasi aktif siswa dalam mewujudkan ketahanan pangan di sekolah.
“Selain itu, program ini juga mendukung ketahanan pangan di lingkungan sekolah dengan menghadirkan sumber pangan yang sehat dan bergizi bagi seluruh warga sekolah. Ini menjadi langkah konkrit dalam pembangunan kemandirian pangan sejak dini,” ungkapnya.
Melibatkan siswa-siswi dalam kegiatan kebun sekolah, katanya bisa membuat mereka paham akan konsep sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan kemandirian gizi bagi seluruh warga sekolah melalui hasil panen yang berkualitas. Meskipun saat ini hasil panen kebun ini masih dalam skala konsumsi di sekolah namun, katanya, untuk kedepannya diharapkan hasil panen dapat diolah dan dikembangkan menjadi wirausaha.
*****
*Kadek Dian Dwiyanti Hapsari dan Karen Anastasia Surbakti adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Keduanya memiliki ketertarikan dalam menulis isu lingkungan dan sedang melakukan magang di Mongabay Indonesia.