- SMA Negeri 1 Turen terpilih dari 754 sekolah di Jawa Timur yang mengikuti program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Program diluncurkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di SMKN 1 Plosoklaten Kediri, Ahad, 25 Januari 2026.
- Aries Agung Paewai, Kepala Dinas Pendidikan Jatim menjelaskan sekolah yang mengikuti program SIKAP memanfaatkan lahan yang terbatas di sekolah. Sebagian menggunakan lahan yang selama ini tak dimanfaatkan. Lahan yang tidak produktif atau lahan tidur.
- Program ini turut mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan. Saat ini, kebutuhan protein seperti ikan cukup besar. Untuk itu, Dinas Pendidikan diminta menginisiasi budidaya perikanan paling sederhana. Seperti budidaya ikan lele yang bisa diproduksi secara cepat.
- Idayati, guru biologi sekaligus Ketua Tim Adiwiyata menjelaskan, ‘menyatu dengan alam’ memang menjadi konsep pembelajaran di sekolah dengan luas 15.000 meter persegi ini. Keberadaan green house berfungsi sebagai media pembelajaran siswa tentang pembibitan dan merawat tanaman.
Green house seukuran lapangan bola voli di salah satu sudut SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) itu penuh tanaman. Selain anggrek dan tanam hias lain, ada juga beragam, sayuran. Angeline Firdausiana Imandika 18, siswa kelas 12 ini salah satu anggota Satuan Tugas (Satgas) Green School yang bertugas merawat tanaman-tanaman itu.
Green School merupakan aktivitas minat khusus siswa yang tertarik dengan tanaman dan lingkungan.
“Ada praktisi dan petani hidroponik yang melatih kami,” kata Angel Sabtu (14/2/26). Hari itu, Angel dan teman-temamnya menggelar kerja bakti bersih-bersih sekolah dan memantau tanaman.
Menurut Angel, sebagian sayuran hasil hidroponik akan dia didistribusikan kepada siswa double track, tata boga untuk mereka olah menjadi masakan yang telah tercantum dalam kurikulum pendidikan. Dia belajar menanam dengan metode hidroponik sejak kelas 10 dan bermaksud menseriusinya.
“Saya sendiri memang suka menanam, lingkungan, dan alam. Ada keinginan pula menanam hidroponik di rumah,” kata anak 12 tahun yang ingin melanjutkan pendidikan jurusan Ilmu Gizi ini.
Yusuf Ibnu Araya, siswa lain mengaku termotivasi bergabung menjadi Satgas Green School untuk mendapatkan pengalaman merawat dan menanam hidroponik. “Saya bisa belajar banyak bagaimana biar tanaman tumbuh baik dan hasil panen optimal,” ujar pelajar kelas 11 ini.
Dengan bekal pengetahuan menanam dan merawat sayuran di sekolah, dia membantu orang tuanya menanam cabai, terong, melon dan tomat di halaman rumahnya. Tanaman Ragam sayuran yang dia tanam di polybag itu cukup untuk membantu kebutuhan pangan keluarga.
Siswa asal Kelurahan Turen ini mengaku banyak belajar bertani dari sekolah inovasi ketahanan pangan. “Jadi setiap hari saya membantu merawat dan memupuk tanaman.”

Idayati, guru biologi sekaligus Ketua Tim Adiwiyata menjelaskan, ‘menyatu dengan alam’ memang menjadi konsep pembelajaran di sekolah dengan luas 15.000 meter persegi ini. Keberadaan green house berfungsi sebagai media pembelajaran siswa tentang pembibitan dan merawat tanaman.
Di fasilitas itu, para siswa juga belajar membudidayakan aneka sayuran yang dibimbing praktisi hidroponik. Mulai belajar menyiapkan media tanam, membuat pupuk cair dan perawatan rutin.
“Awalnya memanfaatkan botol plastik bekas minuman,” kata Ida.
Selain budidaya tanaman, mereka juga mengelola sampah dengan konsep 3R yakni reduce, reuse, recycle. Secara bergantian dan terjadwal mereka merawat tanaman usai jam sekolah. Hasilnya, aneka jenis bibit tanaman hias mereka jual kepada orang tua siswa saat penerimaan rapor. Harga tanaman hias berkisar Rp5.000-10.000.
Beberapa sayuran yang siswa jual itu meliputi Selada (Lactuca sativa) pakcoy (Brassica rapa subsp. chinensis) hijau terhampar di atas rak hidroponik.
Sedangkan terong (Solanum melongena L), cabai (Capsicum frutencens L.), dan tomat (Solanum lycopersicum. L) tumbuh subur dalam polybag. Kini, sayuran di dalam hidroponik siap panen. “Nanti kita tawarkan ke Dharma Wanita,” katanya.
Ifa Natunadiro, Sekretaris Tim Adiwiyata katakan, melalui komunitas green school siswa juga belajar mengolah sampah organik menjadi kompos. Kebiasaan menanam di sini, bisa dibawa ke rumah. “Seperti menanam cabai di pekarangan rumah, terutama saat harga cabai membumbung tinggi,” katanya.

Sekolah inovatif
SMA Negeri 1 Turen terpilih dari 754 sekolah di Jatim untuk mengikuti program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim luncurkan di Kediri, Ahad (25/1/26). Program ini melibatkan 110.481 siswa jenjang SMA, SMK dan SLB di Jatim.
Aries Agung Paewai, Kepala Dinas Pendidikan Jatim menjelaskan, program SIKAP digagas dengan memanfaatkan lahan sekolah yang terbatas. Sebagian menggunakan lahan yang selama ini tak termanfaatkan. “Untuk komoditasnya, menyesuaikan dengan kondisi dan kontur masing-masing,” katanya saat dihubungi Mongabay.
Program ini, katanya, mendorong kreativitas sekolah dan memperkuat relevansi pembelajaran dengan lingkungan sekitar. Melalui program SIKAP, dia berharap siswa mendapat pengalaman praktik budidaya tanaman, tak sekadar teori dalam kelas. Aries berharap menggabungkan antara materi kurikulum dengan praktik di lapangan.
Sedangkan, hasil budidaya dipakai untuk mendukung ketahanan pangan sekolah. Khusus siswa SMK, program diarahkan untuk penguatan kompetensi siswa. “Linier dengan kompetensi keahlian mereka. Sekaligus untuk pembelajaran kewirausahaan dan sumber pendapatan siswa,” katanya.
Dinas Pendidikan Jatim mendukung ruang inovasi bagi sekolah untuk mengembangkan program sesuai karakter dan potensi masing-masing. Aries berharap sekolah tak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kemandirian, dan kepedulian siswa terhadap ketahanan pangan dan lingkungan sejak dini.

Aksi penanaman, pembenihan dan panen serentak menandai pelaksanaan program ini. Kegiatan yang dibuka Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim di Kediri melibatkan 754 sekolah di Jatim, 110.481 siswa, dan guru.
“Program ini menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa. Sekaligus mendukung agenda nasional ketahanan pangan,” katanya dalam siaran pers yang diterima Mongabay.
Menurut dia, keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang. Sekolah didorong kreatif memanfaatkan setiap lahan yang tersedia. Kegiatan ini, katanya, juga turut mendukung kedaulatan pangan.
Saat ini, katanya, kebutuhan protein seperti ikan cukup besar. Untuk itu, ia meminta Dinas Pendidikan menginisiasi budidaya perikanan paling sederhana. Seperti budidaya ikan lele yang bisa diproduksi secara cepat.
Ke depan, mereka akan mengupayakan program ini bisa berkembang dengan budidaya peternakan ayam petelur dan pedaging. Melalui program ini, sekolah akan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran ketahanan pangan dan menyiapkan siswa sebagai wirausaha pertanian.
Pada kesempatan itu, Khofifah meninjau kandang ayam, sapi dan kambing. Para siswa merawat secara bergilir selama 24 jam. Para siswa telah melewati latihan kerja, dan kerja sama kemitraan, mentoring dan offtaker dengan industri.
“Sehingga hasil produksi langsung terserap dengan standar korporasi,” kata Khofifah.
*****