Di antara ribuan spesies katak yang tersebar di seluruh penjuru bumi, ada satu yang benar-benar berbeda dari yang lain. Bukan karena warnanya yang mencolok, bukan karena racunnya yang mematikan, melainkan karena ukurannya yang sulit dipercaya. Katak Goliath, seekor katak yang bobotnya setara kucing dewasa, tinggal di sudut kecil Afrika Barat, dan baru-baru ini terungkap memiliki perilaku yang mengejutkan para ilmuwan.
Katak Goliath memiliki ukuran tubuh yang luar biasa. Panjangnya hingga 33 cm (tidak termasuk kaki) dengan berat mencapai 3,5 kg, menjadikannya spesies katak terbesar di dunia hingga hari ini. Katak bernama ilmiah Conraua goliath ini umurnya bisa mencapai 15 tahun di alam liar, dan lebih dari 21 tahun di penangkaran. Predator alaminya adalah ular, buaya nil, dan tentu saja manusia. Hidupnya di sungai-sungai berbatu, lembab, dan bersuhu relatif tinggi di kawasan Afrika Barat, terutama Kamerun dan Guinea Ekuatorial.

Seperti katak pada umumnya, ia bersifat karnivora, memangsa kalajengking, serangga, dan katak kecil. Katak ini dikenal memiliki pendengaran yang tajam, namun tak punya kantung vokal sehingga tidak bisa mengorek, hanya sanggup bersiul. Meski tubuhnya raksasa, katak Goliath adalah makhluk yang pemalu dan sangat menghindari manusia. Ia akan langsung melompat ke sungai saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
Ketika Katak Jadi Arsitek dan Penjaga
Penelitian yang diterbitkan di Journal of Natural History mengungkap bahwa katak Goliath membangun tiga jenis sarang yang berbeda: ada yang sekadar membersihkan kolam alami dari daun-daun kering dan ranting, ada yang menggali kerikil dan pasir untuk memperluas kolam yang dangkal, dan ada yang benar-benar memindahkan bebatuan besar hingga 2 kg untuk membentuk kolam baru dari nol. Di sepanjang 400 meter Sungai Mpoula di Kamerun barat, para peneliti menemukan 22 lokasi sarang, 14 di antaranya mengandung hampir 3.000 telur per sarang. Yang lebih mengejutkan, dedikasi mereka tidak berhenti di situ.
Rekaman kamera jebak inframerah bahkan menangkap seekor katak Goliath dewasa berjaga sepanjang malam di sarangnya, baru meninggalkan posnya sesaat sebelum fajar. Siapa yang membangun dan siapa yang berjaga masih menjadi tanda tanya, meski pemburu lokal menduga jantan yang membangun kolam sementara betina bertugas mengawal.

Kerja keras yang luar biasa ini pun memunculkan pertanyaan besar di benak para ilmuwan. Peneliti utama Marvin Schäfer dari Museum Sejarah Alam Berlin menyimpulkan bahwa kerja berat memindahkan bebatuan dan menggali sarang inilah yang kemungkinan mendorong evolusi gigantisme pada spesies ini. Logikanya sederhana namun kuat: hanya katak yang cukup besar dan kuat yang mampu membangun sarang berkualitas, dan hanya sarang berkualitas yang mampu melindungi telur dari arus deras dan predator. Dari generasi ke generasi, seleksi alam pun memihak yang terbesar. Tubuh besar adalah prasyarat untuk membangun, dan membangun adalah kunci kelangsungan hidup keturunannya.
Ancaman Berlapis yang Mengancam Kepunahan
Katak Goliath diburu dengan tiga alasan utama. Pertama, dagingnya dianggap hidangan lezat oleh sebagian masyarakat di Kamerun barat daya, bahkan berudunya pun ikut dipanen untuk dikonsumsi karena diyakini baik untuk anak-anak dan ibu hamil. Kedua, nilai jualnya cukup menggiurkan, seekor katak Goliath bisa dijual hingga USD 15, dan banyak yang kemudian diperdagangkan ke negara tetangga seperti Nigeria, Kongo, dan Gabon. Ketiga, permintaan dari kolektor hewan peliharaan dan kebun binatang di seluruh dunia turut mendorong perburuan, hingga Guinea Ekuatorial terpaksa membatasi ekspor maksimal 300 ekor per tahun.

Akibatnya, populasi katak Goliath kini telah turun drastis hingga 50 persen dalam tiga generasi terakhir. Puncak musim berburu terjadi antara November hingga April, dengan perkiraan setidaknya 20.000 ekor diburu setiap tahunnya. Studi yang dipublikasikan di jurnal Oryx pada Januari 2024 menemukan bahwa mayoritas katak yang ditangkap pemburu adalah betina, justru individu paling krusial bagi keberlanjutan populasi karena peran mereka dalam menjaga sarang.
Ancaman penyakit kini juga mulai menghantui spesies ini. Penelitian 2025 mengkonfirmasi kehadiran jamur patogen Batrachochytrium dendrobatidis (Bd) di kawasan habitat katak Goliath di Afrika Tengah. Jamur ini menyerang langsung kulit amfibi, organ vital yang berfungsi sebagai alat pernapasan dan penyerapan air. Begitu kulit terinfeksi, keseimbangan cairan tubuh terganggu dan pada akhirnya menyebabkan gagal jantung. Penyakit yang ditimbulkannya, chytridiomycosis, telah memusnahkan ratusan spesies amfibi di seluruh dunia dan dianggap sebagai salah satu wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah vertebrata.
**
Referensi:
Schäfer, M., & Rödel, M.-O. (2019). Goliath frogs build nests for spawning – the reason for their gigantism? Journal of Natural History, 53(21-22), 1263–1276. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00222933.2019.1642528
Taylor & Francis Group. (2019, August 8). World’s largest frogs build their own ponds for their young [Press release]. EurekAlert! https://www.eurekalert.org/news-releases/486662
Gonwouo, L. N., Tchassem, F. A. M., & Weldon, C. (2024). Local perceptions, hunting and export of the Endangered Goliath frog Conraua goliath in Cameroon. Oryx, 58(1), 15–24. https://www.cambridge.org/core/journals/oryx/article/local-perceptions-hunting-and-export-of-the-endangered-goliath-frog-conraua-goliath-in-cameroon/ECA1DE116F93B20F0DEC5E96BC7CC65F