- Masyarakat Lombok memiliki ragam pangan lokal sebagai sumber karbohidrat dan protein nabati. Perlahan keragaman itu mulai berkurang, tak banyak masyarakat yang menanam di kebunnya.
- Anak-anak muda di Lombok dengan berbagai latar belakang mulai melirik pangan lokal dan menjadikan sebagai gaya hidup baru. Mereka menggelar berbagai kegiatan mengenalkan kembali pangan lokal.
- Penelitian dosen Universitas Mataram menemukan ada 12 jenis umbi sumber karbohidrat. Ketika terjadi bencana gempa 2018 dan covid-19, keberadaan tanaman pangan lokal ini menjadi penyelamat.
- Penyuluh pertanian mengubah sorgum menjadi aneka kue dan minuman yang mengisi hotel, restoran dan jadi produk eksport.
Di atas tanah perbukitan di Lombok Utara yang basah setelah hujan, sejumlah pemuda menelusuri lahan-lahan yang baru ditanami padi dan jagung, akhir Januari. Salah seorang adalah Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram yang tengah berdebat dengan rekannya, Baiq Chelsea.
Mereka berdebat tentang nama tanaman di depannya itu dalam bahasa Indonesia karena hanya mengingat dalam bahasa lokal (Sasak). Itu pun samar. Mereka mencoba mengambil foto daun tanaman itu, lalu memasukkan ke dalam mesin pencari Google. Beberapa pilihan muncul, tapi tetap saja mereka ragu.
Kebingungan serupa juga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian Bayan alami. Beberapa tanaman mereka kenal karena masih dijumpai di pasar seperti lomak (talas), singkong, lebui, komak atau kacang kara (Lablab purpureus).
Nelda Hannia, dari Dewan Kebudayaan Lombok Utara, penanggung jawab kegiatan mengeluarkan semangkuk biji-bijian. Dia meminta para peserta yang ikut dalam kegiatan bertajuk “Lacak Jejak Pangan Lokal” itu menebak nama biji-bijian itu. Hasilnya, tak ada yang bisa.
Dia lantas menyebut nama beleleng, yang tak lain adalah nama lokal sorgum. Menurutn dia, ada enam jenis sorgum yang hingga kini masih ditanam warga adat di Lombok Utara, terutama di kebun dan tanah pecatu.
Hari itu, Randika dan Chelsea memang datang wilayah adat Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat untuk mendata jenis tanaman pangan di tanah pecatu/tanah adat.

Di lahan pecatu, tanah titipan adat yang dikelola untuk kepentingan ritual, Raden Dedi dari Sekolah Adat Bayan menjadi pemandu menjelaskan seluk beluk tanaman itu. Dia menunjukkan barisan tanaman yang mungkin bagi generasi Gen Z terlihat seperti rumput besar biasa. Tetapi, itu adalah tanaman pangan sumber karbohidrat yang dikenal dengan nama jawa’ (jewawut).
Dia menunjukkan beberapa batang tanaman padi di dalam petak berbeda. Sepintas terlihat sama, tetapi itu varietas berbeda. “Identifikasi ini penting. Kita ingin mengenalkan kembali bahwa nenek moyang kita punya cara bertahan hidup yang sangat cerdas melalui keragaman pangan,” kata Dedi.
Hasil identifikasi di lapangan menemukan puluhan jenis tanaman pangan yang masih bertahan secara terbatas. Selain sorgum, ada padi bulu, varietas padi lokal yang wajib ada dalam ritual Mulud Adat Bayan.
Padi ini bukan sekadar sumber karbohidrat, ia adalah penjaga tradisi. Tanpa padi bulu, ritual adat tak sempurna. Inilah yang membuat benih-benih lokal tetap terjaga di tangan para tokoh adat, meski serangan bibit hibrida terus menggempur.
Hasil identifikasi pangan lokal, baik sebagai sumber karbohidrat dan protein nabati itu dikumpulkan sebagai bahan pembelajaran. Dengan cara mengunjungi kebun-kebun masyarakat adat, generasi muda bisa mengenal langsung jenis pangan lokal. Beras yang menjadi makanan pokok pun memiliki beragam varietas.
Selain beras, banyak juga tanaman umbi-umbian yang biasanya warga konsumsi di kebun milik masyarakat, terutama di lahan-lahan tadah hujan. Tanaman tersebut lebih adaptif pada lahan kering yang sebagian besar endapan letusan Samalas, tanah berpasir, lebih kasar dan lebih miskin unsur hara.

Lebih berdaulat
Indriyatno adalah Dosen Kehutanan Universitas Mataram yang memiliki laboratorium hidup di tengah Kota Mataram. Dia menyulap lahan kosong menjadi kebun berbagai tanaman pangan lokal dan herbal.
Bertahun-tahun meneliti keragaman pangan dan herbal, pada Februari 2024 dia menerbitkan hasil penelitiannya ke dalam jurnal ilmiah. Dalam penelitian berjudul The diversity, ethnobotany and nutrient contents of Dioscorea for post-disaster food security in Lombok, Indonesia dia mencatat 12 tipe lokal umbi dari genus Dioscorea di Pulau Lombok yang termasuk dalam empat spesies utama, yaitu, Dioscorea alata (uwi sawa, lami, uwi ungu, uwi putih), Dioscorea esculenta (gembili, surak), Dioscorea bulbifera (kentang, engal), Dioscorea pentaphylla (buyut). Sebagian besar jenis ini dapat dikonsumsi, sementara satu tipe (engal) tidak umum buat pangan.
Pada 2018, Lombok diguncang gempa 7SR yang merusak ratusan ribu bangunan, dan menyebabkan lebih dari 600 korban jiwa. Saat itu, turun ke lapangan, Indriyanto mendapati pangan masyarakat terjamin berkat umbi-umbian itu. Begitu juga saat pandemi COVID-19, mereka yang memiliki kebun, sumber pangan amanm taj bergantung dari luar.
Di laboratorium hidup yang Indriyatno kelola, pangan lokal terolah sedemikian rupa. Saat ke sana, kami juga beberapa kali mencicipi kue dengan bahan 100% lokal.
Bersama beberapa komunitas yang peduli pangan lokal, Indriyatno menyediakan laboratorium hidup ini sebagai tempat eksperimen. Ditambah kemampuan mengubah tanaman herbal menjadi jamu, minuman segar, makin lengkap rasanya jika semua yang masuk ke dalam lambung terjamin kesehatannya.
Dia mendorong pangan lokal ini bisa terolah agar bersaing dengan makanan siap saji lainnya. Di tangan Indriyatno, pangan lokal naik kelas menembus jurnal ilmiah dan menjadi sajian istimewa di laboratorium hidupnya.


*****
Dari Mangrove ke Meja Makan: Ketahanan Pangan Raja Ampat ala Mama-Mama Friwen