- Sepanjang tahun, kawasan pesisir Banda Aceh tak pernah sepi dari kedatangan burung migran. Pasalnya, wilayah ini menjadi jalur migrasi migrasi East Asia-Australasian Flyway (EAAF), menjadikannya sebagai salah satu jalur terbang terbesar dan penting bagi banyak burung migran di dunia.
- Namun, kawasan mangrove kini kian menyempit. Perubahan ini memberikan dampak besar bagi burung-burung migran.
- Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, luas hutan bakau yang tercatat pada tahun 2025 mengalami penurunan menjadi 486,37 ha. Bila dibandingkan dengan tahun 2014, terjadi penyusutan sekitar 125 ha.
- Di kawasan ekosistem mangrove Kuta Alam, Banda Aceh, sebanyak lima jenis spesies kini tidak lagi dapat ditemukan sejak terjadinya penimbunan kawasan untuk membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo sekitar tahun 2012.
Sekelompok burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) menyisir dataran tambak berlumpur di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh, Aceh. Kaki rampingnya melangkah dengan hati-hati sambil sesekali menusukkan paruh untuk mencari makan. Tak jauh dari situ, ada burung trinil kaki merah (Tringa totanus) tengah mematuk-matuk lumpur basah, bergerak maju secara perlahan dan menyapu setiap area untuk berburu mangsanya hingga sebelum matahari terbenam.
Pesisir Banda Aceh berada di jalur migrasi East Asia-Australasian Flyway (EAAF), salah satu jalur terbang terbesar dan penting bagi banyak burung migran di dunia. Karena itu, kawasan pesisir Banda Aceh tidak pernah kosong dari kehadiran burung migran. Meski kini, ruang itu kian menyempit, hutan-hutan mangrove terus tergerus.
Heri Tarmizi, Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH), bilang, pesisir Banda Aceh juga menjadi jalur akhir migrasi terutama bagi banyak burung dari tempat pembiakan di Siberia, Asia Utara untuk menghindari musim dingin. Ketika mangrove menghilang, rantai panjang perjalanan itu ikut terancam.
“Ketika mangrove tergerus, mereka tidak akan singgah lagi ke pesisir Banda Aceh karena tidak ada sumber makanan. Dampaknya bukan hanya kehilangan, burung-burung ini juga menjaga keasrian alam dengan perannya dan bunyi-bunyiannya. Jika tidak ada lagi, maka Kota Banda Aceh akan seperti kota mati,” katanya April lalu.
Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman.
Kawasan mangrove ini tersebar di lima kecamatan di Kota Banda Aceh, meliputi Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala. Perubahan penggunaan lahan mangrove paling tinggi terjadi di Kecamatan Syiah Kuala (50 hektar), Kuta Raja (28 hektar), Jaya Baru (22 hektar), dan Meuraxa (22 hektar).

Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Burung migran mulai menghilang?
Berdasarkan data KSLH, setidaknya 17 spesies burung migran yang hinggap di kawasan mangrove Lampulo, Kecamatan Kuta Alam. Mereka mencari makan, resting (istirahat), dan stop over (singgah) sebelum bermigrasi lagi.
Antara lain, ada biru laut ekor blorok yang terkenal dengan kemampuan terbang tanpa-henti dan jalur terpanjang mencapai 13.560 km dari Alaska, trinil pembalik batu (Arenaria interpres), trinil kaki merah (Tringa totanus), jenis burung cerek, gajahan, kicuit kerbau dan jenis lain.
Pada 2012, penimbunan terjadi di wilayah itu untuk pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo. Sejak itu pula, kata Heri, kelangsungan migrasi burung terganggu.
Setelah itu, ada lima jenis spesies yang sempat menghilang, yakni, kedidi kecil (Calidris minuta), kedidi leher merah (C. ruficollis), kedidi putih (C. alba), trinil kaki hijau (Tringa nebularia), dan trinil semak (T. glareola).
Meski begitu, dari hasil pengamatan Februari 2025 masih tersisa empat spesies yang terlihat, yakni, trinil kaki merah, cerek krenyut, cerek pasir tibet, dan trinil pembalik batu.
“Itu yang masih dijumpai, tetapi jumlahnya tidak banyak lagi. Kalau dulu kita bisa menemukan hingga 2.000-an ekor. Hari ini hanya mencapai kurang dari 100 ekor,” katanya.

Secara lebih luas, penelitian Khairunisak dkk pada pengamatan Februari-April 2024 mencatat ada 433 burung pantai migran yang singgah di beberapa pesisir Banda Aceh seperti di Gampong Pande Kecamatan Kuta Raja, Lampulo Kecamatan Kuta Alam, Lambaro Skep Kecamatan Kuta Alam, dan Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala.
Jenis yang paling banyak ditemukan adalah cerek pasir besar (Charadrius leschenaultii) 183 individu, cerek pasir siberia (C. mongolus) sebanyak 154, cerek emas pasifik (Pluvialis fulva) ada 45, lalu 26 kedidi leher merah (Calidris ruficollis), gajahan eurasia (Numenius arquata) ada 16, dan trinil pantai (Actitis hypoleucos) ada terlihat sembilan.
Heri bilang, kawasan mangrove juga berperan penting bagi burung kuntul (Ardeidae). Kuntul itu merupakan jenis burung yang menetap atau tinggal di suatu wilayah tertentu sepanjang tahun dan tidak bermigrasi jarak jauh. Berbeda dengan burung migran yang datang dan pergi berdasarkan musim.
Ada tiga jenis, antara lain kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul besar (Ardea alba), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis). Burung-burung ini, katanya, juga ikut terancam bila degradasi mangrove makin masif.
“Saat ini, mereka kehilangan rumah. Sekitar tahun 2012 saat terjadi penimbunan awal TPI Lampulo, mereka sempat hilang dari sana karena aktivitas manusia yang tinggi. Saya sempat cari-cari dan ternyata mereka pindah ke Alue Naga,” katanya.

Degradasi kawasan mangrove
Berdasarkan Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, luas hutan bakau pada 2025 mencapai 486,37 hektar, tidak jauh berbeda dengan target dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banda Aceh 2009—2029. Dokumen itu menetapkan luas hutan mangrove sebagai kawasan suaka alam hingga 2029 seluas 463,28 hektar.
Area ini menjadi kawasan penyangga antara permukiman dan zona perikanan mulai dari daerah pesisir Ulee Pata di Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, memanjang hingga pesisir Alue Naga di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
Eddy Safari, Kabid Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan (BP2L) DLHK3 Banda Aceh, mengonfirmasi, penyusutan mangrove di Banda Aceh tidak terelakkan karena sekitar 10% areal yang sudah ada saat ini merupakan milik pribadi. Meskipun begitu, pemerintah kota terus berkomitmen menambah luas kawasan terutama untuk tujuan mitigasi bencana.
Tahun ini, katanya, mereka sudah melakukan penanaman 81 pohon di pesisir Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala. Penanaman mangrove juga akan dilakukan di kawasan TPI Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, dan di Titik KM 0 Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja.
“Kita terus berupaya menjaga kawasan mangrove di kota ini salah satunya untuk mencapai target RTH seluas 20 persen dari luas Kota Banda Aceh sesuai arahan dari menteri,” katanya, April lalu.
Saat ini, luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Banda Aceh 846,24 hektar atau 14,34% dari target 20% luas RTH yang harus tersedia di setiap kabupaten/kota. RTH saat ini dominan hutan bakau atau sekitar 8,24%.

Muslich Hidayat, Ketua Program Studi Biologi di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh menyebutkan penyusutan habitat burung migran yang bukan hanya soal berkurang luas tanah, melainkan juga hilangnya keseimbangan alam yang leluhur wariskan.
Salah satu penyebabnya, karena ketidak jelasan kebijakan pemerintah kota sebagai pihak yang mempunyai wewenang paling tinggi dalam mengelola dan menjaga kawasan ekosistem mangrove.
“Akibatnya ekosistem mangrove dapat dengan mudah berubah menjadi lahan pembangunan perumahan, tambak ilegal, dan penebangan liar yang menyempitkan area. Dampak nyatanya abrasi pantai menggerus daratan, populasi ikan menurun, dan banjir rob lebih sering terjadi,” katanya.
Heri dari Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH), bilang, RTH yang sudah ada ini mesti terakomodasi dan memiliki kekuatan hukum agar tidak tergerus atau terdegradasi lagi. Misal, kawasan makam tua yang terdapat di daerah Kuta Alam, Lampulo, Lam Dingin, dan Lambaro Skep bisa menjadi alasan untuk menjadikannya RTH agar kawasan mangrove di sana tetap terjaga dari peralihan fungsi lahan.
“Pemerintah kota seharusnya bisa mengidentifikasi hal itu, jikalau pun ada lahan-lahan yang menjadi milik masyarakat dan akan dialihfungsikan, maka lewat regulasinya pemerintah bisa mewajibkan agar mereka mengalokasikan sebagian lahan untuk RTH. Diberikan edukasi mengapa RTH ini sangat diperlukan,” katanya.

Dampak ekologis jangka panjang
Muslich Hidayat bilang, indeks keanekaragaman hayati di pesisir Banda Aceh tergolong sedang. Antara ekosistem mangrove dan burung migran memiliki simbiosis mutualisme yang baik.
Ada dua jenis mangrove di pesisir yang menjadi favorit bagi burung migran, yakni, bakau hitam (Rhizophora mucronata) dan api-api putih (Avicennia alba). Lumpur pada akar pohon ini kaya cacing dan krustasea yang merupakan pakan utama bagi burung migran.
Bagi mangrove, burung migran juga berperan sebagai pengendali hama. Misalnya, burung migran seperti trinil dan plover adalah “polisi alam” yang memakan serangga, gastropoda, dan invertebrata penggerek akar mangrove. Mereka mampu mengontrol populasi 30-50% pada saat musim migrasi.
“Di Aceh, 7-20 spesies ini vital mencegah ledakan hama yang bisa merusak propagul. Tanpa mereka, pohon muda mati sebelum tumbuh, terutama di area terdegradasi,” katanya saat dihubungi April lalu.
Tak hanya pengendali hama, burung migran juga berperan penyebar bibit mangrove. Salah satunya, burung dara laut (Chlidonias spp.) Mereka lalu menyebar bibit hingga ratusan meter ke pesisir Aceh Timur atau Utara.
Menurut pengamatan Muslich, kontribusi ini sangat krusial sebagai konektivitas genetik dan restorasi alami, terutama di area terfragmentasi seperti Banda Aceh.
“Hilangnya mereka, berarti mangrove sulit ekspansi sendiri,” katanya.

Rita Andini, peneliti bidang biodiversitas, konservasi, dan rekayasa genetik tumbuhan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bilang, hilangnya burung migran dari ekosistem mangrove dapat menyebabkan kerusakan ekosistem secara keseluruhan. Ini karena burung merupakan bagian dari rantai makanan dalam ekosistem.
“Kehilangannya tidak selalu langsung terlihat langsung atau dalam jangka waktu dekat (kurang dari 2—3 tahun), tetapi efeknya bisa menjalar ke berbagai komponen,” katanya kepada Mongabay, April lalu.
Dia menjelaskan, burung migran membawa nutrien dari tempat lain dan melepaskannya melalui kotoran yang memperkaya nitrogen dan fosfor di sedimen mangrove.
Tanpa mereka, kesuburan lokal bisa menurun dan bakal memengaruhi produktivitas tanaman dan mikroorganisme. Kemudian, penyebaran biji (seed dispersion) juga ikut terganggu.
“Beberapa burung berperan dalam penyebaran propagul atau biji. Ketidakhadiran mereka dapat mengurangi regenerasi alami dan memperlambat pemulihan vegetasi mangrove, terutama di area yang terganggu,” katanya.
Burung migran, katanya, juga berperan penting dalam menghubungkan berbagai ekosistem, melintasi wilayah bahkan benua di lintas atau seberang Atlantik (transatlantik). Tanpa mereka, aliran energi dan materi antar ekosistem berkurang sehingga mangrove menjadi lebih terisolasi secara ekologis. Pada akhirnya, ketidakseimbangan rantai makanan juga tak dapat terhindarkan dalam jangka panjang.
*****