- Dulu, Kecamatan Tinanggea, Sulawesi Tenggara terkenal dengan budidaya rumput laut dengan hasil melimpah. Bahkan ada yang menyebut desanya sebagai desa 'dolar' karena harga komoditasnya yang cukup tinggi pada 2015-an.
- Mardiana, warga Bungin Permai mampu membeli sepeda motor dan perahu hasil menjual rumput laut. Petani rumput laut yang lain, Burhanuddin juga bisa menyekolahkan tiga orang anaknya dari hasil budidaya ini.
- Sayangnya, produksi rumput laut telah menurun drastis dalam lima tahun terakhir setelah kehadiran industri nikel. Potensi pengembangan budi daya rumput laut berhadapan dengan pencemaran dari kegiatan terminal khusus tambang nikel.
- Padahal, rumput laut adalah komoditas strategis untuk meredam perubahan iklim sekaligus mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK). Rumput laut dapat menyerap karbon dan menjaga keseimbangan nutrisi (eutrofikasi) perairan.
La Ode Baharuddin, baru saja pulang dari laut. Lumpur membalut punggung kaki sampai betis seusai mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium) di Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pekerjaan itu dia tekuni sejak budi daya rumput laut, yang dulu menyejahterakan warga, mulai meredup sejak lima tahun lalu akibat limbah industri nikel.
“Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin.
Sudah tiga tahun terakhir, budidaya rumput lautnya tak menghasilkan. Saat hujan turun, warna air laut menguning, rumput laut tak berkembang dan petani merugi. Sejak 2017, budidaya rumput laut di desa ini mulai menurun dugaan dampak limbah tambang nikel.
Petani pun mengeluhkan penampungan ore nikel di bibir pantai, aktivitas bongkar muat dan lalu lalang kapal. Hingga kini, tak ada solusi.
Sejak pendapatan terus menurun, Baharuddin pun mulai menjelajahi lumpur di sekitar pohon bakau untuk mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium).
“Burungo banyak, tetapi setengah mati. Tertanam kaki, (karena) jalannya di lumpur,” katanya. Dia mencari dan menjual burungo untuk biaya hidup sehari-hari, sama seperti sebagian masyarakat pesisir Tinanggea yang berhenti budi daya rumput laut.

Mayoritas pencari burungo di Tinanggea biasa menjual daging setelah diolah atau dimasak Rp20.000 per kilogram. Burungo yang Baharuddin jual burango segar dengan hanya memecahkan cangkangnya. Harga Rp3.000-Rp5.000 per kg.
Hasil penjualan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Keuangan jauh beda dengan dulu saat masa kejayaan rumput laut di Tinanggea. Apalagi ketiga anaknya sedang sekolah di SMA, SMP, dan SD. Ketika tahun ajaran baru, Baharuddin harus menjual sapi, bahkan tanah untuk membeli seragam sekolah, buku, dan alat tulis.
“Kalau tidak ada (uang), tanah atau sapi jadi korban. Sembarang saya kasih korban.”
Sebelum budidaya rumput laut, lelaki asal Pulau Katela, Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kabupaten Muna Barat ini, jadi pengepul ikan dan menjual ke Tinanggea. Setelah melihat perkembangan rumput laut, dia beralih pekerjaan.
Sejak 2010-an, pelan-pelan, dia membeli tali, pelampung dari botol plastik, hingga bibit agar—sebutan lokal rumput laut. Modal awal sekitar Rp10 juta untuk 200 bentang tali rumput laut. Bibit rumput laut, dia beli hanya sekali, kecuali produksi gagal total. Rumput laut dengan pertumbuhan baik bisa jadi benih, tanpa harus membeli lagi.
Pengeluaran itu, katanya, sebanding dengan hasil panen, bahkan jauh menguntungkan. Baharuddin ingat betul ketika harga rumput laut kering pernah Rp45.000 per kg antara tahun 2014-2015. “Satu karung saja kalau 100 kilogram lumayan, Rp4 jutaan.”

Di Tinanggea, rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii (Eucheuma cottonii) warna merah maupun hijau menjadi favorit para petani. Meski masa panen yang lebih lama, jenis ini memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan Eucheuma spinosum.
Menurut Baharuddin, budidaya rumput laut bikin siapa saja ikut sibuk, termasuk perempuan dan anak-anak. “Kalau musim agar, biar perempuan yang tidak ada suaminya pergi mendayung (memasang tali rumput laut).”
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Budidaya rumput laut juga memberi ruang bagi petani mengerjakan pekerjaan lain. Dalam sebulan, saat proses pembibitan hingga panen, petani dapat melakukan pekerjaan lain. Hal ini yang Arif, penduduk Desa Bungin Permai, Kecamatan Tinanggea, lakoni. Selain budidaya rumput laut, dia bekerja juga buruh bangunan, sesekali memukat ikan.
“Baru tidak terlalu susah juga agar. Kita pasang saja, sudah, ditinggalkan. Bisa kita kerja yang lain,” kata Arif Selasa(28/4/26).
Dia hanya sekali seminggu turun untuk mengecek tali rumput laut sebelum masa panen.

Nasib perempuan petani
Penelitian Universitas Halu Oleo pada 2024 menyebutkan, hasil budidaya rumput laut di Kecamatan Tinanggea, Konawe Selatan berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga. Aktivitas budidaya rumput laut perempuan Desa Bungin Permai, seperti mengeringkan rumput laut, mengikat, memilih benih, dan membuat benih. Sedang laki-laki bertanggung jawab dalam menyiapkan lahan, pemeliharaan dan panen.
“Kontribusi perempuan dalam usaha ini tidak hanya membantu suami, tetapi juga meningkatkan pendapatan keluarga, serta memperkuat stabilitas ekonomi rumah tangga,” tulis Azzahra, dkk. dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Halu Oleo.
Penelitian juga menelaah secara spesifik terkait kontribusi terhadap pendidikan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari uang buku, seragam sekolah, uang saku anak, kebutuhan sandang, pangan dan papan. Meski begitu, kontribusi ini tergantung dari jumlah bentangan rumput laut yang dimiliki.
Mardiana, ibu enam anak yang tinggal di Bungin Permai mampu membeli sepeda motor dan perahu hasil menjual rumput laut. Kala itu, harga per kg Rp40.000. Bahkan, pendapatan bersih bisa Rp40 juta dari panen 300 bentang tali rumput laut. Ratusan bentang tali rumput laut itu terpasang dekat kampung, hanya 200 meter di belakang rumahnya.
“Sempat dilantik ini desa dolar,” kata Mardiana ditemui pada Selasa (28/4/26).
“Orang-orang lantik, karena sempat naik harga agar Rp40.000.”

Perempuan 42 tahun itu sudah akrab rumput laut sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sebelum tahun 2000-an. Setelah menikah, Mardiana banyak membantu suaminya menyemai benih, menebar bibit, memanen, hingga menjemur rumput laut.
Petani rumput laut di Tinanggea dapat memproduksi 2.082 ton setiap tahun dengan rata-rata 1,89 ton per keluarga. Proses produksi rumput laut hampir sepanjang tahun.
Budidaya hanya berhenti selama tiga bulan pada musim timur karena suhu air berubah menjadi lebih tinggi atau meningkat, hingga berpengaruh terhadap hasil panen.
Sama seperti Baharuddin, produksi rumput laut di kampung Mardiana menurun drastis dalam lima tahun terakhir. Sejak itu, dia sama sekali tak punya lagi pekerjaan. Untuk sewa ojek perahu dan membeli bensin motor bagi anak-anaknya ke sekolah,
Mardiana harus meminjam dari orang tua atau saudaranya. Suaminya yang mulai sakit-sakitan memang tetap melaut, tetapi penghasilan tak menentu. Cuaca buruk juga kerap memaksa suaminya berdiam di rumah.

Klaim produksi meningkat
Lesunya produksi petani rumput laut di Tinanggea yang berpusat di sekitar perairan Desa Akuni dan Bungin Permai berbanding terbalik dengan data tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe Selatan.
BPS justru mencatat produksi tahunan rumput laut di Kecamatan Tinanggea terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, produksi rumput laut Tinanggea 18.644 ton, tahun 2022 (26.832 ton), tahun 2023 (26.861 ton), tahun 2024 (33.128 ton), dan tahun 2025 (33.946 ton).
“Kalau khusus daerah Bungin Permai tidak ada. Pokoknya dari tahun 2021 itu sudah masuk paceklik. Ada juga yang tanam, tetapi gagal total,” kata Mardiana, sekaligus membantah data BPS Konawe Selatan.
Data BPS yang terakses pada 14 April 2026 menunjukkan produksi rumput laut bersumber dari Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan.
Data BPS juga menunjukkan daerah lain seperti Lainea dan Kolono Timur masih produktif, meski Wayan Darma, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan bilang, budidaya rumput laut di wilayahnya tersisa di pesisir Tinanggea.
Dari tiga daerah itu, tercatat produksi rumput laut di Konawe Selatan pada 2021 mencapai 37.288 ton, tahun 2022 (37.285,92 ton), lalu 2023 sebesar 36.625,6 ton, pada 2024 sebanyak 37.515,6 ton dan dalam 2025 sebesar 37.639,6 ton.
Menurut dia, beberapa wilayah sentra rumput laut di Konawe Selatan telahsudah hilang, karena beberapa faktor, antara lain, di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, budidaya berhenti, karena ada dugaan pencemaran dari aktivitas tambang nikel. Di Teluk Moramo, lalu-lalang dan kegiatan bongkar muat kapal tongkang bikin rumput laut sulit berkembang.
“Seperti di Moramo karena banyaknya lalu lalang kapal. Jadi, mereka menghentikan aktivitas budidaya,” kata Wayan Rabu (29/4/26).
Dia berdalih, produksi rumput laut di Tinanggea menurun karena harga yang turun, bukan karena aktivitas tambang nikel. “Pencemaran dari tambang untuk di Tinanggea belum ada.”

Namun, temuan lapangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Tenggara menunjukkan ada penurunan kualitas lingkungan yang berdampak langsung pada pendapatan masyarakat pesisir Tinanggea.
Dugaan pencemaran berasal dari aktivitas pelabuhan bongkar muat perusahaan tambang nikel yang mengelilingi wilayah laut Tinanggea.
“Operasional pelabuhan itu menyebabkan sedimentasi, sehingga air laut berubah warna. Tentu itu mengganggu ekosistem laut,” kata Andi Rahman, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, Jumat (1/5/26).
Menurut dia, pencemaran terjadi akibat pengabaian perusahaan tambang nikel terhadap berbagai instrumen izin lingkungan.
Dia juga menilai pemerintah kurang ketat mengawasi aktivitas tambang yang dapat memengaruhi wilayah sumber ekonomi tradisional masyarakat.
“Kalau dijalankan dengan baik, tentu kita tidak akan melihat atau mendengar keluhan masyarakat yang saat ini mereka alami.”
Penelitian Muhammad Irlansyah, dkk. (2024) dari Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Halu Oleo, berjudul “Analisis Risiko Pendapatan Budi Daya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma spinosum) di Desa Bungin Permai” menunjukkan, penyakit dan hama kerap menyerang rumput laut, karena faktor cuaca serta pencemaran air laut. Kondisi itu bikin rumput laut tidak tumbuh dengan baik.
Dalam rancangan pelaksanaan Peraturan Bupati Konawe Selatan Nomor 89 tentang Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Tinanggea 2024–2026 juga menyebutkan, potensi pengembangan budidaya rumput laut memang berhadapan dengan pencemaran. Pencemaran perairan berasal dari kegiatan terminal khusus tambang nikel yang berdampak pada hasil panen rumput laut.

Ancaman keberlanjutan
Laode M. Aslan, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, mengatakan, daerah-daerah yang menjadi sentra budidaya rumput telah banyak terdampak aktivitas tambang nikel. Dia mengatakan, tambang nikel merupakan musuh terbesar rumput laut.
“Bukan hanya di Sulawesi Tenggara. Di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, hancur semua,,” katanya, Senin (20/4/26).
Daerah-daerah yang disebut Aslan merupakan 10 besar produsen budidaya rumput laut di Indonesia sekaligus wilayah dengan industri nikel skala besar.
Dia membayangkan nasib masyarakat lokal ketika cadangan nikel telah habis: lingkungan rusak dan air laut tercemar.
“Orang-orang kaya tinggalkan Sulawesi Tenggara, pergi hidup enak. Kita ditinggalkan apa? Sampah, pencemaran.”
Hal itu juga Aslan singgung saat rapat dengar pendapat antara Masyarakat Akuakultur Indonesia dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/26).
Gejala kerusakan lingkungan pun sedang terjadi di pesisir Tinanggea. “Kalau rumput laut sudah mati, berarti ada yang salah di airnya.”
Padahal, analisis The Nature Conservancy kerja sama dengan Bain & Company, rumput laut adalah komoditas strategis untuk meredam perubahan iklim sekaligus mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK). Rumput laut dapat menyerap karbon dan menjaga keseimbangan nutrisi (eutrofikasi) perairan.
Analisis itu menemukan rumput laut dapat menyerap sekitar 0,5 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per ha. Ia bekerja seperti tanaman lain, menggunakan fotosintesis untuk mengubah karbon dioksida menjadi biomassa rumput laut. Setelah CO2 tersimpan dalam biomassa rumput laut, ia dapat dipanen atau tenggelam ke dasar laut.
Temuan itu memungkinkan budidaya rumput laut dapat bersaing dalam kredit karbon biru di masa mendatang. Budidaya di lingkungan dekat pantai dianggap lebih layak secara ekonomi karena beberapa alasan. Misal, menyerap kelebihan nitrogen yang menyebabkan “zona mati” di laut, menyediakan tempat berlindung serta pemijahan ikan, dan murahnya biaya operasional bagi komunitas pesisir.
Komunitas pesisir seperti Baharuddin dan petani lain di Tinanggea sebenarnya punya harapan besar kembali budidaya rumput laut jika kondisi lingkungan telah membaik.
Baharuddin sempat mencoba menebar 26 bentangan rumput laut dari bibit yang dia beli Rp2 juta pada September 2025. Panjang bentangan masing-masing 30 depa atau sekitar 50 meter dia tebar di pesisir Desa Akuni, dekat Bungin Permai.
Bentangan rumput laut itu dia biarkan saja, karena tak berkembang dan banyak yang mati. Mardiana pun pesimis karena pesisir yang sangat dekat dengan lokasi tambang nikel.
“Tidak tahu nanti ke depannya. Jauh tambang, tetapi di laut sini dekat,” kata Mardiana.
*****
Mengenang Kejayaan Nelayan Kepiting Sebelum Industri Nikel Datang ke Konawe