- Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang berada di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam merupakan hutan rawa gambut tersisa di Provinsi Aceh.
- Rawa Singkil selama ini lebih dikenal sebagai habitat penting orangutan sumatera. Padahal, wilayah ini juga menyimpan keragaman jenis burung.
- Pendataan keragaman hayati terakhir yang menjadi rujukan penting di Rawa Singkil, dilakukan Giesen dan Bas van Balen pada 1992. Hasil kajian tersebut menjadikan kawasan Trumon–Singkil ditetapkan sebagai Important Bird Area (IBA) oleh BirdLife International pada 2001, dengan cakupan sekitar 157 ribu hektar.
- Ada tiga spesies kunci yang menjadi dasar penetapan IBA tersebut, yakni White-winged Duck atau itik sayap putih biasa juga disebut mentok rimba, lalu Storm’s Stork atau bangau storm, dan Lesser Adjutant atau bangau tongtong.
Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang berada di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam merupakan hutan rawa gambut tersisa di Provinsi Aceh. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 580 Tahun 2018, luasnya 81.765 hektar.
Rawa Singkil selama ini lebih dikenal sebagai habitat penting orangutan sumatera. Padahal, wilayah ini juga menyimpan keragaman jenis burung.
Di sejumlah titik rawa dan tepian sungai, burung kuntul tampak mencari makan. Sesekali terdengar suara rangkong melintas di atas kanopi hutan. Ada juga jenis elang, raja udang, bangau, hingga burung migran yang singgah saat musim tertentu.
Mongabay Indonesia bersama Tedi Wahyudi dari LetsBirding Sumatera, dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Center (YOSL-OIC) mengunjungi Rawa Singkil, pada 29 April sampai 1 Juni 2026.
Syafrizaldi Jpang, Direktur YOSL-OIC, mendorong adanya penelitian khusus terkait burung di kawasan ini.
“Banyak spesies yang belum terdata, termasuk mamalia. Rawa Singkil menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang belum terungkap dan berpeluang menjadi habitat penting bagi satwa liar langka di Sumatera,” terangnya, Minggu (10/5/2026).

Tedi Wahyudi menuturkan, pendataan keragaman hayati terakhir yang menjadi rujukan penting, dilakukan Giesen dan Bas van Balen pada 1992.
Hasil kajian tersebut menjadikan kawasan Trumon–Singkil ditetapkan sebagai Important Bird Area (IBA) oleh BirdLife International pada 2001, dengan cakupan sekitar 157 ribu hektar. Ini termasuk sebagian kawasan Ekosistem Leuser (KEL).
Ada tiga spesies kunci yang menjadi dasar penetapan IBA tersebut, yakni White-winged Duck atau itik sayap putih biasa juga disebut mentok rimba, lalu Storm’s Stork atau bangau storm, dan Lesser Adjutant atau bangau tongtong.
“Artinya sudah 34 tahun tidak ada update data,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

White-winged Duck (Asarcornis scutulata) merupakan itik hutan langka berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN. Populasi globalnya diperkirakan 150–450 individu dewasa.
“Di Rawa Singkil, keberadaannya terakhir kali dilaporkan pada 1992 oleh Bas van Balen dan hingga kini belum ada pembaruan informasi.”
Storm’s Stork (Ciconia stormi) merupakan spesies bangau hutan tropis berstatus Endangered dengan estimasi populasi sekitar 300–1.750 individu. Burung ini sangat bergantung pada hutan rawa gambut primer dan kawasan riparian dengan tutupan kanopi masih baik.
Spesies lain yang menjadi perhatian adalah Masked Finfoot (Heliopais personatus) atau pedendeng topeng, merupakan burung air langka Asia tropis yang berstatus Kritis.
“Populasi globalnya diperkirakan hanya 108–304 individu dewasa di dunia,” kata Tedi.

Selama pengamatan tiga hari, tim mencatat 40 spesies burung dari 24 famili, dengan tiga spesies merupakan burung dilindungi, yaitu, Piet tailed hornbill, Changeable hock eagle, dan Black winged kite.
“Target utama Storm’s Stork dan White-winged Duck tidak ditemukan,” ujarnya.
Tedi menyebutkan, ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam survei burung di Rawa Singkil. Pertama, point count atau pengamatan pada titik tertentu selama 20–30 menit sebelum berpindah ke titik berikutnya.
Kedua, metode VES (Visual Encounter Survey) yaitu menyusuri jalur sambil mengamati burung langsung. Ketiga, menggunakan bioakustik dengan alat perekam suara otomatis seperti audiomoth untuk mendeteksi keberadaan burung melalui suara.
“Penting dilakukan pembaruan data. Bisa jadi, beberapa spesies sudah tidak ada lagi akibat tekanan habitat yang terjadi.”

Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, mengakui belum ada pendataan khusus burung di Rawa Singkil. Namun, tim patroli mencatat burung-burung yang ditemukan, meski belum spesifik.
“Jika survei khusus orangutan sumatera sudah. Pendataan keanekaragaman hayati secara umum sedang dilakukan sejak awal 2026,” terangnya, Sabtu (9/5/2026).
Ujang menambahkan, BKSDA Aceh juga fokus merestorasi hutan yang rusak.
“Kami juga memperkuat pengamanan kawasan konservasi ini dengan membangun tujuh pos pengamanan,” ungkapnya.
Tekanan habitat
Pembukaan lahan, perambahan, dan kebakaran, menjadi ancaman nyata bagi kehidupan satwa liar di Rawa Singkil.
Tahun 2020, luas tutupan hutan Rawa Singkil tercatat 76.488 hektar. Tahun 2021, berkurang berkurang menjadi 76.323 hektar, 2022 (75.607 hektar), 2023 (74.775 hektar), dan 2024 (74.350 hektar).
“Pada 2025, luas tutupan hutan tercatat sekitar 73.893 hektar,” ujar Lukmanul Hakim, Manager Geographic Information System (GIS) Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Jumat (8/5/2026).
Menurut Hakim, jika dihitung sejak 2020, dalam lima tahun terakhir Suaka Margasatwa Rawa Singkil kehilangan lebih dari 2.500 hektar tutupan hutan.
*****
Deforestasi Rawa Singkil Tertinggi di Aceh, Ancaman Serius Habitat Orangutan Sumatera




