- Mama-mama di Kampung Friwen di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya menjadi aktor utama dalam rehabilitasi mangrove sejak sekitar 2014, berangkat dari kekhawatiran atas kerusakan hutan pesisir dan hilangnya pengetahuan pangan lokal berbasis mangrove.
- Restorasi mangrove tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir (habitat ikan, kepiting, dan kualitas laut), tetapi juga menjadi sumber pangan alternatif melalui olahan buah mangrove seperti tepung aibon.
- Lusy Fainsenem, pendamping masyarakat dari Perekumpulan Kawan Pesisir, mendampingi warga dalam mengorganisir, membangun kelembagaan, hingga menjembatani akses ke berbagai kebijakan seperti perhutanan sosial.
- Melalui pendampingan dan advokasi, masyarakat berhasil memperoleh penetapan Hutan Desa seluas ±1.025 hektar pada 2024, yang memperkuat hak kelola sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis hutan dan pesisir.
Loesye Fainsenem (42) —yang akrab disapa Lusy—tidak memulai hidupnya sebagai pendamping masyarakat. Ia pernah berada di jalur karier yang mapan sebagai Director of Sales (DOS) di sebuah hotel ternama di Manokwari, Papua Barat, sebuah posisi yang menjanjikan stabilitas dan prestise.
Namun, di tengah ritme kerja profesional itu, Lusy merasakan kegelisahan yang perlahan tumbuh, yaitu: dia merasa ada jarak antara dirinya dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Hingga, di suatu titik, dia mengambil keputusan yang tidak banyak orang berani lakukan—meninggalkan kariernya, dan menjawab apa yang dia sebut sebagai “panggilan nurani”.
Langkah itu membawanya ke Raja Ampat, di sebuah kampung kecil bernama Friwen, yang bahkan bukan tanah kelahirannya sendiri. Di Friwen, dia pun berlaku tidak seperti “orang luar” yang membawa solusi instan, melainkan mendengar dan belajar bersama warga lokal.
Di kampung yang berada di sebuah pulau kecil dengan sekitar 60 Kepala Keluarga itu, dia banyak berdiskusi dengan mama-mama di kampung, yang pada akhirnya dia memahami bahwa perempuan adalah aktor utama dalam upaya rehabilitasi mangrove, penguatan pangan lokal, hingga menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga.
Dengan latar belakangnya yang bergerak dalam industri layanan wisata, Lusy paham apa yang harus didorong untuk memajukan warga lokal di Raja Ampat yang sedang berkembang pesat sebagai destinasi wisata bahari.
Disitulah mereka lalu menggagas Kawan Pesisir, sebuah organisasi yang mendorong penguatan ruang ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan budaya asal mereka. Bahkan berani membangun masa depan dengan kekuatan sumberdaya alam yang ada.
Meskipun telah diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, baginya hidup bersama dengan masyarakat adalah yang utama. Posisinya memberikan peran lebih luas baginya untuk menjembatani kepentingan antara masyarakat dengan kebijakan negara.
Berikut adalah cuplikan wawancara dengan Lusy, yang tata bahasanya telah disesuaikan untuk kepentingan penulisan artikel ini.

Mongabay Indonesia: Bisa diceritakan bagaimana awalnya warga di Kampung Friwen melakukan rehabilitasi dan menjaga mangrove yang ada di sini?
Lusy Fainsenem: Awalnya bermula dari banyak orang-orang tua di kampung Friwen yang cerita tentang upaya mereka untuk mempertahankan tanah dan wilayah pesisir adat. Mereka prihatin dengan banyaknya kerusakan mangrove yang ada.
Mereka bilang, kalau buah mangrove itu dulu sumber makanan mereka, termasuk jadi bekal kalau pergi jauh. Karena tepung kering dari buah aibon (Bruguiera sp.) itu bisa tahan lama, bahkan bisa tahan tahunan.
Tetapi sekarang, –amat jarang, bahkan sudah tidak ada lagi yang tahu. Sudah banyak yang tinggalkan. Padahal itu budaya kita. Hanya orang-orang tua saja yang masih tahu, anak-anak muda sudah tidak ada lagi [yang tahu dan olah].
Dari situ, kami coba amati mangrove yang ada di wilayah kampung kami. Waktu itu kami coba lihat ada sekitar 60 hektare hutan mangrove yang rusak. Banyak yang ditebangi oleh orang dari luar kampung untuk bikin homestay. Di tahun-tahun sekitar 2000-2010-an itu banyak sekali orang yang bikin tourist homestay wisata, dan cari kayu tebang dari mangrove secara masif.

Mongabay Indonesia: Lalu mengapa pilihannya kepada kaum perempuan untuk kerja pemulihan mangrove?
Lusy Fainsenem: Nah ini menarik. Karena memang secara adat kaum perempuan atau mama-mama itu yang lebih banyak akses ke hutan, baik itu yang ada di darat atau di mangrove [daripada laki-laki]. Di tempat itu mereka biasa cari makanan, seperti bia (kerang), tanam ubi, dan yang lainnya.
Mangrove itu tempat ikan bertelur, kepiting, buah-buah mangrove yang bisa kita manfaatkan. Jadi mangrove itu penting, karena kalau mangrove terjaga, maka terumbu karang terjaga, ikan-ikan kumpul dan banyak di sana.
Jadi kami mulai kerja tanam-tanam mangrove kembali, restorasi. Kalau mangrove rusak, kami lalu mau makan dari mana? Di awal itu kami kerja swadaya, pakai dana dan tenaga sendiri.

Warga di Friwen itu unik, karena mereka punya kebun itu di Tanah Besar (Pulau Gam), yang merupakan wilayah adat kami. Jadi mereka harus seberang selat, kalau mereka mau kerja kebun. Ketika mereka mau tengok kebun, mereka lakukan patroli di kawasan mangrove yang pasti mereka lewati, sebelum sampai di kebun.
Pernah mereka jumpa dengan yang mau rusak mangrove. Mama-mama itu tegur ‘Jangan rusak mangrove, nanti kami lapor polisi.’ Di sini, kalau sudah mama-mama yang turun, laki-laki juga takut. Akhirnya lambat laun, dengan rehabilitasi dan patroli itu, kondisi mangrove bisa pulih.
Itu baru awal, karena setelah itu kami bangun program untuk pemanfaatan mangrove, seperti tadi ambil buah aibon, kami coba olah dan kembangkan jadi makanan modern. Kami bisa buat bahan olahan dari mangrove: ada pizza, mie, kue kering, donat, macam-macam.
Untuk perbandingan, dari sekitar 5 kg buah mangrove yang kami ambil, maka 2 kg bisa dijadikan tepung, setelah lewat proses membuang kulitnya, merebus, dan menumbuk jadi tepung. Ini bagi kami, adalah upaya melestarikan sekaligus memanfaatkan. Melestarikan alam, sekaligus membangkitkan kembali budaya.

Mongabay Indonesia: Bisa ceritakan awal bagaimana kaum perempuan di Friwen bisa tanam sayur dan kopi?
Lusy Fainsenem: Dari awalnya kami kerja sendiri, kami lalu berpikir bagaimana agar apa yang kami kerjakan bisa dapat perhatian dari pihak berwenang. Setela bekerja sejak tahun 2014, lalu pada tahun 2018, kami beranikan buat Badan Hukum, yaitu Perkumpulan Kawan Pesisir. Saat ini kami bekerja di di dua kampung, yaitu Friwen dan Yembeser.
Hingga akhirnya, momen itu datang saat pak Bambang Hendroyono, Sekjen Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), di bulan April 2024 datang ke Raja Ampat. Beliau datang dalam program penanaman mangrove. Di situ kami pertemukan beliau dengan para orang-orang tua di kampung, termasuk mama-mama.
Waktu itu kami bilang ke beliau, ‘Bapak ini kami punya tempat, kami mau jadikan Hutan Desa. Mangrove sudah kami tanam, sudah kami restorasi. Terus yang kedua, kami juga sudah melakukan pengelolaan lahan. Tapi masalahnya, kami punya hutan ini selalu ditebang [oleh orang luar]. Tolong kami dibantu dengan penetapan Hutan Desa, karena kalau sudah ada SK itu kami bisa bisa dorong pengelolaan dan pemanfaatan lahan darat dan sekaligus jaga mangrove itu.’

Karena bisa lihat sendiri, bagaimana warga telah bisa jaga dan kelola kawasan, jaga hutan, jaga mangrove, jaga laut, saat itu juga beliau langsung perintahkan stafnya di bagian Perhutanan Sosial (PS) untuk kawal dan bantu proses penetapan. Akhirnya di tahun 2024, tidak sampai 6 bulan, proses penetapan wilayah hutan desa itu keluar, yang luasnya 1.025 hektar.
Dengan adanya SK Hutan Desa itu, kami mulai bekerjasama dengan para pihak. Lewat Dinas Pertanian, Kabupaten Raja Ampat, mereka beri dukungan kami dengan alat cultivator, pupuk, dan bibit tanaman, yaitu kopi yang kami tanam di bawah tegakan.
Ini pertama kali dalam sejarah, tanaman kopi ditanam di Raja Ampat. Bibit didatangkan dari Jember (Jawa Timur) dan dari Jayapura (Papua). Rencana akan ada 5.000 bibit tanaman kopi yang ditanam. Tiga-empat tahun lagi, jika ia tumbuh baik, tanaman ini bisa dipanen.
Selain berkebun, mama-mama di sini juga mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk tanam sayur-sayuran. Kami tanam kangkung, bayam dan jenis sayuran lain. Jadi strateginya tanaman kopi itu untuk jangka panjang, sedang sayur itu untuk jangka pendek.
Kami juga sedang coba tanam berbagai tananam buah, seperti nenas, semangka, pepaya, kalau pepohonan buah seperti jeruk, durian, langsat. Kami juga mau tanam mangga, dan alpukat.

Mimpi kami, –karena Raja Ampat ini dikenal sebagai daerah pariwisata, nanti berbagai produk hasil kebun ini bisa suplai ke homestay. Tidak perlu lagi didatangkan dari Sorong. Kita bisa memenuhi itu. Pasar sudah ada, dan harga pasti lebih murah, karena pengangkutan jauh lebih dekat, dan ongkos jadi lebih murah tentunya.
Banyak para pemilik homestay itu juga orang-orang lokal, banyak pemuda yang bekerja di situ. Jadi ini semacam saling melengkapi. Ekonomi lokal bisa bertumbuh, berputar diantara warga, sehingga bisa bangun kesejahteraan bagi warga setempat.
Mongabay Indonesia: Jadi dapat disimpulkan bahwa apa yang sekarang sedang dikerjakan itu, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan saja, tetapi juga ada aspek pasar (market) dan ekonomi bagi warga lokal?
Lusy Fainsenem: Iya benar sekali. Untuk itu, kami di Perkumpulan Kawan Pesisir juga memfasilitasi warga pengetahuan dan keterampilan warga. Kami bilang ‘yang penting kita kerja, kita kerja rajin pasar sudah ada.’
Jadi tidak perlu semua orang harus berbondong-bondong buat homestay. Tetapi juga harus ada yang kerja untuk dukung kebutuhan turis di homestay, seperti apa? Seperti suplai berbagai bahan pangan, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Sekarang warga sudah semakin paham.
‘Kalau saya yang buka homestay, kalian semua kalah dengan saya,’ saya suka bilang begitu dengan orang-orang di kampung. [Lusy tertawa]. Maka mari kita bagi peran, agar semua bisa saling dukung.

Mongabay Indonesia: Apa harapan Anda terhadap program pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum perempuan di tempat ini?
Lusy Fainsenem: Di kelompok Perhutanan Sosial ini, sekarang sudah ada sekitar 35 orang mama-mama yang terlibat, mereka berkelompok menjadi empat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS): KUPS Pengelolaan Mangrove, KUPS Pertanian, KUPS Pengelola Kerajinan, dan KUPS Jasa Lingkungan yang sedang dalam perencanaan.
Jadi mereka mama-mama ada yang kerja di kebun untuk kelola lahan pertanian, ada yang kerja untuk kelola mangrove, dan ada yang kerja untuk kerajinan.
Untuk mama-mama yang berusia lanjut, mereka kami arahkan untuk buat kerajinan tangan, seperti anyaman (menoken), membuat tikar, dan berbagai kerajinan dari kerang-kerangan yang bisa dijual ke turis sebagai cenderamata dari Raja Ampat.
Di tahun lalu, bulan Juli 2025, di Friwen kami buat Festival Kerajinan buatan mama-mama. Yang ikut tidak hanya mama-mama di kampung ini saja, tetapi juga mama-mama dari kampung lain. Hasilnya total penjualan sekitar Rp20 juta dari seluruh kerajinan dan makanan buatan mama-mama itu. Banyak turis yang datang berkunjung.
Di tahun ini, kami juga mau buat festival serupa, sambil coba makin banyak melibatkan mama-mama dari kampung-kampung lain. Ini festival pertama, yang dilakukan dari inisiatif lokal, dari bawah.
Bagi kami, seluruh yang kami lakukan ini tidak semata hanya masalah ekonomi, tetapi juga memperkenalkan budaya lokal. Kami punya makanan yang terbuat dari buah mangrove, kami punya kerajinan tangan buatan mama-mama, selain tentu kami juga punya keramahan masyarakat, dan alam yang indah di Raja Ampat.
Artikel ini adalah kerjasama Mongabay Indonesia dengan Rekam Nusantara Foundation
Foto utama: buah aibon (Bruguiera sp.) jenis mangrove yang secara tradisional dapat diolah sebagai bahan pangan. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia.
*****
Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan