Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Terbaru

“Hantu Gurun” yang Dikira Punah: Video 18 Detik Ungkap Kucing Pasir Masih Ada di Libya

Akhyari Hananto 25 Jun 2026
Cerita fitur

Krisis Air Bersih Hantui Aceh Besar Kala Karst Terus Tergerus

Nurul Hasanah 25 Jun 2026

Satu Abad Menghilang, Nuri Dahi-Biru Terpantau di Pulau Buru

Falahi Mubarok 25 Jun 2026
Cerita fitur

Jalur Gelap Merkuri di Tambang Emas Ilegal Sulawesi

Sarjan Lahay 25 Jun 2026

Paye dan Jongot, Cara Masyarakat Tempirai Jaga Lahan Basah Sumatera Selatan

Taufik Wijaya 24 Jun 2026
Cerita fitur

Risiko Kebakaran Makin Tinggi Ketika Gambut Kalimantan Rusak

Rendy Tisna 24 Jun 2026
Semua berita

Berita utama

WTP PDAM Tirta Mountala yang berada di Wisata Kolam Mata Ie kering pada 2023. Foto: Nurul Hasanah/ Mongabay Indonesia

Krisis Air Bersih Hantui Aceh Besar Kala Karst Terus Tergerus

Jalur Gelap Merkuri di Tambang Emas Ilegal Sulawesi

Sarjan Lahay 25 Jun 2026

Risiko Kebakaran Makin Tinggi Ketika Gambut Kalimantan Rusak

Rendy Tisna 24 Jun 2026

Lahan Petani Padang Halaban Sudah Keluar dari HGU Sinar Mas?

Ayat S Karokaro 24 Jun 2026

El Nino Godzilla Berisiko Perburuk Polusi Udara Jakarta

Indah Suci Safitri 23 Jun 2026

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Masalah khusus menghubungkan titik-titik di antara cerita

Ancaman Nyata El Nino Godzilla

El Nino Godzilla, Energi Bersih, dan Keresahan Masyarakat Semende

Taufik Wijaya 12 Jun 2026

Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global

Nuswantoro 4 Jun 2026

Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan

Triyo Handoko 22 Mei 2026

Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua

Akhyari Hananto 18 Mei 2026

Fenomena El Nino Godzilla menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim global saat ini dengan dampak konkret yang langsung dirasakan di Indonesia. Fokus utama tertuju pada ancaman sistemik yang ditimbulkan, mulai dari lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan, hingga gangguan nyata pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat […]

Ancaman Nyata El Nino Godzilla series

Lebih spesial

11 cerita

Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra

10 cerita

Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh

Perempuan adat Boti (Taela Sae, Muke Benu, Seo Neolaka, Kuma Neolaka) sedang membawa hasil panen berupa jagung, kacang tunis, sorgum, dan sayur-sayuran segar. Foto: Mario Sara/ Mongabay Indonesia
12 cerita

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

Kami menghadirkan informasi kredibel yang bisa diakses siapa saja

Pelajari lebih lanjut

Dengarkan Alam dengan podcast yang menggugah pikiran

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia

Cerita di Bulan Mei, dari Danau Batur sampai Teluk Weda

Kadek Dian Dwiyanti H.* 28 Mei 2026

Tonton video unik yang menghilangkan kebisingan

Tak Ada Kepiting Bakau Tanpa Hutan Mangrove

Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran

Nopri Ismi 7 Jun 2026

Perempuan Penjaga Satwa Liar di Jantung Hutan Kalimantan

Niko Wicaksana 23 Mei 2026

Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk

Niko Wicaksana 22 Apr 2026

Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia

Rizky Maulana Yanuar, Sandy Watt 25 Feb 2026

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025
}

Pantau terus berita terbaru kami celana pendek

252 Juta Tahun Lalu, Gunung Berapi ini Hampir Menghapus Seluruh Kehidupan di Bumi

Akhyari Hananto 25 Jun 2026

252 juta tahun lalu, Bumi hampir kehilangan segalanya. Bukan karena asteroid, bukan karena perubahan iklim bertahap. Melainkan karena serangkaian letusan gunung berapi kolosal di Siberia yang berlangsung hampir satu juta tahun, memuntahkan lava, abu, dan gas beracun dalam jumlah yang hampir tidak bisa dibayangkan. Ketika semuanya selesai, 96 persen spesies laut telah musnah dan 70 persen vertebrata darat lenyap dari muka Bumi.

Para ilmuwan menyebutnya The Great Dying, kepunahan massal terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah planet ini.
Letusan itu meninggalkan jejak berupa hamparan batuan vulkanik raksasa yang kini dikenal sebagai Perangkap Siberia atau Siberian Trap, terbentuk dari sekitar 1,5 juta kilometer kubik lava yang dimuntahkan dari retakan di kerak Bumi. Skalanya begitu masif sehingga para ilmuwan selama bertahun-tahun bertanya-tanya: mengapa letusan ini jauh lebih mematikan dibanding letusan besar lainnya dalam sejarah Bumi?

Jawaban itu kini mulai terkuak. Ahli geologi Michael Broadley dari Pusat Penelitian Petrografi dan Geokimia di Prancis dan timnya menganalisis sampel mantel xenolith, yaitu batuan dari lapisan litosfer yang tertangkap oleh magma dan dimuntahkan bersama lava saat erupsi. Dari sampel itu, mereka bisa mengidentifikasi komposisi kimia litosfer Siberia sebelum dan sesudah letusan.

Hasilnya mengejutkan. Litosfer di Siberia sebelum erupsi dipenuhi unsur halogen, termasuk klorin, bromin, dan yodium. Setelah letusan besar, unsur-unsur itu tidak ditemukan lagi dalam sampel, artinya semuanya telah termuntahkan ke atmosfer selama erupsi.
Halogen adalah elemen gas yang sangat beracun, dan dampaknya menjadi jauh lebih berbahaya ketika bergabung dengan molekul lain di atmosfer. Dalam jumlah masif seperti yang dilepaskan oleh Perangkap Siberia, gas-gas ini naik ke lapisan ozon dan menghancurkannya dari dalam. “Kami menyimpulkan bahwa sejumlah besar halogen yang berada di litosfer terlempar jauh hingga atmosfer Bumi selama erupsi. Lapisan ozon seketika rusak dan inilah yang menjadi cikal bakal kepunahan massal,” kata Broadley.

Tanpa lapisan ozon yang berfungsi, Bumi kehilangan perisai pelindungnya dari radiasi matahari. Makhluk hidup di permukaan dan di laut musnah dengan cepat. Hanya sebagian kecil yang berhasil bertahan, dan mereka yang bertahan mengalami tekanan seleksi alam yang ekstrem hingga DNA mereka berubah. Setiap makhluk hidup yang ada di Bumi hari ini, termasuk manusia, diyakini adalah keturunan dari segelintir makhluk yang berhasil melewati malapetaka itu.

Studi ini dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience dengan judul “End-Permian extinction amplified by plume-induced release of recycled lithospheric volatiles.”
The Great Dying adalah pengingat bahwa kepunahan massal bukan hanya catatan sejarah geologi yang dingin. Ia adalah bukti bahwa kondisi atmosfer dan kimia Bumi bisa berubah dalam skala waktu yang, secara geologis, sangat singkat, dengan konsekuensi yang hampir tidak menyisakan apa pun. Dan bahwa kehidupan yang kita kenal sekarang adalah warisan dari mereka yang, entah bagaimana, berhasil bertahan.

Dijuluki Burung Paling Berbahaya di Dunia, Burung Ini Justru Terancam Punah oleh Manusia

Akhyari Hananto 23 Jun 2026

Cakarnya sepanjang 10 sentimeter, tajam seperti pedang, dan bisa merobek kulit serta daging dalam satu tendangan. Tingginya mencapai 1,5 meter, beratnya hingga 75 kilogram, dan lehernya berwarna biru cerah dengan gelambir merah yang mencolok. Di atas kepalanya terdapat helm keras dari keratin yang fungsinya belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan. Kasuari Selatan (Casuarius casuarius) adalah burung yang oleh banyak ahli disebut sebagai yang paling berbahaya di dunia.

Tapi ancaman terbesar bagi burung ini bukan datang dari predator. Ia datang dari manusia.

Di Australia, populasi kasuari Selatan kini diperkirakan tinggal kurang dari 5.000 individu dan masuk dalam daftar spesies terancam punah. Deforestasi untuk pertanian, perkebunan, dan permukiman telah memecah hutan hujan tropis yang dulunya luas menjadi petak-petak kecil yang terisolasi. Fragmentasi ini menghambat pergerakan kasuari untuk mencari makan dan pasangan, serta memutus konektivitas genetik antar populasi.

Jalan raya menjadi ancaman tersendiri. Kasuari dewasa sering tertabrak kendaraan saat menyeberangi jalan yang kini membelah habitat mereka. Anak-anak kasuari yang belum berpengalaman lebih rentan lagi. Anjing domestik dan liar juga kerap menyerang, terutama anakan yang belum mampu mempertahankan diri. Beberapa tahun lalu, seorang pria berusia 75 tahun di Florida meninggal akibat diserang kasuari yang ia pelihara sendiri di propertinya, sebuah pengingat bahwa bahaya itu bekerja dua arah.

Ironisnya, di balik reputasinya yang menakutkan, kasuari Selatan adalah salah satu penyebar biji paling penting di hutan hujan. Ia mampu menelan buah berukuran besar dan biji keras tanpa merusaknya, lalu mengeluarkannya bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses yang disebut endozoochory ini membantu regenerasi hutan dan menjaga keragaman genetik tumbuhan. Beberapa penelitian menunjukkan kasuari Selatan menyebarkan biji dari lebih dari 70 spesies tumbuhan, termasuk pohon-pohon besar yang bijinya terlalu besar untuk dimakan hewan lain. Beberapa jenis tumbuhan bahkan tidak bisa berkecambah tanpa terlebih dahulu melewati saluran pencernaan kasuari.

Selain itu, sebagai predator puncak, kasuari membantu mengendalikan populasi serangga, kadal, amfibi, dan mamalia kecil di ekosistem hutan. Kehadirannya adalah indikator kesehatan hutan: ketika kasuari menghilang dari suatu kawasan, itu pertanda ekosistem di sana sudah terganggu.

Perubahan iklim menambah tekanan. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem mengubah ketersediaan makanan dan komposisi vegetasi di habitat kasuari, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Pemerintah Australia sudah meluncurkan rencana pemulihan nasional, mencakup pembelian lahan untuk koridor satwa liar, pemasangan rambu lalu lintas, dan edukasi pemilik anjing. Tapi WWF memperkirakan tren kepunahan di Australia akan terus memburuk. Dalam sekitar 335 tahun terakhir, sekitar 100 spesies tumbuhan dan hewan unik di Australia sudah punah.

Burung yang bisa membunuh manusia dengan satu tendangan itu ternyata jauh lebih rentan dari yang terlihat. Dan jika ia punah, hutan hujan yang bergantung padanya akan ikut menanggung akibatnya.

Penyakit Darah Pisang Menyebar di Flores, dan Petani Sudah Kehabisan Cara Menghentikannya

Akhyari Hananto 23 Jun 2026

Lusia Pince, petani pisang di Dusun Hoba, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, sudah melihat terlalu banyak pohon pisang kepok ditebang dalam setahun terakhir. “Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus,” katanya. Sebagian petani di sekitarnya sudah menyerah dan beralih ke jagung.

Yang tersisa di pasar, harganya melonjak. Sebelumnya satu tandan pisang kepok dihargai Rp25.000 hingga Rp35.000 di tingkat petani. Kini bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000. Di Pasar Alok Maumere, pedagang sudah menjual satu tandan hingga Rp150.000 hingga Rp200.000.

Ini adalah wabah penyakit darah pisang, dan ia sedang bergerak cepat.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan betapa cepatnya penyebaran itu. Pada April 2024, serangan baru mencakup 25,62 hektar dari total 1.348 hektar lahan pisang di kabupaten ini. Setahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 366,62 hektar dari total lahan yang kini menyusut menjadi 1.142 hektar. Area yang berhasil dikendalikan hanya 57,46 hektar, atau sekitar 15 persen dari yang terserang. Produksi pisang Sikka sendiri sudah anjlok drastis: dari 823.132 kuintal pada 2020 menjadi hanya 125.892 kuintal pada 2024.

Penyebabnya adalah bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc), yang menyerang sistem pembuluh xilem pohon pisang. Henderikus Darwin Beja, Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Nusa Nipa Maumere, menjelaskan bahwa bakteri ini memblokir aliran air dan nutrisi di dalam tanaman, memunculkan gejala layu dan pembusukan internal yang tampak seperti darah kehitaman di dalam buah. “Rsc memblokir aliran air dan nutrisi, sehingga muncul gejala layu dan pembusukan internal,” ujarnya.

Penyebarannya lebih kompleks dari yang dibayangkan. Bakteri ini tidak hanya menular lewat alat pertanian yang terkontaminasi atau aliran air tanah, tapi juga melalui serangga penyerbuk dan lalat buah yang membawa bakteri dari bunga tanaman sakit ke tanaman sehat. Mobilitas bahan tanam antar daerah juga membawa infeksi ke lokasi baru. Penelitian genomik terbaru menunjukkan bakteri ini bahkan sudah beradaptasi secara evolusioner sehingga patogenisitasnya meningkat terhadap varietas pisang kepok di wilayah tropis Indonesia.

Perubahan iklim memperburuk situasi. Variasi curah hujan, suhu yang lebih tinggi, dan kejadian cuaca ekstrem melemahkan resistensi tanaman sekaligus memperluas jangkauan vektor serangga. Kerusakan ekosistem di sekitar lahan pertanian menghilangkan mekanisme alami yang selama ini menekan penyebaran hama dan penyakit.

Darwin mendorong pemerintah untuk memperkuat respons berbasis sains: pusat deteksi dini, penyediaan bibit pisang sehat bersertifikat, regulasi ketat distribusi bahan tanam lintas kabupaten, dan investasi riset varietas yang lebih tahan terhadap Rsc. Deteksi molekuler seperti PCR bahkan bisa mengidentifikasi bakteri sebelum gejala visual muncul, memungkinkan respons lapangan yang jauh lebih cepat.

Tapi di Hoba, Maumere, teknologi PCR masih jauh dari jangkauan. Yang ada hanya petani yang melihat pohon pisangnya menghitam dari dalam, dan pilihan yang semakin sempit antara menebang atau menunggu seluruh kebun habis.

Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan

Akhyari Hananto 21 Jun 2026

Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang industri dari bawah.

Penjelasan resminya adalah keragaman genetik. GAPKI bersama Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit menyebut langkah ini sebagai upaya memperkaya varietas dan mendongkrak produktivitas yang stagnan. Para petani dan organisasi masyarakat sipil tidak meyakini penjelasan itu.

Gunawan dari Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menunjuk akar masalah yang berbeda. Data Kementerian Pertanian Oktober 2025 menunjukkan 40 hingga 70 persen benih sawit yang beredar belum bersertifikat. Benih ilegal dan pengawasan yang lemah itulah yang membuat produktivitas stagnan, bukan kurangnya varietas dari Afrika. “Jika produktivitas sawit stagnan, persoalannya bukan semata genetika tanaman, melainkan tata kelola yang sejak lama dibiarkan bocor di banyak sisi,” katanya.

Bagi petani kecil, masuknya benih impor bisa mendistorsi harga benih lokal. Perusahaan besar bisa menyesuaikan diri dengan varietas baru, petani kecil tidak punya kemewahan itu. Benih dari Afrika belum terbukti cocok dengan kondisi tanah, iklim, dan penyakit lokal Indonesia. Risiko gagal panen ditanggung petani sendiri. “Realitasnya adalah petani kecil berada dalam posisi yang lebih rentan,” kata Gunawan.

Marselinus Andri dari SPKS menambahkan bahwa masalah produktivitas sawit jauh lebih kompleks dari sekadar soal bibit. Keterbatasan akses pupuk, realisasi program peremajaan sawit rakyat yang rendah, dan infrastruktur yang tidak memadai adalah hambatan nyata di lapangan yang tidak akan terselesaikan dengan benih impor.

Di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih besar. Achmad Surambo dari Sawit Watch mencurigai impor benih dari Afrika berkaitan dengan rencana ekspansi perkebunan sawit ke Papua. Dalam rapat dengan kepala daerah se-Papua Desember 2025, Presiden Prabowo menyatakan Papua harus ditanami sawit untuk bahan bakar minyak, dengan target 600.000 hektar kebun baru. Padahal riset Sawit Watch menunjukkan daya dukung lingkungan Papua untuk sawit sudah hampir habis, dengan 75.308 hektar perkebunan yang sudah ada berada di wilayah sensitif seperti hutan primer dan kawasan konservasi.

Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia. Tapi benihnya datang dari Afrika, petani kecilnya menanggung risiko terbesar, dan hutan Papua yang tersisa mungkin menjadi sasaran berikutnya. Pertanyaannya bukan lagi soal benih. Pertanyaannya adalah untuk siapa industri sebesar ini sebenarnya dijalankan.

Sudah Dicoba Berabad-abad, Zebra Tidak Bisa Dijinakkan Seperti Kuda. Ini Alasannya

Akhyari Hananto 20 Jun 2026

Pada akhir abad ke-19, Lord Walter Rothschild, bangsawan eksentrik dan kolektor satwa dari Inggris, melatih enam zebra untuk menarik keretanya dan memamerkannya di jalanan London. Pemandangan itu menjadi sensasi. Rothschild ingin membuktikan bahwa zebra bisa dijinakkan seperti kuda. Ia gagal, tapi bukan karena kurang berusaha.

Beberapa dekade kemudian, pemerintah kolonial Jerman di Tanganyika mencoba hal yang sama dengan motivasi yang lebih praktis: zebra tahan terhadap lalat tsetse yang mematikan bagi kuda, sehingga ideal untuk mengangkut beban di wilayah pedalaman Afrika. Mereka menangkap zebra liar, melatihnya untuk menarik gerobak, dan menghadapi kenyataan yang sama: zebra yang agresif, mudah panik, dan tingkat kematian tinggi di penangkaran akibat stres. Proyek itu dihentikan.

Dua eksperimen terpisah, dua abad berbeda, satu kesimpulan yang sama. Zebra tidak bisa didomestikasi secara massal. Pertanyaannya bukan lagi apakah sudah cukup dicoba, melainkan mengapa secara biologis hal itu hampir mustahil dilakukan.

Jawabannya ada pada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan.

Pertama, temperamen. Zebra memiliki insting “kabur dulu, pikir kemudian” yang sangat kuat, hasil adaptasi jutaan tahun hidup berdampingan dengan predator di savana Afrika. Penelitian yang membandingkan flight initiation distance antara kuda dan zebra dataran menunjukkan bahwa zebra secara konsisten menjaga jarak lebih jauh dari manusia dan lebih sulit terbiasa dengan kehadiran manusia. Ini adalah hambatan mendasar bahkan sebelum pelatihan dimulai.

Kedua, fisiologi. Zebra sangat rentan terhadap capture myopathy, kondisi mematikan yang dipicu oleh stres ekstrem saat hewan ditangkap atau dipindahkan dari lingkungan alaminya. Studi makroevolusi menunjukkan bahwa kerentanan terhadap kondisi ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam domestikasi mamalia berkuku. Pada zebra, sensitivitas terhadap stres ini jauh lebih tinggi dibanding kuda yang sudah ribuan tahun terbiasa dengan manusia.

Ketiga, struktur sosial. Kuda liar hidup dalam kawanan yang stabil di bawah satu pejantan dominan, struktur yang memungkinkan manusia mengambil peran sebagai pemimpin kawanan dan membangun kepercayaan secara kolektif. Zebra Grévy, spesies terbesar dan paling langka, hidup dalam kelompok yang cair dan terus berubah tanpa pemimpin tetap. Tidak ada hierarki yang bisa dimasuki manusia. Pelatihan harus dilakukan per individu, satu per satu, pendekatan yang tidak bisa diskalakan menjadi domestikasi massal.

Kuda, sapi, dan anjing berhasil didomestikasi karena memenuhi paket sifat yang tepat: temperamen relatif tenang, struktur sosial hierarkis, kemampuan berkembang biak cepat di penangkaran, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan buatan. Zebra tidak memenuhi kriteria itu, bukan karena ia inferior, melainkan karena evolusinya membentuknya untuk tujuan yang berbeda.

Zebra memiliki satu keunggulan nyata yang tidak dimiliki kuda: ketahanan terhadap lalat tsetse, parasit yang mematikan bagi ternak di sebagian besar Afrika sub-Sahara. Di atas kertas, itu adalah alasan kuat untuk menjinakkannya. Tapi biologi tidak bekerja di atas kertas. Tiga faktor itulah alasannya: temperamen yang terlalu reaktif, fisiologi yang terlalu rentan stres, dan struktur sosial yang tidak memberi ruang bagi manusia untuk masuk. Dua abad percobaan sudah cukup membuktikan bahwa beberapa sifat alami tidak bisa dikalahkan hanya dengan kemauan manusia.

Disebut Ular Bodoh karena Tidak Mau Kabur, Padahal Serangannya Lebih Cepat dari Kedipan Mata

Akhyari Hananto 19 Jun 2026

Di hutan Papua, jika seseorang melihat ular berbahaya di jalur yang dilalui rombongan, ia tidak akan berteriak “awas ada ular.” Ia akan berkata dengan tenang kepada orang di sampingnya: “hati-hati, ada tali.” Tujuannya agar rombongan tidak panik. Sebab panik, dalam kasus ini, bisa berakibat fatal.

Ular yang dimaksud adalah Death Adder, atau yang oleh masyarakat Papua disebut ular bodoh. Nama itu muncul bukan karena ularnya tidak berbahaya, melainkan karena perilakunya yang tampak pasif: ketika disentuh dengan kayu atau benda lain, ia memilih diam. Tidak kabur, tidak menyerang, hanya diam. “Itulah alasan dinamakan ular bodoh,” kata Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN.

Tapi diam itu menipu. Death Adder (Acanthophis sp.) adalah salah satu ular paling berbisa di dunia, dengan kecepatan serangan yang belum tertandingi oleh ular mana pun: kurang dari 0,13 detik. Lebih cepat dari kedipan mata manusia. Dan gerakannya hampir tidak bisa diprediksi.

Strategi berburunya adalah kebalikan dari hampir semua ular berbisa lain. Alih-alih aktif mencari mangsa, Death Adder memilih satu posisi dan menunggu mangsa datang sendiri. Ia bersembunyi di bawah tumpukan daun lembap, serasah, atau potongan ranting, dengan tubuh melingkar dan hampir tidak terlihat karena warnanya yang menyatu dengan lingkungan. Ekornya berbentuk seperti cacing kecil yang digerakkan sebagai umpan. Ketika seekor hewan mendekat untuk menyelidiki gerakan ekor itu, serangan terjadi dalam sepersekian detik.

Tubuhnya pendek dan gemuk, panjangnya hanya 40 hingga 70 sentimeter, dengan kepala berbentuk kapak, pupil vertikal, dan taring yang panjang. Secara taksonomi ia masuk keluarga Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang, tapi morfologinya lebih menyerupai viper. Warnanya bergaris merah, cokelat, dan hitam dengan perut abu-abu atau krem, kamuflase yang hampir sempurna di lantai hutan.

Pada Juli 2019, seorang anggota Brimob yang tengah bersantai di Kali Iwaka, Timika, meninggal setelah digigit Death Adder. Jessik Kukuh dari Reptile Rescue Timika mengonfirmasi bahwa gigitan spesies ini kerap berujung fatal. Penanganan pertama yang paling penting adalah imobilisasi, meminimalkan gerakan bagian tubuh yang tergigit. Memijat area gigitan untuk mengeluarkan bisa justru mempercepat kerusakan organ.

Yang memperburuk situasi: antivenom untuk Death Adder tidak diproduksi di Indonesia. Satu-satunya antivenom yang tersedia adalah CSL Death Adder Antivenom dari Australia, dengan harga sekitar Rp80 juta per vial. Di daerah terpencil Papua, di mana ular ini paling banyak ditemukan, akses ke antivenom itu hampir tidak ada.

Death Adder adalah endemik Papua dan Australia, dua wilayah yang berbagi warisan biogeografis dari masa ketika keduanya masih menjadi satu daratan. Ia bukan ular yang agresif. Ia bahkan cenderung tidak mau bergerak. Tapi itulah yang membuatnya berbahaya: ia tidak memberi peringatan, tidak lari, dan tidak memberi kesempatan untuk bereaksi. Di Papua, orang yang sudah tahu menyebutnya “tali.” Mereka yang belum tahu, sering tidak mendapat kesempatan untuk belajar.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.