- Hilangnya mangrove memperbesar kerentanan pesisir Sugian, Nusa Tenggara Barat. Berkurangnya tutupan mangrove akibat pembukaan tambak membuat abrasi dan intrusi air laut semakin parah. Dampaknya masyarakat rasakan langsung, termasuk sawah yang terendam air asin dan gagal panen. Citra satelit menunjukkan kawasan mangrove yang pada 2016 mencapai 34.266,68 meter persegi telah berubah menjadi tambak tradisional pada 2025.
- Warga Sugian bergantung pada laut, tetapi pendapatan nelayan sangat juga tergantung cuaca dan musim. Budidaya tambak kemudian menjadi pilihan lain sumber penghasilan. Tambak meluas sekitar 2010 untuk budidaya bandeng.
- Muslim, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, katakan, upaya konservasi dalam bentuk apapun harus memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di area itu. Pelestarian lingkungan tak akan berjalan jika dengan mengenyampingkan kebutuhan masyarakat.
- Ada tawaran model pengelolaan tambak dengan sekaligus mempertahankan ekosistem mangrove. namanya, silvofishery ditawarkan. Ia bak jalan tengah antara pemulihan mangrove dan ekonomi nelayan. Model ini tidak mengharuskan masyarakat meninggalkan tambak, tetapi menggabungkan budidaya dengan keberadaan mangrove. Di Sugian, model percontohan sekitar 500 meter persegi disiapkan dengan budidaya kepiting bakau, penanaman mangrove Rhizophora, dan saluran air.
Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan ekosistem mangrove bersama kehadiran tambak.
Sebelum itu, ketika hutan mangrove tergerus tambak, intrusi air laut ke daratan. “Kalau air laut pasang, tanaman yang di sini mati semua. Gagal panen,” ucap Idrus sembari menunjuk petakan sawah di ujung.
Baginya, persoalan itu bukan sekadar tentang air laut yang masuk ke sawah. Lebih jauh, menggambarkan berubahnya wajah pesisir Sugian. Hutan mangrove yang dulu memenuhi sepanjang pesisir semakin berkurang.
Ketika pelindung alami itu hilang, air laut menjadi lebih mudah mencapai daratan. Abrasi meningkat dan intrusi air laut mulai mengganggu lahan pertanian warga. Apalagi, posisi lahan pertanian memang berdekatan dengan pesisir, bahkan nyaris tak berjarak dengan pantai.
Pengalaman Idrus memperlihatkan bagaimana kerusakan ekosistem pesisir pada akhirnya kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dampaknya tak hanya terjadi di muara, tetapi merambat ke sawah dan sumber penghidupan warga lainnya.
Tidak jauh dari sana, Jamil sibuk dengan tambaknya. Di sebuah petak berukuran 8×5 meter, dia taburkan potongan-potongan kepala ayam untuk pakan kepiting bakau yang dia budidayakan.
“Kami kan tidak punya pilihan lain. Selain melaut ya tambak ini. Kalau gak, darimana kami dapat uang,” ucap Jamil sambil menebar pakan di tambaknya.
Kondisi ini menyimpan cerita panjang tentang pesisir Sugian. Satu sisi, masyarakat perlun tambak untuk mendapatkan penghasilan. Lain pihak, keberadaan tambak di masa lalu ikut mendorong pembersihan mangrove yang akhirnya memperbesar kerentanan pesisir.

Pilihan bertahan hidup
Desa Sugian merupakan kawasan pesisir dengan masyarakat bergantung laut. Sebagian besar warga sebagai nelayan tradisional. Pendapatan mereka terpengaruh oleh musim, cuaca, dan hasil tangkapan.
Ketika cuaca buruk datang, penghasilan keluarga dapat ikut terhenti. Pilihan mata pencaharian lain juga terbatas karena tidak semua warga memiliki lahan pertanian maupun keterampilan di luar sektor perikanan.
Dalam kondisi seperti itu, tambak muncul sebagai salah satu jalan keluar. Masyarakat membuka ruang produksi di kawasan pesisir agar tetap memiliki sumber pendapatan ketika hasil melaut tidak menentu.
Menurut Suherman, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Sugian, awal mula pembukaan tambak tradisional di pesisir Sugian terjadi ketika pemerintah daerah memperkenalkan budidaya teripang sebagai salah satu alternatif ekonomi bagi nelayan pada 1990-an.
Budidaya itu menjadi pintu masuk masyarakat untuk mulai memanfaatkan kawasan pesisir sebagai ruang produksi.
“Masifnya pembukaan tambak tahun 2010. Saat itu nelayan mulai mengadopsi budidaya ikan bandeng,” cerita Suherman.
Sejak itu, pembukaan tambak makin meluas. Kawasan mangrove yang sebelumnya mendominasi pesisir perlahan warga buka untuk budidaya. Pilihan itu mulanya memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil laut.
Pembukaan tambak itu pula yang akhirnya mengubah lanskap pesisir Desa Sugian. Alimin, pegiat lingkungan desa itu memperkirakan, sekitar 60-70% mangrove di pesisir Sugian hilang gara-gara aktivitas itu.
“Kalau kita lihat sekarang, perubahannya terlihat sekali. Kalau pasang air laut bisa menggenangi sawah warga. Padahal dulu lokasinya jauh sekali dari pantai,” kata Aliman juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sugian ini.
Kondisi itu terlihat dalam citra satelit Google Earth yang menunjukkan perubahan tutupan pesisir secara signifikan. Pada 2016, terdapat tutupan mangrove di pesisir Sugian tercatat mencapai 34.266,68 meter persegi. Pada 2025, area berubah menjadi petakan tambak.
Ketika mangrove berkurang, perlindungan alami pesisir ikut melemah. Abrasi meningkat. Air laut lebih mudah masuk ke daratan dan mengganggu lahan pertanian. Pada saat bersamaan, kualitas habitat pesisir menurun. Populasi kepiting bakau yang sebelumnya menjadi sumber pangan sekaligus tambahan pendapatan masyarakat juga terus berkurang.
Dampaknya seperti lingkaran yang terus berputar. Masyarakat membuka tambak untuk mengatasi persoalan ekonomi. Namun, ketika mangrove semakin rusak, ancaman terhadap sumber penghidupan juga semakin besar.
Alimin mengatakan, untuk mengembalikan ekosistem mangrove di Pesisir Sugian seperti semula tidak mudah. Upaya itu bisa berbenturan dengan hajat hidup nelayan yang masih menggantungkan penghidupan pada tambak.
“Jadi, harus ada metodologi yang bisa menjadi jalan tengah antara keharusan untuk mengembalikan ekosistem dengan hajat hidup nelayan.”
Karena itu, katanya, tak cukup melihat persoalan mangrove di Sugian sebagai persoalan konservasi semata. Ada kebutuhan ekonomi yang menjadi alasan di balik perubahan bentang pesisir itu.

Mulai bangun tambak bersama mangrove
Upaya memulihkan mangrove tidak bisa hanya berbicara tentang pohon dan ekosistem. Ada manusia yang hidup di pesisir dan menggantungkan penghasilan dari ruang sama. Bagi mereka, tambak bukan sekadar petak berisi air, melainkan ruang untuk mempertahankan kehidupan keluarga.
Amin Abdullah, Direktur Lembaga Pengembangan Sumber Daya Nelayan (LPSDN) menjelaskan, silvofishery dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menjembatani kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir dengan kepentingan pemulihan ekosistem mangrove.
Model ini tidak mengharuskan nelayan meninggalkan tambak sebagai sumber penghidupan, tetapi mengubah cara pengelolaan tambak dengan tetap memberi ruang bagi mangrove untuk tumbuh dan menjalankan fungsi ekologisnya.
“Kan kita tidak boleh mengabaikan mereka yang hidup di sana. Pesisir bukan tanah kosong. Jangan sampai keinginan untuk mengembalikan ekosistem justru menghilangkan ruang hidup nelayan,” katanya.
Karena itu, kata Amin, meminta nelayan meninggalkan tambak tanpa menyediakan pilihan penghidupan yang masuk akal hanya akan membuat kepentingan konservasi berhadapan kembali dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Muslim, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, katakan, upaya konservasi dalam bentuk apapun harus memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di area itu. Menurut dia, pelestarian lingkungan tak akan berjalan jika dengan mengenyampingkan kebutuhan masyarakat.
“Jangan kita minta masyarakat menjaga atau mengembalikan lingkungan sementara kebutuhan mereka kita pinggirkan. Gak akan berhasil,” ucap Muslim.
Dia katakan, persoalan konservasi di Sugian bukan hanya bagaimana mengembalikan mangrove semata. Tetapi, juga memastikan masyarakat tetap memiliki alasan ekonomi untuk menjaganya.
Di titik inilah silvofishery menawarkan jalan tengah. Alih-alih memisahkan tambak dan mangrove, sistem ini menempatkan keduanya dalam satu kawasan.
Tambak tetap menjadi ruang produksi dengan mempertahankan mangrove sebagai bagian dari ekosistem. Dengan pendekatan itu, katanya, kebutuhan ekonomi tidak harus berakhir dengan hilangnya vegetasi pesisir.
Meski begitu, katanya, memperkenalkan cara baru mengelola tambak kepada masyarakat bukan perkara mudah. Pengalaman masyarakat selama ini telah membentuk cara mereka melihat tambak sebagai ruang produksi. Karena itu, perubahan pengelolaan membutuhkan bukti bahwa menjaga mangrove tidak berarti mengorbankan pendapatan.
Amin Abdullah mengatakan, pendekatan itu bisa mulai dari skala kecil. Di Sugian, model percontohan mereka siapkan menggunakan sistem jalur, modifikasi dari model empang parit.
Kawasan sekitar 500 meter persegi direncanakan menjadi ruang yang mempertemukan budidaya kepiting bakau dengan penanaman bibit mangrove Rhizophora dan saluran air.
“Masyarakat kan tidak serta merta menerima. Jadi kita buat satu atau dua tambak sebagai percontohan. Jika menghasilkan dari sisi ekonomi, pasti dengan sendirinya mereka akan ikut.”
Dengan percontohan itu, katanya, silvofishery tidak berhenti sebagai gagasan. Tambak menjadi ruang untuk menguji apakah nelayan dapat tetap melakukan budidaya ketika mangrove dapat ruang tumbuh.

Ekonomi dan konservasi
Selain memberikan manfaat ekologis, penerapan silvofishery juga menawarkan prospek ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat pesisir. Sistem ini memungkinkan petambak tetap memanfaatkan tambak secara produktif tanpa menghilangkan fungsi mangrove sebagai penyangga ekosistem.
Sebagai simulasi, kata Amin Abdullah, pada luasan satu are tambak (100 meter persegi) dengan kepadatan tebar 0,3–0,5 kepiting bakau per meter persegi, petambak dapat menebar sekitar 30–50 benih.
Dengan asumsi tingkat kelangsungan hidup (survival rate) mencapai 70–80%, diperkirakan 21–40 benih bisa panen setelah masa pemeliharaan sekitar 4–6 bulan.
Apabila bobot panen rata-rata mencapai 300–400 gram, maka produksi berkisar 6,3–16 kilogram kepiting per are dalam satu siklus.
Dengan kisaran harga kepiting hidup Rp120.000–Rp180.000 per kilogram, potensi pendapatan kotor dari setiap satu are tambak mencapai Rp750.000-Rp2,8 juta per siklus.
Jika model ini mulai pada satu hektar tambak (100 are), potensi produksi dapat mencapai sekitar 630 kilogram hingga 1,6 ton kepiting dengan nilai produksi kotor berkisar Rp75 juta-Rp288 juta per siklus, bergantung produktivitas dan harga pasar.
Simulasi ini, katanya, menunjukkan silvofishery tidak hanya menjadi solusi rehabilitasi ekosistem pesisir, juga meningkatkan pendapatan masyarakat hingga upaya konservasi mangrove dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal.
Di sinilah kepentingan ekonomi dan ekologi bertemu. Mangrove tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan menjalankan fungsi ekologisnya, sementara pemilik tambak masih memiliki kesempatan memperoleh penghasilan dari aktivitas budidaya.
Namun, jalan tengah itu tidak serta-merta selesai ketika bibit ditanam. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan masyarakat melihat bahwa mempertahankan mangrove juga memiliki kaitan dengan keberlanjutan penghidupan mereka.
Keberhasilan silvofishery tidak cukup dari jumlah bibit Rhizophora yang hidup juga perlu dari kemampuan tambak tetap memberikan penghasilan bagi masyarakat yang mengelolanya. Konservasi dan ekonomi berjalan beriringan, bukan saling menyingkirkan.

*****
*Liputan ini didukung oleh Indonesia Institute of Journalism bekerja sama dengan CIMB Niaga dalam program Sustainability Journalism Fellowship 2026.