- Pemerintah Jawa Timur mengantisipasi kekeringan antara lain dengan mengeluarkan surat status siaga kekeringan di tujuh daerah. Risiko kekeringan mulai terasa di Bangkalan,Lamongan, Pasuruan, Kabupaten, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi.
- Bill Patzert seorang klimatologi National Aeronautics and Space Administration (NASA) menyebut El Nino “Godzilla” untuk menggambarkan fenomena El Nino pada 2015. Saat itu, intensitas El Nino sangat kuat dan lebih besar daripada rekor sebelumnya pada 1997.
- Sebanyak 40 juta jiwa terdampak krisis air. Wali Kota dan Bupati di Jawa Timur untuk untuk mengoptimalkan embung, sumur resapan, dan kolam untuk memanen air hujan. Tujuannya, menyimpan air hujan untuk cadangan selama musim kering atau kemarau.
- Pemetaan geofisika lebih awal dilakukan pra kekeringan sehingga perencanaan pengeboran lebih tepat sasaran. Biaya lebih hemat dan repons lebih cepat. Di Indonesia, ada lima prioritas Cekungan Air Tanah (CAT) yaitu CAT Jakarta, CAT Bandung, CAT Semarang, CAT Surabaya Madura, dan CAT Denpasar.
Pemerintah Jawa Timur (Jatim) meningkatkan kesiapsiagaan antisipasi dampak kemarau panjang (El-Nino) Godzila. Mulai dari terbitkan status siaga sampai melihat kerentanan daerah-daerah di Jatim saat kemarau dan cari cara tanganinya.
Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim terbitkan surat status siaga kekeringan di tujuh daerah, meliputi Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi. Sebanyak 40 juta jiwa berisiko terdampak krisis air.
Data BMKG menyebutkan, puncak musim panas di Jatim terjadi pada Agustus-September. BPBD telah melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan menghadapi El Nino 2026.
“Penanganan yang bersifat tanggap darurat, sementara dan jangka pendek. Seperti di Bondowoso dengan mendistribusikan air bersih sebanyak 10.000 liter,” ujar Gatot.
Antisipasi juga BPBD lakukan terhadap sekitar 373.053 hektar lahan potensi kekeringan, mulai tingkat sedang hingga tinggi. Gatot menyebut, Bondowoso dan Situbondo sebagai wilayah yang setiap tahun rawan kekeringan.
Jadi, setiap tahun ada distribusi air bersih ke permukiman. “Kami pernah mengebor di wilayah Bondowoso, sangat dalam. Alhamdulillah airnya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan sehari-hari,” kata Gatot.

Untuk penanganan kekeringan dalam jangka panjang perlu keterlibatan semua pihak, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya, perguruan tinggi dan swasta membuat embung, pipanisasi, di daerah yang langganan kekeringan, seperti di Singosari, Kabupaten Malang, pasang pipa dari sumber air di lereng Gunung Arjuna ke perkampungan.
Dia mengimbau, wali kota dan bupati di Jatim mengoptimalkan embung, sumur resapan, dan kolam untuk memanen air hujan. Tujuannya, menyimpan air hujan untuk cadangan selama musim kering atau kemarau.
“Teman-teman akademisi dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh November), bisa menciptakan alat ataupun tempat yang lebih efisien untuk menampung air yang bisa digunakan saat musim kemarau,” ujarnya.
Gatot menyebut, data bencana kategori sedang dan tinggi selama tiga tahun terakhir. Pada 2022, mencatat 244 kejadian, pada 2023 ada 118, 2024 sebanyak 393 , dan 2025 ada 351 kejadian. Sedangkan hingga April 2026 terjadi 138 kejadian yang menyebabkan 14 jiwa melayang dan 42 jiwa terluka.
Saat kemarau, Jatim juga rawan kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran bisa terjadi di dataran, pegunungan, hingga permukiman. Area dengan kerentanan bahaya tinggi terbakar seluas 817.456 hektar.
“Jangan sampai ada setitik percikan api yang bisa menimbulkan kebakaran lebih luas,” katanya.
Tahun lalu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menimbulkan kerugian hingga Rp38,79 triliun. Potensi kerugian dari banyak warga mengandalkan hidup di hutan, termasuk sektor pariwisata. Hingga banyak yang kehilangan pekerjaan karena kebakaran hutan.

Kemarau panjang
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, musim kemarau terjadi mulai Juni-November 2026. Sedangkan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus- September 2026. Data BMKG pada Mei 2026 terjadi anomali muka air laut, kategori El-Nino lemah menuju moderat yang dapat memicu kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga berdampak kekeringan esktrem.
“Secara historis, puncak kekeringan akibat El-Nino terjadi pada Juli-Oktober. Sehingga perlu diwaspadai dampak kekeringan esktrem,” kata Shanas Prayuda, Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi, BMKG Juanda Surabaya dalam webinar bertema Kesiapsiagaan dan Antisipasi Menghadapi Ancaman El Nino & Godzila belum lama ini.
El-Nino, katanya, merupakan fenomena global yang menyebabkan defisit curah hujan. Secara historis, El-Nino di Jawa Timur (Jatim) berdampak terhadap produksi pertanian karena berkurangnya curah hujan.
“Bahkan beberapa wilayah terpantau terjadi penurunan curah hujan hingga lebih dari 40%,” kata Shanas.
Saat El-Nino, massa udara bergerak ke Samudera Pasifik, menjauh Indonesia. Hingga massa uap air bergerak menuju Samudera Hindia dekat Afrika. Dampaknya, di wilayah Indonesia akan terjadi subsidensi massa udara. Masa udara cenderung turun ke bawah, hingga intensitas pembentukan awan cenderung berkurang juga dipengaruhi posisi geografi, dan topografi lokal.

Dampak luas kekeringan
Bill Patzert, Klimatologi National Aeronautics and Space Administration (NASA) menyebut, El-Nino “Godzilla” untuk menggambarkan fenomena El-Nino pada 2015. Saat itu, intensitas El-Nino sangat kuat dan lebih besar daripada rekor sebelumnya pada 1997. Secara umum, El-Nino terkategorikan lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat.
M. Haris Miftakhul Fajar, Kepala Departemen Teknik Geofisika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyebutkan, kekeringan akan berdampak sistemik. Seperti krisis air bersih, gagal panen dan potensi kebakaran hutan karena air permukaan berkurang lantaran curah hujan rendah. Sehingga, air tanah menjadi salah satu tulang punggung.
Persoalannya, katanya, penggunaan air tanah berlebihan bisa menyebabkan intrusi air laut atau land subsidence yakni penurunan permukaan tanah. Jatim memiliki cukup banyak mata air dari akuifer dalam atau akuifer terdekat. Di Wendit, Malang ada sumber dengan debit 3.000 liter per detik yang tak pernah berkurang meski kemarau.
“Air tanah terkumpul semua di sana. Sehingga saat El Nino, ketersediaan air menjadi salah satu pilar penting. Tidak perlu mengambil air tanah, biarkan air mengalir secara natural, dari mata air,” kata Haris sebagai pembicara kunci.
Menurut dia, perlu usaha bersama menjaga sumber mata air yakni, dengan rawat catchment area atau daerah tangkapan air. Dia mendorong kolaborasi antara ITS, BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menangani berbagai dampak yang akan terjadi.

Pemetaan akuifer
ITS berpengalaman melakukan survei cepat merespons bencana seperti pada bencana Sumatera dan Aceh. Wien Lestari, dosen Departemen Teknik Geofisika ITS mengatakan, lakukan survei geofisika untuk menemukan akuifer yang bisa untuk air bersih korban bencana. “Biaya lebih rendah 30-50%,” katanya.
Teknologi geofisika, kata Wien, berperan penting dalam mengeksplorasi air tanah. Saat El-Nino, air tanah menjadi salah satu penyangga penting yang tersisa saat air permukaan mengering. Air tanah menyuplai 40% kebutuhan air minum perkotaan dan 70% perdesaan di Indonesia.
Saat El-Nino, akuifer menjadi reservoir atau tempat penampungan air tersembunyi yang dapat diekstrak saat sungai dan waduk kering. Akuifer merupakan lapisan batuan, pasir, atau sedimen di bawah permukaan tanah yang menyimpan dan mengalirkan air tanah.
“Ke depan memetakan dan mengelola akuifer menggunakan teknologi geofisika,” katanya.
Pemetaan geofisika lebih awal, pra kekeringan hingga perencanaan pengeboran lebih tepat sasaran. Biaya lebih hemat dan repons lebih cepat.
Di Indonesia, ada lima prioritas cekungan air tanah (CAT) yaitu CAT Jakarta, CAT Bandung, CAT Semarang, CAT Surabaya Madura, dan CAT Denpasar. Cekungan air tanah menjadi prioritas penting untuk pemangku kepentingan perhatikan agar tetap terjaga. Dampak El-Nino, katanya, CAT akan berkurang hingga akuifer dangkal bisa mengering.
Pengeboran tanpa teknologi geofisika berpotensi mengalami kegagalan 40-60%. Selain itu, pengeboran tanpa data pra-eksplorasi akan menyedot biaya lebih tinggi.
Biasanya survei geologi permukaan tidak mencerminkan kondisi dalam jadi memerlukan metode yang bisa meramal atau mendiagnosis karakter bawah permukaan. Terutama, untuk mencari akuifer dangkal dan dalam. Survei geologi juga tak bisa mendeteksi air tawar atau air asin.
“Disinilah teknologi geofisika hadir untuk memberikan solusi,” katanya. Teknologi geofisika akan mendeteksi posisi akuifer dengan akurasi sampai 80%. Selain itu, juga
bisa memetakan kontaminasi air tanah dengan penetrasi hingga 3.000 meter. ITS memiliki teknologi dangkal dan dalam untuk memetakan air tanah.
Peralatan survei geofisika di permukaan tanah, dan langsung memberikan data kondisi atau karakteristik kondisi di bawah permukaan tanah. Terutama menentukan lokasi dan karakteristik akuifer, tanpa pengeboran terlebih dahulu jadi meminimalisir gangguan lingkungan dan risiko biaya.
Departemen Teknik Geofisika ITS memiliki teknologi Ground Penetrating Radar (GPR), metode geofisika non-destruktif menggunakan gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi. Akan ada pemindaian di permukaan, yang sangat efektif dan minim sumber daya manusia.
“Penetrasinya bisa menembus akuifer 310 meter sampai 3.000 meter,” kata Wien.
*****
Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah