- PT Panca Kraft Pratama (PKP) Yang disegel Kementerian Lingkungan Hidup karena pencemaran lingkungan masih beraktivitas normal. Warga pun dibuat resah oleh mereka.
- Dalam keterangan resmi yang Mongabay dapat, KLH mengambil langkah itu setelah menerima aduan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (DPW LSM GMBI Banten) ihwal dugaan pencemaran udara karena aktivitas PKP. Laporan menyebut pembakaran dalam proses produksi kertas tersebut menghasilkan asap hitam pekat yang mengganggu warga sekitar.
- Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, dalam keterangan resmi menyebut atas temuan tersebut KLH menghentikan operasional Boiler Biomassa 1, melakukan evaluasi terhadap bahan bakar, serta menetapkan apabila boiler akan perusahaan operasikan kembali, hanya boleh menggunakan woodchip.
- Masyarakat sekitar pabrik yang Mongabay temui mengaku operasi perusahaan berlangsung 24 jam tanpa henti. Mereka resah, karena perusahaan sempat menggunakan batubara, sebelum beralih ke gas seperti sekarang.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyetop operasional PT Panca Kraft Pratama (PKP), pabrik kertas di Jalan Sangego Raya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Banten, karena pencemaran lingkungan, 13 Februari lalu. Namun, pantauan Mongabay 20 Februari-16 Maret, aktivitas di pabrik terlihat normal. Truk pengangkut masih sibuk keluar-masuk, jerubu tebal pun masih membumbung dari salah satu cerobong mereka.
Dalam keterangan resmi yang Mongabay dapat, KLH mengambil langkah itu setelah menerima aduan dari masyarakat ihwal dugaan pencemaran udara karena aktivitas PKP. Laporan menyebut pembakaran dalam proses produksi kertas tersebut menghasilkan asap hitam pekat yang mengganggu warga sekitar.

Watiuw, warga yang rumahnya bersisian dengan pabrik mengonfirmasi hal ini. Perempuan lanjut usia itu bilang, bau pedas selalu tersaji bagi mereka yang tinggal di sekitar pabrik.
’Kalau pembuangan itu dari samping rumah saya, itu saya cuma kebagian baunya aja baunya pengap. Asap dari cerobong itu juga kadang hitam,’’ katanya 20 Februari.
Dia pun mengaku kerap alami gatal-gatal karena abu dari pembakaran pabrik. Saat angin berhembus ke arah rumah, maka sesak napas tidak terelakan.
“Saya punya penyakit jantung. Aktivitas mesin-mesin besar di pabrik bikin saya kaget melulu.”
Dia mengaku pernah mendatangi perusahaan untuk berkeluh kesah. Namun, tak pernah dapat jawaban berarti.
’Komplain juga ga pernah didengar, saya tanya pakai bahan kimia aja mereka bilangnya enggak kan enggak mungkin.”
Lokasi PKP di antara Sungai Bayur di bagian depannya dan Sungai Cisadane di bagian belakangnya membuat warga resah pencemaran. Apalagi, beberapa ayam dan tanaman sekitar pabrik beberapa kali mati.
“Ayam jago, ayam bangkok, beberapa mati… Saya curiga aliran pembuangan langsung ke Cisadane.”

Hasil verifikasi lapangan yang KLH dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banten menemukan beberapa ketidaksesuaian dalam proses operasional fasilitas pembakaran. Yaitu, ketidaksesuaian kualitas bahan bakar serta kinerja alat pengendali emisi pada boiler biomassa 1.
Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, dalam keterangan resmi menyebut, atas temuan itu KLH menghentikan operasional boiler biomassa 1, evaluasi terhadap bahan bakar, serta menetapkan apabila boiler akan perusahaan operasikan kembali, hanya boleh menggunakan woodchip.
“Penggunaan serbuk kayu basah dan kayu gelondongan tidak diperkenankan,” katanya.
KLH juga mewajibkan PKP melakukan perbaikan kinerja alat pengendali emisi. Selain itu, perusahaan wajib menyampaikan pemberitahuan kepada DLH Banten sebelum pengoperasian kembali, serta mengajukan permohonan perubahan persetujuan teknis pemenuhan baku mutu emisi yang disesuaikan dengan kondisi fasilitas sumber emisi eksisting dan rekomendasi tenaga ahli.

Operasi 24 jam?
Masyarakat sekitar pabrik yang Mongabay temui mengaku operasi perusahaan berlangsung 24 jam tanpa henti. Mereka resah, karena perusahaan sempat menggunakan batubara, sebelum beralih ke gas seperti sekarang.
“Asapnya setiap hari kayak begini. Dulu pakai batubara pakai cerobong makanya asapnya hitam, kalau sekarang pakai gas,” kata seorang warga.
Selain bau seperti zat kimia, asap yang keluar dari cerobong pabrik kerap membuat mata pedih. Sementara, pembuangan air limbah produksi kertas ini langsung ke Cisadane.
Mongabay coba mendatangi pabrik PKP, 16 Maret. Saat tiba di pos penjagaan, ada sekitar empat orang berjaga di dalam pos itu.
Petugas pertama yang menerima kami kemudian memanggil atasannya. Orang itu tidak mau menyebutkan namanya.
“Saya akan sampaikan ke pimpinan saya, cuma hari ini masih di luar. Nanti bikin jadwal dulu saja,” katanya.
Mongabay meninggalkan identitas dan nomor kontak, namun sampai berita ini terbit, tidak ada respons yang kami terima.

*****