- Musim buah lokal di Sumatera Selatan, yang jatuh pada akhir dan awal tahun, saat ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak terjadi “banjir” rambutan, duku, dan durian.
- Cuaca tidak menentu saat ini, hujan dan angin kencang, membuat banyak bunga gugur sehingga tidak menjadi buah.
- Sejumlah kelompok masyarakat di Sumatera Selatan memiliki tradisi berkebun buahan lokal atau agroforestri, sebagai sumber pangan, obat-obatan, dan simbol identitas keluarga.
- Pemerintah diharapkan melindungi keberadaan agroforestri yang dikelola masyarakat lokal, sebab memiliki fungsi dan dampak yang baik bagi kedaulatan pangan dan lingkungan.
Musim buah lokal di Sumatera Selatan, yang jatuh pada akhir dan awal tahun, saat ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak terjadi “banjir” rambutan, duku, dan durian. Mengapa?
“Hujan dan panas yang tidak menentu selama tahun 2025, membuat rambutan, durian, tampui, dan buah lainnya yang ada di jongot tidak menghasilkan,” kata Muslim (48), warga Desa Tempirai, yang menetap di wilayah kebun Danau Burung, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, awal Januari 2026.
Jongot adalah kebun buah atau agroforestri milik Suku Musi di Penukal. Di jongot terdapat beragam tanaman buah, khususnya buah hutan. Termasuk dian rimbe (Durio oxleyanus) dan dian jerging (Durio kutejensis), yang keduanya jenis durian. Selain itu, juga ditemukan tampui (Baccaurea macrocarpa), rambai (Baccaurea motleyana), rukam (Baccaurea dulcis), remanas atau rambutan hutan (Nephelium ramboutan-ake) dan lainnya.
“Tahun ini terlalu banyak hujan, membuat bunga berguguran. Kalau September-Oktober tidak banyak hujan, mungkin kami sudah menikmatnya pada Februari hingga Maret nanti.”
Bahkan, cempedak yang merupakan tanaman paling mudah berbuah, juga tidak menghasilkan. “Hanya belasan buah setiap pohon.”
Muslim berharap, Maret nanti atau usai Idul Fitri, tanaman buah di jongotnya berbunga. “Kalau tidak, berarti menunggu musim kemarau sekitar Juni dan Juli.”

Kondisi yang sama juga dialami jongot milik Toni Caye (52), di kawasan Talang Lebung Jauh, Desa Tempirai Timur.
“Tidak ada musim buah tahun ini. Hanya petai (Parkia speciosa) yang menghasilkan.”
Dijelaskan Toni, penyebab gagalnya musim buah di jongotnya karena terlalu banyak hujan, sehingga bunga gugur. “Selain itu juga sering angin kencang,” katanya.
Pohon yang masih menghasilkan sepanjang tahun adalah aren. Setiap hari, pukul lima pagi atau lima sore, dia memanen nira. “Saya membuatnya menjadi sirup atau manes kabung, bukan gula. Ini dimakan sama ubi atau ketan dan orang Tempirai sangat suka.”
Masyarakat Semende, Kabupaten Muara Enim, yang banyak menanam durian, juga tidak dapat menikmati “king of fruit” saat ini. Ratusan pohon durian yang ditanam masyarakat tidak berbuah.
“Hanya beberapa pohon yang menghasilkan. Itu pun buahnya jarang,” kata Muhammad Ihsan (34), warga Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kamis (8/1/2026).
“Penyebabnya banyak hujan dan angin kencang yang membuat bunga gugur sebelum jadi buah.”
Erfan (24), warga Desa Palak Tanah, Semende Darat Tengah, mengatakan rasanya tidak ada pohon durian yang berbuah di Semende. Durian yang dijual di Semende dari Kikim (Lahat). “Tapi, rasanya hambar banyak air.”
Selain durian, duku Komering yang rasanya manis, juga tidak banyak dihasilkan. “Kebun kami tidak berbuah tahun ini,” kata Budi (50), warga Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
“Hanya rambutan yang berbuah tahun ini.”

Menjaga kekayaan buah Indonesia
Berbagai komunitas masyarakat di Sumatera Selatan, baik yang berada di dataran tinggi maupun rendah, memiliki tradisi membuat kebun buah. Misalnya jongot pada masyarakat Suku Musi, ghepangan di Suku Semende, kampungan di Enim, dan benuaran di Kabupaten Empat Lawang, serta kebun risan di Kabupaten OKI. Sebagian besar buah yang ditanam merupakan buah lokal.
Keberadaan kebun buah ini, umumnya tidak jauh dari kebun atau lahan pertanian, serta berbatasan dengan kawasan hutan.
Di wilayah Tempirai, di jongot terdapat pondok yang banyak didiami pemiliknya. “Menetap di jongot ini rasanya lebih tenang, sejuk, dan juga tidak terlalu jauh dari kebun karet. Tapi kami tetap pulang ke rumah di dusun, minimal dua kali sebulan,” kata Toni.
Keberadaan kebun buah lokal ini, secara tidak langsung menjaga kekayaan buah asli Indonesia.
“Banyak buah lokal asli Indonesia yang sulit ditemukan, terutama di perkotaan, ternyata masih terjaga di kebun masyarakat. Secara tidak langsung, masyarakat melestarikan kekayaan buahan asli Indonesia,” kata Ainur Rofik, kandidat doktoral politik lingkungan di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, yang melakukan penelitian jongot, awal Januari 2026.
Dikutip dari artikel “Review: Keanekaragaman Jenis Buah-Buahan Asli Indonesia dan Potensinya” terbitan Biodiversitas Volume 8 Nomor 2 Tahun 2007, disebutkan di kawasan Asia Tenggara terdapat sekitar 400 jenis buah yang dapat dimakan (Prosea, 1991). Lebih dari tiga perempat jenis ditemukan di Indonesia.
Tercatat, 266 jenis buah asli Indonesia ditemukan. Sebagian besar buah itu tumbuh liar di hutan dan hanya sebagian kecil dibudidayakan. Dari jumlah itu, sebagian besar berupa pohon (203 jenis), liana (26 jenis), perdu (17 jenis), herba (14 jenis), dan semak (4 jenis).
Sekitar 62 jenis telah dibudidayakan, yang 18 jenis merupakan jenis endemik dan 4 jenis termasuk tumbuhan langka. Keempat jenis tumbuhan langka adalah kerantungan (Durio oxleyanus), lahong (Durio dulcis), lai (Durio kutejensis), dan burahol (Stelechocarpus burahol) (Mogea, dkk., 2001).

Dilindungi negara
Rofik berharap, negara melindungi berbagai kebun buah yang dilahirkan dan dikelola masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan.
“Kebun buah ini merupakan kedaulatan pangan yang dijaga masyarakat selama ratusan tahun. Artinya, dapat dijadikan benteng pangan berkelanjutan,” katanya.
Untuk melindungi atau menjaganya, kata Rofik, negara tidak perlu mengeluarkan biaya besar dan teknologi pertanian baru. “Cukup dilindungi atau dilarang beralih fungsi menjadi perkebunan monokultur atau lokasi pertambangan.”
Sejumlah kasus di Sumatera, banyak kebun buah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, lokasi penambangan batubara dan emas, serta pembangunan infrastruktur.
“Perubahaan tersebut pada dasarnya bukan kehendak pemiliknya, tapi ada pihak luar yang mengubahnya. Baik karena konflik lahan dengan perusahaan maupun dibeli.”

Rofik lebih mendukung perlidungan melalui skema cagar budaya. Sebagian besar kebun buah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Jenis tanamannya jenis lokal dan terdapat tanaman obat tradisional.
“Yang lebih penting banyak tradisi yang terjaga dari keberadaan kebun buahan ini. Mulai dari kuliner, obat-obatan, ekonomi hingga simbol identitas bagi masyarakat. Dampak bagi lingkungan juga sangat baik. Menjaga kekayaan hayati dan menjaga daerah resapan air.”
*****