- Sebagai destinasi wisata super prioritas nasional, kerusakan terumbu krang di perairan Labuan Bajo menguatirkan akibat jangkar kapal, sentuhan langsung, sedimentasi, praktik penangkapan ikan destruktif di masa lalu dan pencemaran dari limbah domestik dan plastik yang terbawa arus dari daratan
- Yayasan Peduli Indonesia bekerja sama dengan CECT Trisakti University, Sirkula Indonesia dan UNESCO melakukan transplantasi terumbu karang di Pulau Hanita dan Pulau Messah melibatkan komunitas setempat
- Ararat Coral Gardener Maumere pun gencar melakukan restorasi terumbu karang sejak tahun 2022 bekerjasama dengan KLHK untuk perairan di Teluk Maumere dan Flores Timur
- Laporan Hasil Survei Kondisi Terumbu Karang di Perairan Laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Flores Timur oleh WWF,YKL dan Pemda Flotim tahun 2013 di Pulau Flores bagian timur,Adonara dan Solor memperlihatkan hanya 29% karang hidup
Penetapan wisata super prioritas nasional menghadirkan berbagai tekanan pada ekosistem terumbu karang di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Padatnya lalu lintas kapal wisata, snorkeling, hingga diving memicu kerusakan terumbu karang di sejumlah titik.
Yonas C. Murdini, Project Manager Yayasan Peduli Indonesia (YPI) katakan, laju kerusakan terumbu karang di Labuan Bajo berlangsung lebih cepat dalam satu dekade terakhir. Delain aktivitas pariwisata, sedimentasi dan penangkapan ikan destruktif menjadi penyebabnya.
Meningkatnya suhu air laut akibat perubahan iklim memperparah situasi itu. Pasalnya, suhu laut yang meningkat sebabkan terumbu karang memutih (coral bleaching) dan mengurangi kemampuan karang untuk bertahan hidup.
“Fenomena ini semakin sering terjadi dalam dekade terakhir, mempercepat degradasi ekosistem dan mengancam keberlanjutan sumber daya laut,” katanya, Jumat (12/12/25).
Padahal, kehilangan terumbu karang berarti hilangnya sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir. Pada 10 Oktober 2025, jangkar kapal wisata KM. Apik merusak terumbu karang saat melintas di perairan Pulau Sebayur Kecil. Kerusakan karang mencapai 4, 14 meter persegi.
Atas peristiwa itu, pemerintah memberikan sanksi administratif terhadap pemilik kapal wisata berikut mitranya, PT Maika Komodo Tour and Diving. Mereka wajib melakukan transplantasi terumbu karang seluas 21 meter persegi.

Transplantasi di dua pulau
YPI bekerja sama dengan Centre for Enterpreneurship, Change and Third Sector (CECT) Trisakti University, Sirkula Indonesia dan Unesco melakukan transplantasi terumbu karang di Pulau Hanita dan Pulau Messah, Manggarai Barat. Restorasi berlangsung dengan memanfaatkan patahan-patahan karang yang tersebar di dasar laut (coral of opportunity).
Menurut Yonas, restorasi terumbu karang di Desa Seraya Marannu, Pulau Hanita, berlangsung dalam dua tahap. Pertama, pada Maret 2025 dengan mentransplantasi 3.750 fragmen karang. Kedua, pada September 2025 dengan jumlah sama.
Sedangkan di Taka Messah, Desa Pasir Putih, Pulau Messah, transplantasi pada November 2025 dengan mentransplantasikan 1.440 fragmen karang.
“Jadi, total telah dilakukan penanaman sebanyak 8.940 fragmen karang sepanjang tahun 2025 ini,” ucap Yonas.
Dana untuk restorasi di Pulau Hanita dapat dukungan penuh dari tanggung jawab sosial PT Pelindo. Sedangkan di Taka Messah, terselenggara dari kolaboratif antara Unesco, Sirkula Indonesia, dan Indonesian Waste Platform (IWP), bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pasir Putih.
“Untuk menjamin sustainability dari sebuah inisiatif, maka keterlibatan aktif dari komunitas lokal dalam setiap tahapan dalam proses transplantasi terumbu karang menjadi sangar krusial,” katanya.
Di Pulau Hanita, ada 20 orang terlibat, termasuk tujuh perempuan yang merupakan istri dan anak-anak dari para nelayan. Untuk Pulau Messah, 24 anak muda serta staf desa terlibat sejak sesi pelatihan hingga praktik lapangan.
Yonas katakan, untuk memastikan keberhasilan program ini, pihaknya juga mengumpulkan data kesehatan serta pertumbuhan karang, setiap tiga bulan sekali.

Rusak parah
Selain di Manggarai Barat, upaya restorasi terumbu karang juga dilakukan di perairan utara Pulau Flores, Kabupaten Sikka hingga di perairan Kabupaten Flores Timur. Adriano Leba, pegiat lingkungan Flores mengatakan, kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2022.
Tino, sapaannya katakan, pada 2022 restorasi menyasar seluas 89 meter persegi di kawasan perlindungan terumbu karang, Kelurahan Wairotang, Maumere. Restorasi yang mendapat dukungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) iin memanfaatkan 130 besi spider web.
Pada 2023, Tino menambah area restorasi dan memperluas hingga ke Teluk Kolisia dengan media sama masing-masing seluas 100 meter persegi. Berlanjut tahun 2024 di perairan Larantuka.
“Tahun 2025, kami lakukan lagi di kawasan TWAL Gugus Pulau Teluk Maumere menggunakan besi spider web berjumlah 100 di area seluas sekitar 90 meter persegi. Saya gunakan dana pribadi dan donasi dari teman-teman.”
Tino katakan, anggota komunitas penyelam dan kelompok nelayan sebanyak 20 orang aktif terlibat dalam kegiatan. Sebulan sekali mereka melakukan perawatan sekaligus pemantauan untuk memastikan perkembangan dan perlu tidaknya penggantian bibit karang yang mati.
“Setelah itu biasanya antara dua atau tiga bulan dicek dan dirawat. Apabila sudah berumur diatas dua tahun biasanya setiap enam bulan rutin pemantauan.Hasil pemantauan, setahun pertumbuhan karangnya mencapai 7-10 sentimeter.”
Laporan hasil survei kondisi terumbu karang di Perairan Laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Flores Timur oleh WWF, YKL dan Pemda Flotim tahun 2013 memperlihatkan hasil yang memprihatinkan. Pasalnya, hanya sekitar 29% karang yang berstatus hidup.
Persentase tutupan karang di tiga pulau, yakni, Pulau Flores bagian timur, Adonara dan Solor terdiri dari karang keras (hard coral) 16%, karang lunak (soft coral) 13%, karang mati (dead coral) 26%, pecahan karang (rubble) 16% dan pasir (sand) 26%, sisanya lain-lain hanya 3%.
“Secara umum, rata-rata dari semua lokasi pengamatan hanya memiliki 29% karang hidup sementara karang mati, pecahan karang dan pasir totalnya 68%. Ini menandakan terumbu karang di Flores Timur umumnya terkategori rusak,” tulisan laporan itu.
Kerusakan terumbu karang terjadi akibat penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing practices), pembongkaran karang untuk memasang bubu perangkap ikan. Ada juga akibat terinjak- injak manusia saat menyelam dan menembak ikan.
“Kami lakukan transplantasi terumbu karang sejak tahun 2023 lalu,” sebut Monika Bataona, anggota Pokmaswas Sandominggo. Sebanyak 20 anak muda terlibat dalam aktifitas konservasi dan pengawasan.
Bersama Pemerintah Larantuka, Monika menyusun daerah perlindungan laut (DPL) seluas 15.000 meter persegi.
“Juli 2024 dengan dukungan Direktorat PPKPL KLHK di areal ini kami lakukan transplantasi 1.560 bibit karang.”

Pesan untuk pemerintah
Tino berharap, pemerintah aktif mengedukasi pada anak sekolah usia dini terkait sampah plastik dan pentingnya menjaga terumbu karang di laut. Dia juga mendorong pemerintah tetapkan Kawasan Marine Protected Area (MPA) pada wilayah yang tutupan terumbu karang masih bagus dan mengatur waktu penangkapan ikan di area ini.
“Selain itu, menutup kawasan yang terumbu karangnya rusak untuk segera di lakukan kegiatan rehabilitasi. Alokasikan dana untuk rehabilitasi terumbu karang selama 5 hingga 10 tahun guna memulihkan ekosistem terumbu karang.”
Yonas minta dukungan kebijakan dan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah, terutama terkait penguatan regulasi, pengawasan kawasan serta penyediaan fasilitas pendukung konservasi.
Dia juga berharap sektor swasta, terutama pelaku industri pariwisata dan perhotelan, berkontribusi melalui praktik wisata yang bertanggung jawab.
“Sinergi lintas pemangku kepentingan menjadi fondasi utama bagi keberhasilan program ini dalam mendorong keberlanjutan ekosistem laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.”
*****
Tambang Nikel di Raja Ampat Rusak Pesisir dan Terumbu Karang