- Pemerintah segera menuntaskan penyusunan peta terumbu karang dan padang lamun secara nasional. Akhir tahun ini, dokumen tersebut ditargetkan selesai dan bisa diakses oleh publik.
- Firdaus Agung Kurniawan, Direktur Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan katakan, Indonesia berkepentingan untuk menyelesaikan dokumen tersebut. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan sebaran dan keanekaragaman hayati karang dan padang lamun tertinggi di dunia.
- Udhi Eko Hernawan, Kepala Pusat Riset Oseanografi BRIN pernah menjelaskan, Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati ekosistem lamun di seluruh dunia. Tetapi, perhatian dan pengelolaannya masih jauh tertinggal dibandingkan ekosistem penting lain seperti terumbu karang dan mangrove.
- KKP menyebut, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 51.000 kilometer persegi atau mencakup 18% luas terumbu karang dunia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut, Indonesia memiliki 15 spesies dan 7 genus, dari total 60 spesies dan 12 genus lamun yang ada di dunia.
Pemerintah segera menuntaskan penyusunan peta terumbu karang dan padang lamun secara nasional. Akhir tahun ini, dokumen itu target selesai dan bisa diakses oleh publik.
Firdaus Agung Kurniawan, Direktur Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan katakan, Indonesia berkepentingan menyelesaikan dokumen itu. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan sebaran dan keanekeragaman hayati karang dan padang lamun tertinggi di dunia.
“Sekarang masih proses validasi,” katanya.
Penyusunan peta nasional dilakukan pemerintah bersama The Indonesian Seagrass Mapping Partnership, sebuah kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan sejumlah perguruan tinggi.
Selain menyiapkan peta nasional padang lamun, kolaborasi itu terbentuk untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut, mitigasi perubahan iklim, dan pengembangan karbon biru di Indonesia. Kegiatan itu mendapat dukungan dari The David and Lucile Packard Foundation, yayasan keluarga yang fokus membantu kegiatan konservasi di dunia.
Dari perguruan tinggi, beberapa yang terlibat di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Unversitas Hasanuddin, dan University of Queensland Australia. Ada juga keterlibatan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Firdaus berharap, jalinan kerja sama yang terbentuk dengan para pihak ini akan membangun jejaring lebih baik untuk mewujudkan pemutakhiran data peta terumbu karang dan padang lamun di Indonesia.
“Selain itu, juga untuk mendukung rencana aksi nasional, dan pengembangan kegiatan pengelolaan ekosistem terumbu karang dan padang lamun ke depan.”
Pentingnya memiliki data terbaru tentang dua ekosistem itu untuk mewujudkan ketersediaan data spasial yang akurat dan terverifikasi. Hal itu sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/2025 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon Biru (NEK) Sektor Kelautan. Juga, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Berdasarkan permen ini, Direktorat Konservasi Ekosistem diamanahkan menjadi wali data kebijakan pengusulan dan pengelolaan kawasan konservasi dan ekosistemnya. Termasuk, pengelolaan karbon biru, penyusunan daya dukung dan daya tampung, pengendalian pemanfaatan, serta perizinan pemanfaatan kawasan konservasi.
Kehadiran peta juga akan berguna dalam menyusun program kaitannya dengan upaya mengatasi perubahan iklim.
“Karena Indonesia memasukkan kontribusi padang lamun dalam dokumen NDC (Nationally Determined Contribution). Sektor kelautan, khususnya padang lamun diharapkan akan berkontribusi optimal dalam pencapaian target penurunan emisi,.”

Data akurat
Pramaditya Wicaksono, pakar pemetaan padang lamun dari Fakultas Geografi UGM mengatakan, validasi perlu untuk pastikan data setiap wilayah akurat. Proses validasi berlangsung dengan membagi tim ke dalam kelompok menyesuaikan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI).
Guru Besar bidang Penginderaan Jauh Biodiversitas Pesisir itu menyebut, kehadiran peta nasional terumbu karang dan padang lamun itu tidak hanya sangat berarti. Juga menjadi dasar untuk pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya laut, perubahan iklim, dan valuasi ekonomi ekosistem karbon biru Indonesia.
Selain itu, ia juga berguna untuk menghitung serapan karbon dalam NDC, neraca sumber daya laut atau perizinan pembangunan di laut.
Sampai sekarang data peta lamun nasional masih terbatas dengan luasan yang sudah tervalidasi mencapai sekitar 290.000 hektar.
Beberapa peta yang tersedia belum tersedia secara komprehensif. Dokumen tersebut banyak dibuat institusi berbeda dengan lokasi, cakupan, dan tingkat kerincian yang berbeda pula.
Prama akui, luas Indonesia menjadi tantangan tersendiri untuk menyajikan data peta secara akurat dan hanya berdasar survei. Karena itu, perlu upaya integrasi berbagai teknologi.
Selain penginderaan jauh sebagai basis data, ada juga teknologi satelit, remote sensing, serta data lapangan melalui pendekatan citizen science.
Data penginderaan jauh akan diintegrasikan dengan data lapangan yang terkumpul menggunakan berbagai teknik, salah satunya metode foto kuadrat. Data lapangan tersebut kemudian bisa dipakai untuk machine learning dan uji akurasi hasil pemetaan.
Selain tantangan pengumpulan data, persoalan lainnya adalah koordinasi antar lembaga. Menurutnya, selama ini banyak data yang tersebar di berbagai instansi, namun tanpa akses dan pemanfaatan yang jelas.
Dia pun berharap, kehadiran peta nasional terumbu karang dan padang lamun akan bisa memudahkan pengelolaan ekosistem karbon biru. Terutama, bagaimana pemerintah bisa mengadopsinya untuk menjadi kebijakan.
“Ini menjadi tonggak sejarah dalam pengelolaan ekosistem laut Indonesia,” tegas Koordinator Project The Indonesian Seagrass Mapping Partnership itu.
Bagi Prama, padang lamun tidak hanya bermanfaat untuk menghitung neraca sumber daya laut saja. Lebih dari itu, juga bisa untuk melakukan analisis jasa ekosistem, pemahaman keanekaragaman hayati, atau pemantauan perubahan.

Masih ketinggalan
Udhi Eko Hernawan, Kepala Pusat Riset Oseanografi BRIN pernah menjelaskan, Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati ekosistem lamun di seluruh dunia. Tetapi, perhatian dan pengelolaannya masih jauh tertinggal dibandingkan ekosistem penting lain seperti terumbu karang dan mangrove.
Salah satu penyebabnya karena jumlah peneliti ekosistem padang lamun sangat terbatas. Padahal, ekosistem lamun berperan penting dalam menyerap karbon yang jadi penyebab utama perubahan iklim.
Sejauh ini, BRIN terus meningkatkan kapasitas riset padang lamun melalui skema pendanaan keanekaragaman hayati laut. Juga capacity building yang dapat digunakan untuk meningkatkan riset padang lamun di Indonesia.
Muhammad Ilman, Direktur Program Kelautan YKAN menambahkan, peta nasional terumbu karang dan padang lamun akan menjadi pondasi penting untuk melaksanakan pengelolaan laut berkelanjutan.
KKP menyebut, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 51.000 kilometer persegi atau mencakup 18% luas terumbu karang dunia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut, Indonesia memiliki 15 spesies dan 7 genus, dari total 60 spesies dan 12 genus lamun yang ada di dunia.
Luasan lamun di Indonesia mencakup 5-10% ekosistem lamun di dunia. Adapun, spesies paling banyak ditemukan adalah Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Cymodocea serrulata.

*****
Padang Lamun: Benteng Alami Melawan Bakteri Patogen di Pesisir Kota