- Pesisir Soropia, Sulawesi Tenggara kini tak lagi menjanjikan. Padahal, setiap harinya, masyarakat Suku Bajo sangat bergantung pada hasil laut.
- Perubahan iklim berdampak pada penurunan hasil tangkap nelayan dan tingginya risiko melaut. Biaya operasional bertambah, namun hasil yang didapatkan tak seberapa.
- Nelayan perempuan mau tak mau harus turut bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan dapur. Tak jarang mereka mengalami kelelahan fisik di tengah beban pekerjaan domestik harian.
- Penelitian Uswatun Hasanah (2026), dosen Fakultas Psikologi UMP, menyebutkan adanya kecemasan ekologis bagi nelayan perempuan Bajo di Kendari. Mulai dari kondisi laut, cuaca dan hasil tangkapan.
Hartati sedang duduk bersama suaminya, Mardin, di teras belakang rumah panggung yang berdiri di atas laut di Desa Bajo Indah, satu dari tujuh perkampungan Suku Bajo di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara, Selasa (19/5/26). Ibu empat anak ini sibuk menggunting jala rusak dan memisahkan dari tali pengikat timah pemberat. Satu tahun terakhir, jala ini menjadi nyawa bagi Mardin untuk melaut.
Jala rusak itu pula yang mengingatkan Hartati pada angin kencang yang melanda Desa Saponda Laut, Kecamatan Soropia pada 11 Januari lalu. Ada 32 rumah hancur, 20 perahu rusak dan dua perahu hilang terbawa arus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe mencatat total 84 keluarga atau 314 jiwa di Soropia terdampak.
Malam itu, Mardin yang sedang melaut terhalang gelombang tinggi saat kembali ke daratan. Perahu fiber dengan mesin 13 PK tak mampu menghalaunya. Saat terombang-ambing, penutup bak penampungan ikan lepas tertiup angin, lalu mengenai hidungnya hingga berdarah. Dia nyaris pingsan dan membuatnya sulit mengendalikan kemudi.
“Anak-anak kita khawatirkan. Mana orang di laut, ya, istigfar saja terus, baca doa,” cerita Hartati kembali mengingat traumanya.

Mardin berhasil selamat dengan menambatkan perahunya pada keramba di pesisir Desa Bajoe, sekitar dua kilometer dari rumahnya di Desa Bajo Indah. Dia berdiam diri di atas keramba selama dua jam hingga hujan serta angin kencang mereda. Kejadian ini, katanya kali pertama terjadi selama hampir lebih dari 20 tahun melaut.
“Dari situ saya trauma ada awan hitam,” kata Mardin menyambung cerita Hartati.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat frekuensi cuaca laut harian dengan ketinggian gelombang di atas 1,25 meter memang cukup intens di pesisir Soropia atau perairan Teluk Kendari–Moramo sepanjang 2021-2024. Biasanya terjadi tiap hari di bulan Januari, Februari, Mei, Agustus, September hingga Desember.
Ini menjadi sebuah peringatan waspada bagi nelayan kecil dan tradisional, seperti Mardin. Bahkan, Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari setidaknya menerima 203 laporan kecelakaan kapal di perairan Sulawesi Tenggara sejak Januari 2021 sampai Maret 2026.
Wahyudi, Hubungan Masyarakat (Humas) KPP Kendari, mengatakan cuaca dan kerusakan mesin menjadi penyebab utama kecelakaan, meski keduanya dapat saling berkaitan. Mesin yang bekerja keras menantang gelombang juga dapat menyebabkan kerusakan.
“Mati mesin misalnya. Apa penyebabnya? Mesin bekerja keras, ya, karena cuaca juga,” katanya, Senin (8/6/26).
Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Tangkapan menurun, nelayan tak banyak pilihan
Nelayan menggantungkan hidup dari laut. Tak jarang risiko tinggi terus menghantui, cuaca yang tak menentu, membuat mereka harus memutar otak. Saat menjaring ikan dan memancing tak mencukupi, banyak nelayan menyelam dengan kompresor untuk bisa mendapatkan ikan. Padahal ini berdampak besar bagi nelayan.
Herlina, nelayan perempuan di Desa Mekar, Kecamatan Soropia, masih ingat ketika adiknya, Husnul bersama suaminya, Tamrin, pergi memasang bubu 10 tahun lalu. Mereka adalah nelayan kompresor. Saat Husnul menyelam terlalu lama, badannya kaku tak bergerak ketika muncul ke permukaan.
“Pas dia naik, tidak bisa goyang. Hanya tangan dan mata yang goyang. Jadi, saya pergi ke kota (Kendari) belikan obat,” kata perempuan 38 tahun ini, Rabu (20/5/26).

Husnul sehat dan pulih kembali. Sono, kerabat Herlina yang lain, tak seberuntung Husnul. Sono yang tinggal di Pulau Masadian, Kecamatan Menui Kepulauan, Morowali, Sulawesi Tengah, terbujur kaku sejak 7 tahun lalu. Dia lumpuh setelah menyelam untuk memanah ikan.
“Itu tujuh tahun mi baring, hanya duduk makan saja. Umurnya baru 20 tahun lebih.”
Nelayan menggunakan kompresor memiliki risiko kesehatan yang tinggi dan bisa menyebabkan dekompresi akut. Alat ini tak memiliki filter penyaringan udara dan tak memiliki batas waktu ketika menyelam. Itu juga yang menjadi alasan Herlina melarang suaminya menyelam terlalu dalam. Apalagi Tamrin belum lama operasi untuk tiga penyakit berbeda, sinusitis, batu ginjal, dan usus buntu.
“Biar mi sedikit kita dapat ikan, asal jangan terlalu dalam,” katanya.
“Keselamatan itu penting.”
Biasanya ini dilakukan saat tangkapan menurun, mereka terpaksa menyelam dan memanah ikan hingga kedalaman 30 meter di perairan Pulau Saponda, sekitar 10 mil laut atau 16 kilometer dari rumahnya. Padahal, awal 2000-an Tamrin bisa menangkap 10-20 kg sekali melaut di wilayah pesisir.
“Lama-lama hasil kurang. Sekarang lima kilogram saja susah.”
Yudha R. Bahari, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe, tak membantah wilayah tangkap nelayan makin jauh dari pesisir. Terumbu karang yang rusak akibat aktivitas pelayaran di pesisir Soropia.
“Beda dengan dulu. Sudah banyak aktivitas kapal lalu-lalang di situ. Rusak terumbu karang,” katanya, Kamis (4/6/26).
Amar Maruf, Dosen Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO) bilang tren penurunan hasil tangkapan nelayan, baik jumlah maupun ukuran, merupakan fenomena yang terjadi di setiap tempat.
Penenlitiannya tentang nelayan Bajo di Soropia (2019) menyebutkan, perubahan iklim menyebabkan penurunan hasil tangkapan. Ini juga berdampak pada tingginya risiko menangkap ikan, bertambahnya biaya operasional, ketidakefektifan alat tangkap, dan sulitnya menentukan wilayah tangkap.
“Dampaknya memang waktu mereka melaut jadi berkurang. Dampak lain yang jelas pada pengurangan penghasilan,” kata Amar, Jumat (29/5/26).

Beban berlapis perempuan
Menurunnya hasil tangkap tentu berdampak bagi keberlanjutan dapur keluarga. Amar bilang perempuan memegang peran utama sebagai penentu realokasi hasil tangkapan atau pendapatan keluarga. Mulai dari mengatur rincian tangkapan untuk dijual dan konsumsi, mengontrol cadangan BBM, bekal melaut, termasuk keputusan mengutang atau tidak.
“Perempuan Bajo lebih dari sekadar (peran) ganda,” kata Amar.
Ketika ekonomi keluarga tersendat, perempuan di Soropia ikut melaut dengan mencari teripang (Holothuroidea) dan keong laut. Itu yang Herlina dan banyak perempuan pesisir Soropia jalani. Masyarakat Bajo di Soropia menyebut kebiasaan mencari kerang saat air surut dengan meti-meti. Saat musim timur antara bulan Mei sampai Agustus, nelayan turun untuk meti-meti sejak sore hingga malam.
Tiap malam, Herlina pergi ke laut dan mendapatkan teripang, kepiting, cabore (sebutan lokal kerang laut), ikan buntal dan udang. Biasanya dia menyisihkan udang untuk makan malam, sisanya dia jual seharga Rp75.000.
“Berapa hari ini pergi dekat (Pulau) Bokori situ. Tadi malam jam 12 kita pulang.”

Sehari-hari, Herlina ikut melaut untuk membantu ekonomi keluarganya. Menurut Herlina, tangkapan suaminya beberapa hari terakhir hanya menutup ongkos BBM yang mereka beli Rp300 ribu untuk 20 liter sekali melaut ke Saponda.
“Dua kali dia (Tamrin) ke Saponda, hanya untuk bahan bakar saja. Jadi, saya ikut turun supaya ada jajannya anak-anak. Bantu-bantu bapaknya (suami).”
Berbeda dengan Herlina, Rida, perempuan nelayan Desa Leppe, Kecamatan Soropia, meti-meti menjadi tumpuan ekonomi keluarganya. Rida memainkan peran utama sebagai ibu rumah tangga sekaligus mencari nafkah untuk dua anaknya, Radil dan Andini, sejak cerai 16 tahun silam.
Dalam sebulan terakhir, Rida hampir setiap malam turun mencari teripang. Rida hanya absen ketika cuaca sedang tak bersahabat.
“Kalau keluar malam tergantung cuaca. Kalau kita sudah terlanjur di laut, berlabuh saja,” katanya, Senin (18/5/26).
Jika tangkapan teripang sedikit, Rida juga mencari cabore dan kerang darah lalu menjualnya Rp15.000 per kilogram. Biasanya, jika mendapatkan teripang, dia keringkan lebih dulu agar nilai jualnya lebih tinggi, sekitar Rp100.000-Rp400.000 per kg, tergantung jenis dan ukuran. Jika ada keperluan mendesak atau tak ada uang jajan untuk anaknya sekolah, Rida terpaksa menjual teripang basah Rp10.000 per kg.
Meski sehari-hari bekerja di laut, Rida dan perempuan nelayan masih belum terlihat dalam kebijakan pemerintah. Sebagai kepala keluarga, Rida pun tak mendapatkan kartu nelayan atau kusuka yang memudahkannya mengakses bantuan dan subsidi, permodalan, asuransi, hingga pelatihan maupun pendampingan usaha.
“Hanya laki-laki saja yang dapat.”

Kecemasan perempuan
Rasa lelah dan khawatir perempuan pesisir alami mengarah pada kecemasan ekologis atau eco-anxiety, kata Uswatun Hasanah, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Meski belum ada kasus secara khusus, Uswatun Hasanah yang pernah meneliti pengalaman psikologis nelayan perempuan Bajo di Kendari, menemukan gejala kecemasan ekologis pada mereka.
“Pada komunitas perempuan pesisir, kecemasan ekologisnya (perempuan) tidak hanya berbasis pada informasi, tapi muncul atas pengalaman ketubuhannya langsung,” katanya, Jumat (5/6/26).
Dia bilang mereka tidak hanya tahu ada perubahan iklim, tapi berada dalam situasi itu setiap harinya. Mulai dari kondisi laut, cuaca dan hasil tangkapan. Apalagi jika laut dulunya sebagai sumber ekonomi relatif pasti, kini tak bisa mereka andalkan.
Peran berlapis perempuan juga tak hanya terbatas pada urusan domestik dan ekonomi keluarga, tapi juga penyangga emosi suami, anak, hingga anggota keluarganya yang lain. Dalam psikologi sosial, kata Uswatun, peran sentral itu disebut emotional burden sharing.

Dalam jangka panjang, kecemasan individu perempuan pesisir dapat menjadi kelelahan emosional kolektif. Kondisi itu kemudian menjadi normalitas baru, bukan lagi respons terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi.
“Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental berbasis budaya dan dukungan komunitas untuk memperkuat ketahanan perempuan pesisir menghadapi perubahan iklim,” tulis Uswatun dalam penelitiannya yang terbit Januari 2026.
Meski demikian, di tengah situasi lingkungan yang kian menekan, masyarakat Bajo punya kebiasaan berinteraksi untuk saling menguatkan satu sama lain, baik sekadar berbagi cerita, bantu-membantu aktivitas, atau bercanda.
Dalam bahasa Bajo kebiasaan itu mereka sebut sitabangan atau gotong royong. Menurut Uswatun, sitabangan bukan untuk meromantisasi gotong royong, tetapi respons pupusnya harapan.
“Sesederhana bercanda. Tertawa itu juga sebagai bagian dari respons ketidakberdayaan.”
*****
Nasib Suku Bajo di Kabaena Terenggut Ambisi Kendaraan Listrik