- Kawasan Wisata Nasional Danau Toba sempat heboh oleh kematian ribuan ikan di keramba jaring karena suhu panas di air danau, serta munculnya semburan lumpur beriringan dengan gas belerang, tak jauh dari bibir pantai kawasan toba. Meski butuh penelitian lebih lanjut, pakar Geolog menyebut fenomena alami ini kecil kemungkinan saling berkaitan.
- Fenomena matinya ribuan ikan terjadi di Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sabtu (19/07/2025). Edinson Pasaribu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir, menyebut, angin kencang menyebabkan ombak deras dan membuat lumpur di daratan danau terangkat ke permukaan.
- Selain kematian ikan, kaldera Danau Toba juga sempat heboh karena munculnya semburan lumpur hingga ketinggian 6 meter di salah satu lahan warga. Bau belerang menguar dari lumpur tersebut.
- M Burhanudin Nur, dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia, bilang, semburan lumpur bisa terjadi karena aliran air panas di perut bumi yang mendesak ke luar. Fenomena ini pun kecil kemungkinan jadi salah satu pemicu kematian ribuan ikan di keramba.
Kawasan Wisata Nasional Danau Toba sempat heboh oleh kematian ribuan ikan di keramba jaring karena suhu panas di air danau, serta muncul semburan lumpur beriringan dengan gas belerang, tak jauh dari tepian danau. Meski perlu penelitian lebih lanjut, pakar Geolog menyebut fenomena alami ini kecil kemungkinan saling berkaitan.
Fenomena ribuan ikan mati terjadi di Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, 19 Juli lalu. Edinson Pasaribu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Samosir, menyebut, angin kencang menyebabkan ombak deras dan membuat lumpur di daratan danau terangkat ke permukaan.
Hasil pemeriksaan uji laboratorium menunjukkan, ikan-ikan mati karena minimnya oksigen serta lumpur yang tebal.
“Ombak deras mengangkat Lumpur di dasar danau menyebabkan kandungan oksigen semakin menipis diduga penyebab utama kematian ikan-ikan ini,” katanya.
Fenomena kematian ribuan ikan di kawasan Danau Toba ini, katanya, bukan pertama kali terjadi, bak siklus lima tahunan, terakhir pada 2020.
“Perlu sinergitas antara lembaga bersama dengan pengusaha kerambah jaring apung dan masyarakat sekitar untuk membersihkan lumpur ini. Itu membutuhkan biaya cukup besar.”

Semburan lumpur
Selain kematian ikan, kaldera Danau Toba juga sempat heboh karena muncul semburan lumpur sampai ketinggian enam meter di lahan warga. Bau belerang menguar dari lumpur itu.
Lumpur muncul ketika warga sedang mengebor sumur untuk keperluan air bersih, di kedalaman 60 meter. Jarak semburan itu sekitar 330 meter dari bibir danau.
Hotraja Sitanggang, Asisten II Pemkab Samosir, mengatakan, tengah berkoordinasi dan menunggu hasil kajian Badan Geologi untuk mengetahui faktor-faktor penyebab fenomena ini.
Dia bilang, sempat datang 45 menit setelah semburan dan mencium bau belerang. Bau itu menghilang beberapa jam kemudian dan semburan lumpur makin berkurang.
Meski demikian, dia dan musyawarah pimpinan daerah (muspida) yang badir meminta masyarakat tidak mendekat. Antisipasi hal-hal terburuk, seperti menghirup bau racun yang terbawa lumpur.
“Kita masih belum mengetahui apa penyebab semburan lumpur ini, Termasuk apakah berbahaya dan apakah membawa gas beracun atau tidak itu masih menunggu hasil uji laboratorium dan kajian dari Badan Geologi.”

Tak berkaitan dengan semburan
M Burhanudin Nur, dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia, bilang, semburan lumpur bisa terjadi karena aliran air panas di perut bumi yang mendesak ke luar. Fenomena ini pun kecil kemungkinan jadi salah satu pemicu kematian ribuan ikan di keramba.
Di Danau Toba, formasi air panas cukup banyak di beberapa titik yang jadi objek wisata. Air ini akan terus mencari retakan atau pori-pori untuk keluar. Kalau ada tekanan, termasuk dari pengeboran sumur, akan menyembur bersama dengan lumpur di dalamnya.
Sedangkan naiknya sedimen di dasar danau ke permukaan, katanya, bukan karena dorongan air panas yang keluar dari perut bumi melainkan karena suhu air di permukaan lebih dingin dan bergerak ke bawah. Keadaan ini menyebabkan upwelling atau terdorongnya air di dasar, ke permukaan karena perbedaan suhu dan massa jenis.
Fenomena ini, katanya, memiliki variasi zona kedalaman. Bisa 6 meter, 10 meter, 20 meter, atau lebih. Tergantung arah angin pemicunya.
Menurut dia, kematian massal ikan-ikan di keramba jaring apung terjadi karena proses itu. Ketika air di dasar laut terangkat, ia akan membawa zat-beracun di dasar danau.
Pada saat peristiwa alam ini berlangsung, ikan-ikan di tengah Danau Toba menganggap itu ancaman langsung pergi menjauh menyelamatkan diri hingga kecil sekali mereka jadi korban. Tetapi tidak dengan ikan di keramba apung.
Kondisi ikan yang terkurung dan terkunci tidak membuat mereka bisa melarikan diri ketika kotoran beracun naik ke permukaan. Itu lah yang menyebabkan kematian massal ikan dalam keramba.
Fenomena ini, katanya, besar kemungkinan terjadi saat musim kemarau. Angin kencang membuat arus dan gelombang, dan membuat air bersirkulasi dari atas ke bawah kerana perbedaan suhu.
Upwelling jadi berbahaya karena sedimen di dasar danau penuh endapan pakan atau hasil pembusukan alami. Oksigen di dalamnya pun tipis, dan bisa jadi terdapat gas beracun seperti H2S hingga amonia.
“Ini merupakan fenomena alam biasa terjadi pada danau. Kalau di dasar danau tidak terdapat bekas pakan atau bahan yang sudah busuk serta menimbulkan senyawa kimia beracun, maka upwelling tidak akan berbahaya. Peristiwa alam ini tidak ada kaitannya dengan kaldera Toba”

Untuk mencegah hal ini terulang, dia menyarankan memindahkan keramba jaring apung ke tempat lain dengan tetap mengikuti peraturan. Sementara, sulit pembersihan danau yang terkontaminasi limbah pakan karena pembusukan di dasar bisa menimbulkan senyawa beracun yang tebal, serta berbiaya besar.
Perlu juga membuat sistem peringatan dini antisipasi kemunculan upwelling. Konsepnya seperti prediksi cuaca, prediksi kecepatan angin serta pemantauan suhu permukaan air danau.
Kalau pemerintah dan pemkab berhasil, maka bisa replikasi di daerah lain yang memiliki bisnis pengembangan keramba jaring apung.
Gustam Lubis, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Pengurus Daerah Sumatera Utara, menyatakan, penyebab fenomena semburan lumpur bisa terkuak setelah analisis sampel air. Menurut dia, dari sana dapat ketahuan senyawa-senyawa yang terkandung dan mengaitkannya dengan kegiatan di sekitarnya.
“Bisa saja aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan atau hutan seperti penebangan pohon menyebabkan longsor menjadi salah satu faktornya, itu mungkin bisa saja juga terjadi,” katanya pada Mongabay.

*****