- Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menguji semburan lumpur gas yang keluar di Desa Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut). Hasilnya, gas yang keluar diduga dampak dari aktivitas pembukaan sumur baru dalam proyek geothermal PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) itu mengandung senyawa hidrogen sulfida (H2S).
- Imam Shofwan, Kepala Divisi Simpul dan Jaringan JATAM, menyebut, pengujian itu karena permintaan ratusan masyarakat lokal yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Mereka khawatir dan was-was terhadap semburan gas tersebut, karena ada peristiwa keracunan dan kematian 5 warga Kabupaten Madina karena semburan lumpur gas di lokasi proyek SMGP.
- Ali Sahid, Kepala Teknik Panas Bumi SMGP, mengatakan, peristiwa di Desa Roburan Dolok, sama sekali tidak ada kaitanya dengan pengeboran sumur yang tengah mereka kerjakan. Di sana ada dua sumur, tetapi mereka tidak melakukan produksi dan injeksi.
- Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM menurunkan tim Inspektur Panas Bumi ke lokasi semburan gas untuk pengambilan sampel dan uji laboratorium, Selasa (29/04/2025). Tampak perwakilan badan geologi juga berada di lokasi untuk melakukan analisis dan kajian mereka.
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menguji semburan lumpur gas yang keluar di Desa Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut). Hasilnya, gas yang keluar diduga karena aktivitas pembukaan sumur baru proyek geothermal PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) itu mengandung senyawa hidrogen sulfida (H2S).
Imam Shofwan, Kepala Divisi Simpul dan Jaringan Jatam, menyebut, pengujian itu karena permintaan ratusan masyarakat lokal di sekitar lokasi kejadian. Mereka khawatir semburan gas itu, karena ada peristiwa keracunan dan kematian lima warga Madina karena semburan lumpur gas di lokasi SMGP.
Meski sudah mengenali bau yang membuat mereka mual, pusing dan muntah-muntah, mereka ragu karena tidak ada informasi apapun dari pemerintah. Karena itu, Jatam berinisitaif melakukan uji air dan udara di lokasi kejadian.
“Ini sebenarnya tanggung jawab dan kewajiban negara untuk memberi informasi… Masyarakat di sana harus mendapatkan informasi agar bisa mengantisipasinya dan itu tidak diberikan oleh negara atau perusahaan,” katanya pada Mongabay, Kamis (15/5/25).
Imam bilang, proses uji udara menggunakan gawai bernama Gastec. Cuma butuh waktu dua jam untuk mengetahui hasil pemeriksaan menggunakan gawai tersebut.
JATAM mengambil sampel udara di beberapa lokasi, kebun karet, kebun cengkeh dan area pertanian sekitar warga. Temuan ini membuat masyarakat bisa mengantisipasi langkah yang harus mereka lakukan supaya tidak terpapar gas berbahaya tersebut.
Titik pertama uji udara JATAM terletak di Jambu Koling, Minggu (11/5/25). Di sana mereka menemukan senyawa asam sulfida (H2S) 4 ppm – 12 ppm, 1 ppm belerang sulfida (SO2), dan 2pp polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).
Titik kedua, di kebun Saba Tambal, Jatam menemukan 2 ppm 2 ppm, 4 ppm SO2, dan 2 ppm PAH. Lokasi ketiga di kebun Yahya, seorang warga, dengan temuan 0,5 ppm H2S, 1 ppm SO2, dan 2 ppm PAH. lokasi keempatspan style=”font-weight: 400;”>, terdapat 0,5 ppm H2S, 4 ppm SO2, 2 ppm PAH.
“Mereka (pemerintah) harusnya gerak cepat. Untuk mengetahui apa yang terjadi tidak butuh waktu lama, menggunakan teknologi. Sementara, warga semakin was-was di sekitar peristiwa semburan lumpur gas di sana.”
Imam bilang, jumlah lubang yang mengeluarkan lumpur gas makin banyak. Perhitungan terakhir, ada 30 lubang di lapangan. Lokasinya berada di jalur akses masyarakat menuju ke sawah dan kebun mereka. Karena itu, tidak adanya penanganan akan membahayakan masyarakat.

Korbankan masyarakat
Belajar dari kasus geothermal di daerah lain, menurut Imam, masyarakat selalu merugi. Di Dieng, misal, paparan jangka panjang H2S menyebabkan tumor massal di wilayah Karang Tengah.
“Masyarakat selalu jadi tumbal. Ada sekitar tujuh orang di Karang Tengah yang mengalami kanker payudara dan otak secara bersamaan.”
Kondisi serupa terjadi di Desa Bakal, yang dekat dengan sumur proyek geothermal Dieng. Setidaknya empat orang kena kanker payudara dan kanker otak secara bersamaan.
Dia khawatir, peristiwa ini juga akan masyarakat di sekitar SMGP alami. Karena itu, pemerintah harus segera mengambil tindakan.
SMGP, selalu saja berkilah dan menganggap gangguan yang masyarakat alami bukan karena kegiatan eksplorasi mereka. Padahal, setiap kali ada pembukaan sumur baru, selalu ada warga keracunan, mulai dari muntah, mual, dan pingsan.
Kondisi ini, terjadi karena masih ada patahan dalam perut bumi. Luapan lumpurnya sudah terbuka, tapi aktivitas pembukaan perut bumi oleh proyek geothermal membuat gas-gas beracun itu tetap ada di lokasi rekahan. Dia akan keluar, meski dengan konsentrasi yang tak menentu.
“Ada orang yang tidur di lantai, terhirup senyawa beracun asam sulfida ini. Harusnya pengetahuan pengetahuan seperti ini mestinya jadi alat mitigasi,” ucap Imam.
Warga, katanya, berhak atas pemberian informasi yang lengkap ihwal kondisi yang terjadi di wilayah mereka. Karena mereka berhak untuk mendapat informasi dan berhak selamat dari lokasi yang berbahaya.
Selama ini, energi terbarukan sebagai energi hijau kerap tidak menghormati kesehatan dan membahayakan masyarakat. Perusahaan selalu mengelak setiap kali jatuh korban dari aktivitas mereka.
Dia meminta, evaluasi semua eksploitasi panas bumi. Saat ini, pembangunan proyek ini sedang kebut-kebutnya tetapi membahayakan keselamatan warga.
“Seluruh proyek geothermal di Indonesia harus ditutup serta dievaluasi.”

Apa kata perusahaan?
Ali Sahid, Kepala Teknik Panas Bumi SMGP, mengatakan, peristiwa di Desa Roburan Dolok, sama sekali tidak ada kaitan dengan pengeboran sumur yang tengah mereka kerjakan. Di sana ada dua sumur, tetapi mereka tidak melakukan produksi dan injeksi.
Kolam lumpur yang terdapat di satu km dari desa terjadi karena rekahan dari bawah yang berhubungan dengan batuan panas bumi yang naik. Biasanya berupa uap dengan gas yang tak bisa terkondensasi.
Titik manifestasi tersebut di lokasi lain di Desa Roburan Dolok dan tidak berada di area sumur Pad-E SMGP yang berjarak 1-2 km dari lokasi. Menurut dia, ini fenomena alamiah dan mereka pantau sejak 2021.
Manifestasi ini, katanya, tidak memiliki hubungan langsung dengan sumur-sumur pada Wellpad E. Mereka mengebornya sejak 2017, namun belum pernah berhasil mengalirkan uap ataupun fluida panas bumi dengan tekanan kepala sumur 0 Barg, atau tidak bertekanan. Tidak ada aktivitas produksi, sehingga sumur-sumur tersebut tidak berkaitan dengan fenomena manifestasi.
Haris Nasution, Geolog dari Institut Teknologi Medan (ITM), menyatakan, ada banyak rekahan atau patahan di perut bumi. Supaya tidak menyebar, harusnya ada penyemenan ketika eksplorasi, sehingga gas keluar dari satu sumbu saja ke atas.
Melewatkan atau mengerjakannya dengan tidak sempurna akan memunculkan masalah. Gas beracun dan berbahaya itu akan memaksa keluar, selanjutnya memenuhi pori-pori patahan yang tidak disemen, kemudian mendesak keluar dan terhirup manusia.
“Penyemenan itu biayanya mahal mencapai miliaran rupiah. Perlu dicek apakah perusahaan melakukan penyemenan atau malah membiarkannya begitu saja karena nggak mau rugi dan mengeluarkan biaya tinggi. Dalam pengeboran terdapat patahan-patahan yang jaraknya bisa dari 10 km hingga 100 km. Kalau melihat kejadian semburan lubang gas itu, jarak aktivitas blog geothermal Sorik Marapi satu jalur karena jaraknya tidak sampai 2 km,” katanya , pada Mongabay, Jumat(9/5/25).
Ditjen EBTKE, KESDM menurunkan tim Inspektur Panas Bumi ke lokasi semburan gas untuk pengambilan sampel dan uji laboratorium, Selasa (29/4/25). Tampak perwakilan badan geologi juga berada di lokasi untuk melakukan analisis dan kajian mereka.
Tim gabungan ini melakukan inspeksi langsung ke manifestasi panas bumi. Yaitu, tanah panas (hot ground), lubang tanah beruap (steaming ground), dan kolam lumpur (mud pool).
Ahmad Meinul Lubis, Asisten II Pemkab Madina, menjelaskan, kedatangan tim gabungan ini ke tempat lokasi kejadian untuk melihat dan menganalisis secara langsung fenomena yang terjadi. Di lokasi, petugas mengambil sampel pada beberapa titik, mulai dari sampel gas, sampel Lumpur, sampel air panas termasuk pengambilan sampel air di aliran sungai yang warga duga tercemar lumpur gas beracun itu.
Saat ini, seluruh sampel tengah dianalisis di Laboratorium PSDMBP Badan Geologi di Bandung. Harapannya, hasil uji laboratorium nanti bisa mengungkap seberapa bahaya semburan lumpur dan gas itu.
“Kita Tunggu saja hasil uji laboratorium. Semoga gas yang keluar tidak beracun dan berbahaya. Setelah hasil uji laboratorium selesai akan ada kajian-kajian mendalam terkait munculnya lubang-lubang yang menyemburkan gas ke permukaan bumi ini.”

*****