- Pada 1963, Prancis meluncurkan seekor kucing betina bernama Félicette ke luar angkasa dengan roket Véronique AG1, menjadikannya satu-satunya kucing yang pernah terbang melampaui atmosfer dan kembali hidup.
- Selama penerbangan 13 menit, 9 elektroda di tengkoraknya merekam aktivitas otak secara real-time untuk memahami dampak mikrogravitasi pada mamalia, sebuah pencapaian ilmiah penting meski kemudian ia dieutanasia demi penelitian lanjutan.
- Meski jasanya terlupakan selama puluhan tahun, kampanye publik akhirnya mendirikan monumen perunggu pada 2019 untuk menghormati Félicette, simbol pengorbanan makhluk hidup dalam sejarah eksplorasi antariksa.
Pada pagi hari tanggal 18 Oktober 1963 di gurun Aljazair, sebuah roket Véronique AG1 berdiri siap di landasan peluncuran Hammaguir, fasilitas peluncuran roket di kawasan gurun terpencil Provinsi Béchar, barat daya Aljazair. Di dalam kapsul logamnya, seekor kucing betina berbulu hitam-putih menunggu dalam posisi terikat. Kucing ini bukan Laika si anjing dari Uni Soviet, bukan Ham si monyet dari Amerika Serikat, dan bukan nama-nama pionir luar angkasa lain, dia adalah Félicette, satu-satunya kucing yang dikirim ke luar angkasa oleh Prancis. Saat itu, ia hanya disebut C 174, kode laboratorium yang hampir membuatnya tanpa identitas. Namun hari itu, kucing ini akan mencatat sejarah sebagai satu-satunya kucing yang pernah terbang ke luar angkasa dan kembali hidup-hidup.
Penerbangan singkat selama 13 menit itu bukan sekadar unjuk kemampuan teknologi Prancis di tengah perlombaan antariksa. Bagi para ilmuwan, misi ini menjadi langkah penting untuk mempelajari bagaimana gravitasi nol memengaruhi otak mamalia. Data yang dikumpulkan dari elektroda di tengkoraknya digunakan untuk merancang protokol keselamatan bagi astronot manusia di masa depan. Namun, di balik keberhasilan ilmiah ini, nama Félicette justru nyaris terhapus dari ingatan dunia.
Baca juga: Kisah Sedih Laika, Anjing Pertama yang Meluncur ke Orbit Bumi
Mengapa Seekor Kucing Diluncurkan ke Luar Angkasa?
Pada awal era penjelajahan antariksa, setiap negara berlomba menunjukkan kekuatan sainsnya. Uni Soviet telah mengirim Laika, anjing pertama yang mengorbit Bumi, sementara Amerika Serikat memilih monyet seperti Ham dan Enos sebagai perwakilan mamalia. Prancis, yang juga ingin mencatatkan prestasi, memutuskan menggunakan kucing domestik dalam eksperimen biomedis mereka. Alasannya sederhana: kucing memiliki ukuran tubuh yang ideal, otak yang cukup besar untuk dipasangi elektroda, dan sifat yang lebih mudah dikondisikan dibandingkan primata.
Sebanyak 14 kucing dilatih dalam program intensif yang mirip “boot camp antariksa.” Mereka dibiasakan dengan kebisingan mesin roket, guncangan keras, dan ruang sempit kapsul. Di antara semua kandidat, C 174—yang kemudian dijuluki Félicette, menjadi pilihan utama karena temperamennya yang luar biasa tenang. Dalam dokumentasi yang dipublikasikan tahun 2018, ia disebut “the most cooperative of all subjects,” yang membuatnya lolos seleksi akhir.
Baca juga: Setelah 20 Tahun, Kucing Misterius ini Terpantau di Kayan Mentarang

Pagi itu, roket Véronique AG1 dinyalakan dan melesat menembus langit, mencapai ketinggian sekitar 157 kilometer—melewati batas Kármán yang menandai tepi luar angkasa. Selama fase pendakian, Félicette harus menghadapi percepatan ekstrem hingga 9,5 kali gravitasi Bumi. Data biometrik menunjukkan detak jantungnya melonjak drastis, tetapi ia tetap dalam kondisi stabil.
Yang membuat misi ini unik bukan hanya ketinggian atau kecepatannya, melainkan peralatan canggih yang dipasang pada dirinya. Dokter hewan dan teknisi menanamkan 9 elektroda langsung ke tengkoraknya, yang secara real-time merekam aktivitas listrik di area otak seperti korteks somatosensorik dan hippocampus. Sinyal itu kemudian dipancarkan ke pusat kendali di Bumi, menjadikannya mamalia pertama yang otaknya berhasil “disiarkan langsung” saat melayang tanpa bobot .
Setelah fase mikrogravitasi sekitar lima menit, kapsul kembali menembus atmosfer dan mendarat dengan parasut. Tim penyelamat menemukan Félicette masih hidup, duduk diam di balik panel instrumen, kucing domestik pertama yang berhasil pergi ke ruang angkasa dan pulang selamat .
Akhir yang Tragis dan Nama yang Perlahan Menghilang
Meski selamat dari perjalanan antariksa, nasib Félicette tidak berakhir bahagia. Beberapa minggu setelah misi bersejarah itu, ia dieutanasia agar para ilmuwan bisa memeriksa otaknya secara detail. Tujuan utama prosedur ini adalah memastikan apakah paparan gaya gravitasi ekstrem dan fase tanpa bobot meninggalkan perubahan pada jaringan saraf. Saat itu, praktik seperti ini dianggap wajar dalam penelitian biomedis, terutama dalam konteks perlombaan teknologi antara negara adidaya. Namun seiring berjalannya waktu, cara tersebut mulai dipertanyakan secara etis. Banyak pihak menilai pengorbanan hewan dalam eksperimen ekstrem seharusnya diimbangi penghormatan yang layak, sesuatu yang tidak terjadi pada Félicette.

Ironisnya, kontribusi penting Félicette hampir luput dari penghargaan sejarah. Berbeda dengan Laika yang dikenal di seluruh dunia, nama Félicette jarang disebut, bahkan dalam dokumen resmi Prancis ia lebih sering tercatat hanya sebagai C 174, kode laboratorium yang membuatnya seakan tidak pernah menjadi individu. Media asing pun kerap salah menuliskan namanya menjadi “Félix,” seolah-olah seekor kucing jantan. Kekeliruan ini terus berulang hingga dekade 2000-an, menambah lapisan ketidakadilan bagi kisahnya yang sebenarnya unik dan penting.
Padahal, data yang dikumpulkan dari otaknya menjadi salah satu sumber pertama yang menunjukkan bagaimana aktivitas listrik korteks dan hippocampus mamalia bereaksi terhadap gravitasi nol. Pengetahuan tersebut membantu para peneliti merancang sistem monitoring biomedis dan prosedur keselamatan bagi astronot dalam misi jangka panjang.
Monumen untuk Sang Penjelajah yang Terlupakan
Selama puluhan tahun, nama Félicette jarang disebut. Berbeda dengan Laika si anjing kosmonot yang diabadikan dalam prangko, patung peringatan, buku anak-anak, hingga lagu, Félicette seolah hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah eksplorasi luar angkasa. Banyak orang bahkan tidak tahu bahwa seekor kucing pernah menjalani misi semacam itu. Dalam berbagai arsip, ia lebih sering muncul sebagai C 174, tanpa nama pribadi yang mencerminkan keberadaannya sebagai makhluk hidup.

Keadaan ini mulai berubah pada 2017, ketika seorang komunikator sains asal Inggris, Matthew Serge Guy, merasa bahwa kontribusi Félicette tidak pantas terus dilupakan. Ia memulai kampanye pendanaan publik bertajuk A Space Cat for Posterity dengan satu tujuan sederhana: menghadirkan monumen yang menghormati jasa Félicette sebagai pionir antariksa berkaki empat. Kampanye tersebut dengan cepat menarik perhatian ribuan orang dari berbagai negara yang tersentuh oleh kisah kucing kecil ini. Dalam waktu relatif singkat, lebih dari £57.000 berhasil dikumpulkan dari donasi publik—suatu bentuk pengakuan kolektif yang terlambat namun sangat berarti.
Pada Oktober 2019, monumen perunggu setinggi hampir dua meter akhirnya berdiri di halaman kampus International Space University di Strasbourg, Prancis. Patung tersebut menampilkan sosok Félicette sedang duduk di atas bola dunia, dengan telinga tegak dan pandangan mengarah ke langit, seakan memberi isyarat bahwa ruang angkasa bukan hanya pencapaian manusia semata, melainkan juga buah dari pengorbanan makhluk lain yang tidak pernah punya kesempatan untuk memilih takdirnya. Di bagian bawah monumen, terpahat tulisan sederhana dalam bahasa Inggris (meskipun monumen ini berada di Prancis) sebagai penghormatan dari komunitas internasional yang menggalang dana: “Thank you, Félicette.” Tulisan yang seolah menjadi permintaan maaf kolektif karena dunia pernah melupakannya. Kini, patung itu berdiri sebagai pengingat bahwa di balik kemajuan ilmu pengetahuan, ada cerita-cerita kecil yang layak dihargai dan diwariskan kepada generasi berikutnya.