Burung Gereja, Si Mungil di Sekitar Kita…

Burung gereja, spesies burung yang paling dekat dengan kehidupan manusia di kawasan urban. Foto: Asep Ayat/Burung Indonesia
Burung gereja, spesies burung yang paling dekat dengan kehidupan manusia di kawasan urban. Foto: Asep Ayat/Burung Indonesia

Banyak orang terkecoh dan menganggap jenis yang tersebar luas di dunia ini berasal dari suku Ploceidae (manyar dan pipit). Padahal, burung-gereja erasia adalah milik Passeridae (burung gereja). Suku Plocidae dan Passeridae memang mirip, sama-sama mungil, berekor pendek, berparuh tebal-pendek, dan sama-sama Passeriformes. Bedanya karena urusan genetik. Suku Passeridae yang awalnya ditempatkan sebagai anak suku, kini “sejajar’ dengan Plocidae.

Burung berukuran sedang (14 cm) ini, berbiak pertama kali pada umur satu tahun dan menghasilkan lima hingga enam telur. Namun, umumnya hanya menghasilkan dua hingga tiga keturunan saja yang akan lepas sarang pada umur 15-16 hari.

Kebiasaannya adalah berasosiasi dekat dengan manusia. Hidupnya berkelompok di sekitar rumah ataupun gudang. Kala mencari makan ia berada di tanah dan lahan pertanian dengan mematuki biji-biji kecil atau beras.

Burung gereja-erasia (Passer montanus) yang bagi sebagian orang dianggap biasa, memiliki kelebihan tersendiri. Kemampuannya berkoloni dan bandel karena tidak alergi dekat manusia atau diistilahkan human dominated ecosystem adalah keistimewaannya. Tak heran, jika jenis ini paling banyak dijumpai di kota-kota besar Indonesia.

Sebagai bagian dari serial kerjasama antara Mongabay-Indonesia dan Burung Indonesia kali ini, silakan unduh wallpaper dari Burung Indonesia untuk bulan September bergambar burung gereja di link ini:

http://burung.org/Wallpaper/wallpaper-burung-indonesia-bulan-september-2013.html

sep_1152_864_cal

Kredit

Topik

Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan

Setiap tahun Indonesia selalu cemas karena bencana terus terjadi sepanjang tahun. Pada musim penghujan, banjir dan longsor di mana-mana. Ketika musim kemarau, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pun bak jadi langganan terulang setiap tahun. Indonesia pernah mengalami beberapa kali karhutla parah.  Seperti 1997 beberapa catatan menyebutkan lebih 9 juta hektar, pada 2015 sekitar 2 […]

Artikel terbaru

Semua artikel