Foto: Pegunungan Menoreh Harta Terpendam di Tanah Jawa

Puncak stupa Borobudur, dari bukit Menoreh. Pegunungan ini memiliki fungsi yang luar biasa bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Tak hanya pedesaan, namun juga keberadaan air bagi kota-kota besar di sekitarnya. Foto: Aji Wihardandi

Pegunungan Menoreh, membentang di wilayah barat laut Kabupaten Kulon Progo, sebelah timur Kabupaten Purworejo, dan sebagian Kabupaten Magelang; sekaligus menjadi batas alamiah bagi ketiga kabupatentersebut. Perbukitan ini terbentuk dari karang dan bukan bentuk vulkanik, memanjang mulai dari wilayah Bagelen ke utara hingga mencapai sisi barat Kota Magelang. Dalam sejarahnya, perbukitan Menoreh dikenal sebagai basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam Perang Jawa (1825–1830) melawan Hindia-Belanda.

Dalam sebuah tulisannya, Sidiq Harjanto dari Komunitas Peduli Menoreh, kawasan karst di Menoreh kurang lebih seluas 15 km persegi, membujur dari utara ke selatan. Bagian utara dan bagian selatan berbukit-bukit, sementara bagian tengah relatif landai. Bagian timur dan barat dibatasi tebing-tebing curam, salah satunya tebing Kelir yang tingginya mencapai puluhan hingga ratusan meter.

Berbeda dengan kawasan karst lainnya yang biasanya gersang dan tandus, kawasan ini tertutup oleh vegetasi yang relatif rapat. Lapisan tanah atas yang tebal mendukung aktivitas masyarakat di sektor pertanian dan perkebunan sehingga mereka bergantung pada sektor ini.

Pegunungan Menoreh memiliki berbagai fungsi bagi masyarakat yang hidup di dekatnya. Secara hidrologis sebagai zona tangkapan hujan bagi setidaknya dua wilayah kabupaten sekitarnya. Secara geologis, proses-proses karstifikasi menghasilkan bentukan-bentukan alam yang sangat unik dan menjadi bagian dari kekayaan fenomena geologis. Mineral geologi dalam kawasan umumnya bervariasi dan beberapa di antaranya menghasilkan fenomena luar biasa, seperti endapan kalsit, dan berbagai ornamentasi dalam gua.

Secara biologis dan ekologis, keanekaragaman hayati kawasan karst Menoreh masih belum sepenuhnya terungkap. Setidaknya 47 jenis burung pernah tercatat hanya dari satu lokasi pengamatan di sisi utara.

Vegetasi di hutan pegunungan Menoreh. Foto: Aji Wihardandi

Catatan penting lainnya antara lain keberadaan dua jenis kupu-kupu dilindungi, Troides Helena dan T. amphrysus.
Kelompok vertebrata menyumbangkan lebih dari 10 jenis kelelawar yang menggunakan gua sebagai roosting sites. Termasuk 2 jenis kelelawar rentan punah, Nycteris javanica dan Rhinolophus canuti. Keberadaan kelelawar khususnya Microchiroptera memberikan kontribusi ekologis sebagai pengendali populasi serangga.

Secara arkeologis, pegunungan Menoreh sangat bernilai dengan keberadaan Goa Saplawan sebagai satu-satunya gua di Menoreh yang memiliki situs purbakala. Dimulai dari penemuan arca emas, kemudian penemuan Lingga dan Yoni, hingga tulisan jawa kuno pada dinding gua menjadikan gua ini menjadi salah satu situs arkeologi yang penting.

Terakhir, dan paling lekat dengan kehidupan sehari hari, adalah fungsi ekonomis yang melekat di pegunungan Menoreh lewat pendapatan yang diraih masyarakat dari hasil perkebunan, pertanian dan peternakan kegiatan wisata mungkin mewakili kontribusi kawasan terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah Candi Borobudur yang mengundang jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Kredit

Topik

Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara

Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang […]

Artikel terbaru

Semua artikel