Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Sumatra yang kian terfragmentasi, Panthera tigris sumatrae tengah menghadapi babak akhir pertahanan hidupnya. Subspesies harimau terakhir di Indonesia ini tak lagi sekadar berjuang melawan seleksi alam, namun berhadapan langsung dengan ekspansi peradaban manusia yang secara sistematis mendesak mereka keluar dari takhta alaminya. Melalui penelusuran mendalam di titik-titik rawan konflik, narasi ini menyingkap realitas brutal tentang hilangnya koridor habitat, maraknya perburuan liar, serta gesekan berdarah antara satwa dan manusia yang perlahan mengikis penghormatan budaya terhadap sosok "Datuk". Hilangnya sang Raja bukan semata soal statistik kepunahan spesies, melainkan runtuhnya keseimbangan ekosistem purba yang menandakan bahwa kesunyian abadi di belantara Sumatra sudah di depan mata.