- Kasus harimau kena jerat dalam kawasan hutan masih marak. Pegiat satwa mengingatkan pentingnya pengaturan penggunaan jerat.
- Terbaru, seekor harimau kena jerat di Agam, Sumatera Barat. Padahal, pemasangan jerat awalnya bukan untuk hewan belang ini.
- Salpayanri, Direktur Institution Conservation Society (ICS), menyebut, masih banyak temuan jerat di hutan di Sumbar, terutama di kawasan konservasi, seperti TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) dan Hutan Lindung Batanghari (HLB).
- Dwi Nugroho Adhiasto, pegiat perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar, menyebut jerat merupakan ancaman utama satwa liar yang berada dalam satu area. Penggunaan jerat di kawasan hutan jumlahnya tidak sebanding dengan petugas yang melakukan patroli sapu jerat.
Pegiat satwa liar menyerukan regulasi penggunaan jerat di kawasan hutan. Pasalnya, masih banyak jerat yang membahayakan satwa liar yang dilindungi. Di Sumatera Barat (Sumbar), misal, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) jadi korban jerat di kebun warga di Bukit Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kabupaten Agam, akhir November.
Novri Agus Parta Wijaya, Wali Nagari Koto Rantang, menyebut, hewan belang itu tidak sengaja terjerat pemilik kebun singkong yang awalnya ingin menggunakannya untuk babi yang sering makan tanamannya. Erianto, si pemilik kebun, langsung melapor ke wali jorong (dusun) yang kemudian meneruskannya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.
“Sekitar pukul 14.00 WIB tim tiba di lokasi dan melakukan penanganan, menjelang petang harimau baru bisa dievakuasi ke TMBK (Taman Margasatwa dan Budaya Kinanta) Bukittinggi,” ucapnya saat Mongabay hubungi.
Yoli Zulfanedi, Dokter Hewan Sekaligus Ketua Tim Konservasi Fauna dan Flora TMBK Bukittinggi, ikut evakuasi harimau betina yang berusia kurang dari satu tahun tersebut. Dia bilang, jerat melilit hewan terancam punah itu di leher, dada/perut, serta kaki depan kanan.
“Awalnya kita pikir cuma kaki depan aja ternyata sekali tiga melilit ketauannya setelah dibius dan dilakukan evakuasi,” terangnya pada Mongabay.
Ajaibnya, tidak ada luka sama sekali. Tiga jerat yang melilit justru membuat harimau tersebut langsung terikat tidak bisa bergerak, sehingga tidak menyebabkan luka serius.
Saat ini, harimau dalam kondisi baik. Tim di TMBK terus memberi asupan dan memantau harimau itu.
Yoli bilang, mereka akan memastikan keberadaan induk di area tersebut sekitar seminggu sebelum pelepasliaran.
“Biasanya kalau induk harimau kehilangan anak, ia akan berkeliaran di sekitar situ. Kita pastikan dulu kondisi anak harimau ini, setelah itu baru rekomendasi untuk rilis disampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.“
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.

Marak harimau kena jerat
Kasus harimau kena jerat ini bukan pertama kali. Sebelumnya, Maret 2025, seekor harimau masuk kandang jebak yang BKSDA Sumbar pasang di hutan nagari Tigo Balai, Matur, Agam. Saat evakuasi, harimau tersebut dalam kondisi cacat, kaki depan bagian kiri terlihat buntung.
Telapak kaki depan putus, kemungkinan karena ketika kena jerat, masih sempat meloloskan diri. Saat ini, harimau tersebut ada di TMBK.
Lalu, satu harumau mati kena jerat, 25 Juli 2024. Si Belang yang perkiraan umurnya 2-3 tahun itu, mati dalam keadaan leher terjerat di area peladangan warga di Nagari Sungai Pua, Palembayan, Agam.
Hasil nekropsi memperlihatkan, harimau betina itu mati karena trakea pecah fraktur pada tulang leher dan mengakibatkan gagal napas akibat terjerat di leher.
Salpayanri, Direktur Institution Conservation Society (ICS), menyebut, masih banyak temukan jerat di hutan di Sumbar, terutama di kawasan konservasi, seperti TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) dan Hutan Lindung Batanghari (HLB).
Penelusuran ICS, pemburu memasang jerat di TNKS dan HLB di sepanjang jalur jelajah harimau.
“Ketika pemburu menemukan jejak harimau mereka akan pasang jerat. Bahkan, di kawasan kebun sawit seekor harimau pernah kena jerat,” ucapnya.
Dia menemukan beberapa jenis jerat dari kawasan hutan yang pernah dia jelajahi. Seperti jerat tapan, jerat kerinci, jerat lontar, jerat kijang atau rusa, dan jerat babi.
Jerat tapan, katanya, untuk harimau, menggunakan kawat baja yang terlilit pada akar kayu. Juga jerat lontar yang pemburu ikat pada kayu besar. Jika terkena kaki harimau, akan membuatnya tersangkut hingga akan terseok dan mati.
Kemudian, jerat kijang menggunakan tali kerbau. “Biasanya mengenai satwa agak kecil seperti macan dahan maupun kucing emas,” imbuhnya.
Kasus di Agam, katanya, merupakan jerat babi yang warga pasang di perkebunan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Di Kabupaten ini, orang juga banyak menggunakan jerat rusa, seperti di Solok Selatan.

Perlu regulasi
Dwi Nugroho Adhiasto, pegiat perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar, menyebut jerat merupakan ancaman utama satwa liar yang berada dalam satu area. Penggunaan jerat di kawasan hutan jumlahnya tidak sebanding dengan petugas yang melakukan patroli sapu jerat.
Sehingga, perlu ada regulasi yang mengatur penggunaan jerat. Tingginya penggunaan alat ini karena tidak ada aturan dalam penggunaannya.
“Jerat itu bisa dari bahan apa saja, mudah dibuat, dan murah, dibandingkan senjata rakitan ataupun kandang jebak. Selain itu, jerat bisa dipasang secara massal dengan metode macam-macam,” katanya saat Mongabay hubungi.
Dia bilang, ada indikasi kawasan penemuan harimau di Agam marak jerat. Karena itu, pengaturan jadi penting, untuk mengawasi distributor jerat.
Sunarto, Ekolog Satwa Liar, menilai perlu selesaikan akar masalah harimau kena jerat. Yaitu, menghentikan pemasangannya dan perburuan liar.
“Bersamaan dengan itu, hendaknya juga dapat dilakukan kajian sekaligus pengelolaan termasuk peningkatan pengetahuan, kesadaran dan kapasitas yang dapat mendorong tumbuhnya koeksistensi yang saling menguntungkan,” terangnya.
Antonius Vevri, Kepala Seksi Konservasi I BKSDA Sumbar, mengimbau masyarakat menghentikan penggunaan jerat, meskipun di area perkebunan. Karena, meski tujuannya untuk babi, satwa liar lain yang dilindungi, seperti kucing hutan dan harimau, bisa jadi korban.
BKSDA, katanya, meminta bantuan perangkat nagari untuk menyosialisasikan hal ini pada masyarakat.
“Di Sumbar yang banyak itu jerat ratus. Ketika ada satu anggota tubuh yang terjerat selanjutnya berpotensi menjerat anggota tubuh lainnya, ini yang berbahaya.”

*****
Kena Jerat, Harimau Sumatera Ditemukan Mati di Mandailing Natal