Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda.
Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di ketinggian kanopi dan jarang sekali terlihat manusia. Dan justru keindahan transformasinya itulah yang membuatnya menjadi incaran pedagang satwa.
Muh. Imam Ramdani dari komunitas Bogor Nature Wildlife Photography pertama kali menjumpainya secara tak terduga, saat hujan deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tim pengamat sedang bergerak pulang lebih awal demi keselamatan ketika sorot lampunya menangkap seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. “Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,” kata Imam. Malam itu, ular berada lebih rendah dari biasanya, bukan di ketinggian 10 hingga 20 meter seperti umumnya, kemungkinan sedang mencari mangsa.
Sanca pohon hijau utara adalah predator penyergap yang mengandalkan kesabaran. Nokturnal, hampir tidak bergerak saat menunggu, dan menyerang dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Tidak berbisa, dan cenderung menghindari manusia. Tapi persepsi masyarakat terhadapnya masih didominasi rasa takut. “Semua jenis ular dianggap bahaya,” kata Imam.
Secara ilmiah, Morelia azurea baru diakui sebagai spesies tersendiri sekitar 2019, dipisahkan dari Morelia viridis melalui publikasi ilmiah internasional yang menemukan perbedaan signifikan pada populasi di wilayah utara Papua. Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbarui pada 2018, sebelum pemisahan taksonomi itu terjadi. Secara administratif, ada kemungkinan spesies ini belum sepenuhnya tercakup dalam perlindungan hukum yang berlaku.
Celah hukum itu bertemu dengan tekanan perdagangan yang nyata. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut permintaan domestik untuk sanca hijau masih kerap dipenuhi dari tangkapan alam liar secara ilegal. Ironisnya, satwa hasil tangkapan liar justru memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih rendah dibanding hasil penangkaran, lebih rentan terhadap penyakit, dan lebih sering mati sebelum sempat beradaptasi. “Yang dalam negeri ini rata-rata masih diambil dari alam secara ilegal, padahal ini jenis dilindungi,” kata Amir.
Data populasi di alam liar pun hampir tidak ada. Perilaku nokturnal dan kecenderungan diam membuat survei konvensional sangat sulit dilakukan. “Yang kita butuhkan sekarang itu baseline data populasi, tapi itu tidak mudah didapat,” ujar Amir. Dokumentasi visual dari fotografer lapangan seperti Imam menjadi salah satu alternatif untuk memetakan distribusi spesies, meski harus disertai kehati-hatian agar lokasi tidak disalahgunakan pemburu.
Lahir kuning di kanopi hutan Papua, tumbuh hijau dan nyaris tak terlihat, lalu diburu sebelum ilmu pengetahuan sempat benar-benar memahaminya. Itulah lingkaran hidup Morelia azurea di Indonesia hari ini: spesies yang baru saja mendapat nama ilmiahnya sendiri, tapi belum mendapat perlindungan hukum yang memadai, sementara pemburunya sudah lama tahu di mana mencarinya.