Wajah geografis Sumatera Selatan terus mengalami perubahan drastis yang kian mengikis identitas baharinya. Provinsi yang dulunya diperkirakan memiliki ratusan pulau kecil atau delta di tengah lahan basah kini hanya menyisakan 23 pulau. Sebagian besar pulau yang tersisa, seperti Pulau Kemaro dan Pulau Kreto, kini berdiri sebagai peninggalan terisolasi di Sungai Musi, sementara ratusan pulau lainnya telah lenyap ditelan perubahan bentang alam yang masif.
Hilangnya pulau-pulau ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan akibat berkelanjutan dari alih fungsi lahan basah dan rawa gambut, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Hingga saat ini, ratusan ribu hektare rawa telah dikeringkan dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, hingga permukiman dan infrastruktur jalan darat. Pengeringan rawa dan pembangunan jalan yang menyambungkan daratan telah secara permanen menghapus batas perairan, membuat pulau-pulau kecil menyatu dengan daratan utama dan kehilangan eksistensinya.
Kepunahan pulau-pulau ini juga menandai memudarnya kearifan lokal masyarakat bahari Palembang. Secara historis, masyarakat Palembang memandang Sungai Musi sebagai “laut” dan daratan kecil di perairannya sebagai “pulau”. Mereka hidup beradaptasi dengan air melalui rumah rakit, perahu kajang, dan rumah panggung. Dalam pandangan masyarakat bahari tradisional, air bukanlah sumber bencana, melainkan sumber kehidupan dan jalur transportasi utama yang ramah.
Namun, pola pembangunan modern yang mengadopsi konsep daratan; dengan menimbun sungai, mengeringkan rawa, dan membangun infrastruktur tanpa tiang; telah memutus hubungan harmonis tersebut. Ironisnya, upaya untuk “mengusir” air dari ruang hidup manusia ini justru menjadi bumerang yang nyata saat ini. Setiap kali musim hujan tiba atau saat pasang laut naik, Sumatera Selatan, khususnya Palembang dan sekitarnya, kini semakin sering lumpuh oleh banjir dan genangan yang parah. Hilangnya daerah resapan air dan perubahan iklim memperburuk kondisi ini, menjadikan banjir sebagai bencana tahunan yang tak kunjung_finda solusinya.
Kini, hanya tersisa segelintir rumah rakit dan rumah panggung yang bertahan di tepian Sungai Musi, menjadi saksi bisu dari sebuah masyarakat yang semakin terasing dari perairannya sendiri. Hilangnya ratusan pulau di Sumatera Selatan bukan sekadar tragedi geografis atau hilangnya tutupan lahan basah, melainkan sebuah amnesia budaya yang mendalam. Masyarakat yang dulunya tangguh beradaptasi dengan air, kini harus berjuang keras bertahan hidup dari air yang sebenarnya mereka coba taklukkan.