Namanya mungkin belum sepopuler jati atau mahoni. Namun, resak brebes merupakan salah satu kekayaan tumbuhan Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam. Pohon bernama ilmiah Vatica javanica ssp. javanica ini merupakan tumbuhan endemik Jawa.
Resak brebes juga dikenal dengan nama kruing laki dan pelahlar laki. Ukurannya tergolong kecil hingga sedang. Tingginya dapat mencapai 27 meter dengan diameter batang setinggi dada sekitar 25 sentimeter.
Batangnya memiliki ciri khas berupa permukaan berwarna putih keabuan atau cokelat keabuan. Batangnya lurus dengan garis-garis mendatar yang melingkar. Sementara rantingnya ditutupi bulu-bulu halus yang rapat.
Kayu resak brebes dikenal keras dan kuat. Karakter tersebut membuatnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, seperti untuk rumah dan jembatan, bahkan untuk membuat ukiran.
Sayangnya, keberadaan pohon ini terus mengalami tekanan. Buku “Daftar Merah 50 Jenis Pohon Kayu Komersial” yang diterbitkan Pusat Penelitian Biologi LIPI, kini BRIN, menyebut populasinya diperkirakan menurun hingga 50 persen dalam kurun 100 tahun. Kualitas habitatnya juga mengalami penurunan.
Ancaman utamanya datang dari perubahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang terjadi secara masif di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat habitat resak brebes semakin terdesak dan populasinya menurun.
Gambaran keberadaannya dapat dilihat di Desa Capar, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pada Oktober 2021, komunitas Biologi Satu melakukan ekspedisi selama tiga bulan untuk mendata populasi resak brebes, mencatat ancaman, sekaligus mengenalkan pentingnya pelestarian pohon ini kepada masyarakat.
Pengamatan dilakukan pada delapan plot berukuran masing-masing 20 × 20 meter. Hasilnya, ekspedisi mendata 260 individu per hektare. Peneliti juga mencatat 200 seedling atau anakan pohon dengan tinggi kurang dari 150 sentimeter.
Namun, jumlahnya menurun pada tahap pertumbuhan berikutnya. Hanya tercatat 19 sapling atau pohon muda dengan tinggi lebih dari 150 sentimeter dan diameter 5–10 sentimeter. Sementara pohon pada kategori tiang dengan diameter 10–20 sentimeter hanya ditemukan sebanyak 15 individu.
Di lokasi tersebut, ancaman yang ditemukan antara lain penebangan kayu gelondongan dan pembukaan lahan. Habitat resak brebes juga terbilang kecil. Sebagian lahan dibuka masyarakat untuk dijadikan kebun kopi karena dinilai lebih produktif dan memberikan keuntungan ekonomi.
Upaya penyelamatan terus dilakukan. Setelah ekspedisi selesai, komunitas Biologi Satu melakukan kampanye ke sekolah-sekolah, pemerintah desa, dan melalui media sosial. Mereka juga menjalankan program adopsi pohon di Desa Capar serta penggalangan dana untuk mendukung kegiatan konservasi.
Ancaman yang dihadapi resak brebes juga menggambarkan persoalan pohon langka lainnya. Pemanfaatan berlebihan dan penyempitan habitat dapat menekan populasinya. Kerusakan habitat juga dapat menurunkan variasi genetik dan kesehatan jenis pohon.
Regenerasi pohon bahkan berhubungan dengan keberadaan satwa yang membantu penyerbukan bunga dan penyebaran biji. Ketika lingkungan dan habitat satwa ikut rusak, proses regenerasi pohon menjadi semakin sulit.
Resak brebes mungkin hanya satu jenis pohon di antara tingginya keanekaragaman tumbuhan Indonesia. Namun, karena hanya hidup alami di Jawa, hilangnya pohon ini berarti hilangnya salah satu tumbuhan endemik Pulau Jawa.
Foto utama: Pohon sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, satwa, dan Bumi tempat kita hidup. Foto: Rhett Butler/Mongabay.