Tomoki Kojima naik ke panggung dengan tenang, lalu membuka jaketnya untuk memperlihatkan kemeja bermotif zebra. Dua rekannya maju membawa papan bergambar lalat dan berpura-pura menyerangnya. Penonton tertawa. Tapi di balik adegan kocak itu, ada penelitian yang benar-benar bisa mengubah cara peternak sapi menghadapi salah satu masalah paling mahal di industri peternakan global.
Kojima dan timnya dari Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional Jepang baru saja menerima Ig Nobel 2025 kategori biologi, penghargaan satir yang diberikan setiap tahun untuk penelitian yang terdengar konyol tapi pada akhirnya mendorong pemikiran serius. Temuannya: mengecat sapi hitam dengan garis-garis putih menyerupai zebra membuat lalat penghisap darah hinggap 50 persen lebih sedikit.
Ide ini bermula dari pertanyaan lama dalam biologi: untuk apa garis zebra? Berbagai hipotesis sudah diajukan, dari kamuflase terhadap predator hingga pengenalan sesama. Tapi semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa pola hitam putih yang kontras menciptakan ilusi visual yang membingungkan mata serangga, membuat mereka kesulitan menentukan tempat mendarat.
Kojima mulai serius menguji hipotesis ini setelah seorang peternak Wagyu berkonsultasi kepadanya tentang masalah lalat yang sulit diatasi tanpa insektisida. Eksperimennya sederhana: satu sapi dicat garis putih menyerupai zebra, satu dicat garis hitam sebagai kontrol, satu dibiarkan polos. Proses pengecatan hanya memakan waktu sekitar lima menit per ekor. Selama beberapa hari, tim mengamati jumlah lalat yang hinggap dan perilaku sapi dalam mengusir serangga.
Hasilnya konsisten. Sapi bergaris zebra menarik separuh lebih sedikit lalat dibanding sapi polos maupun sapi bercat hitam. Lebih dari itu, sapi bergaris terlihat lebih tenang, jarang mengibas ekor atau menghentak kaki, tanda berkurangnya stres akibat gigitan serangga. Penelitian ini dipublikasikan pada 2019 di jurnal PLOS ONE, tapi baru mendapat perhatian luas setelah masuk Ig Nobel.
Konteks ekonominya tidak bisa diabaikan. Di Amerika Serikat saja, kerugian industri sapi akibat serangan lalat diperkirakan lebih dari 2,2 miliar dolar AS per tahun. Lalat penghisap darah bukan hanya mengganggu, mereka menjadi vektor penyakit, menurunkan produktivitas, mengurangi produksi susu, dan melemahkan daya tahan tubuh ternak jika stres berlangsung lama. Insektisida selama ini menjadi solusi utama, tapi menimbulkan masalah tersendiri: resistensi serangga, residu kimia di tanah dan air, serta risiko kesehatan bagi hewan dan manusia.
Tantangan praktisnya tetap ada. Mengecat sapi satu per satu tidak realistis di peternakan berskala besar. Kojima dan beberapa peternak di Prefektur Yamagata sudah mencoba alternatif dengan memutihkan bulu sapi agar pola bertahan lebih lama. Hasilnya mengejutkan bahkan peternak yang awalnya skeptis.
Di negara tropis seperti Indonesia, di mana populasi lalat tinggi dan kerugian akibat penyakit ternak signifikan, pendekatan ini layak dieksplorasi lebih jauh. Cat berbasis air atau pemutihan bulu relatif murah, aman, dan tidak meninggalkan residu kimia. Kadang solusi terbaik memang datang dari tempat yang paling tidak terduga, dalam hal ini, dari savana Afrika dan seekor kuda bergaris yang sudah lama menjawab pertanyaan yang belum pernah kita tanyakan dengan benar.