Sorgum bukan tanaman baru bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Tanaman pangan ini telah lama dibudidayakan petani setempat, terutama di daerah kering dan berbatu. Di tengah ancaman iklim dan krisis pangan, sorgum kembali dilihat sebagai bahan pangan yang berpotensi dikembangkan.
Pegiat sorgum asal Flores Timur, Maria Loretha, menyebut tanaman ini lebih tahan menghadapi krisis iklim dibandingkan padi dan jagung. Ketika terkena banjir atau angin kencang, batang jagung dapat patah. Sementara batang sorgum yang patah masih dapat tumbuh kembali.
Kemampuan tersebut membuat sorgum cocok dengan kondisi alam di sejumlah wilayah NTT. Meski demikian, pengembangannya tetap perlu dilakukan secara terarah. Menurut Maria, tidak seluruh wilayah NTT harus ditanami sorgum. Pemerintah perlu menentukan kawasan yang menjadi prioritas.
Sorgum juga memiliki nilai ekonomi bagi petani. Harga jualnya dapat mencapai hampir dua kali lipat harga jagung. Namun, pengembangan komoditas ini membutuhkan dukungan berupa mesin perontok, mesin sosoh, serta pihak yang menjamin hasil panen dapat diserap pasar.
Selain tahan tumbuh di lahan kering, sorgum memiliki potensi sebagai sumber pangan. Koalisi Pangan BAIK yang bekerja di Manggarai Timur, Flores Timur, dan Lembata menyebut tanaman ini memiliki struktur kompleks seperti pati, asam fenolat, dan antioksidan.
Berdasarkan uji laboratorium yang mereka lakukan, sorgum juga kaya serat dan bebas gluten. Sorgum juga ramah dikonsumsi penyintas diabetes.
Potensi sorgum tidak hanya terbatas sebagai makanan lokal. Tanaman ini juga dipandang dapat menjadi pengganti gandum untuk industri mie dan roti. Pemerintah mendorong pengembangannya jika Indonesia terdampak kebijakan larangan ekspor gandum dari sejumlah negara produsen.
Sorgum disebut secara genetik masih satu keluarga dengan gandum. Karena itu, pengembangan produksinya diharapkan dapat membantu menyediakan bahan baku alternatif bagi industri pangan yang selama ini memakai gandum.
Sorgum telah dikembangkan pada lahan seluas sekitar 15 ribu hektar. Wilayahnya mencakup Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung.
Tingkat hasil panennya berbeda antarwilayah. Di NTT, produktivitas sorgum berada pada kisaran tiga hingga empat ton per hektar. Sementara di Jawa, hasilnya dapat mencapai empat hingga lima ton per hektar.
Pemerintah Provinsi NTT juga merencanakan pengembangan sorgum dalam skala lebih besar. Sekitar 800 ribu hektar lahan akan disiapkan, sementara 15 kabupaten diproyeksikan memanfaatkan masing-masing 100 hektar untuk budidaya.
Namun, produksi saja tidak cukup. Petani akan mempertimbangkan biaya penanaman dan pendapatan yang diperoleh. Karena itu, diperlukan benih unggul, peralatan pengolahan, serta kepastian pembeli agar hasil panen tidak berhenti di tingkat petani.
Sorgum memiliki sejumlah modal penting: telah lama dikenal petani NTT, mampu tumbuh di daerah kering berbatu, lebih tahan terhadap perubahan cuaca, dan dapat diolah sebagai pengganti gandum. Dengan dukungan budidaya, pengolahan, dan pasar, tanaman ini berpotensi menjadi pilihan sumber pangan Indonesia.
Artikel asli ditulis oleh Ebed de Rosary.