Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara penghasil kopi dunia.
Berbagai penelitian memperkirakan bahwa dalam 25 tahun mendatang sekitar 80% produksi kopi arabika akan terdampak perubahan iklim. Produktivitas kopi arabika maupun robusta diproyeksikan turun hingga 50% akibat semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk budidaya. Sebagian spesies kopi bahkan dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat.
Dampaknya sudah mulai dirasakan di lapangan. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, produksi kopi menunjukkan tren penurunan hingga 8,8% dalam kurun 2021-2023. Ironisnya, penurunan ini terjadi ketika luas perkebunan justru meningkat sekitar 6,7%. Artinya, memperluas lahan tidak otomatis menghasilkan panen yang lebih banyak jika kondisi iklim tidak lagi mendukung. Pada periode yang sama, curah hujan di wilayah tersebut juga mengalami penurunan drastis.
Kopi memang dikenal sebagai tanaman yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan kecil pada suhu, kelembapan, atau ketersediaan air tanah dapat mempengaruhi proses pembungaan hingga pembentukan buah. Cuaca ekstrem juga menciptakan masalah baru berupa meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat semakin banyak wilayah tidak lagi cocok untuk menghasilkan kopi secara optimal.
Di Jambi, tantangan yang dihadapi petani bahkan lebih rumit. Selain cuaca yang tidak menentu, petani kopi liberika juga menghadapi intrusi air laut yang membuat tanaman layu dan mati secara perlahan. Krisis iklim ternyata hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perubahan pola hujan hingga perubahan kondisi tanah yang sebelumnya mendukung pertumbuhan kopi.
Ancaman ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan jutaan orang. Secara global, sekitar 125 juta orang bergantung pada kopi sebagai sumber penghidupan. Industri ini juga ditopang oleh tenaga kerja perempuan yang mencapai sekitar 70%. Meski demikian, hanya sekitar 20–30% perempuan yang memiliki kesempatan memimpin perkebunan kopi. Ketika produksi menurun akibat krisis iklim, kelompok inilah yang menjadi salah satu pihak paling rentan menerima dampaknya.
Cerita para petani menggambarkan ancaman tersebut dengan lebih nyata. Agus, petani kopi di Enrekang, mengaku hasil panennya turun hingga 50%. Petani robusta Nursam Arifuddin juga mengalami penurunan panen akibat cuaca yang semakin sulit diprediksi. Efek berantai kemudian merambat ke hilir. Agil Valentino, pemilik kedai kopi di Makassar, mengaku mulai kesulitan memperoleh pasokan biji kopi Enrekang karena produktivitas petani terus menurun, padahal kopi tersebut memiliki pelanggan tetap.
Situasinya menjadi semakin paradoks ketika permintaan kopi dunia justru terus meningkat. Data Organisasi Kopi Internasional (ICO) menunjukkan produksi kopi sejak 2020 turun sekitar 1,7%, sementara konsumsi meningkat sekitar 2–2,5%. Di sisi lain, sekitar 25 juta petani kecil menghasilkan 80% produksi kopi dunia, tetapi harga setengah kilogram kopi yang mereka jual hanya bernilai kurang dari satu dolar AS.