Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. “Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,” katanya.
Hampir tidak ada yang merespons dengan serius.
Data BPS memperlihatkan tren yang konsisten ke arah itu. Dari 2002 hingga 2022, populasi kerbau nasional secara keseluruhan terus menurun. Antara 2021 dan 2022 saja, jumlahnya turun dari 1.143.189 ekor menjadi 1.088.483 ekor. Di Pulau Jawa, seluruh provinsi mencatat penurunan. Dari 38 provinsi di seluruh Indonesia, hanya 13 yang populasi kerbaunya naik.
Penyebabnya tidak tunggal. Peneliti BRIN Peni Wahyu Prihandini dan tim, dalam laporan di jurnal Veterinary World 2023, mencatat rendahnya tingkat reproduksi dan manajemen pemeliharaan yang belum optimal sebagai faktor utama. Ditambah keterbatasan pakan di musim kemarau, alih fungsi lahan penggembalaan, meningkatnya penggunaan mesin pertanian, fragmentasi habitat, dan menyempitnya keragaman genetik.
Ironisnya, kerbau adalah hewan yang secara biologis sangat tangguh. Suhu tubuh, respirasi, dan denyut nadinya lebih rendah dari kebanyakan sapi. Ia mampu menghasilkan susu dan daging berkualitas tinggi meski hanya diberi pakan hijauan berkualitas rendah. Kerbau Sumbawa bertahan hidup di sabana dengan kekeringan lebih dari delapan bulan per tahun. Kerbau Pampangan betah berendam di rawa gambut Sumatera Selatan. Anoa, kerabat terkecilnya yang hidup di hutan Sulawesi dan Buton, bahkan menjadi indikator kelestarian hutan.
Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan ras kerbau yang luar biasa. Ada Anoa, Gayo, Jawa, Kalang, Kuntu, Moa, Murrah, Pampangan, Simeulue, Sumbawa, Toraya, dan beberapa lainnya. Hampir seluruhnya dari jenis kerbau rawa, berbeda dari kerbau sungai yang lebih umum di India dan kawasan barat Asia, yang populasinya justru naik secara global karena permintaan susu dan dagingnya yang tinggi.
Susu kerbau memiliki kandungan lemak dan protein lebih tinggi dari susu sapi, dan bisa diolah menjadi keju, mentega, serta yogurt dengan nilai jual lebih tinggi. Daging kerbau mengandung kolesterol lebih rendah dari sapi. Di tengah perubahan iklim yang mendorong kondisi lebih panas dan lembap, kerbau secara teoritis justru lebih adaptif dibanding ternak lain sebagai sumber protein hewani masa depan.
Tapi potensi itu tidak akan terwujud jika tidak ada yang cukup peduli untuk menyelamatkannya. Pemandangan seorang anak menggembala kerbau di sawah, yang selama ini dianggap pemandangan biasa, mungkin sedang dalam perjalanan menuju kenangan. Dan ketika ia benar-benar hilang, kita baru akan menyadari bahwa ancaman itu sudah lama diumumkan, hanya saja tidak ada yang benar-benar mendengarkan.