Kucing merah Kalimantan (Catopuma badia) merupakan satu-satunya spesies kucing endemik di Pulau Kalimantan. Dikenal dengan bulu coklat kemerahan yang indah dan ekor panjangnya, satwa ini masuk dalam daftar merah IUCN sebagai spesies terancam punah. Populasinya di alam liar diperkirakan tersisa kurang dari 2.500 ekor, dengan habitat alami yang terus menyusut drastis setiap tahunnya akibat aktivitas manusia di dunia.
Spesies ini pertama kali ditemukan oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1856. Namun, setelah beberapa spesimen dikumpulkan oleh ilmuwan, kucing ini tiba-tiba menghilang dari pengamatan ilmiah selama lebih dari 60 tahun. Keberadaannya baru terbukti kembali pada November 1992 ketika seekor betina yang hampir mati ditemukan warga lokal dan dibawa ke museum di Sarawak. Hingga kini, kucing ini tetap menjadi misteri besar yang belum terpecahkan. Para peneliti bahkan belum mengetahui secara pasti apa makanan favorit, relung ekologi, jenis hutan yang disukai, hingga pola reproduksi mereka di alam liar.
Kerabat terdekatnya adalah kucing emas Asia, namun keduanya telah terpisah secara evolusi selama lebih dari tiga juta tahun. Saking sulitnya dilacak, mendapatkan foto kucing ini di alam liar sangatlah langka. Susan Cheyne dari Borneo Nature Foundation menghabiskan 16 tahun memasang kamera jebak di Taman Nasional Sebangau tanpa berhasil menangkap satu pun gambar kucing merah, meskipun empat spesies kucing Kalimantan lainnya terekam jelas. Secara global, kamera jebak di seluruh hutan tropis tercatat hanya menangkap gambar mereka kurang dari seratus kali saja.
Meskipun sangat elusif, penelitian di Hutan Lindung Kalabakan, Sabah, memberikan sedikit terang. Data menunjukkan kepadatan populasi yang sangat rendah, yaitu sekitar tiga ekor per 100 km persegi. Menariknya, kucing merah tercatat sebagai kucing dengan pergerakan tercepat di Kalimantan, mencapai 1,2 km per jam. Kecepatan dan kepadatan yang rendah ini mengindikasikan bahwa mereka memiliki wilayah jelajah yang sangat luas dan mungkin membutuhkan habitat atau mangsa yang sangat spesifik untuk bertahan hidup.
Ancaman utama bagi kelangsungan hidup kucing merah adalah hilangnya habitat secara masif. Sejak tahun 1970-an, separuh hutan Kalimantan telah hilang akibat deforestasi. Kucing ini tidak ditemukan di hutan gambut maupun perkebunan kelapa sawit, sehingga mereka sangat bergantung pada kawasan hutan utuh yang masih terhubung. Selain itu, perburuan untuk dikonsumsi, pembunuhan karena dianggap mengancam ternak, serta jerat yang dipasang warga menjadi ancaman mematikan lainnya. Mengingat populasinya yang sangat sedikit, setiap angka kematian akan berdampak sangat buruk bagi kelangsungan hidup populasi secara keseluruhan. Tanpa intervensi segera, masa depan mereka di alam liar akan semakin suram.
Saat ini, belum ada organisasi yang secara khusus fokus pada konservasi kucing merah karena kelangkaannya menyulitkan pencarian dana. Namun, secercah harapan mulai muncul dari program pendanaan konservasi kucing liar kecil secara global yang lebih besar. Para ahli juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat lokal. Menggali cerita, mitos, dan pengetahuan tradisional warga setempat tentang kucing merah diyakini dapat memberikan petunjuk berharga. Langkah kolaboratif ini sangat penting untuk menyelamatkan spesies misterius ini dari kepunahan selamanya, memastikan warisan alam Borneo tetap lestari bagi generasi mendatang.