Secara alami, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak kucing hutan sering berkeliaran atau ditemukan masyarakat di pinggiran hutan tanpa induknya.
Faktor pertama berkaitan dengan upaya perlindungan dari pemangsa. Indukan betina memiliki kecenderungan untuk bergeser ke wilayah pinggiran hutan yang berbatasan dengan kebun pada masa melahirkan dan mengasuh anak. Perilaku ini diperkirakan sebagai strategi indukan untuk menghindari ancaman kucing jantan dewasa. Kucing jantan terkadang memiliki sifat kanibal yang dapat membunuh anak-anaknya sendiri demi mengurangi persaingan di habitat mereka.
Faktor kedua adalah ketersediaan pakan. Wilayah perbatasan hutan atau ekoton menawarkan sumber makanan yang jauh lebih melimpah dan mudah didapatkan daripada di dalam hutan core. Di area perkebunan kelapa sawit, misalnya, anak dan induk kucing hutan bisa dengan mudah menemukan mangsa seperti tikus atau amfibi. Kelimpahan mangsa ini menarik perhatian induk kucing hutan untuk membawa anak-anak mereka beraktivitas di dekat batas area kebun penduduk.
Faktor ketiga adalah perilaku alami anak kucing itu sendiri. Sama seperti kucing domestik, anakan kucing hutan sering kali mengeluarkan suara bising atau mengeong terus-menerus saat ditinggalkan oleh induknya. Induk kucing hutan biasanya harus pergi berburu dalam waktu tertentu dan meninggalkan anak-anaknya di tempat persembunyian sementara. Suara bising dari anakan yang kelaparan atau mencari induknya inilah yang sering kali memicu masyarakat atau petani setempat untuk menemukan keberadaan mereka secara tidak sengaja.
Oleh karena itu, para ahli konservasi mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengevaluasi atau mengambil anakan kucing hutan yang terlihat sendirian di pinggir hutan. Besar kemungkinan induknya tidak benar-benar pergi atau menelantarkan anaknya, melainkan hanya sedang berburu makanan di sekitar area tersebut. Mengevakuasi mereka terlalu cepat justru berisiko memisahkan anak kucing dari induknya secara permanen. Kemunculan satwa dilindungi ini di area perbatasan kebun juga bukan merupakan indikasi bahwa habitat asli mereka di dalam hutan telah rusak total, melainkan murni karena pola adaptasi kelangsungan hidup dan pemenuhan kebutuhan logistik alami mereka.