Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di Sumba yang diberi nama pribadi. Memberinya nama terasa terlalu merendahkan.
Dan justru di tempat yang paling mencintai kuda itulah, ras asli kuda Sumba kini semakin sulit ditemukan.
Kuda khas Sumba dikenal dengan nama Sandalwood pony, kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di pulau ini selama berabad-abad. Namanya dikaitkan dengan kayu cendana, komoditas ekspor historis dari Nusa Tenggara. Secara fisik tingginya hanya 110 hingga 130 sentimeter, bertubuh serasi dengan dada lebar dan dalam. Yang membuatnya istimewa bukan penampilannya, melainkan staminanya. Kuda Sandalwood mampu bekerja keras di medan sabana yang keras, di bawah terik yang panjang, dengan pakan seadanya.
Kuda inilah yang menghidup-hidupkan Pasola, ritual perang tombak berkuda tahunan yang sudah dikenal hingga mancanegara. “Kuda selalu ada dalam setiap upacara adat Sumba,” kata Palanggarimu, bangsawan dari Prailiu yang akrab dipanggil Umbu Angga. Di antara tiga hewan ternak paling penting dalam kehidupan adat Sumba, yaitu babi, kerbau, dan kuda, kuda adalah yang perannya paling lengkap.
Tapi justru kecintaan masyarakat Sumba pada pacuan kuda yang kini mengancam kemurnian ras ini. Kuda Sandalwood kalah cepat dari kuda impor karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Para pemilik kuda pun mulai mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia yang lebih besar, demi mendapatkan kuda pacu yang lebih kompetitif. Praktik ini sebenarnya bukan hal baru, bahkan sudah berlangsung sejak era kolonial Belanda di abad ke-19, ketika kuda Eropa didatangkan untuk dikawinkan dengan kuda Sumba.
Akibatnya, populasi kuda Sandalwood murni terus menyusut. Kepala Dinas Peternakan Sumba Timur, Yohanes Ratamuri, mengakui bahwa empat hingga lima tahun sebelumnya, kuda Sandalwood masih mudah ditemui di hampir seluruh wilayah Sumba Timur. “Tetapi di masa sekarang, hanya bisa ditemukan secara sporadis di daerah-daerah tertentu saja,” katanya. Data 2018 mencatat 32.983 ekor kuda Sandalwood dan kuda silang, tanpa pemisahan yang jelas antara keduanya.
Payung hukum sebetulnya sudah ada. Permentan No.426/2014 menetapkan rumpun kuda Sandalwood, dan Keputusan Menteri Pertanian No.1/2019 menetapkan Kecamatan Matawai La Pawu sebagai wilayah sumber bibit, dengan target pemurnian sekitar 800 ekor. Tapi tanpa data yang akurat tentang berapa kuda murni yang tersisa, upaya pelestarian ini berjalan di atas dasar yang goyah.
Kuda Sandalwood adalah bagian dari identitas Sumba yang sudah berusia berabad-abad. Kehilangannya bukan hanya soal satu ras kuda yang punah, melainkan hilangnya sebagian dari cara hidup, cara mati, dan cara manusia Sumba memahami dirinya sendiri. Di tempat yang paling mencintai kuda, ras aslinya justru perlahan menghilang. Itulah ironinya.