Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan rumah kita, namun justru paling jarang mendapat perhatian.
Nama Inggrisnya, Common Tailorbird, bukan tanpa alasan. Burung ini membangun sarang dengan cara menjahit lembaran daun menggunakan serat alami dan jaring laba-laba, sebuah teknik yang membuat para pengamat burung berdecak kagum. Afinna Aninnas, peneliti dari Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya, bahkan menyebut teknik konstruksi sarang cinenen pisang bisa menjadi inspirasi bagi manusia dalam merancang struktur bangunan.
Secara penampilan, cinenen pisang memadukan warna hijau zaitun di punggung dan sayap, putih keabu-abuan di bagian bawah tubuh, serta mahkota merah karat yang menjadi ciri khasnya. Paruhnya sedikit panjang dan meruncing, sangat pas untuk menangkap serangga kecil seperti ulat, jangkrik, dan telur semut. Kicauannya nyaring dan variatif, sehingga keberadaannya mudah dideteksi bahkan tanpa melihat langsung.
Cinenen pisang tersebar luas di Pulau Jawa dan berbagai negara Asia, mulai dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, hingga Kamboja. Habitatnya beragam: pekarangan rumah, sawah, semak belukar, hingga hutan produksi. Justru karena terlalu umum itulah, burung ini kerap luput dari agenda riset. “Populasinya masih banyak, sehingga kurang menarik perhatian para peneliti,” kata Afinna. Padahal menurutnya, perilaku burung ini, terutama respons terhadap berbagai intervensi di habitat yang berbeda, masih sangat layak untuk dikaji lebih dalam.
Status konservasi cinenen pisang memang belum masuk kategori dilindungi. Namun itu bukan jaminan keamanannya. Burung ini cukup diminati kalangan kicau mania, sehingga perburuan tetap terjadi, termasuk oleh anak-anak di desa yang menjadikannya sasaran di waktu luang. Jika perburuan berlangsung masif tanpa kontrol, penurunan populasi bukan hal yang mustahil.
Penyitaan besar-besaran di Pelabuhan Bakauheni pada Oktober 2024 yang menyita lebih dari 6.500 burung liar membuktikan bahwa cinenen pisang termasuk salah satu spesies yang paling banyak diperdagangkan. Dari total 121.689 burung kicau Sumatera yang disita antara 2021 dan 2023, sebagian besar adalah prenjak dan cinenen pisang. Burung yang selama ini kita anggap “biasa” itu, ternyata sedang menghadapi tekanan yang tidak biasa.