<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=wulan-eka-handayani&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/wulan-eka-handayani/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 09 Aug 2026 23:48:23 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>
				<item>
					<title>Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 23:48:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/08/22000940/Atuk-Sukar-Ketua-Adat-Suku-Mapur-di-Dusun-Pejem-Pulau-Bangka-yang-masih-menetap-di-sekitar-hutan-larangan-Bukit-Tabun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131731</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Afrida Erna Ngato masih waswas dan trauma pasca penetapan tersangka pada 14 April 2026. Perempuan adat Suku Pagu Halmahera Utara, di Maluku Utara ini khawatir bepergian sendiri,  bahkan tak berani beraktivitas seperti belanja ke pasar sekalipun. “Kemana-mana saya menyamar pakai kerudung,” ujar Afrida kepada Mongabay Indonesia. Rasa waswas itu membuat dia takut pergi berladang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/">Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Afrida Erna Ngato masih waswas dan trauma pasca penetapan tersangka pada 14 April 2026. Perempuan adat Suku Pagu Halmahera Utara, di Maluku Utara ini khawatir bepergian sendiri,  bahkan tak berani beraktivitas seperti belanja ke pasar sekalipun. “Kemana-mana saya menyamar pakai kerudung,” ujar Afrida kepada Mongabay Indonesia. Rasa waswas itu membuat dia takut pergi berladang. Bahkan sebagai guru sekolah, dia sempat tak mengajar. Baru belakangan dia memberanikan diri. “Sampai sekarang masih ada perasaan takut. Takut polisi tiba-tiba sergap atau orang jahat.” Afrida cerita, penetapan tersangka itu berdampak pada keluarga. Anak-anaknya yang seharusnya berkuliah di Jakarta mengurungkan niat karena khawatir meninggalkan Ida di rumah. Ida jadi tersangka karena tuduhan menghalang-halangi aktivitas tambang emas PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) di Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara (Malut). Dia juga dianggap melakukan aktivitas tambang ilegal di area konsesi perusahaan. Afrida bahkan sempat masuk daftar pencarian orang (DPO) pada 19–31 Mei lalu. Penetapan DPO itu lantaran Ida, sapaan akrabnya, tidak ada di rumah saat polisi berpasukan lengkap ingin menangkapnya pada 19 Mei siang. “Saya sedang di rumah saudara saat itu.” Kasus Ida bermula pada 2023, saat dia menolak rencana perluasan tambang emas perusahaan di wilayah adat Suku Pagu. Ida lalu menggelar ritual adat bersama warga sebagai bentuk protes. Dia juga aktif menyuarakan hak-hak pekerja tambang yang acapkali tidak perusahaan penuhi. Dia bahkan mengkoordinir sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda untuk demo di depan perusahaan. Jerat hukum kerap masyarakat adat hadapi ketika melawan perusahaan atau protes tak ingin lingkungan rusak maupun mau menjaga wilayah adat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 23:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/09232449/505612189_1dc34be718_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131727</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dikenal luas di dapur-dapur Indonesia sebagai bahan pengasam alami, pengganti asam jawa atau tomat dalam berbagai masakan. Namun di balik popularitasnya, buah ini juga tercatat sebagai salah satu buah paling asam di dunia, dengan kandungan asam oksalat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerabat dekatnya, belimbing manis (Averrhoa carambola). Klaim keasaman ini  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/">Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dikenal luas di dapur-dapur Indonesia sebagai bahan pengasam alami, pengganti asam jawa atau tomat dalam berbagai masakan. Namun di balik popularitasnya, buah ini juga tercatat sebagai salah satu buah paling asam di dunia, dengan kandungan asam oksalat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerabat dekatnya, belimbing manis (Averrhoa carambola). Klaim keasaman ini  didukung oleh pengukuran laboratorium. Tingkat keasaman buah biasanya diukur lewat dua parameter, yaitu pH (skala yang menunjukkan konsentrasi ion hidrogen, semakin rendah nilainya semakin asam) dan titratable acidity atau keasaman tertitrasi (jumlah asam total yang dapat dinetralkan lewat proses titrasi dengan basa). Sebuah penelitian mencatat pH jus belimbing wuluh berada di angka 2,2, dengan titratable acidity sebesar 0,66 persen. Sebagai perbandingan, penelitian lain terhadap buah sejenis dari Brasil mencatat bahwa pH daging buahnya lebih rendah dibandingkan buah-buah yang lazim dianggap sangat asam oleh masyarakat umum, seperti lemon, acerola, dan markisa. Selain pH, kandungan asam oksalat pada belimbing wuluh juga tercatat mencapai 10 hingga 14 miligram per gram pada buah muda, dan 8 hingga 10 miligram per gram pada buah matang, jauh lebih tinggi dibandingkan belimbing manis. Buah belimbing wuluh bergelantungan lebat langsung dari cabang pohonnya, salah satu ciri khas tanaman ini yang mampu menghasilkan puluhan kilogram buah per tahun. Meski melimpah, buah ini nyaris tidak pernah dimakan langsung karena rasa asamnya yang sangat tajam. Foto: Fpalli/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0) Buah ini berbentuk lonjong, panjang sekitar 4 sampai 10 sentimeter, dengan kulit tipis berlilin yang berubah dari hijau muda menjadi kuning kehijauan saat matang. Dagingnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jamin Hak dan Perlindungan,  Koalisi Masukkan 11 Poin Substansi RUU Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 13:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Themmy Doaly]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230639/Nikel-haltim-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131698</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat sipil memakai momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (Himas), 9 Agustus, mendesak pemerintah segera mengakui dan melindungi hak masyarakat masyarakat adat atas wilayahnya. Secara khusus, dalam proses penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Masyarakat Adat. Tahun 2026, secara global, Himas mengambil tema “Menghormati dukun beranak: memajukan hak, memastikan keberlanjutan budaya dan mempromosikan kesejahteraan antar generasi.” Veni [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/">Jamin Hak dan Perlindungan,  Koalisi Masukkan 11 Poin Substansi RUU Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat sipil memakai momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (Himas), 9 Agustus, mendesak pemerintah segera mengakui dan melindungi hak masyarakat masyarakat adat atas wilayahnya. Secara khusus, dalam proses penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Masyarakat Adat. Tahun 2026, secara global, Himas mengambil tema “Menghormati dukun beranak: memajukan hak, memastikan keberlanjutan budaya dan mempromosikan kesejahteraan antar generasi.” Veni Siregar, Koordinator Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat, bilang, tema dukun beranak berkaitan erat dengan pengetahuan masyarakat adat, khusus, perempuan adat, dalam melestarikan dan merawat pengetahuan tradisional. Peran penting itu terbukti dari kemampuan dukun beranak dalam melayani kebutuhan medis masyarakat, jauh sebelum ilmu dan teknologi kedokteran berkembang. Sampai sekarang, peran itu masih masyarakat adat butuhkan. Terutama di wilayah-wilayah yang belum terjangkau fasilitas dan layanan kesehatan dari negara. Namun, pengetahuan tradisional ini tidak mungkin bertahan tanpa kepastian dan jaminan terhadap ruang hidup masyarakat adat. Karena itu, pemerintah harus memberi pengakuan terhadap kedaulatan wilayah, pengetahuan tradisional dan pengakuan hak-hak perempuan adat. “Apalagi dukun beranak kerap kali menghadapi diskriminasi dan stigmatisasi ketika menjalankan perannya,” katanya pada Mongabay, Jumat (7/8/26). Proses pembersihan gabah oleh masyarakat adat Banasu, Kabupaten Sigi. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia. Subtansi hak perempuan adat dan pengetahuan trandisional hilang dari RUU Masyarakat Adat? Ironisnya, substansi tentang hak perempuan adat dan pengetahuan tradisional itu hilang dari usulan Badan Legislatif (Baleg). Hingga dalam suatu pertemuan dengan tenaga ahli Baleg dan Pimpinan DPR, Juli lalu, Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat meminta hak perempuan adat dan pengetahuan tradisional itu kembali masuk substansi RUU. “(Hak perempuan adat dan pengetahuan tradisional) itu hal yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 10:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/02/22014938/Kepiting-kenari1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131638</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter. Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan. Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/">Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter. Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan. Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan SK MenHut No.12/Kpts/II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dan masuk dalam Daftar Merah Spesies IUCN dengan status Rentan (Vulnerable/VU). Meski berstatus hewan dilindungi, tetapi kepiting kenari kerap diburu dan dijual untuk dikonsumsi. Bahkan harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp800.000 per ekornya. Di Indonesia, kepiting kenari dapat ditemukan di beberapa wilayah, salah satunya Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, mereka biasa tinggal di lubang-lubang bebatuan di pesisir pantai atau di antara bekas kayu. Kepiting kenari memiliki ketertarikan kuat terhadap kelapa. Warga Togean bahkan menggunakan potongan daging kelapa sebagai umpan. Potongan itu ditebar di sekitar lubang persembunyian. Saat malam tiba, kepiting akan mencium aroma kelapa, keluar dari lubangnya, lalu memakan umpan tersebut. Mengapa kepiting kenari begitu menyukai kelapa? Jawabannya ternyata belum benar-benar diketahui. Artikel Mongabay Indonesia mencatat belum banyak penelitian yang menjelaskan alasan di balik kegemaran tersebut. Namun, penelitian di Kepulauan Togean menunjukkan bahwa buah kelapa merupakan umpan paling efektif untuk menariknya keluar dari lubang. Kemampuan kepiting kenari juga tidak bisa dianggap remeh. Capitnya sangat kuat dan disebut mampu mengangkat beban hingga 29 kilogram. Selain itu, satwa ini mampu memanjat pohon kelapa, kemampuan yang ikut menarik perhatian wisatawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 09:01:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/09085429/Sikka-1r56777-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131691</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Hutan adat, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antonius Toni,  tersentak saat dapat kabar terjadi penggusuran di kediamannya, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh PT Kristus Raja Maumere (Krisrama), 22 Januari 2025. Kala itu, dia tengah menghadiri sidang delapan warga adat desa itu di Pengadilan Negeri (PN) Maumere. Dia panik, langsung balik pulang. Sampai di desa, pria 61 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/">Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antonius Toni,  tersentak saat dapat kabar terjadi penggusuran di kediamannya, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh PT Kristus Raja Maumere (Krisrama), 22 Januari 2025. Kala itu, dia tengah menghadiri sidang delapan warga adat desa itu di Pengadilan Negeri (PN) Maumere. Dia panik, langsung balik pulang. Sampai di desa, pria 61 tahun ini terperangah melihat rumah-rumah dan tanaman tani Soge Natarmage dan Goban Runut, keduanya, sub Suku Tana Ai,  sudah hancur. Ekskavator perusahaan sudah beraksi, masyarakat terusir. Aparat mengawal ketat. Hanya isak tangis dan histeris masyarakat menyaksikan rumah hancur sekejap. Sebagian warga, kata Antonius, sampai pingsan hingga dibawa ke rumah sakit. “Kondisi di desa saat itu sepi, tidak ada yang berjaga karena tidak ada informasi akan ada penggusuran saat itu. Saya menangis. Rumah itu saya bangun susah payah,” kata pegiat dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) NTT ini kepada Mongabay Indonesia, Kamis, (9/7/26). Bapak lima anak ini berusaha tegar, sembari mengaisi puing-puing reruntuhan rumah berukuran 8&#215;6 meter dan harta benda tersisa. Sebagian dia serahkan ke polisi sebagai bukti pelaporan. “Langsung kami laporkan polisi, tapi sampai hari ini tidak ditanggapi.” Kini, Anton dan masyarakat adat yang lain terpaksa mengungsi. “Saya sekarang tinggal di rumah anak. Rumah sudah hancur, pasrah saja.” Penggusuran ini berdasarkan klaim sertifikat hak guna usaha (HGU) Krisrama, perusahan milik keuskupan Maumere yang bergerak bidang perkebunan kelapa. Mereka mengklaim, lahan-lahan yang masyarakat tempati masuk HGU. John Balla, Pengurus Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Sikka mengatakan, HGU perusahaan sudah kadaluarsa sejak 2013. Permohonan perpanjangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Laut Ini Mencatat Rekor Menyelam hingga Kedalaman 245 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 07:49:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233834/omar-roque-n_dEPUaTAFk-unsplash-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131694</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular laut merupakan salah satu kelompok reptil laut yang paling banyak ditemukan di perairan tropis dan subtropis, termasuk di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Selama puluhan tahun, pengetahuan tentang perilaku dan sebaran ular laut sebagian besar berasal dari pengamatan di perairan dangkal, seperti terumbu karang, muara, dan kawasan pesisir yang relatif mudah diakses penyelam maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/">Ular Laut Ini Mencatat Rekor Menyelam hingga Kedalaman 245 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular laut merupakan salah satu kelompok reptil laut yang paling banyak ditemukan di perairan tropis dan subtropis, termasuk di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Selama puluhan tahun, pengetahuan tentang perilaku dan sebaran ular laut sebagian besar berasal dari pengamatan di perairan dangkal, seperti terumbu karang, muara, dan kawasan pesisir yang relatif mudah diakses penyelam maupun peneliti. Anggapan umum yang berkembang adalah bahwa ular laut, sebagai reptil yang bernapas dengan paru-paru, memiliki keterbatasan alami dalam menyelam ke laut dalam. Namun, sebuah temuan yang dipublikasikan beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa batas kemampuan menyelam ular laut mungkin jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya. Seekor ular laut tercatat berenang pada kedalaman 245 meter di perairan lepas pantai Australia Barat, sebuah catatan yang menjadi penyelaman terdalam yang diketahui untuk kelompok reptil tersebut. Ular laut umumnya berburu mangsa di dekat dasar laut atau sedimen, seperti terlihat pada foto ini. Perilaku serupa juga teramati pada individu yang menyelam hingga kedalaman 245 meter di Australia | Foto: Jenna Crowe-Riddell Ular itu terekam kamera kendaraan bawah air yang dikendalikan dari permukaan atau remotely operated vehicle (ROV) di Browse Basin, North West Shelf, Australia, pada tahun 2014. ROV jenis ini umumnya dioperasikan oleh industri minyak dan gas untuk inspeksi infrastruktur bawah laut, dan rekamannya kemudian dimanfaatkan peneliti untuk mengamati satwa di kedalaman yang sulit dijangkau metode survei perairan dangkal. Identifikasi hingga tingkat spesies tidak dapat dilakukan dari rekaman tersebut, tetapi peneliti memasukkan individu ini ke dalam kelompok Hydrophis. Hampir tiga tahun kemudian, ROV kembali merekam seekor ular laut di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petugas Gagalkan Aksi Jual-beli Owa Sumatera  via Ojek Online</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 02:35:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/08085905/Habitatnya-rusak-Owa-Sumatera-diburu-dan-diperdagangkan-secara-ilegalfoto-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131662</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polisi Kehutanan Wilayah 3 Stabat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menggagalkan perdagangan owa Sumatera  21 Juli lalu. Kelompok ini memanfaatkan aplikasi ojek online dengan sistem bayar di tempat atau cash on delivery (COD). Petugas mengamankan pengemudi ojek pria berinisial B di Warkop [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/">Petugas Gagalkan Aksi Jual-beli Owa Sumatera  via Ojek Online</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polisi Kehutanan Wilayah 3 Stabat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menggagalkan perdagangan owa Sumatera  21 Juli lalu. Kelompok ini memanfaatkan aplikasi ojek online dengan sistem bayar di tempat atau cash on delivery (COD). Petugas mengamankan pengemudi ojek pria berinisial B di Warkop Agam 2, Kota Binjai, saat mengirimkan satu owa Sumatera (Symphalangus syndactylus) anakan. Pelaku mengaku barang itu milik Raihan, yang memesan jasa pengantaran melalui aplikasi Gojek. Petugas kemudian mengejar dan menangkap Raihan yang melarikan dir ke   belakang Supermall Binjai. “Itu bukan barangku, Bang. Owa Sumatera itu punya Thomas, dia sekarang lagi di Kamboja. Aku disuruh mengirimkan barang saja, Bang, kepada pemesannya,” kata  Raihan. Yang dia maksud ialah Thomas Raider Chaniago, residivis kasus perdagangan satwa liar. Thomas bertugas mencari pembeli dan menetapkan harga, sedangkan Raihan mengurus pengiriman. Di dalam aplikasi WhatsApp-nya, terlihat jelas perbincangan antara Raihan dan Thomas terkait pengadaan barang, rencana pengiriman, serta pemesanan satwa liar yang dilindungi. Selain itu, terdapat pula ratusan foto satwa yang jadi objek perdagangan. Keduanya pernah petugas amankan pada 2022 saat akan menjual anak orangutan Sumatera tetapi dia lolos dari jerat hukum karena petugas anggap tidak terlibat. Petugas kemudian serahkan owa Sumatera yang mereka amankan ke pusat rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA) di Kabupaten Langkat. Sementara, Raihan petugas serahkan ke Markas Komando Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Macan Tutul, Balai Gakkumhut Wilayah 1 Medan di Marindal untuk proses hukum lebih lanjut. Leo Hutapea, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Gojek Sudirman Medan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 01:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
							<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/08093151/Gendum-untuk-upacara-adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131609</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat. Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/">Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat. Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk mencari pasak bumi. Akar tanaman tersebut kemudian direbus sebagai obat penurun panas. Saat mengambil pasak bumi, Yunani tidak mencabut seluruh tanaman. Ia hanya mengupas sebagian akarnya. Dengan begitu, tanaman tidak rusak dan tetap dapat tumbuh. Bagi Yunani, tumbuhan obat masih banyak tersedia di hutan tempat masyarakat Batin Sembilan tinggal. Pengetahuan tentang tumbuhan obat sudah dikenalkan sejak kecil dan diwariskan oleh orang tua. Masyarakat mengetahui pasak bumi sebagai tanaman untuk menguatkan tubuh, daun kandis untuk menurunkan demam, serta kulit kayu berumbung yang digunakan untuk mengobati malaria. Berbagai tumbuhan lainnya juga memiliki kegunaan berbeda. Ketika anak mengalami campak, masyarakat menggunakan kulit sengkuang. Untuk luka akibat parang atau duri, getah dan urat akar sekriput ditempelkan pada bagian yang terluka. Sementara rebusan akar kait-kait digunakan ketika tubuh terasa letih. Tumbuhan hutan juga hadir dalam kehidupan masyarakat sejak kelahiran. Ketika seorang bayi lahir, perempuan Batin Sembilan mencari kulit kayu terap. Serat kulit kayunya dipintal untuk mengikat ari-ari. Ada pula tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan spiritual. Buah gendum, sejenis sorgum, merupakan salah satu syarat dalam Besale, ritual penyembuhan dan pembersihan roh yang menghubungkan masyarakat dengan arwah nenek moyang. Bagi para perempuan Batin Sembilan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cek Kualitas Ruang Hijau Perkotaan, Cukup Amati Burung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 23:41:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004707/burung-taman-surapati-smartcity.jakarta.go_.id_-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131618</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan. Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/">Cek Kualitas Ruang Hijau Perkotaan, Cukup Amati Burung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan. Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan untuk mencari makanan, berlindung, beristirahat, hingga berkembang biak. Karena itu, perubahan kondisi vegetasi di suatu kawasan dapat ikut memengaruhi jenis burung yang mampu hidup di sana. Menurut Walid Rumblat, Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penyebaran berbagai jenis burung dapat dipengaruhi oleh fragmentasi habitat dan struktur habitat. Burung juga relatif mudah diamati dibandingkan kelompok hewan lain. Data mengenai jenis dan taksonominya pun sudah banyak diketahui. Namun, menilai kualitas ruang hijau tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah burung. Jenis burung yang ditemukan juga penting. Burung dengan kebutuhan ekologis yang lebih khusus mendapatkan nilai lebih tinggi dalam penilaian. Salah satu contohnya adalah betet biasa. Sebaliknya, jika sebuah kawasan hanya dihuni burung yang umum dijumpai seperti burung gereja atau emprit, nilainya lebih rendah. Penilaian tersebut dapat dilakukan menggunakan Indeks Komunitas Burung atau IKB. Sebelum menghitungnya, burung dikelompokkan berdasarkan sejumlah karakter, seperti jenis makanan, asal spesies, strategi reproduksi, lokasi sarang, waktu aktivitas, dan habitat utamanya. Dari nilai IKB kemudian dapat ditentukan kategori kualitas lingkungan. Burung juga memiliki posisi penting dalam rantai makanan. Jenis yang berada pada tingkat trofik lebih tinggi dapat mencerminkan perubahan yang terjadi pada tingkat di bawahnya. Komposisi komunitas burung juga dapat menunjukkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Dorong Tata Kelola Laut dan Pesisir Berkeadilan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 12:39:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/29174658/Penampakan-Kampung-Suku-Laut-Air-Mas-di-Pesisir-Pulau-Tanjung-Sauh-Kota-Batam-Sabtu-2-Agustus-2025.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131655</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lebih dari 17.000  gugusan pulau-pulau di nusantara bukan sekadar angka. Ada kehidupan dan ekosistem yang perlu jaga karena pulau-pulau kecil dan terluar ini bak benteng penjaga sekaligus paling rentan jika terjadi bencana. M. Abdillah Maulana, pemuda dari Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) membagi pengalamannya dalam menata ruang hidup serta upaya mempertahankan kelestarian pesisir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/">Bagaimana Dorong Tata Kelola Laut dan Pesisir Berkeadilan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lebih dari 17.000  gugusan pulau-pulau di nusantara bukan sekadar angka. Ada kehidupan dan ekosistem yang perlu jaga karena pulau-pulau kecil dan terluar ini bak benteng penjaga sekaligus paling rentan jika terjadi bencana. M. Abdillah Maulana, pemuda dari Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) membagi pengalamannya dalam menata ruang hidup serta upaya mempertahankan kelestarian pesisir dan perairan pulau kelahirannya. Dia merasa beruntung karena sejak kecil, orang tuanya memperkenalkan ekosistem pulau seperti mangrove dan rumput laut. “Orang tua memperkenalkan secara dini pada anaknya menanam mangrove, menjaganya. Anak sekolah diarahkan terjun langsung ke pulau untuk mengenal padang lamun, terumbu karang,” katanya. Menurut dia, bagi pemuda Tanakeke, pengetahuan pesisir adalah warisan turun temurun. Semasa kecil, orang tuanya kerap mengajak menanam mangrove saat laut sedang surut. Di tempatnya, warga terbilang masih sangat produktif. Sekitar 90% penghidupan mereka berasal dari nelayan dan petani rumput laut. Ekosistem utama pulau ini adalah hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. “Warga memanfaatkan pengetahuan lokal seperti musim ikan, arah angin, dan pola pasang surut dalam aktivitas melaut. Mereka mengenali lokasi pemijahan ikan yang perlu dilindungi,” katanya. Meski begitu, kata Maulana, hal itu bukan berarti tanpa tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, praktik pembukaan tambak di  pesisir menghadirkan ancaman terhadap ekosistem mangrove disana. Dampaknya, saat pasang, air laut kian merangsek masuk ke daratan. Alief Fachrul Raazy, Program Manager Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKLI) ikut membagikan pengalaman terkait praktik dan tantangan pengelolaan pesisir dan ruang laut berbasis masyarakat, terutama di wilayah administrasi perkotaan. Kebetulan, lembaganya turut mendampingi warga di sejumlah pulau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Bertahannya Danau Burung di Tempirai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 10:26:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/08102057/Azizah-tengah-mencari-ikan-menggunakan-tangan-di-sebuah-lebung-kecil.-Lebung-lebung-di-Danau-Burung-bekas-kubangan-gajah-sumatera-di-masa-lalu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131665</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, pangan, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari di atas kepala, ketika Azizah (46) bersama satu anaknya, dua adiknya, dan dua keponakannya, mencari ikan di sebuah lebung kecil di wilayah Danau Burung, Minggu (2/7/26). Mereka menangkap ikan menggunakan tangan dan selembar waring. “Terakhir saya melebung di sini, sekitar 38 tahun lalu, saat masih anak-anak,” kata Azizah, sembari menunjukkan ikan tembakang (Helostoma temminckii) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/">Kisah Bertahannya Danau Burung di Tempirai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari di atas kepala, ketika Azizah (46) bersama satu anaknya, dua adiknya, dan dua keponakannya, mencari ikan di sebuah lebung kecil di wilayah Danau Burung, Minggu (2/7/26). Mereka menangkap ikan menggunakan tangan dan selembar waring. “Terakhir saya melebung di sini, sekitar 38 tahun lalu, saat masih anak-anak,” kata Azizah, sembari menunjukkan ikan tembakang (Helostoma temminckii) yang berhasil ditangkapnya. “Saat itu, melebungnya ramai-ramai. Puluhan dan mungkin ratusan orang. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahagia nian, seperti sekarang ini. Ikan yang paling banyak di Danau Burung saat itu adalah ikan serandang (Channa pleurophthalma),” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka datang ke Danau Burung, yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari Tempirai, berjalan kaki atau naik sepeda. Hingga saat ini, saat musim kemarau Danau Burung dapat didatangi melalui jalan darat. Musim penghujan, berkunjung ke sini hanya melalui air atau menggunakan perahu. Azizah ingat, selain manusia, saat musim kemarau Danau Burung juga dikunjungi ratusan hingga ribuan burung pemakan ikan. Paling paling banyak kawanan burung kuntul, baik kuntul kecil (Egretta garzetta) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis). “Warga juga banyak berburu burung, yang dapat dikonsumsi, seperti belibis batu (Dendrocygna javanica) dan burung ayam-ayaman (Gallicrex cinerea). Banyaknya burung yang mungkin membuat kawasan rawa gambut ini disebut Danau Burung.” Dua jam berusaha di dua lebung kecil, mereka mendapatkan beberapa kilogram ikan. Selain ikan tembakang, mereka juga mendapatkan ikan gabus (Channa striata) dan ikan toman (Channa micropeltes). Saat pulang ke rumah di Desa Tempirai, ikan yang mereka tangkap selain dikonsumsi, juga dibagikan ke tetangga. “Sudah lama tidak makan ikan dari Danau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekspansi Tambang Nikel Terus Hantui Raja Ampat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 03:39:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230947/Greenpeace-Raja-Ampat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131645</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua dan raja ampat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, hutan indonesia, Kelautan perikanan, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Raja Ampat belum lepas dari  bahaya nikel ketika satu perusahaan masih beroperasi, kini tiga perusahaan tambang sedang proses dapatkan perizinan lagi. Laporan Greenpeace Indonesia berjudul  Surga yang Tak Terlindungi itu menyebut,  tiga perusahaan tengah proses izin pertambangan nikel itu di bagian timur Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Perusahaan itu ialah PT Raja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/">Ekspansi Tambang Nikel Terus Hantui Raja Ampat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Raja Ampat belum lepas dari  bahaya nikel ketika satu perusahaan masih beroperasi, kini tiga perusahaan tambang sedang proses dapatkan perizinan lagi. Laporan Greenpeace Indonesia berjudul  Surga yang Tak Terlindungi itu menyebut,  tiga perusahaan tengah proses izin pertambangan nikel itu di bagian timur Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Perusahaan itu ialah PT Raja Ampat Nikel Abadi (RANA), PT Waegeo Mineral Mining (WMM), dan PT Eka Kurnia Baru (EKB). Menurut laporan Greenpeace, RANA adalah perusahaan nikel baru. Mereka sedang sosialisasi kepada warga di Kampung Urbinasopen, sepanjang 2025. Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia bilang, lokasi konsesi RANA belum jelas. Ada kemungkinan perusahaan itu menambang di Kampung Urbinasopen. Menurut informasi pemerintah provinsi, mereka bakal mengeruk nikel di daerah dekat Kampung Yenbekaki. “Respons masyarakat di Kampung Urbinasopen yang merupakan keluarga dari salah satu pemilik saham tidak ada penolakan,” ujar Anggi kepada Mongabay Indonesia. Dua perusahaan lain, EKB dan WMM, mengantongi izin tambang sejak lama. Bupati Raja Ampat menerbitkan dua IUP operasi produksi EKB pada 2013 dengan komoditi berbeda. Pertama, IUP tambang nikel bernomor 317 dengan luas 6.438 hektar berlaku hingga 2033. Kedua, IUP tambang batubara bernomor 286 yang berlaku hingga 2033. Hingga awal 2023, IUP tidak Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) masukkan ke dalam &#8220;Daftar IUP yang Memenuhi Ketentuan” agar dapat beroperasi. Anggi bilang, EKB kemudian mengajukan dua gugatan atas kedua IUP itu di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta melawan Dirjen Minerba. Gugatan pertama mereka ajukan tertanggal 1 Agustus 2023 dengan nomor perkara 349/G/TF/2023/PTUN.JKT. “Kemudian diputus pada 26&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 01:41:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/08012442/26922431430_fded113219_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131641</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama puluhan tahun, ilmuwan dan operator satelit meyakini bahwa medan magnet Bumi memiliki batas alami dalam merespons badai Matahari, sehingga kerusakan pada jaringan listrik dan satelit tidak akan melampaui ambang tertentu. Sebuah studi yang dipimpin oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menantang asumsi itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa batas jenuh geomagnetik yang selama ini diyakini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/">Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama puluhan tahun, ilmuwan dan operator satelit meyakini bahwa medan magnet Bumi memiliki batas alami dalam merespons badai Matahari, sehingga kerusakan pada jaringan listrik dan satelit tidak akan melampaui ambang tertentu. Sebuah studi yang dipimpin oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menantang asumsi itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa batas jenuh geomagnetik yang selama ini diyakini kemungkinan besar hanyalah ilusi statistik, dan jika temuan ini benar, dampak badai Matahari ekstrem terhadap jaringan listrik dan satelit global bisa dua kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Studi ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 15 Juli 2026, dipimpin oleh Dr. Nithin Sivadas dari Goddard Space Flight Center milik NASA,  mengkaji ulang data historis yang selama ini menjadi dasar model cuaca antariksa. Anggapan mengenai batas jenuh ini sebelumnya diterima secara luas di kalangan ilmuwan cuaca antariksa. Setidaknya sepuluh teori berbeda pernah diajukan untuk menjelaskan mengapa magnetosfer Bumi tampak tidak bisa merespons lebih jauh meski angin surya semakin kuat, mulai dari dugaan batas fisik pada rekoneksi medan magnet hingga tekanan plasma. Studi terbaru ini menunjukkan bahwa penjelasan tersebut tidak diperlukan karena batas itu kemungkinan tidak pernah benar-benar ada. Ilusi yang Muncul dari Kesalahan Pengukuran Selama ini, data cuaca antariksa banyak bergantung pada satelit yang berada di titik Lagrange 1 (L1), sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi ke arah Matahari, atau sekitar empat kali jarak Bumi ke Bulan. Titik ini dipilih karena satelit di sana bisa mendeteksi angin surya lebih dulu, sebelum partikel tersebut tiba di Bumi. Namun, jarak yang jauh ini juga menjadi masalah: kekuatan angin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisakah Ocean Calculator Selamatkan Pesisir Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 10:36:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001444/Hamparan-mangrove-yang-kuat-berfungsi-seperti-benteng-melindungi-masyarakat-dari-badai-ekstrim.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131636</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Ocean Calculator, platform geospasial yang menggunakan neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean accounting. Tujuannya, untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara tepat, akurat, dan berbasis data ilmiah. Penghitungannya, menggunakan teknologi satelit. Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager World Resources Insitute (WRI) Indonesia, mengatakan Ocean Calculator [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/">Bisakah Ocean Calculator Selamatkan Pesisir Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Ocean Calculator, platform geospasial yang menggunakan neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean accounting. Tujuannya, untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara tepat, akurat, dan berbasis data ilmiah. Penghitungannya, menggunakan teknologi satelit. Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager World Resources Insitute (WRI) Indonesia, mengatakan Ocean Calculator didesain untuk membantu Pemerintah Indonesia membuat kebijakan berkaitan laut dan pesisir. “Namun, saat ini kita masih fokus kawasan pesisir,” jelasnya, Selasa (28/7/26). Ocean Calculator mengadopsi tujuh neraca, yaitu Neraca Aset Lingkungan/Ekosistem, Neraca Arus ke Ekonomi, Neraca Arus ke Lingkungan, Neraca Ekonomi Kelautan, Neraca Tata Kelola dan Kelembagaan, Presentasi Kombinasi/Semua Neraca, dan Neraca Kekayaan Laut yang dilingkupi  konteks sosial dan kelembagaan. Saat ini, platform tersebut baru mengadopsi 1,5 neraca. “Seluruh neraca nantinya digunakan untuk penerapan ocean account, sehingga mudah dipahami para pembuatan kebijakan.” Menjaga kelestarian mangrove bermanfaat bagi jutaan masyarakat pesisir di Indonesia. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Data spasial Untuk menghasilkan hitungan tepat dan akurat, Ocean Calculator akan menggunakan data spasial lengkap. Ada tiga pilar saat Ocean Calculator diproses. Pertama, estimasi ilmiah untuk analisis mendalam jasa ekosistem, khususnya penyerapan karbon dan perlindungan pantai. Hitungannya, menggunakan koefisien berbobot kepadatan dan validasi spektral multi-indeks. “Seluruh metodologi didasarkan ilmu pengetahuan melalui proses peer review,” jelas Fathir. Kedua, pembaruan data otomatis ekologi melalui google earth engine menggunakan citra satelit resolusi tinggi dari Sentinel-2 dan Landsat-8 yang diperbarui otomatis. Ketiga, legitimasi Pemerintah untuk memastikan data yang digunakan resmi. Sumbernya, dari  KKP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), atau Badan Perencanaan Pembangunan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004156/Nana-1-ban-bekas--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131610</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/">Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Sumedang Bersatu pada 2014, Nana melihat berton-ton ban bekas menumpuk di sana. TPST tersebut sebenarnya telah mengolah berbagai jenis sampah. Sampah organik dijadikan kompos, sedangkan botol plastik, kaca, kertas, dan sampah bernilai ekonomi dikirim ke pabrik daur ulang. Masalahnya, ban bekas tidak laku dan tidak boleh dikirim ke TPA Talangagung. Nana kemudian mencari cara lain. Secara otodidak, pada 2016 dia mulai mengubah ban bekas menjadi karya seni berbentuk burung dan serangga. Awalnya, dia menggunakan kayu sebagai rangka. Potongan ban kemudian dianyam dan dikaitkan menggunakan paku serta kawat. Karya-karya tersebut dipajang di sekitar TPST. Setelah fotonya diunggah ke Facebook, seorang guru dari sekolah Adiwiyata di Kepanjen tertarik membelinya. Pesanan kemudian mulai berdatangan dari berbagai daerah. Seiring waktu, teknik Nana berkembang. Kayu yang mudah rapuh diganti dengan pipa PVC. Untuk karya berukuran besar, ia menggunakan beton eser sebagai kerangka. Prosesnya dimulai dengan mengamati bentuk tubuh atau morfologi satwa yang akan dibuat. Nana lalu menggambar satwa tersebut di dinding sesuai ukuran yang diinginkan. Gambar itu menjadi pola untuk menentukan ukuran besi pembentuk rangka. Kerangka disambungkan menggunakan las listrik. Setelah itu, ban bekas dipotong, disusun, dan dipasang mengelilingi rangka menggunakan sekrup serta kuncian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perdagangan Satwa Langka Ilegal Terus Marak di Sumatera Barat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 05:37:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/03092506/Paruh-burung-rangkong.-Dok-Kemenhut-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131453</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[padang dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[poltiik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satwa lindung dan langka Indonesia terus jadi sasaran perdagangan ilegal, termasuk di Sumatera Barat.  Sebanyak 16 paruh burung rangkong dan satu karung sisik trenggiling petugas sita dari tangan pria inisial RP (23) di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagian tubuh satwa lindung itu hendak RP perdagangkan sebelum tertangkap petugas, Senin (27/7/26). Hari Novianto, Kepala Balai Penegakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/">Perdagangan Satwa Langka Ilegal Terus Marak di Sumatera Barat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satwa lindung dan langka Indonesia terus jadi sasaran perdagangan ilegal, termasuk di Sumatera Barat.  Sebanyak 16 paruh burung rangkong dan satu karung sisik trenggiling petugas sita dari tangan pria inisial RP (23) di Kota Padang, Sumatera Barat. Bagian tubuh satwa lindung itu hendak RP perdagangkan sebelum tertangkap petugas, Senin (27/7/26). Hari Novianto, Kepala Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Wilayah Sumatera, bilang,  penangkapan PR berawal dari informasi masyarakat. Informasi itu kemudian timnya analisa melalui patroli siber guna memetakan aktivitas dan pergerakan pelaku. “Hasil analisis kemudian ditindaklanjuti melalui operasi lapangan hingga tim berhasil menangkap tersangka beserta barang bukti sekitar pukul 20.00,” katanya. Dari pemeriksaan, belasan burung rangkong dan satu karung sisik trenggiling seberat 10 kilogram itu tersangka dapat dari Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang merupakan domisili RP. Dia terjerat Pasal 40A ayat (1) huruf f juncto Pasal 21 ayat (2) huruf c UU Nomor 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pasal itu melarang setiap orang menyimpan, memiliki, mengangkut, atau memperdagangkan bagian tubuh satwa yang dilindungi. “Terancam hukuman penjara tiga hingga 15 tahun serta denda Rp200 juta hingga Rp5 miliar, untuk detail kasus masih dalam pendalaman.” Jaringan perdagangan sisik trenggiling sangat tertutup dan sulit diketahui. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Populasi terus turun Eko Subrata, peneliti burung dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) menyampaikan, kemungkinan besar burung rangkong yang pelaku perdagangkan adalah jenis kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris). Itu karena spesies itu merupakan satu-satunya rangkong yang ada di Kepulauan Mentawai. Berbeda dengan rangkong gading (Rhinoplax vigil), paruh kangkareng perut putih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/perdagangan-satwa-langka-ilegal-terus-marak-di-sumatera-barat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 02:16:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/17135031/Ketahanan-Pangan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131568</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung. Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/">Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung. Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak hidroponik, sedangkan cabai, terong, dan tomat ditanam menggunakan polybag. Tanaman tersebut dirawat oleh para siswa yang tergabung dalam Green School. Mereka belajar menyiapkan media tanam, membuat pupuk cair, memilih bibit, dan menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Para siswa juga memperoleh pelatihan dari praktisi dan petani hidroponik. Hidroponik adalah cara menanam tanpa menggunakan tanah. Akar tanaman memperoleh air dan unsur hara dari larutan khusus. Metode ini cocok digunakan di sekolah atau kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas. Botol plastik bekas pun dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam sederhana. Kegiatan tersebut membuat pelajaran biologi dan lingkungan menjadi lebih mudah dipahami. Siswa tidak hanya menghafal bagian tumbuhan, tetapi juga melihat langsung bagaimana akar menyerap nutrisi, daun melakukan fotosintesis, serta air, cahaya, dan pupuk memengaruhi pertumbuhan. Hasil panen tidak berhenti di kebun. Sebagian sayuran diberikan kepada siswa tata boga untuk diolah menjadi makanan. Dengan demikian, mereka dapat mengikuti perjalanan pangan dari benih, tanaman, panen, hingga menjadi hidangan. Pengalaman dari sekolah juga dibawa pulang. Salah satu siswa mulai membantu orang tuanya menanam cabai, terong, melon, dan tomat di halaman rumah. Tanaman dalam polybag tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. Selain menanam, para siswa mempelajari pengelolaan sampah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dari-tanam-selada-hingga-ternak-lele-sekolah-ini-ajarkan-kemandirian-pangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 00:05:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04045916/Made-Kuter-berjalan-menyusuri-sawahnya-sembari-menyebar-racun-tikus-di-beberapa-titik.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131318</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari sedang terik-teriknya. Namun, Made Kuter, masih  menyusuri pematang sawahnya. Tangan kanan lelaki 63 tahun ini memegang sendok. Tangan kiri memegang dua bungkus plastik. Satu bungkus plastik berisi racun tikus, plastik lainnya berisi daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, Kuter, petani sawah di Subak Padang Legi, Desa Medahan, Kabupaten, Gianyar, Bali, merasakan hama yang terus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/">Tradisi Subak Terdesak Alih Fungsi Lahan, Banjir sampai Serangan Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari sedang terik-teriknya. Namun, Made Kuter, masih  menyusuri pematang sawahnya. Tangan kanan lelaki 63 tahun ini memegang sendok. Tangan kiri memegang dua bungkus plastik. Satu bungkus plastik berisi racun tikus, plastik lainnya berisi daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, Kuter, petani sawah di Subak Padang Legi, Desa Medahan, Kabupaten, Gianyar, Bali, merasakan hama yang terus meningkat, kesulitan air di sawah dan kini terancam banjir. Dia memiliki lahan sawah 30 are. Lahan pun terhimpit bangunan vila. Beberapa langkah berjalan, Kuter berhenti. Tangan kanan menyendok racun tikus yang dia buat secara tradisional.  Dia letakkan di atas daun, lalu  diletakkan di bawah semak-semak. “Ini racun tikus, isinya beras, racun tikus, kacang tanah. Supaya berbau, pang nyak enduse ken bikul, pang nyak amahe (biar mau dicium oleh tikus, biar dimakan sama tikus),” kata Kuter, Rabu (29/7/26). Kadang, dia campur racikan racun tikus itu  dengan ikan asin dan makanan lain yang berbau menyengat. Sejak tahun lalu, serbuan tikus kian merajalela dan terjadi dalam tiga periode tanam. Kini, satu petak sawah hampir sebagian terserang hama tikus. Padi menguning, tetapi tak bisa tumbuh lagi. “Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” katanya. Made Kuter meletakkan racun tikus di sela-sela rumput. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering).&#8221; Pekerjaan di sawah beberapa kali tertunda. Debit air kecil. Pembangunan sekitar juga menutup jalan air. “Kan misalne ada membangun, terpaksa nembok kanan-kiri. Ditutup saluran air, pang ngidang yo&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/tradisi-subak-terdesak-alih-fungsi-lahan-banjir-sampai-serangan-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Agama mwanzae, Kadal Penghuni Bebatuan Sabana yang Seolah Mengenakan Kostum “Spider-Man”</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 23:45:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/06233821/Serengeti_National_Park_03_-_Mwanza_flat-headed_rock_agama_-_Agama_mwanzae-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131622</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara keanekaragaman reptil dunia, sejumlah spesies memiliki ciri visual yang mencolok. Salah satu contohnya adalah Agama mwanzae, kadal dengan perpaduan warna kepala hingga bahu merah violet cerah, serta tubuh dan ekor berwarna biru tua. Kombinasi warna ini membuat Agama mwanzae dikenal secara internasional sebagai &#8220;kadal Spider-Man&#8221; karena kemiripannya dengan warna kostum karakter superhero populer. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/">Agama mwanzae, Kadal Penghuni Bebatuan Sabana yang Seolah Mengenakan Kostum “Spider-Man”</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara keanekaragaman reptil dunia, sejumlah spesies memiliki ciri visual yang mencolok. Salah satu contohnya adalah Agama mwanzae, kadal dengan perpaduan warna kepala hingga bahu merah violet cerah, serta tubuh dan ekor berwarna biru tua. Kombinasi warna ini membuat Agama mwanzae dikenal secara internasional sebagai &#8220;kadal Spider-Man&#8221; karena kemiripannya dengan warna kostum karakter superhero populer. Di balik julukan tersebut, Agama mwanzae, yang juga dikenal dengan nama Mwanza flat-headed rock agama atau kadal agama batu berkepala pipih Mwanza, merupakan spesies reptil yang menghuni kawasan sabana dan ekosistem berbatu di Afrika Timur. Menurut The Reptile Database, wilayah persebarannya mencakup Tanzania, Kenya, dan Rwanda. Agama mwanzae merupakan anggota famili Agamidae. Ahli zoologi Arthur Loveridge pertama kali mendeskripsikannya pada 1923. Nama &#8220;mwanzae&#8221; merujuk pada wilayah Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen yang digunakan dalam deskripsi awalnya. Habitatnya meliputi sabana, kawasan semi kering, serta lingkungan dengan banyak singkapan batu. Warna dan Habitat di Bebatuan Sabana Kepala, leher, dan bahu pejantan dominan dapat berwarna merah terang hingga violet. Tubuh dan ekornya berwarna biru tua. Warna ini tidak dimiliki semua individu. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat memiliki warna yang lebih redup, umumnya cokelat atau abu-abu dengan pola gelap yang membantu menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan. Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat berperan dalam komunikasi visual, digunakan saat berinteraksi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Secara umum, warna kulit reptil terbentuk melalui sel pigmen dan sel pemantul cahaya, namun penelitian mengenai mekanisme pembentukan warna merah dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/agama-mwanzae-kadal-penghuni-bebatuan-sabana-yang-seolah-mengenakan-kostum-spider-man/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Agu 2026 18:10:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04044213/WhatsApp-Image-2026-08-03-at-21.39.34-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131485</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penolakan rencana penambangan pasir laut bermodus pengelolaan sedimentasi di Kepulauan Riau (Kepri) kian kencang. Menjelang akhir Juli, ratusan nelayan menggelar unjuk rasa guna menolak rencana yang mereka berdampak terhadap sumber penghidupan mereka itu. Dengan menggunakan 100-an perahu, para nelayan mayoritas berasal dari Kabupaten Karimun itu berorasi dan membentangkan spanduk besar di tengah laut. “Kehadiran kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/">Penolakan Tambang Pasir Laut Kepri Kian Menguat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penolakan rencana penambangan pasir laut bermodus pengelolaan sedimentasi di Kepulauan Riau (Kepri) kian kencang. Menjelang akhir Juli, ratusan nelayan menggelar unjuk rasa guna menolak rencana yang mereka berdampak terhadap sumber penghidupan mereka itu. Dengan menggunakan 100-an perahu, para nelayan mayoritas berasal dari Kabupaten Karimun itu berorasi dan membentangkan spanduk besar di tengah laut. “Kehadiran kami di atas kapal ini untuk menolak tambang pasir laut berkedok sedimentasi, kita tahu aktivitas ini hanya akan merusak periuk nasi kite,” teriak Liza, nelayan perempuan saat berorasi, Selasa (21/7/26). Pengerukan pasir laut hanya menguntungkan segelintir orang, alih-alih meningkatkan kesejahteraan masyarakat Karimun. “Kami, emak-emak adalah yang paling terdampak,” katanya. Raja Khairuddin, Ketua Gerakan Peduli Nelayan Karimun Kepulauan (GPNKK) mengatakan, aksi penolakan tambang pasir ini sudah beberapa kali nelayan lakukan. Sebelumnya aksi serupa juga dilakukan di Kecamatan Meral dan Kecamatan Tebing. “Semenjak rencana sedimentasi ini muncul, kami sudah menolak,” kata Raja, Jumat (24/7/26). Selain Karimun, perwakilan nelayan dari berbagai lokasi juga turut dalam aksi penolakan ini, seperti nelayan Kecamatan Buru, Moro, Tebing, Meral Barat, dan Meral. Menurut Raja, para nelayan memiliki pengalaman bagaimana tambang pasir laut di masa lalu membawa dampak berkepanjangan terhadap kehidupan mereka. Tahun 1990-an hingga 2005, perairan Karimun menjadi lokasi tambang pasir skala besar untuk jual ke Singapura, sebelum akhirnya Presiden Megawati setop. Dampak dari aktivitas itu, masih nelayan rasakan sampai saat ini. Raja  menyebut, sejumlah kawasan perairan yang sebelumnya menjadi lokasi penangkapan ikan kini sudah tidak lagi produktif akibat kerusakan pascatambang. Kerusakan itu terjadi mulai dari perairan di Kecamatan Moro, Kecamatan Buru, perairan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/06/penolakan-tambang-pasir-laut-kepri-kian-menguat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>