Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat.
Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk mencari pasak bumi. Akar tanaman tersebut kemudian direbus sebagai obat penurun panas.
Saat mengambil pasak bumi, Yunani tidak mencabut seluruh tanaman. Ia hanya mengupas sebagian akarnya. Dengan begitu, tanaman tidak rusak dan tetap dapat tumbuh. Bagi Yunani, tumbuhan obat masih banyak tersedia di hutan tempat masyarakat Batin Sembilan tinggal.
Pengetahuan tentang tumbuhan obat sudah dikenalkan sejak kecil dan diwariskan oleh orang tua. Masyarakat mengetahui pasak bumi sebagai tanaman untuk menguatkan tubuh, daun kandis untuk menurunkan demam, serta kulit kayu berumbung yang digunakan untuk mengobati malaria.
Berbagai tumbuhan lainnya juga memiliki kegunaan berbeda. Ketika anak mengalami campak, masyarakat menggunakan kulit sengkuang. Untuk luka akibat parang atau duri, getah dan urat akar sekriput ditempelkan pada bagian yang terluka. Sementara rebusan akar kait-kait digunakan ketika tubuh terasa letih.
Tumbuhan hutan juga hadir dalam kehidupan masyarakat sejak kelahiran. Ketika seorang bayi lahir, perempuan Batin Sembilan mencari kulit kayu terap. Serat kulit kayunya dipintal untuk mengikat ari-ari.
Ada pula tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan spiritual. Buah gendum, sejenis sorgum, merupakan salah satu syarat dalam Besale, ritual penyembuhan dan pembersihan roh yang menghubungkan masyarakat dengan arwah nenek moyang.
Bagi para perempuan Batin Sembilan, pengetahuan mengenai tumbuhan tersebut tidak dapat dipisahkan dari keberadaan hutan. Mereka mengetahui lokasi tumbuhan obat dan kegunaan berbagai bagian tanaman karena pengetahuan tersebut terus diwariskan dari generasi sebelumnya.
Yunani juga menjadi Ketua Kelompok Tani Hutan Maju Besamo. Sekitar 90 persen anggota kelompok ini merupakan perempuan. Melalui skema kemitraan kehutanan, mereka mendapatkan hak untuk mengelola 399 hektar hutan secara komunal. Hak kelola tersebut berlaku selama 35 tahun dan dapat diperpanjang. Lahan yang dikelola tidak boleh dijual atau dipindahtangankan.
Namun, perubahan kehidupan masyarakat mulai memengaruhi pengetahuan tersebut. Dari sekitar 400 orang Batin Sembilan di kawasan ini, tidak lebih dari 34 orang yang masih mempertahankan pola hidup nomaden. Sebagian besar telah menetap karena ruang jelajah semakin sempit dan hutan mengalami degradasi.
Generasi muda pun semakin jarang masuk ke hutan. Tika, anggota KTH Maju Besamo berusia 21 tahun, mengatakan banyak remaja perempuan kini tidak lagi mengetahui nama dan jenis tumbuhan obat seperti generasi orang tua mereka. Sebagian hanya mendengar tentang tanaman tersebut tanpa pernah ikut mencarinya di hutan.
Inilah alasan para perempuan Batin Sembilan berusaha mempertahankan hutan mereka. Bagi mereka, ketika hutan hilang dan berubah menjadi perkebunan sawit, berbagai sumber kehidupan yang selama ini mereka cari di dalamnya juga ikut menghilang.
Menjaga hutan, bagi perempuan Batin Sembilan, berarti menjaga tempat hidup sekaligus mempertahankan pengetahuan tentang tumbuhan obat agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Artikel asli ditulis oleh Elviza Diana.