Ular laut merupakan salah satu kelompok reptil laut yang paling banyak ditemukan di perairan tropis dan subtropis, termasuk di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Selama puluhan tahun, pengetahuan tentang perilaku dan sebaran ular laut sebagian besar berasal dari pengamatan di perairan dangkal, seperti terumbu karang, muara, dan kawasan pesisir yang relatif mudah diakses penyelam maupun peneliti. Anggapan umum yang berkembang adalah bahwa ular laut, sebagai reptil yang bernapas dengan paru-paru, memiliki keterbatasan alami dalam menyelam ke laut dalam.
Namun, sebuah temuan yang dipublikasikan beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa batas kemampuan menyelam ular laut mungkin jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya. Seekor ular laut tercatat berenang pada kedalaman 245 meter di perairan lepas pantai Australia Barat, sebuah catatan yang menjadi penyelaman terdalam yang diketahui untuk kelompok reptil tersebut.

Ular itu terekam kamera kendaraan bawah air yang dikendalikan dari permukaan atau remotely operated vehicle (ROV) di Browse Basin, North West Shelf, Australia, pada tahun 2014. ROV jenis ini umumnya dioperasikan oleh industri minyak dan gas untuk inspeksi infrastruktur bawah laut, dan rekamannya kemudian dimanfaatkan peneliti untuk mengamati satwa di kedalaman yang sulit dijangkau metode survei perairan dangkal. Identifikasi hingga tingkat spesies tidak dapat dilakukan dari rekaman tersebut, tetapi peneliti memasukkan individu ini ke dalam kelompok Hydrophis. Hampir tiga tahun kemudian, ROV kembali merekam seekor ular laut di kawasan yang sama, kali ini pada kedalaman sekitar 239 meter, yang menguatkan indikasi bahwa kemunculan ular laut di kedalaman tersebut bukan kejadian tunggal.
Dua pengamatan ini dianalisis oleh Jenna M. Crowe-Riddell dan tim peneliti dari Australia dan Denmark, dengan hasil yang diterbitkan pada 2019 di jurnal Austral Ecology. Catatan ini melampaui rekor kedalaman ular laut sebelumnya, yang tercatat sekitar 133 meter. Selama ini, ular laut lebih dikenal sebagai penghuni perairan tropis dangkal, termasuk terumbu karang dan kawasan pesisir, dan banyak peneliti sebelumnya memperkirakan kemampuan menyelam ular laut umumnya terbatas pada kedalaman sekitar 50 sampai 100 meter saja.
Batasan Fisiologis yang Membuat Temuan Ini Tak Terduga
Perkiraan tersebut memiliki alasan biologis yang cukup mendasar. Tidak seperti ikan yang bernapas menggunakan insang, ular laut merupakan reptil yang bernapas menggunakan paru-paru sehingga harus kembali ke permukaan secara berkala untuk mengambil udara. Semakin dalam ular menyelam, semakin panjang pula jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke permukaan sebelum kehabisan pasokan oksigen. Keterbatasan fisiologis inilah yang membuat penemuan ular laut pada kedalaman lebih dari 200 meter mengejutkan para peneliti, karena secara teori risiko dan konsekuensi energetik dari penyelaman sedalam itu seharusnya sangat besar bagi hewan yang bergantung pada napas paru-paru.

Pada kedalaman tersebut, ular telah memasuki bagian laut yang dikenal sebagai zona mesopelagik atau zona senja, yang secara umum berada sekitar 200 hingga 1.000 meter di bawah permukaan laut. Di zona ini, cahaya matahari yang menembus air sangat sedikit dibandingkan perairan dangkal, sehingga penglihatan visual menjadi kurang efektif sebagai alat berburu maupun bernavigasi. Suhu air pada kedalaman ini juga jauh lebih rendah dibandingkan perairan permukaan tropis yang biasa dihuni ular laut, sehingga hewan berdarah dingin seperti ular harus beradaptasi dengan perubahan suhu tubuh yang signifikan dalam waktu relatif singkat setiap kali menyelam dan naik kembali. Temuan di Browse Basin menunjukkan bahwa ular laut mampu menghadapi kombinasi tekanan, suhu rendah, dan minim cahaya ini, kondisi lingkungan yang sebelumnya jarang dikaitkan dengan kelompok reptil laut. Peneliti menyatakan pengamatan ini membuka pertanyaan baru mengenai toleransi suhu, fisiologi penyelaman, dan kebutuhan ekologis ular laut secara lebih luas.
Indikasi Perilaku Mencari Makan di Dasar Laut
Rekaman tahun 2017 memperlihatkan ular berenang dekat dasar laut berpasir, bukan sekadar melintas di kolom air. Hewan itu terlihat berulang kali memasukkan kepalanya ke dalam lubang-lubang pada sedimen dasar laut, sebuah perilaku yang oleh peneliti diinterpretasikan sebagai aktivitas mencari makan aktif, bukan pergerakan pasif akibat arus atau kesalahan navigasi. Crowe-Riddell menyatakan rekaman tersebut menunjukkan ular sedang mencari makanan di lubang-lubang pada dasar berpasir, kemungkinan memburu ikan atau invertebrata kecil yang bersembunyi di sedimen. Namun, peneliti belum mengetahui secara pasti jenis mangsa yang menjadi target maupun bagaimana ular tersebut mendeteksi keberadaan mangsa dalam kondisi cahaya yang sangat minim, mengingat ular laut umumnya mengandalkan penglihatan dan kemungkinan indra kimiawi saat berburu di perairan dangkal.
Pengamatan ini membuka kemungkinan bahwa laut dalam menyediakan sumber makanan yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam kajian ekologi ular laut, dan bisa jadi menjelaskan sebagian alasan mengapa sejumlah individu bersedia menanggung risiko energetik dari penyelaman sedalam itu. Meski demikian, dua rekaman ini belum cukup untuk membuktikan bahwa ular laut hidup secara permanen atau rutin pada kedalaman sekitar 250 meter. Yang bisa disimpulkan sejauh ini hanya bahwa sebagian individu mampu mencapai kedalaman tersebut dan melakukan aktivitas mencari makan di sana, sementara sebagian besar pengetahuan ilmiah tentang biologi dan ekologi ular laut secara umum tetap berasal dari pengamatan di habitat yang jauh lebih dangkal.
Temuan ini juga relevan dengan posisi Australia sebagai salah satu pusat keanekaragaman ular laut dunia. Hampir separuh spesies ular laut sejati yang dikenal ilmu pengetahuan ditemukan di perairan Australia, termasuk sejumlah spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Kawasan Asia Tenggara dan Australia utara secara keseluruhan juga dikenal sebagai wilayah dengan keanekaragaman Hydrophiinae yang tinggi, sehingga temuan semacam ini berpotensi relevan pula bagi pemahaman ular laut di perairan Indonesia yang berada dalam kawasan yang sama.
Penggunaan ROV dalam kasus Browse Basin menunjukkan bagaimana peralatan yang awalnya dirancang untuk kebutuhan industri dapat menghasilkan data ilmiah yang bernilai tinggi, dan sekaligus mengungkap keterbatasan metode survei konvensional dalam menjangkau kedalaman laut tertentu. Pengamatan Hydrophis pada kedalaman 245 meter ini tercatat sebagai salah satu rujukan penyelaman terdalam yang pernah terdokumentasi untuk ular laut, dan menegaskan bahwa masih banyak aspek kehidupan kelompok reptil ini, termasuk sebaran vertikal dan perilaku di laut dalam, yang belum teramati secara langsung oleh sains.
**
Referensi
Crowe-Riddell, J. M., Simões, B. F., Partridge, J. C., Hocking, D. P., & Sanders, K. L. (2019). First records of sea snakes (Elapidae: Hydrophiinae) diving to the mesopelagic zone (>200 m). Austral Ecology, 44(6), 752-756.