Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dikenal luas di dapur-dapur Indonesia sebagai bahan pengasam alami, pengganti asam jawa atau tomat dalam berbagai masakan. Namun di balik popularitasnya, buah ini juga tercatat sebagai salah satu buah paling asam di dunia, dengan kandungan asam oksalat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerabat dekatnya, belimbing manis (Averrhoa carambola). Klaim keasaman ini didukung oleh pengukuran laboratorium. Tingkat keasaman buah biasanya diukur lewat dua parameter, yaitu pH (skala yang menunjukkan konsentrasi ion hidrogen, semakin rendah nilainya semakin asam) dan titratable acidity atau keasaman tertitrasi (jumlah asam total yang dapat dinetralkan lewat proses titrasi dengan basa).
Sebuah penelitian mencatat pH jus belimbing wuluh berada di angka 2,2, dengan titratable acidity sebesar 0,66 persen. Sebagai perbandingan, penelitian lain terhadap buah sejenis dari Brasil mencatat bahwa pH daging buahnya lebih rendah dibandingkan buah-buah yang lazim dianggap sangat asam oleh masyarakat umum, seperti lemon, acerola, dan markisa. Selain pH, kandungan asam oksalat pada belimbing wuluh juga tercatat mencapai 10 hingga 14 miligram per gram pada buah muda, dan 8 hingga 10 miligram per gram pada buah matang, jauh lebih tinggi dibandingkan belimbing manis.

Buah ini berbentuk lonjong, panjang sekitar 4 sampai 10 sentimeter, dengan kulit tipis berlilin yang berubah dari hijau muda menjadi kuning kehijauan saat matang. Dagingnya renyah dan berair, tetapi rasa asamnya begitu tajam sehingga hampir tidak pernah dikonsumsi langsung sebagai buah segar.
Tanaman ini diyakini berasal dari kawasan Kepulauan Maluku, Indonesia, dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah tropis lain, termasuk Malaysia, Filipina, India, hingga Karibia. Di Jamaika, belimbing wuluh tercatat masuk pada 1793 melalui ekspedisi Kapten William Bligh. Di Indonesia sendiri, tanaman ini memiliki banyak nama lokal, seperti balingbing dan calingcing di Sunda, limeng di Aceh, serta blimbing wuluh di Jawa, menunjukkan sebaran dan keakraban tanaman ini dengan masyarakat di berbagai daerah sejak lama.
Peran dalam Kuliner dan Pengobatan Tradisional
Di Jawa, belimbing wuluh menjadi salah satu bahan sambal, seperti sambal belimbing wuluh yang dipadukan dengan cabai dan terasi, serta digunakan untuk menghilangkan bau amis pada ikan dan menambah rasa segar pada sayur asam. Salah satu hidangan khas Jawa Tengah yang mengandalkan belimbing wuluh sebagai sumber asam alami tanpa cuka adalah garang asem, yaitu ayam atau daging yang dibumbui dan dikukus dalam bungkus daun pisang, populer di daerah seperti Kudus, Semarang, Grobogan, dan Pekalongan.
Di Aceh, belimbing wuluh memiliki posisi khusus dalam tradisi kuliner. Buah ini diolah menjadi asam sunti, yaitu belimbing wuluh yang diawetkan dengan cara direndam air hingga berubah warna, lalu dijemur dan ditaburi garam berulang kali sampai kering. Proses ini menghasilkan bumbu yang bisa disimpan bertahun-tahun dan digunakan sebagai pengganti garam dalam hampir semua masakan Aceh, termasuk kuah asam keueng.

Selain untuk memasak, belimbing wuluh sejak lama dipakai dalam pengobatan tradisional di Asia Tenggara dan Asia Selatan, khususnya untuk meredakan batuk, demam, hingga diklaim membantu menurunkan tekanan darah. Sejumlah studi pada hewan model hipertensi menunjukkan ekstrak buah dan daun belimbing wuluh, baik dalam bentuk jus maupun ekstrak etanol, dapat menurunkan tekanan darah sistolik antara 14 hingga 102 mmHg dan diastolik 17 hingga 50 mmHg. Meski hasil ini konsisten pada berbagai model hewan, para peneliti menekankan perlunya kajian lanjutan untuk memastikan keamanan konsumsinya, terutama karena kandungan oksalat yang tinggi pada buah ini.
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Kandungan asam oksalat yang tinggi inilah yang menjadi perhatian utama dalam beberapa laporan medis. Sejumlah studi kasus dari India dan Malaysia mencatat kejadian gagal ginjal akut setelah pasien mengonsumsi jus belimbing wuluh dalam jumlah besar dan konsentrasi tinggi. Salah satu laporan kasus di Kerala, India, yang dipublikasikan dalam jurnal Case Reports in Nephrology, mendokumentasikan cedera ginjal akut akibat endapan kristal kalsium oksalat pada tubulus ginjal setelah konsumsi jus belimbing wuluh pekat.
Mekanismenya, oksalat dalam jumlah besar yang masuk ke tubuh akan berikatan dengan kalsium membentuk kristal kalsium oksalat. Kristal ini dapat menumpuk di saluran ginjal, merusak sel-sel tubulus, dan pada kasus berat memicu nekrosis tubulus akut, yaitu kerusakan jaringan ginjal yang bisa berujung pada kebutuhan cuci darah. Dalam sejumlah laporan kasus, tiga dari empat pasien yang mengalami kondisi ini memerlukan hemodialisis, meski fungsi ginjal mereka umumnya kembali normal setelah dua hingga enam minggu.
Risiko ini terutama muncul pada konsumsi jus pekat dalam jumlah besar dan tidak diencerkan, bukan pada penggunaan belimbing wuluh sebagai bumbu masakan dalam jumlah wajar seperti yang lazim dilakukan di dapur-dapur Indonesia. Para peneliti menyarankan kewaspadaan ekstra bagi orang dengan riwayat gangguan ginjal atau fungsi ginjal yang menurun, karena kelompok ini lebih rentan terhadap penumpukan oksalat.