Di antara keanekaragaman reptil dunia, sejumlah spesies memiliki ciri visual yang mencolok. Salah satu contohnya adalah Agama mwanzae, kadal dengan perpaduan warna kepala hingga bahu merah violet cerah, serta tubuh dan ekor berwarna biru tua.
Kombinasi warna ini membuat Agama mwanzae dikenal secara internasional sebagai “kadal Spider-Man” karena kemiripannya dengan warna kostum karakter superhero populer. Di balik julukan tersebut, Agama mwanzae, yang juga dikenal dengan nama Mwanza flat-headed rock agama atau kadal agama batu berkepala pipih Mwanza, merupakan spesies reptil yang menghuni kawasan sabana dan ekosistem berbatu di Afrika Timur. Menurut The Reptile Database, wilayah persebarannya mencakup Tanzania, Kenya, dan Rwanda.
Agama mwanzae merupakan anggota famili Agamidae. Ahli zoologi Arthur Loveridge pertama kali mendeskripsikannya pada 1923. Nama “mwanzae” merujuk pada wilayah Mwanza di Tanzania, lokasi asal spesimen yang digunakan dalam deskripsi awalnya. Habitatnya meliputi sabana, kawasan semi kering, serta lingkungan dengan banyak singkapan batu.
Warna dan Habitat di Bebatuan Sabana
Kepala, leher, dan bahu pejantan dominan dapat berwarna merah terang hingga violet. Tubuh dan ekornya berwarna biru tua. Warna ini tidak dimiliki semua individu. Betina, pejantan muda, dan pejantan subordinat memiliki warna yang lebih redup, umumnya cokelat atau abu-abu dengan pola gelap yang membantu menyamarkan tubuh di antara tanah dan bebatuan.
Perbedaan fisik antara jantan dan betina disebut dimorfisme seksual. Pada kadal agama, warna pejantan dapat berperan dalam komunikasi visual, digunakan saat berinteraksi dengan betina atau menghadapi pejantan lain. Secara umum, warna kulit reptil terbentuk melalui sel pigmen dan sel pemantul cahaya, namun penelitian mengenai mekanisme pembentukan warna merah dan biru secara khusus pada Agama mwanzae masih terbatas.

Agama mwanzae memiliki hubungan erat dengan formasi batuan besar yang disebut kopjes, yang banyak ditemukan di Serengeti dan wilayah sabana Afrika Timur lainnya. Kopjes menyediakan permukaan terbuka untuk berjemur. Sebagai hewan ektotermik, Agama mwanzae mengandalkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya, dan sering terlihat berada di atas batu pada siang hari untuk menyerap panas matahari.
Bebatuan juga menyediakan celah untuk berlindung. Saat menghadapi predator, suhu tinggi, atau gangguan lain, kadal dapat masuk ke ruang sempit di antara batu. Bentuk kepalanya yang pipih membantu pergerakan di dalam celah tersebut. Pejantan Agama mwanzae juga memiliki perilaku teritorial, memakai gerakan kepala, postur tubuh, dan gerakan menyerupai push-up sebagai bentuk komunikasi visual saat mempertahankan wilayah.
Pola Makan dan Status Konservasi
Informasi rinci mengenai makanan Agama mwanzae berasal dari penelitian di kopjes Taman Nasional Serengeti, dilakukan sebagai tesis magister di Sokoine University of Agriculture pada 2010. Peneliti memeriksa 120 spesimen dan mengidentifikasi sekitar 2.350 komponen makanan, sebagian besar dari empat kelompok serangga: Hymenoptera (semut, lebah, tawon) sebesar 47,03 persen, Isoptera (rayap) 29,78 persen, Coleoptera (kumbang) 18,29 persen, dan Orthoptera (belalang) 2,63 persen. Sisanya berasal dari komponen makanan lain yang tidak masuk dalam empat kelompok utama tersebut.

Makanan yang dikonsumsi berubah mengikuti musim. Pada musim hujan, serangga menjadi bagian terbesar dari makanannya karena jumlahnya lebih melimpah. Pada musim kering, materi tumbuhan menjadi lebih dominan, dengan peneliti menemukan daun, batang, bunga, buah, dan biji dalam saluran pencernaan spesimen. Kemampuan ini membantunya bertahan menghadapi perubahan musiman di sabana.
IUCN menggolongkan Agama mwanzae dalam kategori Least Concern atau Risiko Rendah, menunjukkan spesies ini belum menghadapi risiko kepunahan global yang tinggi berdasarkan penilaian yang tersedia. Spesies ini juga hidup di kawasan yang mendapat perlindungan, termasuk ekosistem Serengeti, yang membantu melindungi sebagian habitat dan populasinya.
Warna merah dan biru pada pejantan membuat spesies ini diminati dalam perdagangan hewan peliharaan eksotis, meski data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perdagangan tersebut telah menyebabkan penurunan populasi global. Penampilannya yang menarik juga tidak berarti kadal ini mudah dipelihara, karena memerlukan suhu, pencahayaan, ruang, dan susunan habitat yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya. Yang membuat Agama mwanzae menarik secara ilmiah adalah kemampuannya hidup di lingkungan berbatu dan menyesuaikan pola makan dengan perubahan musim.
**
Referensi:
Mchetto, D. F. “Insect Abundance and Food Intake by Agama mwanzae in Serengeti National Park, Tanzania.” Sokoine University of Agriculture, 2010.
https://www.suaire.sua.ac.tz/bitstreams/577a3eb2-7259-4f1c-9085-f14e84dcfa33/download