<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=muhammad-soleh&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/muhammad-soleh/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 22 Aug 2026 10:30:04 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 10:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fachri HamzahRichaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001741/UDARA-JAKARTA-KEMBALI-TIDAK-SEHAT-1-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132254</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ananda Randy, warga Jakarta Selatan, memilih tidak memperbanyak aktivitasnya di luar ruangan. Sebab, sesak napas selalu datang saat dia berada di luar ruangan. Membawa motor pun membuat matanya terasa perih. “Dada saya terasa sesak, dan sering bersin. Kalau berkendara pasti mata saya terasa perih,” ujar pria 30 tahun itu. Darlita, warga Jakarta Timur, pun merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/">Polusi Udara Jakarta Parah, Masalah Menahun Tanpa Penyelesaian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ananda Randy, warga Jakarta Selatan, memilih tidak memperbanyak aktivitasnya di luar ruangan. Sebab, sesak napas selalu datang saat dia berada di luar ruangan. Membawa motor pun membuat matanya terasa perih. “Dada saya terasa sesak, dan sering bersin. Kalau berkendara pasti mata saya terasa perih,” ujar pria 30 tahun itu. Darlita, warga Jakarta Timur, pun merasa hal yang sama. Perempuan 52 tahun harus mengeluarkan uang lebih untuk berobat. Sebab, dia alami batuk dan dehidrasi. ”Itu (beli obat) sangat mahal dibanding pendapatan,” kata pekerja rumah tangga itu. Mongabay memantau langit Jakarta Sepanjang Agustus. Kabut tipis membuat penampakan gedung-gedung pencakar langit samar, 13-20 Agustus. Beberapa kali napas terasa sesak dan mata perih. Laman pemantauan kualitas udara IQAir 16 Agustus pukul 06.01 WIB, pun mencatat Ibu Kota Indonesia itu menempati peringkat kedua kota dengan udara terburuk di dunia. Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 167 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 79 mikrogram per meter kubik. Begitu juga pada 22 Agustus 2026, AQI 158 dengan 68 PM2,5. Angka itu jauh di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sepanjang bulan kemerdekaan tahun ini, Jakarta bahkan nyaris tak pernah absen dari daftar 10 kota paling berpolusi di dunia. Pada 1 Agustus, misal, berada di peringkat ketiga dengan AQI 163. Konsentrasi PM2.5 melonjak ke 83 mikrogram per meter kubik—level tertinggi dalam sebulan terakhir, lima hari kemudian. Tangkapan layar aplikasi pemantau kualitas udara terhadap kondisi udara Jakarta, 10 Agustus. Kegagalan pengelolaan lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai buruknya kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bukan sekadar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/polusi-udara-jakarta-parah-masalah-menahun-tanpa-penyelesaian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 02:25:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22022200/8364413312_9b4b6f6372_o-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132243</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/">Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan Amazon ini. Semut peluru atau Paraponera clavata menempati posisi tertinggi dalam Schmidt Sting Pain Index, skala yang disusun entomolog Amerika Serikat Justin O. Schmidt sejak 1984 untuk membandingkan rasa sakit sengatan lebah, tawon, dan semut, dengan nilai maksimal 4 yang hanya diraih segelintir spesies. Panjang tubuhnya bisa mencapai 18 hingga 30 milimeter dengan warna cokelat kemerahan hingga kehitaman yang membuatnya lebih mirip tawon tak bersayap ketimbang semut pada umumnya. Semut peluru tersebar di hutan hujan dataran rendah mulai dari Honduras dan Nikaragua di Amerika Tengah sampai Bolivia dan Brasil di Amerika Selatan, dengan beberapa koloni bahkan ditemukan di ketinggian 1.500 meter. Racun yang Dirancang untuk Menyakitkan Rasa sakit dari sengatan semut peluru datang dari poneratoksin, peptida neurotoksik yang jadi komponen utama racunnya sejak pertama kali diisolasi para peneliti pada awal 1990-an. Racun ini menempel pada kanal ion natrium di sel saraf, gerbang yang biasanya membuka dan menutup untuk mengalirkan sinyal listrik antar neuron. Poneratoksin membuat kanal itu tetap terbuka lebih lama dari seharusnya, sehingga sinyal rasa sakit terus dikirim ke otak tanpa jeda. Belakangan, penelitian lanjutan bahkan menemukan bahwa yang selama ini disebut poneratoksin ternyata terdiri dari beberapa varian peptida yang strukturnya berbeda satu sama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/semut-peluru-semut-dengan-sengatan-paling-menyakitkan-di-dunia-serangga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 01:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22001342/Banjang-Tupai-Foto-Fariq-Izzudien-Ash-Shidiq-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132233</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ditakuti Padahal Penjaga Ekosistem]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur. Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/">Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur. Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian mereka tertuju pada seekor ular. “Pepohonan cukup tinggi, sementara tumbuhan bagian bawah relatif rapat,” ujar Fariq, yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Senin (10/8/26). Ular banjang tupai yang jago kamuflase. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq. Kondisi tersebut membuat warna tubuh banjang tupai menyatu dengan lingkungan. Kemampuan menyarunya tidak mudah diketahui bila tidak dilihat teliti. Fariq dan rekannya coba mendokumentasikan jenis itu. Menariknya, Boiga drapiezii tidak menunjukkan perilaku agresif. Saat didekati, posisinya yang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, cenderung menjauh. Tak terlihat upaya menyerang ataupun melakukan gerakan agresif untuk mempertahankan diri. “Relatif santai. Saya melihatnya seperti jenis ular yang tenang, namun tetap waspada” Karakter itu membuat proses pengamatan berlangsung relatif mudah. Baginya, respons banjang tupai berbeda dengan sejumlah ular lain yang pernah ditemui dan didokumentasikan. Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global. Banjang tupai yang menyukai hutan vegetasi rapat. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq. Mata mirip kucing Saat pengamatan, langit mendung. Tak lama setelah dokumentasi dilakukan, hujan turun. Fariq memperkirakan, pengamatan hanya berlangsung lima hingga sepuluh menit. Setelah mendapatkan foto yang diperlukan, mereka membiarkan ular tersebut kembali ke habitatnya. Keputusan itu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/22/ular-banjang-tupai-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>22 Agu 2026 00:01:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01035446/Nengah-Bantat-menunjukkan-garam-metode-geomembran-yang-hampir-siap-panen.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132184</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, produk kelautan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/">Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di generasinya. Bantat mulai menjadi petani garam pada 1979. Saat itu, ratusan warga di sepanjang pesisir Kusamba hingga Pesinggahan menggantungkan hidup dari produksi garam tradisional. Kini, jumlah petani garam terus menyusut. Anaknya pun memilih tidak meneruskan pekerjaan tersebut karena penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi alam. “Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya tidak tentu),” kata Bantat, pada Juni lalu. Kondisi serupa dialami Nengah Diana, petani garam generasi terakhir di keluarganya. Menurutnya, tidak ada lagi anggota keluarga yang bersedia melanjutkan usaha penggaraman. Padahal, garam Kusamba dikenal memiliki metode pembuatan tradisional yang khas menggunakan palung, cekungan dari batang pohon yang menjadi warisan budaya masyarakat pesisir Bali. Produksi garam di Kusamba terus mengalami penurunan. Pada 1970-an terdapat sekitar 180 petani garam. Saat penelitian pada 2022 jumlahnya tinggal 19 orang, dan ketika Mongabay berkunjung pada 2026, tersisa sekitar 14 petani. Produksi garam juga merosot drastis. Jika dibandingkan dengan 2014, produksinya turun hampir 100% pada 2024. Padahal, Klungkung pernah menjadi kabupaten penghasil garam terbesar di Bali. Di balik penurunan produksi, abrasi menjadi ancaman terbesar bagi petani garam. Bantat mengaku belum pernah mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/#respond</comments>
					<pubDate>21 Agu 2026 23:59:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/21235334/Foto-7-Delta-Mahakam-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132225</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan tahun Asharuddin jadi petambak di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dia menyaksikan perlahan hutan mangrove bersalin menjadi petak-petak tambak. Selama bertahun-tahun, Asharuddin menganggap mangrove sebagai penghalang. Akar-akar yang rapat itu dia nilai menghambat perluasan tambak, sumber ekonomi keluarga di Delta Mahakam. Sekitar lima tahun lalu, keyakinannya mulai memudar. Saat masih sebagai pengepul kepiting, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/">Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan tahun Asharuddin jadi petambak di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dia menyaksikan perlahan hutan mangrove bersalin menjadi petak-petak tambak. Selama bertahun-tahun, Asharuddin menganggap mangrove sebagai penghalang. Akar-akar yang rapat itu dia nilai menghambat perluasan tambak, sumber ekonomi keluarga di Delta Mahakam. Sekitar lima tahun lalu, keyakinannya mulai memudar. Saat masih sebagai pengepul kepiting, dia rutin mendatangi tambak kerabatnya, Rustam di Sepatin, Delta Mahakam. Tambak itu seluas sekitar 40 hektar. Rustam memilih mempertahankan mangrove alami di dalam tambak. Awalnya Asharduddin heran mengapa tambak itu bisa panen jauh lebih baik dari tambak lain. Belakangan dia tahu karena pemilik tambak tetap mempertahankan mangrove. “Waktu itu saya lihat kok banyak pohonnya (mangrove). Saya pikir kenapa bisa tetap bagus hasilnya. Ternyata, mangrove juga menghisap racun-racun yang terpendam di lumpur. Itu sebenarnya salah satu kuncinya,” katanya. Dari informasi Asharuddin, sistem budidaya di tambak itu menggunakan pola tebar benih bertahap bersama mangrove atau yang dikenal dalam sistem silvofishery (tambak tumpang sari). Metode budidaya perikanan,  seperti bandeng atau udang selang seling dengan penanaman mangrove secara periodik agar fungsi ekologis dan produktivitas tambak tetap seimbang. “Panen bisa setiap dua bulan sekali. Biasanya lebih dari satu ton, terkadang hampir dua ton. Kalau dijual bisa ratusan juta rupiah.” Bibit mangrove yang baru ditanam di salah satu lokasi rehabilitasi Delta Mahakam. Penanaman kembali ini merupakan bagian dari upaya pemulihan fungsi ekosistem dan penyerap karbon pesisir yang terdegradasi. Foto: Yuda Almerio/Mongabay Indonesia Giat rawat mangrove Setelah melihat perubahan itu, keyakinannya berbalik. Kini, dia menjadi salah satu orang yang paling giat merawat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/21/upaya-para-petambak-pulihkan-mangrove-delta-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Khawatir Terdampak, Warga Tolak Tambang Pasir Sungai Serayu </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Agu 2026 15:50:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/20173621/tambang2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132190</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mendatangi lokasi tambang pasir di Sungai Serayu, Selasa (17/8/26). Mereka mendesak penyetopan aktivitas tambang pasir laut di sana. Sarno, koordinator aksi mengatakan, aktivitas tambang pasir dalam dua bulan itu resahkan warga. “Kami khawatir penambangan tersebut dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama nanti pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/">Khawatir Terdampak, Warga Tolak Tambang Pasir Sungai Serayu </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mendatangi lokasi tambang pasir di Sungai Serayu, Selasa (17/8/26). Mereka mendesak penyetopan aktivitas tambang pasir laut di sana. Sarno, koordinator aksi mengatakan, aktivitas tambang pasir dalam dua bulan itu resahkan warga. “Kami khawatir penambangan tersebut dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama nanti pada saat musim penghujan datang. Kami menolak tambang pasir menggunakan mesin,&#8221; katanya Keresahan warga itu cukup beralasan. Dulu, longsor pernah terjadi hingga paksa beberapa warga pindahkan rumah. Kendati peristiwa itu berlangsung 30 tahun silam, dia dan warga lain masih mengingatnya. “Kami merasa resah, terancam, dan terganggu. Selama hampir 30 tahun kami masih ingat kejadian longsor dulu, termasuk rumah warga yang sampai harus pindah beberapa kali,” katanya. Rasa was-was makin menjadi-jadi, karena pengambilan pasir di Sungai Serayu bertambah besar. “Bayangkan saja, di sini sudah ada 11 mesin penyedot pasir. Kami mencatat, awalnya hanya tiga mesin, kemudian bertambah delapan dan saat ini telah mencapai 11 mesin penyedot,”katanya. Sarno juga mendapat keluhan warga yang mencemaskan keselamatan anak-anak yang beraktivitas di sekitar lokasi. Setiap sore, banyak anak-anak melintas di kawasan tersebut untuk mengikuti kegiatan mengaji. Dia memperkirakan jumlah truk pengangkut pasir sekitar 50 unit truk ukuran besar. “Bisa dibayangkan bagaimana jalan yang dilewati truk tersebut,”ujarnya. Selain mendatangi lokasi tambang, dalam aksinya, warga juga memasang patok dan portal untuk menghalau kendaraan tambang masuk. Langkah itu warga lakukan setelah penambang ingkari hasil kesepakatan. &#8220;Kami sudah melalui jalur prosedural, sudah bertemu dengan Pemdes dan pihak penambang, bahkan sudah ada kesepakatan. Namun, akhirnya kesepakatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/21/khawatir-terdampak-warga-tolak-tambang-pasir-sungai-serayu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kerang Darah dan Perubahan Lanskap Pantai Timur Pulau Bangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/#respond</comments>
					<pubDate>21 Agu 2026 00:15:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/20233940/Eliana-Zuki-berlindung-dari-sengatan-matahari-di-sekitar-pantai-Kedimpal-yang-telah-berubah-menjadi-hamparan-pasir.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132198</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bengka belitung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Lahan Basah, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari tepat di atas kepala Eliana Zuki (51) yang mencari kerang darah (Anadara granosa). Di pesisir, terik matahari terasa lebih menyengat. Memasuki pertengahan tahun, suhu di Pulau Bangka dapat menyentuh angka 31-34 derajat Celsius. “Istirahat dulu, kalau tidak nanti bisa migren,” kata Eliana, yang menetap di Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/">Kerang Darah dan Perubahan Lanskap Pantai Timur Pulau Bangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari tepat di atas kepala Eliana Zuki (51) yang mencari kerang darah (Anadara granosa). Di pesisir, terik matahari terasa lebih menyengat. Memasuki pertengahan tahun, suhu di Pulau Bangka dapat menyentuh angka 31-34 derajat Celsius. “Istirahat dulu, kalau tidak nanti bisa migren,” kata Eliana, yang menetap di Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, kepada Mongabay Indonesia, Kamis (6/8/26). Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan sederhana dengan empat tiang kayu kecil yang menyangga atap karung. Eliana dan rekannya bergegas menuju pondok yang sengaja mereka bangun beberapa bulan lalu. “Kalau tidak ada ini (pondok), bisa mati kena matahari ini,” ujar Indira Wahyu, rekan Eliana, sembari menyantap makan siang yang sudah mereka siapkan dari rumah. Eliana Zuki berlindung dari sengatan matahari di sekitar pantai Kedimpal yang telah berubah menjadi hamparan pasir. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Saat sebagian besar perempuan memilih untuk ngereman (meminta jatah timah), Eliana dan Indira adalah sedikit perempuan di pesisir timur Pulau Bangka, khususnya di Dusun Kedimpal yang bertahan mencari kerang. “Anak-anak saya juga tidak saya sarankan untuk pekerjaan ini,” kata Eliana. Mereka mencari kerang menyesuaikan jadwal pasang surut laut. Saat Agustus, air laut pasang saat sore hari. Kesempatan mereka mencari kerang pagi hingga siang hari. “Kalau surutnya sore lebih enak, agak teduh.” Dalam sehari, paling banyak Eliana membawa pulang tiga kilogram kerang darah. Di tingkat pengepul, harga per kilogram hanya Rp7.000. “Dulu, cari 10 kilogram kerang itu mudah, sekarang susah sekali.” Indriana sedang mencari kerang, dengan latar belakang ponton penambangan timah lepas pantai. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/21/kerang-darah-dan-perubahan-lanskap-pantai-timur-pulau-bangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menakar Ekowisata di Taman Nasional Gede Pangrango</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 23:59:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/20235318/Eiger-Nature-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132206</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah mulai mendorong transformasi pengelolaan 57 taman nasional menuju model ekowisata awal 2026, tak terkecuali di Taman Nasional Gede Pangrango. Pemerintah mengklaim langkah itu demi memutus ketergantungan pada anggaran negara sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan satwa. Klaim pemerintah, dengan model ini mampu menggeser posisi taman nasional dari cost center menuju pengelolaan mandiri secara pembiayaan. Hasilnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/">Menakar Ekowisata di Taman Nasional Gede Pangrango</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah mulai mendorong transformasi pengelolaan 57 taman nasional menuju model ekowisata awal 2026, tak terkecuali di Taman Nasional Gede Pangrango. Pemerintah mengklaim langkah itu demi memutus ketergantungan pada anggaran negara sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan satwa. Klaim pemerintah, dengan model ini mampu menggeser posisi taman nasional dari cost center menuju pengelolaan mandiri secara pembiayaan. Hasilnya untuk kebutuhan pengelolaan kawasan termasuk pengamanan dan pemberdayaan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan. Sadtata Noor Adirahmanta,  Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), mengatakan, kawasan konservasi tak sepenuhnya tertutup bagi aktivitas ekonomi. Di luar zona inti dan zona rimba, yakni, zona pemanfaatan, katanya, ruang perizinan usaha tetap terbuka. “Memang secara aturan, di zona pemanfaatan itu dibuka ruang-ruang usaha seperti jasa wisata alam,” kata Sadtata saat ditemui di Kantor TNGGP, Gunung Putri, Kabupaten Cianjur, beberapa waktu lalu. Berdasarkan Rencana Strategis TNGGP 2025–2029, sebanyak delapan izin usaha penyediaan sarana wisata alam (IUPSWA) terbit. Baru dua perusahaan resmi beroperasi. Izin usaha penyediaan sarana wisata alam berlaku dengan masa konsesi 55 tahun dan opsi perpanjangan selama 20 tahun. Kelanjutan hak kelola ini bergantung pada instrumen evaluasi berkala. Bila pemegang izin terbukti tidak patuh, katanya, pemerintah berwenang melakukan pencabutan izin. Pertama, PT Ponties yang mengelola kawasan Situ Gunung Suspension Bridge seluas 102,76 hektar di Kabupaten Sukabumi sejak 2017. Kedua, PT Eigerindo Multi Produk Industri yang mengantongi hak kelola 253,66 hektar di zona pemanfaatan Barubolang, Kabupaten Bogor, sejak 2019. Kemudian izin lain oleh sejumlah perusahaan, antara lain,  PT Santa Monica Indonesia, PT Fontis Aquam Vivam, PT Bumi Paseban&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/20/menakar-ekowisata-di-taman-nasional-gede-pangrango/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 12:30:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Rusdianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18044821/VAle-Industri-FOTO-Iqbal-Lubis-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132116</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alex Pius melepas topi rimba yang dia kenakan dan mengestafetkan pada kerabatnya yang tengah menyambungkan rangka atap di atas bambu-bambu yang  berdiri membungkus salah satu lapangan voli di Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, medio Juni lalu. Sengatan panas menyulut inisiatifnya itu. “Kemarau sudah datang, sudah tidak ada hujan. Tapi warga sudah panen,” kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/">Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alex Pius melepas topi rimba yang dia kenakan dan mengestafetkan pada kerabatnya yang tengah menyambungkan rangka atap di atas bambu-bambu yang  berdiri membungkus salah satu lapangan voli di Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, medio Juni lalu. Sengatan panas menyulut inisiatifnya itu. “Kemarau sudah datang, sudah tidak ada hujan. Tapi warga sudah panen,” kata pria 38 tahun itu. Sejak pagi, Alex dan puluhan pria dari berbagai usia bekerja di sana. Mereka berkumpul, bersendagurau, saling mengingatkan untuk hati-hati dan saling meledek. Ada yang tertawa, ada yang berteriak girang. Beberapa orang bilang pada saya, jika hidup secara gotong royong di Tabarano masih berlangsung. Orang-orang itu mengundang saya datang pada Minggu, dua hari selanjutnya. Mereka akan menggelar pesta syukur panen atas limpahan penghasilan dari tanah kebun dan pertaniannya. Dalam gelaran syukur panen itu akan ada tarian dan hiburan. Makanan tentu saja akan tersaji di meja dan semua orang bisa mencicipinya. Setiap rumah akan membuat peong–sejenis lemang–yang selalu menjadi rebutan. Hingga berbagai macam kue olahan. Selanjutnya pada malam syukur akan ada tarian dero. Tarian yang memungkinkan siapa pun untuk ikut bergabung. Tarian bagi anak muda hingga orang tua meluapkan kegembiraan. Gerakan saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Saat beberapa pria masih saling berbagi rokok di pinggir lapangan sembari mengawasi pembangunan rangka, seorang pria lain berteriak. Makan siang sudah siap di salah satu rumah warga. Beberapa saat kemudian, orang-orang berjalan meninggalkan lapangan. Saya menjadi bagian dari kumpulan warga yang menyantap menu makan siang itu. Rasanya sungguh menyenangkan, memegang piring dan mencari sendiri tempat duduk.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/20/petani-damar-tabarano-waswas-kebun-jadi-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asa Kemerdekaan bagi Masyarakat Terdampak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/20/asa-kemerdekaan-bagi-masyarakat-terdampak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/20/asa-kemerdekaan-bagi-masyarakat-terdampak/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 00:10:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Tim Mongabay Indonesia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14010813/Papua-forest-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132169</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Pada 17 Agustus lalu, memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Meski peringatan kemerdekaan Indonesia berlangsung setiap tahun, di berbagai penjuru negeri, masih banyak warga merasa belum mendapatkan rasa aman, berada dalam waswas dan khawatir tersingkir dari ruang hidup sampai hidup dalam lingkungan tak tercemar hingga berisiko bagi kesehatan mereka. Apakah itu sudah merdeka? “Kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/asa-kemerdekaan-bagi-masyarakat-terdampak/">Asa Kemerdekaan bagi Masyarakat Terdampak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Pada 17 Agustus lalu, memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Meski peringatan kemerdekaan Indonesia berlangsung setiap tahun, di berbagai penjuru negeri, masih banyak warga merasa belum mendapatkan rasa aman, berada dalam waswas dan khawatir tersingkir dari ruang hidup sampai hidup dalam lingkungan tak tercemar hingga berisiko bagi kesehatan mereka. Apakah itu sudah merdeka? “Kalau menurut saya sih belum merdeka. Mungkin untuk mereka (pemerintah), merdeka. Untuk kami,  masyarakat adat belum merdeka. Kami tidak leluasa dengan apa yang ada sekarang ini,” kata Jakiyah, perempuan adat Balik di Kalimantan Timur, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), kepada Mongabay. Dia bilang, dampak pembangunan infrastuktur IKN, salah satu proyek Intake Sepaku,  juga jadi konsekuensi yang masyarakat tanggung di Kampung Sepaku Lama. Bencana pun mulai melanda, terutama ketika musim hujan, mereka kebanjiran. Saat kemarau panjang, masyarakat hadapi krisis air. “Meskipun ndak musim kemarau, ya sulit juga untuk masyarakat adat karena kan tidak bisa ambil air ke sungai karena turapnya tinggi. Kan susah juga memasang sanyo (pompa air) ke sungai. Kalau dulu kan enak saja.” Saat hutan makin tergerus, masyarakat Suku Balik mengandalkan hasil padi di sawah maupun tanaman di kebunnya. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia Merdeka tak sekadar&#8230; Cerita dari Lililef Sawai, Halmahera Tengah (Maluku Utara), Pasahari, Seram Utara, dan Marafenfen serta Popjetur di Kepulauan Aru, Maluku,   juga memperlihatkan tak jauh beda. Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan berarti tetap memiliki kendali atas tanah, laut, hutan, kebun, padang savana dan sumber pangan warisan leluhur. Di Desa Lelilef Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, perubahan besar datang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/asa-kemerdekaan-bagi-masyarakat-terdampak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/20/asa-kemerdekaan-bagi-masyarakat-terdampak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antaresia perthensis, Piton Terkecil Di Dunia yang Tumbuh Sepanjang Dua Ekor Tokek Dewasa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/20/antaresia-perthensis-piton-terkecil-di-dunia-yang-tumbuh-sepanjang-dua-ekor-tokek-dewasa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/20/antaresia-perthensis-piton-terkecil-di-dunia-yang-tumbuh-sepanjang-dua-ekor-tokek-dewasa/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 00:08:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/19235511/Antaresia_perthensis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132172</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di kawasan kering Pilbara, Australia Barat, hidup seekor piton yang jauh berbeda dari bayangan umum orang tentang ular jenis ini. Antaresia perthensis, yang dikenal sebagai piton kerdil atau anthill python, hanya tumbuh hingga panjang 50 sampai 60 sentimeter saat dewasa, dengan berat tubuh berkisar 100 hingga 200 gram. Ukuran ini menjadikannya spesies piton terkecil yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/antaresia-perthensis-piton-terkecil-di-dunia-yang-tumbuh-sepanjang-dua-ekor-tokek-dewasa/">Antaresia perthensis, Piton Terkecil Di Dunia yang Tumbuh Sepanjang Dua Ekor Tokek Dewasa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di kawasan kering Pilbara, Australia Barat, hidup seekor piton yang jauh berbeda dari bayangan umum orang tentang ular jenis ini. Antaresia perthensis, yang dikenal sebagai piton kerdil atau anthill python, hanya tumbuh hingga panjang 50 sampai 60 sentimeter saat dewasa, dengan berat tubuh berkisar 100 hingga 200 gram. Ukuran ini menjadikannya spesies piton terkecil yang tercatat di dunia, jauh di bawah bayangan piton raksasa yang mampu melilit mangsa sebesar rusa. Nama ilmiah perthensis sebenarnya menyimpan kekeliruan sejarah. O.G. Stull, yang pertama kali mendeskripsikan spesies ini pada 1932, menamainya berdasarkan dugaan asal spesimen dari Perth, ibu kota Australia Barat. Belakangan diketahui dugaan itu meleset jauh. Piton kerdil tidak pernah tercatat hidup di sekitar Perth, melainkan di wilayah Pilbara dan Gascoyne, sekitar 600 kilometer dari kota tersebut. Secara taksonomi, piton kerdil masuk dalam genus Antaresia, kelompok piton berukuran kecil yang hanya ditemukan di Australia dan sebagian kecil Papua, beranggotakan empat spesies: A. perthensis, A. childreni, A. stimsoni, dan A. maculosa. Analisis morfologi dan DNA mitokondria menunjukkan piton kerdil paling berkerabat dekat dengan A. childreni, sementara A. maculosa merupakan cabang yang berpisah lebih dulu dari kelompok ini. Kajian filogeografi yang lebih mutakhir, yang memakai ribuan penanda genom dan data morfometrik, memperkuat kesimpulan bahwa piton kerdil adalah garis keturunan tersendiri yang berevolusi terpisah dalam rentang waktu panjang di kawasan aridnya. Bertahan Hidup di Balik Gundukan Rayap Julukan anthill python melekat pada spesies ini karena kebiasaannya bersembunyi di dalam gundukan rayap, yang suhunya bisa mencapai 38 derajat Celsius pada siang hari. Suhu setinggi ini justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/20/antaresia-perthensis-piton-terkecil-di-dunia-yang-tumbuh-sepanjang-dua-ekor-tokek-dewasa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/20/antaresia-perthensis-piton-terkecil-di-dunia-yang-tumbuh-sepanjang-dua-ekor-tokek-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sejak PLTU Beroperasi, Petani Rumput Laut Lifuleo Gagal Panen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sejak-pltu-beroperasi-petani-rumput-laut-lifuleo-gagal-panen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sejak-pltu-beroperasi-petani-rumput-laut-lifuleo-gagal-panen/#respond</comments>
					<pubDate>20 Agu 2026 00:01:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/24052816/FOTO-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132133</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tumpukan rumput laut basah terlihat di beberapa titik pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Oktaf Alexander Saketu bersama keluarganya memilah rumput laut yang masih layak dan membuang sebagian yang rusak akibat penyakit ice-ice. Sejak 2023, penyakit itu membuat budidaya rumput laut gagal panen. Memucat, berlendir, lalu patah sebelum masa panen. “Kemarin-kemarin rumput laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sejak-pltu-beroperasi-petani-rumput-laut-lifuleo-gagal-panen/">Sejak PLTU Beroperasi, Petani Rumput Laut Lifuleo Gagal Panen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tumpukan rumput laut basah terlihat di beberapa titik pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Oktaf Alexander Saketu bersama keluarganya memilah rumput laut yang masih layak dan membuang sebagian yang rusak akibat penyakit ice-ice. Sejak 2023, penyakit itu membuat budidaya rumput laut gagal panen. Memucat, berlendir, lalu patah sebelum masa panen. “Kemarin-kemarin rumput laut di sini bagus sekali. Sekarang susah sekali dapat hasil,” kata Oktaf pada Mei lalu. Baginya, perubahan itu mulai terasa sejak September 2023 saat PLTU Timor-1 beroperasi di Dusun Panaf, Desa Lifuleo. Dampaknya, hasil tangkapan ikan menurun dan rumput laut semakin sulit tumbuh. Padahal, sejak 1999, wilayah ini terkenal sebagai salah satu sentra budidaya rumput laut yang produktif. Kondisi itu juga dirasakan oleh Seprianus Alexander, dia menduga pencemaran laut mulai terjadi setelah PLTU beroperasi. Terumbu karang rusak, ikan menjauh, dan rumput laut sering mati sebelum dipanen.  “Sebelumnya, kami bisa panen 1-2 ton per keluarga. Sekarang dapat seratus kilogram saja sudah bersyukur,” katanya. Penurunan produksi itu berdampak langsung pada ekonomi warga. Banyak keluarga terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak. Sebagian lainnya beralih pekerjaan menjadi pencari benih rumput laut di desa lain, buruh bangunan, pedagang asongan, hingga anak buah kapal karena hasil laut tak lagi dapat diandalkan sebagai sumber penghidupan. Viena Tella, petani perempuan rumput laut Desa Lifuleo juga merasakan kondisi serupa. Menurutnya, sebelum 2023 penyakit ice-ice hampir tidak pernah menjadi persoalan. Kini, tanaman yang baru berumur dua minggu saja bisa rusak hingga yang tersisa hanya tali pengikatnya. Harga rumput laut pun ikut merosot,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sejak-pltu-beroperasi-petani-rumput-laut-lifuleo-gagal-panen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sejak-pltu-beroperasi-petani-rumput-laut-lifuleo-gagal-panen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/19/cerita-petani-cengkih-aceh-di-tengah-iklim-yang-berubah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/19/cerita-petani-cengkih-aceh-di-tengah-iklim-yang-berubah/#respond</comments>
					<pubDate>19 Agu 2026 23:59:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18043128/Foto-2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131833</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dulu aroma cengkih semerbak menguar dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh. Apalagi, ketika  musim panen tiba, para petani menjemur cengkih di teras depan rumah. Angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Sebelum Sabang berkembang sebagai destinasi wisata, ia terkenal sebagai salah satu sentra penghasil cengkih unggulan di Aceh, selain Kabupaten Aceh Besar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/cerita-petani-cengkih-aceh-di-tengah-iklim-yang-berubah/">Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dulu aroma cengkih semerbak menguar dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh. Apalagi, ketika  musim panen tiba, para petani menjemur cengkih di teras depan rumah. Angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Sebelum Sabang berkembang sebagai destinasi wisata, ia terkenal sebagai salah satu sentra penghasil cengkih unggulan di Aceh, selain Kabupaten Aceh Besar, Simeulue, dan Aceh Barat Daya. Pada masa itu, banyak orang menyeberang ke Sabang untuk ikut memanen kuncup bunga cengkih ini. Di Kota Sabang, tanaman cengkih (Syzygium aromaticum) dari keluarga Myrtaceae tumbuh dan tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Weh, mulai dari Balohan, Jaboi, Anoi Itam, dan di desa-desa lain di Kecamatan Sukamakmue, Sukajaya, dan Sukakarya. Kini, Kota Sabang mulai kehilangan aroma cengkihnya terganti dengan pekatnya aroma laut. Tahun ini, banyak pohon cengkih tak berbunga, banyak yang mati. Seluruh daun berguguran dan menyisakan batang yang kering. Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, bilang, dari kebun yang dia jaga seluas empat hektar dengan 520 pohon hanya 40 yang berbunga dan bisa panen tahun ini. “Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya, Senin (20/7/26). Setidaknya, selama 10 tahun terakhir, Sayuti merasakan panen cengkih tak lagi tiap tahun seperti sebelumnya. “Kalau tahun ini semua pohon berbunga, biasanya tahun berikutnya sering kali banyak yang tidak berbunga,” katanya. Tak hanya itu, pohon cengkih juga lebih sensitif dan perlu perawatan ekstra seperti pupuk agar tak mudah mati dan punya hasil panen yang berkualitas. “Dulu, itu tidak perlu pupuk,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/cerita-petani-cengkih-aceh-di-tengah-iklim-yang-berubah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/19/cerita-petani-cengkih-aceh-di-tengah-iklim-yang-berubah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kera dan Monyet Ternyata Juga &#8220;Memelihara&#8221; Hewan Lain, dari Tikus hingga Rusa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/19/kera-dan-monyet-ternyata-juga-memelihara-hewan-lain-dari-tikus-hingga-rusa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/19/kera-dan-monyet-ternyata-juga-memelihara-hewan-lain-dari-tikus-hingga-rusa/#respond</comments>
					<pubDate>19 Agu 2026 09:58:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/19095525/screenshot_2026-08-17_at_34552pm-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132164</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kera dan monyet ternyata tidak hanya berinteraksi dengan sesamanya. Sebuah studi baru menemukan bahwa banyak primata juga menjalin hubungan sosial yang cukup dekat dengan hewan dari spesies lain, mulai dari tikus, anjing, babi, hingga rusa. Perilaku ini bahkan mengingatkan pada cara manusia memelihara hewan peliharaan. Studi tersebut dipublikasikan di jurnal Primates pada Juli 2026 dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/kera-dan-monyet-ternyata-juga-memelihara-hewan-lain-dari-tikus-hingga-rusa/">Kera dan Monyet Ternyata Juga &#8220;Memelihara&#8221; Hewan Lain, dari Tikus hingga Rusa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kera dan monyet ternyata tidak hanya berinteraksi dengan sesamanya. Sebuah studi baru menemukan bahwa banyak primata juga menjalin hubungan sosial yang cukup dekat dengan hewan dari spesies lain, mulai dari tikus, anjing, babi, hingga rusa. Perilaku ini bahkan mengingatkan pada cara manusia memelihara hewan peliharaan. Studi tersebut dipublikasikan di jurnal Primates pada Juli 2026 dan digagas oleh tim peneliti internasional yang dipimpin ilmuwan dari University of Oxford. Mereka mengumpulkan 427 kasus interaksi antarspesies dari tiga sumber, yaitu literatur ilmiah, laporan media, dan survei terhadap peneliti primata di berbagai negara. Data itu melibatkan 88 spesies primata yang berinteraksi dengan 127 spesies hewan lain, baik di alam liar maupun di penangkaran. Beberapa contoh yang tercatat cukup menarik. Di Kebun Binatang Shanghai, seekor owa berpipi putih memungut dan membelai seekor tikus yang masuk ke kandangnya, bukan memangsanya. Di Thailand, sekelompok kera ekor pendek terlihat menyisik bulu seekor anjing liar di sebuah kuil. Di Sri Lanka, seekor lutung membelai tupai raksasa. Sementara di Jepang, monyet macaca sudah lama dikenal biasa menyisik dan menumpang di punggung rusa sika. Kenapa Primata Melakukan Ini Sebagian besar interaksi yang tercatat bersifat ramah, terutama dalam bentuk bermain dan menyisik bulu. Primata yang masih muda lebih sering bermain dengan hewan lain, sedangkan betina dewasa lebih sering menyisik. Primata jantan dewasa justru paling jarang menunjukkan perilaku ramah semacam ini kepada hewan lain. Sekelompok kera ekor pendek (Macaca arctoides) menyisik bulu seekor anjing domestik di kompleks Kuil Khao Tao Mo, Thailand. Foto: Neil Challis via Grueter et al., Primates (2026)/CC BY 4.0&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/kera-dan-monyet-ternyata-juga-memelihara-hewan-lain-dari-tikus-hingga-rusa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/19/kera-dan-monyet-ternyata-juga-memelihara-hewan-lain-dari-tikus-hingga-rusa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisna Tidak Bisa Jauh dari Kehidupan Orangutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/19/krisna-tidak-bisa-jauh-dari-kehidupan-orangutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/19/krisna-tidak-bisa-jauh-dari-kehidupan-orangutan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Agu 2026 09:21:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/19085924/Orangutan-Tapanuli-yang-diselamatkan-Krisna-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132150</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Telepon genggam Krisna tidak pernah mati. Dering itu menjadi bagian hidupnya, sepanjang 15 tahun. Setiap panggilan, artinya ada orangutan dalam bahaya. “Tidak jarang, kondisinya lemah, terluka, atau terisolasi,” jelasnya, Jumat (14/8/26). Bersama tim Human-Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL-OIC, pemilik nama asli Suhendra ini, mendatangi berbagai lokasi. Tim terkadang berhari-hari mencari orangutan sumatera yang terjebak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/krisna-tidak-bisa-jauh-dari-kehidupan-orangutan/">Krisna Tidak Bisa Jauh dari Kehidupan Orangutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Telepon genggam Krisna tidak pernah mati. Dering itu menjadi bagian hidupnya, sepanjang 15 tahun. Setiap panggilan, artinya ada orangutan dalam bahaya. “Tidak jarang, kondisinya lemah, terluka, atau terisolasi,” jelasnya, Jumat (14/8/26). Bersama tim Human-Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL-OIC, pemilik nama asli Suhendra ini, mendatangi berbagai lokasi. Tim terkadang berhari-hari mencari orangutan sumatera yang terjebak di kebun warga atau kawasan hutan. “Tidak jarang, kami manjat pohon besar. Kemudian, kami pindahkan orangutan itu ke tempat rehabilitasi.” Bagi Krisna, belasan tahun di lapangan, hutan dan kebun seperti dua ruang saling berhimpitan. Di satu sisi, ada manusia yang menggantungkan hidup dari kebun, di sisi lain ada orangutan yang datang mencari pakan, karena habitatnya menyempit. Orangutan tapanuli yang diselamatkan Krisna dan Tim HOCRU YOSL-OIC. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Di tengah dua kepentingan itu, Krisna berdiri. Dia tidak hanya berhadapan dengan satwa liar, tetapi juga dengan manusia yang memiliki kebutuhan dan hak untuk merasa aman. “Ketika orangutan masuk kebun, masyarakat merasa tanaman mereka dirusak. Di sisi lain, orangutan hanya mencari makan karena sumber pakan di wilayah jelajahnya makin sulit.” Bagi Krisna, konservasi bukan hanya menentukan siapa yang benar atau salah. Hal paling penting adalah solusi agar perjumpaan manusia dengan orangutan tidak berakhir dengan penderitaan. Keberhasilan juga tidak selalu berarti ketika ada individu orangutan yang dievakuasi. Konflik yang dapat diselesaikan tanpa memindahkan satwa, justru keberhasilan nyata. “Harapan saya, manusia dan orangutan bisa hidup harmonis dan evakuasi menjadi pilihan terakhir.” Krisna (dua dari kiri) bersama tim HOCRU YOSL-OIC dan BKSDA Aceh mengangkut orangutan sumatera untuk dilepasliarkan ke&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/krisna-tidak-bisa-jauh-dari-kehidupan-orangutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/19/krisna-tidak-bisa-jauh-dari-kehidupan-orangutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/19/opini-apakah-hutan-indonesia-sudah-merdeka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/19/opini-apakah-hutan-indonesia-sudah-merdeka/#respond</comments>
					<pubDate>19 Agu 2026 00:59:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riezcy Cecilia Dewi dan Restu Diantina Putri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232836/orangutan-tapanuli-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132140</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; “Dari Jakarta menuju Batang Toru, Satya Bumi mengayuh bukan sekadar menempuh ribuan kilometer, tetapi menagih komitmen negara untuk memulihkan bentang alam rusak dan memastikan hutan Indonesia tetap menjadi rumah bagi manusia, tumbuhan, maupun satwa liar” Pada penghujung 2025, banjir bandang dan longsor melanda bentang alam Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/opini-apakah-hutan-indonesia-sudah-merdeka/">Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; “Dari Jakarta menuju Batang Toru, Satya Bumi mengayuh bukan sekadar menempuh ribuan kilometer, tetapi menagih komitmen negara untuk memulihkan bentang alam rusak dan memastikan hutan Indonesia tetap menjadi rumah bagi manusia, tumbuhan, maupun satwa liar” Pada penghujung 2025, banjir bandang dan longsor melanda bentang alam Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Batang Toru menjadi salah satu episentrum bencana itu. Bencana merusak sekitar 8.303 hektar hutan di bagian blok barat Lanskap Batang Toru. Para peneliti memperkirakan setidaknya 58 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di blok barat ikut menjadi korban bencana itu, sekitar 7% dari populasinya. Bencana ini memang terpicu hujan dengan intensitas tinggi. Namun ini juga dampak bentang alam yang secara alami rentan dan makin parah dengan kooptasi industri ekstraktif. Daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru kehilangan 28.900 hektar tutupan hutan menjadi non-hutan, kini memiliki lahan kritis 35.000 hektar. Ketika bentang alam seperti ini terus mengalami tekanan akibat perubahan tutupan hutan, kemampuan alam meredam bencana ikut melemah. Peristiwa itu mengingatkan kita pada peringatan Robert Nasi dari Center for International Forestry Research: &#8220;There is a lot of risk of a domino effect. If we don&#8217;t protect forests, people will migrate, there will be climate refugees.&#8221; Kerusakan hutan memicu efek domino yang tidak hanya menghilangkan pepohonan. Siklus air terganggu, tanah kehilangan daya serap, habitat satwa liar terfragmentasi, produktivitas pertanian menurun, bencana makin sering terjadi. Hingga akhirnya masyarakat kehilangan ruang hidup. Ketika itu terjadi, manusia cenderung bermigrasi ke tempat yang lebih aman. Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81, muncul pertanyaan:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/19/opini-apakah-hutan-indonesia-sudah-merdeka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/19/opini-apakah-hutan-indonesia-sudah-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laut Tak Lagi Menjanjikan, Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia Kian Terhimpit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/laut-tak-lagi-menjanjikan-nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia-kian-terhimpit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/laut-tak-lagi-menjanjikan-nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia-kian-terhimpit/#respond</comments>
					<pubDate>19 Agu 2026 00:01:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22003013/Kerang-Lola-Morombo-Pantai-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132089</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dulu, laut di pesisir Soropia, Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi tumpuan hidup masyarakat Suku Bajo. Kini, laut tak lagi menjanjikan akibat cuaca semakin sulit diprediksi, gelombang lebih tinggi, dan hasil tangkapan nelayan terus menurun. Dampaknya paling terasa bagi perempuan Bajo yang harus memikul beban berlapis demi menjaga dapur keluarga tetap mengepul. Hartati, warga Desa Bajo Indah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/laut-tak-lagi-menjanjikan-nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia-kian-terhimpit/">Laut Tak Lagi Menjanjikan, Nasib Perempuan Bajo di Pesisir Soropia Kian Terhimpit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dulu, laut di pesisir Soropia, Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi tumpuan hidup masyarakat Suku Bajo. Kini, laut tak lagi menjanjikan akibat cuaca semakin sulit diprediksi, gelombang lebih tinggi, dan hasil tangkapan nelayan terus menurun. Dampaknya paling terasa bagi perempuan Bajo yang harus memikul beban berlapis demi menjaga dapur keluarga tetap mengepul. Hartati, warga Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia masih mengingat bagaimana suaminya, Mardin, nyaris menjadi korban cuaca buruk saat melaut. “Dari situ saya trauma ada awan hitam,” kata Mardin menyambung cerita Hartati. Kejadian itu terjadi pada Januari lalu, saat angin kencang melanda pesisir Soropia membuat perahunya terombang ambing, dia nyaris pingsan dan membuatnya sulit kendalikan kemudi. Itu kali pertama dalam dua dekade hidupnya berdampingan dengan laut. Data BMKG juga menunjukkan gelombang di atas 1,25 meter cukup sering terjadi di perairan Soropia sepanjang 2021-2024, sementara Kantor Pencarian dan Pertolongan Kendari mencatat ratusan kecelakaan kapal sejak 2021 hingga Maret 2026. Kondisi ini membuat banyak nelayan memilih tidak melaut ketika cuaca memburuk, dampaknya tidak ada pemasukan bagi keluarga. Di tengah hasil tangkapan yang terus menurun, banyak perempuan Bajo ikut turun ke laut. Herlina, warga Desa Bajo Indah lainnya, misalnya, hampir setiap malam mencari teripang, kepiting, kerang, udang, dan hasil laut lain saat air surut. Penghasilan dari menjual tangkapan itu digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari karena hasil melaut suaminya sering kali hanya cukup menutup biaya BBM sebesar Rp300 ribu untuk sekali berangkat ke Saponda.  “Dua kali dia (Tamrin) ke Saponda, hanya untuk bahan bakar saja. Jadi, saya ikut turun supaya ada jajannya anak-anak. Bantu-bantu bapaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/laut-tak-lagi-menjanjikan-nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia-kian-terhimpit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/laut-tak-lagi-menjanjikan-nasib-perempuan-bajo-di-pesisir-soropia-kian-terhimpit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Gempa Dahsyat Hantam Nusa Tenggara Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/18/ketika-gempa-dahsyat-hantam-nusa-tenggara-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/18/ketika-gempa-dahsyat-hantam-nusa-tenggara-timur/#respond</comments>
					<pubDate>18 Agu 2026 12:02:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18013551/2A-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Waktu baru beranjak mendekati pukul 05.58 WITA. Warga di Kota Maumere pun baru memulai aktivitas saat tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba berguncang. Sontak, peristiwa yang berlangsung hingga beberapa menit itu membuat warga berhamburan keluar rumah. “Warga berhamburan ke luar rumah. Banyak yang langsung mengemas barang-barang dan melarikan diri menggunakan sepeda motor dan mobil,” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/18/ketika-gempa-dahsyat-hantam-nusa-tenggara-timur/">Ketika Gempa Dahsyat Hantam Nusa Tenggara Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Waktu baru beranjak mendekati pukul 05.58 WITA. Warga di Kota Maumere pun baru memulai aktivitas saat tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba berguncang. Sontak, peristiwa yang berlangsung hingga beberapa menit itu membuat warga berhamburan keluar rumah. “Warga berhamburan ke luar rumah. Banyak yang langsung mengemas barang-barang dan melarikan diri menggunakan sepeda motor dan mobil,” ujar Riski Parera, warga Kota Maumere, Sabtu (15/8/25). Hanya dalam hitungan menit, Jalan Raya Trans Flores penuh ribuan warga yang berlarian menuju perbukitan. Bayang-bayang tsunami yang terjadi 1992 mendorong mereka segera  mencari tempat dataran tinggi. Pagi itu, gempat berkekuatan 7, 2 skala richter  mengguncang NTT. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut perisitwa itu berpotensi memicu tsunami, sesaat setelah kejadian. Sekitar pukul 07.30, peringatan dini tsunami BMKG cabut. Meski begitu, sebagian besar warga masih belum berani kembali pulang. “Kami belum berani ke rumah karena masih trauma dengan gempa dan tsunami tahun 1992,” sebut Siti Zulfiah Bira, warga Kelurahan Kota Uneng kepada Mongabay. Tempat tinggalnya tak jauh dari pantai membuat dia memilih bertahan di lapangan Kantor Kwarcab Sikka, salah satu tempat pengusian yang pemerintah siapkan. Bersama ribuan warga lain, dia dan anggota keluarganya memilih bertahan di pengungsian. Suasana pelayanan dukungan psikososial melalui kegiatan trauma healing serta kehadiran perpustakaan keliling di pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/8). Foto: Pusdatin BNPB. Trauma tsunami 1992 Kendati saat gempa dan tsunami 1992, Siti masih dapat mengingat suasa mencekam kala itu. Trauma akan peristiwa itu pula yang membuatnya tak berani pulang sebelum kondisi benar-benar aman. “Gempa susulan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/18/ketika-gempa-dahsyat-hantam-nusa-tenggara-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/18/ketika-gempa-dahsyat-hantam-nusa-tenggara-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan dan Uncal Enggano yang Tidak Bisa Dipisahkan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hutan-dan-uncal-enggano-yang-tidak-bisa-dipisahkan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hutan-dan-uncal-enggano-yang-tidak-bisa-dipisahkan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Agu 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07090017/Uncal-Enggano-Barok-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132018</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bengkulu, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bulunya didominasi warna cokelat keabu-abuan. Suaranya pun tidak semerdu burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, uncal enggano menjalankan pekerjaan penting: membantu hutan tumbuh kembali. Uncal enggano (Macropygia cinnamomea) merupakan burung endemik yang hanya ditemukan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau seluas sekitar 40 ribu hektar ini diakui secara internasional sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hutan-dan-uncal-enggano-yang-tidak-bisa-dipisahkan/">Hutan dan Uncal Enggano yang Tidak Bisa Dipisahkan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bulunya didominasi warna cokelat keabu-abuan. Suaranya pun tidak semerdu burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, uncal enggano menjalankan pekerjaan penting: membantu hutan tumbuh kembali. Uncal enggano (Macropygia cinnamomea) merupakan burung endemik yang hanya ditemukan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau seluas sekitar 40 ribu hektar ini diakui secara internasional sebagai Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati. Burung yang masih satu keluarga dengan merpati ini lebih dikenal sebagai penghuni hutan. Di habitat alaminya, uncal enggano sering terlihat berpasangan dan memakan buah-buahan liar. Salah satu makanan yang disukainya adalah buah pohon nelung, sebutan lokal untuk pohon yang menghasilkan buah kecil seukuran jagung. Uncal juga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan bentang alam. Burung ini mulai terlihat di kebun warga yang berbatasan dengan hutan. Ketika mencari makan di lahan pertanian, beberapa individu dapat berkumpul di tempat yang sama. Mereka memakan jagung, padi, dan pisang. Lalu, bagaimana burung ini membantu meregenerasi hutan? Uncal tidak menetap pada satu pohon atau satu lokasi. Seperti merpati hutan lainnya, burung ini memiliki daya jelajah cukup luas dan berpindah mengikuti musim buah. Ketika satu pohon selesai berbuah, uncal akan bergerak mencari sumber makanan berikutnya. Selama perjalanan itulah biji tumbuhan ikut berpindah. Uncal cenderung menelan buah-buahan kecil secara utuh, bukan memecahkan bijinya. Sebagian biji memang rusak ketika melewati saluran pencernaan. Namun, sebagian lainnya tetap utuh dan keluar bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induknya. Biji juga dapat jatuh ketika burung bertengger atau saat memberikan makanan kepada anaknya. Jika kondisi lingkungan sesuai, biji tersebut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hutan-dan-uncal-enggano-yang-tidak-bisa-dipisahkan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/hutan-dan-uncal-enggano-yang-tidak-bisa-dipisahkan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Kuskus Papua yang Kehilangan Rumahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/18/mengenal-kuskus-papua-yang-kehilangan-rumahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/18/mengenal-kuskus-papua-yang-kehilangan-rumahnya/#respond</comments>
					<pubDate>18 Agu 2026 04:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18022306/Kuskus-totol-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132093</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada Mei 2026, beredar luas di media sosial video seekor kuskus yang bergerak ke dahan tertinggi saat pohon terakhirnya dirobohkan. Ia terus memanjat mencari perlindungan, sementara eskavator terus merobohkan pohon-pohon di sekelilingnya. Awal Agustus 2026, video berikutnya memperlihatkan, di antara pohon-pohon yang tumbang, seekor kuskus berwarna emas dengan totol-totol putih bertahan di sisa-sisa dahan roboh. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/18/mengenal-kuskus-papua-yang-kehilangan-rumahnya/">Mengenal Kuskus Papua yang Kehilangan Rumahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada Mei 2026, beredar luas di media sosial video seekor kuskus yang bergerak ke dahan tertinggi saat pohon terakhirnya dirobohkan. Ia terus memanjat mencari perlindungan, sementara eskavator terus merobohkan pohon-pohon di sekelilingnya. Awal Agustus 2026, video berikutnya memperlihatkan, di antara pohon-pohon yang tumbang, seekor kuskus berwarna emas dengan totol-totol putih bertahan di sisa-sisa dahan roboh. Di belakangnya, aktivitas alat berat terus bekerja menebang pohon-pohon lainnya. Begitulah gambaran video yang belakangan ramai dibagikan warganet dari Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dan memantik duka warganet. Rekaman video ini mulai beredar luas sejak pertengahan tahun ini dan memperlihatkan aktivitas pembukaan lahan hijau skala besar di kawasan yang menjadi rumah bagi satwa endemik Papua. Kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau yang biasa disebut juga kuskus pontai. Foto: Wikimedia Commons/garywwilson/CC BY 4.0. Seperti apa sebenarnya kuskus? Kuskus adalah satwa liar berkantung yang menghuni hutan hujan Australasia, mulai Pulau Papua, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Timor, hingga Australia bagian utara. Sering disangka primata karena gerakannya yang lambat dan matanya yang besar menghadap ke depan, hewan ini adalah marsupial arboreal sejati, penghuni kanopi ulung. Identitas pasti individu kuskus dalam video yang viral ini belum dikonfirmasi resmi oleh lembaga konservasi. Namun berdasarkan pola sebarannya, kuskus di dataran rendah Papua Selatan, termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Wasur, Merauke, umumnya adalah satu dari dua jenis yang paling luas sebarannya di Papua, yaitu kuskus totol (Spilocuscus maculatus) dan kuskus biasa/kuskus timur (Phalanger orientalis). Keduanya sama-sama pemanjat ulung: bertubuh 35–45 cm, bermata besar untuk melihat dalam gelap, dan berekor panjang tanpa bulu di ujungnya yang berfungsi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/18/mengenal-kuskus-papua-yang-kehilangan-rumahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/18/mengenal-kuskus-papua-yang-kehilangan-rumahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>