Dulu, laut di pesisir Soropia, Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi tumpuan hidup masyarakat Suku Bajo. Kini, laut tak lagi menjanjikan akibat cuaca semakin sulit diprediksi, gelombang lebih tinggi, dan hasil tangkapan nelayan terus menurun. Dampaknya paling terasa bagi perempuan Bajo yang harus memikul beban berlapis demi menjaga dapur keluarga tetap mengepul.
Hartati, warga Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia masih mengingat bagaimana suaminya, Mardin, nyaris menjadi korban cuaca buruk saat melaut. “Dari situ saya trauma ada awan hitam,” kata Mardin menyambung cerita Hartati. Kejadian itu terjadi pada Januari lalu, saat angin kencang melanda pesisir Soropia membuat perahunya terombang ambing, dia nyaris pingsan dan membuatnya sulit kendalikan kemudi. Itu kali pertama dalam dua dekade hidupnya berdampingan dengan laut.
Data BMKG juga menunjukkan gelombang di atas 1,25 meter cukup sering terjadi di perairan Soropia sepanjang 2021-2024, sementara Kantor Pencarian dan Pertolongan Kendari mencatat ratusan kecelakaan kapal sejak 2021 hingga Maret 2026. Kondisi ini membuat banyak nelayan memilih tidak melaut ketika cuaca memburuk, dampaknya tidak ada pemasukan bagi keluarga.
Di tengah hasil tangkapan yang terus menurun, banyak perempuan Bajo ikut turun ke laut. Herlina, warga Desa Bajo Indah lainnya, misalnya, hampir setiap malam mencari teripang, kepiting, kerang, udang, dan hasil laut lain saat air surut. Penghasilan dari menjual tangkapan itu digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari karena hasil melaut suaminya sering kali hanya cukup menutup biaya BBM sebesar Rp300 ribu untuk sekali berangkat ke Saponda.
“Dua kali dia (Tamrin) ke Saponda, hanya untuk bahan bakar saja. Jadi, saya ikut turun supaya ada jajannya anak-anak. Bantu-bantu bapaknya (suami).”
Berbeda dengan Herlina, Rida menjadikan kegiatan mencari teripang sebagai sumber nafkah utama sejak menjadi orang tua tunggal 16 tahun lalu. Jika tangkapan sedikit, dia mencari kerang dan cabore (kerang laut) untuk dijual. Teripang biasanya dikeringkan agar harganya lebih tinggi, tetapi saat membutuhkan uang cepat untuk kebutuhan anak, dia terpaksa menjualnya dalam kondisi basah dengan harga lebih murah.
Meski menjadi pencari nafkah keluarga, Rida mengaku belum pernah mendapatkan kartu nelayan maupun akses berbagai bantuan karena yang diakui hanya nelayan laki-laki.
“Hanya laki-laki saja yang dapat.”
Menurut Amar Maruf, peneliti nelayan Bajo di Soropia, perubahan iklim menyebabkan hasil tangkapan menurun, biaya operasional meningkat, alat tangkap menjadi kurang efektif, dan wilayah tangkap semakin sulit ditentukan.
Di balik beban ekonomi itu, perempuan Bajo juga menghadapi kecemasan ekologis. Penelitian Uswatun Hasanah menemukan bahwa kekhawatiran mereka bukan sekadar dipicu informasi tentang perubahan iklim, melainkan pengalaman sehari-hari melihat laut berubah, cuaca tak menentu, dan hasil tangkapan yang terus menurun.
“Pada komunitas perempuan pesisir, kecemasan ekologisnya (perempuan) tidak hanya berbasis pada informasi, tapi muncul atas pengalaman ketubuhannya langsung,” katanya, Jumat (5/6/26).
Selain mengurus rumah tangga dan mencari nafkah, perempuan juga menjadi penyangga emosi bagi suami dan anak-anaknya ketika kehidupan pesisir semakin tidak pasti. Bagi perempuan Bajo, menjaga keluarga tetap bertahan kini berarti menghadapi perubahan laut yang semakin sulit diprediksi dari hari ke hari.