- Seperti di darat, aktivitas tambang timah yang kian masif di laut kini meninggalkan jejak perubahan lingkungan di lanskap pesisir pantai. Hal ini dirasakan oleh para perempuan pencari kerang darah di Kedimpal, salah satu kampung pesisir di Kabupaten Bangka Tengah.
- Lanskap pantai Kedimpal yang semula dipenuhi lumpur kini berubah menjadi hamparan pasir putih. Hal ini tidak hanya meningkatkan abrasi, tetapi juga mengancam kelestarian kerang darah di wilayah tersebut.
- Perubahan ini dimungkinkan karena pasir atau sedimen dari aktivitas penambangan timah dapat terangkut ke garis pantai. Tak jarang, sedimen ini juga mengakibatkan pendangkalan di sejumlah muara sungai.
- Berdasarkan Dokumen Status Lingkungan Hidup Bangka Belitung, luasan penutup lahan terbuka yang didominasi oleh lahan bekas tambang terus meningkat. Ini sejalan dengan meningkatnya lahan kritis di Bangka Belitung.
Matahari tepat di atas kepala Eliana Zuki (51) yang mencari kerang darah (Anadara granosa). Di pesisir, terik matahari terasa lebih menyengat. Memasuki pertengahan tahun, suhu di Pulau Bangka dapat menyentuh angka 31-34 derajat Celsius.
“Istirahat dulu, kalau tidak nanti bisa migren,” kata Eliana, yang menetap di Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, kepada Mongabay Indonesia, Kamis (6/8/26).
Dari kejauhan, terlihat sebuah bangunan sederhana dengan empat tiang kayu kecil yang menyangga atap karung. Eliana dan rekannya bergegas menuju pondok yang sengaja mereka bangun beberapa bulan lalu.
“Kalau tidak ada ini (pondok), bisa mati kena matahari ini,” ujar Indira Wahyu, rekan Eliana, sembari menyantap makan siang yang sudah mereka siapkan dari rumah.

Saat sebagian besar perempuan memilih untuk ngereman (meminta jatah timah), Eliana dan Indira adalah sedikit perempuan di pesisir timur Pulau Bangka, khususnya di Dusun Kedimpal yang bertahan mencari kerang.
“Anak-anak saya juga tidak saya sarankan untuk pekerjaan ini,” kata Eliana.
Mereka mencari kerang menyesuaikan jadwal pasang surut laut. Saat Agustus, air laut pasang saat sore hari. Kesempatan mereka mencari kerang pagi hingga siang hari.
“Kalau surutnya sore lebih enak, agak teduh.”
Dalam sehari, paling banyak Eliana membawa pulang tiga kilogram kerang darah. Di tingkat pengepul, harga per kilogram hanya Rp7.000.
“Dulu, cari 10 kilogram kerang itu mudah, sekarang susah sekali.”

Hampir 30 tahun, Eliana dan rekannya mencari kerang. Mereka paham betul perubahan yang terjadi di lanskap pantai sekitar Dusun Kedimpal. Sebelum tambang timah bergerak ke pesisir sekitar 2015, kawasan pantai di sekitar Kedimpal sebagian besar lumpur.
Ini disebabkan sedimen lumpur dari Sungai Benuang, sungai besar yang mengalir di sekitar Kedimpal. Kedalaman lumpur bisa sampai lutut orang dewasa. Tak heran, wilayah ini menjadi habitat kerang darah cukup melimpah.
“Semuanya berubah seperti padang pasir, kini sebatas mata kaki.”
Saat ini, sebagian besar tambang timah bergeser ke tengah laut karena hasilnya menurun, terutama di daratan dan pesisir. Di Kedimpal, perempuan seperti Eliana berharap, wilayah mereka dapat kembali seperti dulu.
“Harus ada solusi alternatif ekonomi juga untuk wilayah eks tambang seperti tempat kami.”
Di sekitar Dusun Kedimpal, pada 2022-2023 lalu, sudah dimulai penanaman mangrove, namun belum tersebar merata.
“Sebagian ada yang mati karena tidak dirawat,” tambah Indriana, yang pernah ikut kegiatan tersebut.

Perubahan lanskap pantai
Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia ke sejumlah titik penambangan di pesisir timur Pulau Bangka, tambang timah di darat sudah berkurang.
Hanya sedikit warga yang menambang menggunakan teknologi sederhana skala kecil. Cara ini disebut tambang inkonvensional (TI) Tungau. Di sekitar Kampung Pasir (masuk Dusun Kedimpal), sejumlah TI Tungau beralih menggunakan tabung gas tiga kilogram sebagai bahan bakar mesin pompa air.
Cara ini baru berkembang beberapa bulan lalu, dan dengan cepat diaplikasikan para penambang skala kecil. Bahkan sebagian besar tambang laut juga mulai menggunakan cara ini, karena lebih murah dibandingkan menggunakan bahan bakar minyak.
Dalam sehari, para penambang hanya menghabiskan tiga tabung gas, dengan total Rp75 ribu.
“Kalau pakai minyak, bisa keluar 200 ribu per hari,” kata Rianto, penambang di sekitar Kampung Pasir, Dusun Kedimpal.

Menurut Roby Hambali, peneliti hidrologi sekaligus dosen jurusan Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung, penambangan timah di pesisir juga dapat mengubah komposisi atau sirkulasi pasir di pantai atau pesisir.
Ini sebagaimana Dusun Kedimpal yang awalnya pantai berlumpur, kini menjadi hamparan pasir. Hal ini tidak hanya memicu abrasi, tetapi juga dapat mengancam tradisi mencari kerang masyarakat pesisir.
“Jika dikaitkan penambangan di laut, tentu saja ada pengaruhnya. Pasir atau sedimen dari aktivitas penambangan di laut dapat terangkut ke garis pantai. Di Bangka Belitung, kita sering melihat muara sungai banyak yang mengalami pendangkalan,” jelasnya, Sabtu (8/8/26).

Hal ini dikuatkan data Dokumen Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Bangka Belitung 2025 (Pemprov Bangka Belitung, 2025) yang menyatakan bahwa, kegiatan penambangan timah menjadi salah satu faktor perubahan lanskap pesisir timur. Termasuk juga, munculnya hamparan tanah atau pasir timbul di sekitar pesisir timur Pulau Bangka.
Berdasarkan laporan tersebut, luasan penutup lahan terbuka yang didominasi lahan bekas tambang terus meningkat. Dari 9.899 hektar tahun 2022, menjadi 13.716 hektar tahun 2023 (kenaikan sekitar 39%), dan bertambah menjadi 22.794 hektar pada 2024 (sekitar 66%).
Peningkatan lahan bekas tambang tersebut juga sejalan dengan meningkatnya lahan kritis di Bangka Belitung. Dari 20.679 hektar pada 2018, menjadi 167.103 hektar tahun 2022, atau sekitar 10 persen dari luas total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (1,6 juta hektar).
Referensi:
Pemprov Bangka Belitung. (2025). Dokumen Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Bangka Belitung. https://dlhkdrupal.dlhk.babelprov.go.id/dokumen-slhd-prov-kep-babel-tahun-2025
*****
Fenomena “Ngereman” di Sekitar Penambangan Timah Inkonvensional